Friday, May 7, 2010

Mesti Kok Aku Dimarahi

No comments :
Judul itulah yang selalu terlontar dari bibir Irfan. Kesannya saya selalu memarahinya. Selalu melarangnya. Tanpa ada penjelasan.
Malam itu si Irfan masih sibuk ‘bekerja’. Maksudnya menirukan kerja tukang batu di rumah. Saat itu saya sedang merenovasi rumah. Alat-alat pertukangan banyak yang tergeletak di lantai. Meski sebenarnya para tukang sangat tahu sifat Irfan, tetap saja mereka menaruh sembarangan. Pekerjaan saya jadi bertambah deh.
Saya teriak-teriak dari ruangan lain. Memberi peringatan ini itu. Sementara si Irfan masih saja asyik ‘bekerja’. Saya jengkel, kok ya tidak digubris. Kejengkelan saya makin memuncak lalu saya hampiri dia. Intonasi suara saya makin keras. Lalu si Irfan berhenti 'bekerja', dan berbaring diatas tempat tidur sambil menangis.
Saya akui kurang bisa mengontrol emosi. Saat itu saya dalam posisi yang kurang nyaman. Biasanya saya tinggal perintah si pembantu untuk mengawasi Irfan. Namun saat itu tidak ada. Pekerjaan ini akhirnya digantikan oleh kakaknya. Si kakak sudah bolak-balik mengawasi, akhirnya jengkel juga. Ia menolak ketika saya suruh mengawasi lagi. Keadaan kian memanas ketika si bayi rewel. Tangisnya makin kencang, sedangkan Irfan masih asyik ‘bekerja’ kesana kemari.
Saya ingin segera mengakhiri masalah ini. Saya mengambil jalan pintas, dengan memarahi Irfan. Dia dengan sangat terpaksa berhenti ‘bekerja’. Dia sangat sedih, tidak bisa asyik ‘bekerja’. Wajahnya muram lalu menangis meraung-raung. Air matanya bercucuran. Dia menolak ketika saya dekati. Saya hanya bisa menunggu marahnya reda.
Pelan-pelan saya minta maaf. Saya tahu kalau saya salah. Bagi Irfan marah adalah suatu kesalahan besar. Marah sungguh sangat menyakiti hatinya. Saya tahu itu. Tapi saya dalam posisi yang tidak baik. Saya merasa tak punya pilihan lain selain memarahinya. Bukankah sebelumnya saya sudah berkata dengan manis. Namun tidak digubris. Bukankah tadi saya sudah merayunya, menasihatinya, akhirnya saya marah.
Pelan-pelan saya jelaskan padanya. Saya punya alasan untuk marah. Saya tak mau dikatakan selalu memarahinya tanpa sebab. Berkali-kali saya ulangi perkataan saya agar dia mengerti. Pertama karena saya menyayanginya. Kedua, karena berbahaya. Saya tak ingin dia terluka karena alat-alat tukang. Ketiga saya tak bisa menemani dan mengawasinya’bekerja’. Makanya saya melarangnya. Ini juga demi kebaikan dia.
Anak-anak selalu menyimpan rasa ingin tahu yang besar. Saya tak bermaksud membunuh rasa ingin tahunya. Namun saya juga tak akan membiarkan dia mencoba-coba sembarangan. Semua pasti ada aturannya.

No comments :

Post a Comment

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Maaf, jika ada link hidup akan saya hapus!