Sunday, August 9, 2015

"Mbahmu"

No comments :


      Entahlah, setiap kali mendengar kata “mbahmu” dengan nada tinggi, telingaku menjadi gatal. Mengapa harus memakai “mbahmu” untuk menunjukkan suatu umpatan. Tidak tahu juga mulainya dari mana. Tidak tahu pula ternyata sampai ke telinga anak-anak. Padahal di rumahpun saya dan suami tak pernah memakai “mbahmu” menjadi umpatan. Tak pernah. Kita berusaha berkata baik-baik. Mendengar baik-baik. Karena kami yakin kami bisa memberikan kebaikan di rumah.

 
      Aku mengenal “mbahmu” sebagai umpatan ketika aku masih kecil. Aku menemukannya di  diantara waktu bermain anak-anak. Sebuah kata yang membuatku bertanya, mengapa harus memakai “mbahmu’ sebagai umpatan.
      Kenyataannya “mbahmu” masih dipakai hingga anak-anak tiba di rumah. Kata itu menyala, meraung-raung dan menjadi sangat buruk di telingaku. Kata itu tetap favorit sebagai umpatan yang menyebalkan.
     Mengapa harus memanggil si “mbahmu” yang telah tidur dengan damai di alam kubur. Apakah kita juga berhak menilai perbauatan si “mbahmu” ini. Bahkan ketika anak-anak kecilku belum sempat mengenalnya. Tak sepatutnya mencatut “mbahmu” dalam kemarahan dan kejengkelan kita. Tak ada hubungannya topik kemarahan kita.
      Mengapa pula si “mbahmu” menjadi begitu negatif. Diantara kemarahan itu saya sedih.
Saya sangat marah ketika mendapati anak saya memakai kata “mbahmu”. Itu berlangsung selama beberapa hari. Penasaran. Entahlah, anak saya memungut dimana kata “mbahmu” itu. Ketika saya bertemu dengan seorang teman anak saya, saya bertanya, “Apakah anak-anak suka mengumpat dengan “mbahmu” di sekolah?’
      “Iya,” jawab si anak pendek.
      “Kenapa harus “mbahmu”?”
      Si anak tersenyum, kikuk, tanda tak bisa menjelaskan. Mereka tidak tahu kata itu. Mereka hanya ikut-ikutan.
    Tidak ada toleransi disini. Semarah apapun tak layak menyebut “mbahmu”. Mengapa tidak istighfar saja. Bukankah di sekolah diajari seperti itu. Bukan sekolah yang mengajari “mbahmu”. Bukan. Sekolah bukan tempat untuk belajar mengumpat! Tidak pula di rumah!
       Lama saya berdialog dengan anak saya. Tak jua menemukan kata sepakat. Dia tak pernah merasa bersalah telah memakai kata “mbahmu” sebagai umpatan. Dia tidak tak tahu. Tapi hari ini dia harus tahu.
      “Harusnya kamu tahu kalau itu tidak boleh dibawa di rumah. Di sekolahku juga begitu. Anak-anak bukan hanya pakai “mbahmu”. Lebih parah lagi.” Ini nasihat si sulung pada adiknya.
     “Bukan tak boleh dipakai di rumah! Tapi tak boleh dipakai dimanapun jika itu maksudnya umpatan. Tidak boleh! Kita tidak perlu seperti bebek yang selalu mengikuti kemanapun temanmu pergi.” Ini penjelasanku.
      “Iya, maksudku juga gitu. Cuma adik kan gak tahu kalau itu gak baik,” si sulung mulai membela diri.
      “Sekarang adik harus belajar tahu. Dek, kita harus punya pendirian. Kita juga harus bisa memilah yang baik dan buruk. Sekarang adek tahu kan, kalau itu gak baik. Jadi ya gak usah ikut-ikut teman. Andai seluruh temanmu bicara seperti itupun, kamu gak perlu ikut, gak perlu pula didengarkan.”
      Dia mengangguk. Susahnya ngomong sama anak kecil. Harus sabar untuk mengulang-ulang. Semoga saja dia paham.

No comments :

Post a Comment

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Maaf, jika ada link hidup akan saya hapus!