Monday, May 31, 2010

Talk More, Please!

No comments :
“Ada apa? Kenapa? Ayo cerita?” tanya saya bertubi-tubi. Namun yang ditanya malah senyum-senyum. Nggak tahu kalau orang tua makin kuatir aja. Geregetan! (Bukan lagunya Sherina lho). Saya geregetan melihat tingkah Ihsan yang no respond.


“Nanti sore aja,” jawabnya kemudian.
Siang itu saya bertanya apa yang terjadi dengannya sewaktu di sekolah. Lha kok jawabannya nanti sore. Kelamaan! Ini membuat saya makin diburu penasaran. Rupanya semakin saya penasaran, semakin senang anaknya.

Kenapa dia pulang sekolah sebelum waktunya? Kenapa pulang diantarkan ustadz? Kenapa tidak naik becaknya Pak Abu (tukang becak langganan kami)? Ketika saya masih penasaran tiba-tiaba Pak Abu datang. Pak Abu mengabarkan kalau Ihsan terluka tangannya. Oh… ada apa gerangan?

Saya penasaran sampai di titik puncaknya. Namun saya harus setia dengan janjinya. Meski, tak kuasa menahan emosi. Rasanya ingin meledak saja. Tarik nafas, lepaskan pelan-pelan. Hmmm…

Mungkin dia butuh waktu untuk menyiapkan mental menghadapi saya. Lalu saya berpikir, apakah saya seperti monster yang menakutkan. Monster yang tidak bisa menerima apapun alasannya. Monster yang tidak mau memaklumi dan memaafkan tindakannya. Atau mungkin saja diantara saya dan dia ada jarak. Atau… Saya mesti instropeksi diri.

Mungkin saja saya pernah melakukan kesalahan dalam menghadapi anak semacam ini. Mungkin saja kesalahan saya membekas sehingga berakibat seperti ini. Tak mau ngomong. Tak mau berterus terang. Tak mau curhat. Sementara saya sudah siap menerima apapun yang akan meluncur dari bibirnya. Pertama saya akan menjadikan diri saya sebagai pendengar, kemudian kalau situasinya memungkinkan saya akan melontarkan beberapa pertanyaan. Kalau ini berhasil saya akan memberi tanggapan,dst.

Beberapa jam saya mesti menunggunya. Pikiran saya tak menentu. Tapi saya tetap harus memegang janji. Ughh…Akhirnya dengan malu-malu dia menceritakan kejadian itu. Saya mendengarkan dengan seksama. Untuk mengahadapinya saya mesti bersabar. Ya, bersabar saat dia belum mood, belum ingin bicara. Ternyata itu rahasianya
***

No comments :

Post a Comment

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Maaf, jika ada link hidup akan saya hapus!