Monday, May 10, 2010

Ketika Irfan Tak Mau Membawa Sepedanya Sendiri

No comments :
Hari Senin anak-anak disuruh ustadzah membawa sepeda untuk keperluan sentra seni dan kinestetik. Oh senangnya!Beberapa hari sebelumnya, sepeda kecil Irfan disudah dibersihkan, dipompa, dan dicek remnya. Semuanya beres. Irfan bisa memakainya dengan nyaman di sekolah nanti. Lalu Irfan berlatih di jalanan di depan rumah.
Kebut, kebut, dan kebut. Begitulah acara bersepeda ala Irfan. Sudah ada rem tapi kayaknya masih ragu. Jadi tangan kanan pegang rem, sementara kedua kakinya ikut ngerem sebelum berhenti.
Tiba harinya. Si Irfan berangkat sekolah naik becak. Sepeda dinaikkan di becak. Turun dari becak, dengan santainya dia berjalan menuju kelasnya. Ustadzah Alfi yang kebagian tugas menyambut anak-anak langsung mengajak Irfan membawa sendiri sepedanya. Tapi si Irfan dengan senyum-senyum ngeloyor saja.
Pak Abu harus membungkuk-bungkuk membawa sepeda kecil Irfan. Ustadzah berkali-kali dengan lembut meminta Irfan menaiki sepedanya. Tapi Irfan yang enggan masih berlalu saja. Ustadzah tidak kehabisan akal. Dituntunnya Irfan menuju sepedanya yang sedang dibawa Pak Abu.
“Ayo, Mas Irfan. Dinaiki ya sepedanya,” rayu ustadzah.
Masih seperti tadi. Irfan senyum-senyum saja. Memperlihatkan giginya yang berwarna hitam dan putih.
“Itu lho seperti Ami. Sepedanya dinaiki. Ah, sepedanya Mas Irfan sama kayak Ami ya…” rayu ustadzah tak henti-henti.
Ustadzah memegang tangan Irfan dan menuntun bersama-sama sepeda Irfan. Setelah beberapa langkah akhirnya Irfan bersedia membawa sepedanya sendiri. Ustadzah Alfi tersenyum.

No comments :

Post a Comment

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Maaf, jika ada link hidup akan saya hapus!