Wednesday, August 3, 2011

Sebuah Perjanjian

No comments :
Saya sering mengajak anak saya membuat perjanjian. Tentu saja ini perjanjian kecil-kecilan. Maksudnya tak lain untuk belajar mematuhi apa yang sudah menjadi kesepakatan bersama. Dan itu tak mudah. Itu butuh proses yang berjalan dari waktu ke waktu. Mungkin saja si sulung yang sudah mengerti perjanjian tetap saja beberapa kali tidak menepati. Padahal sebagai orang tua saya selalu berusaha menepati janji. Apapun resikonya. Karena orang tua adalah contoh untuk mereka, maka sebisa mungkin saya membuat perjanjian yang tidak memberatkan diri sendiri maupun anak-anak.


Ini adalah hari ketiga libur awal puasa.Selama dua hari berturut-turut Ihsan dan Irfan bermain bersama teman-temannya. Mereka berkunjung ke rumah seorang teman dengan sebuah perjanjian, “nanti pulang jam sekian”… Hari pertama tidak menepati janji, disusul dengan hari kedua. Lalu dia membela diri, “Aku kan adzan pulang.”

Saya yakin sebagian besar anak-anak seringkali lupa waktu ketika sedang asyik bermain. Bermain bisa saja sangat menyenangkan, bertemu dengan teman-teman, bercanda apalagi jika sedang main game. Ujung-ujungnya akan terlena, lupa waktu lupa terhadap kewajiban. Apalagi jika tidak sedang didampingi orang tua. Bisa-bisa kapanpun pengennya main dan main. InsyAllah saya tak akan bosan untuk mengingatkan kewajiban akan sholat. Kalau tidak dimulai dari dini, pasti ketika besar saya akan kesulitan.

“Ya sudah sana, berangkat ke musholla,” kata saya. Mungkin saya masih harus berlapang dada terhadap anak-anak. Sebenarnya sebelum-sebelumnya juga demikian, sering tak tepat waktu ketika bermain. Tapi syukurlah tiap kali dengar adzan mereka bergegas pulang. Itu artinya waktu bermain sudah habis, lalu bergegas menegakkan sholat.

No comments :

Post a Comment

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Maaf, jika ada link hidup akan saya hapus!