Tuesday, June 8, 2010

Gigiku Copot, Oiyy...

No comments :
Malam itu hanya si Irfan yang tidak mau makan. Kenapa ya? Sepertinya tidak ada tanda-tanda sakit. Usut punya usut ternyata si Irfan sedang “sakit gigi”, katanya. Tapi kok biasa saja. Iih paling juga alasan dia saja yang tidak mau makan. Anak kecil selalu saja sulit makan.


Karena saya sudah lapar, ya lebih baik saya makan saja dulu. Lagi pula di rumah ada ayahnya, jadi kami bisa bergantian menyuapi si Irfan. Dibutuhkan tenaga yang cukup untuk menyuapi Irfan. Masalahnya saya mesti mengejar-ngejar dan membujuknya. Sebenarnya yang pengen makan itu saya atau anaknya. Ehm…

Gigi si Irfan berwarna hitam dan putih. Tipikal anak kecil yang suka makan coklat dan makanan yang manis-manis, lalu malas gosok gigi. Mungkin saja giginya yang hitam sedang sakit. Tapi sedari tadi kok ya tidak mengeluh, dan baru pada saat makan malam tiba. Saya memaksanya untuk makan tetap saja tidak mau.

“Gigiku goyang-goyang,” katanya sambil menunjukkan gigi susunya. Setelah itu ia berlalu begitu saja. Kami masih melanjutkan makan.

Tak berapa lama si Irfan datang lagi. Ia membawa gigi kecil yang sudah copot. Ia tunjukkan gigi dan gusinya yang masih berdarah. “Aku nggak bisa makan. Lihat ha…” Irfan membuka mulutnya. “Ada darahnya, kan!”

Lalu kami menyarankan agar segera kumur-kumur di kamar mandi hingga mulutnya bersih. Saya terbengong-bengong melihatnya. Lho? Saya kaget saja. Kok ya beraninya mencabut gigi sendiri. Dengan santainya dia bercerita seperti sesuatu yang sangat biasa. Padahal ini adalah pertama kalinya giginya copot.

Irfan menyopot sendiri giginya tanpa sepengetahuan kami. Memori saya berputar…Beberapa tahun yang lalu, ketika gigi kakaknya sudah goyang-goyang saya selalu membawanya ke dokter gigi. Saya ingin agar giginya rapi dan baik-baik saja. Ketika sudah sering copot gigi, saya membiarkan saja. Si kakak sudah mulai besar (SD), jadi sudah berpengalaman. Tapi tetap saja si kakak takut-takut ketika makan, khawatir kalau tiba-tiba giginya copot. Bahkan bisa sepanjang hari dia merasa tak nyaman dengan giginya. Hingga akhirnya memang bisa copot sendiri, dan tidak ada masalah.

Beberapa kali si Irfan memainkan lidahnya. Ia sedang merasakan kehilangan gigi. Gigi mungilnya dikubur di halaman belakang. Setelah beres barulah kami mengajaknya makan.

No comments :

Post a Comment

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Maaf, jika ada link hidup akan saya hapus!