Monday, September 28, 2015

Film Kartun “New Oscar’s Oasis”

No comments :


      Tadi pagi saya sempatkan ikut menonton beberapa adegan di film Oscar, judulnya Forbidden Paradise di MNC TV. Entah bagaimana si kecil menonton film ini. Pagi selalu penuh dengan jadwal yang rumit. Selepas shubuh adalah waktu yang tepat untuk memulai memasak, menyiapkan dan memeriksa perlengkapan anak-anak, yang sudah besar menyiapkan sendiri.  Di saat saya masih sibuk di dapur atau mengantar suami berangkat kerja, kedua kakak sibuk dengan urusan sekolahnya, si kecil menyalakan teve. Biasanya dia hanya nonton Princes Sofia kemudian bersiap berangkat ke sekolah.

 
      Untuk film anak-anak tanpa percakapan saya pikir tidak bagus. Anak-anak sedang belajar memperbanyak kosakata di usianya yang belia. Pada masa seperti ini alangkah baiknya kita memberikan kosakata yang baik. Akan sangat bermanfaat untuk menumbuhkan kepribadian yang baik.
      Anak saya selalu bertanya kosakata yang baru di dengarnya. Menggunakan kosakata baru dalam percakapan yang kadang tak nyambung. Untuk anak-anak TK, penyerapan kosakata baru bisa di dapat dari lingkungan sekolah, rumah dan dari tontonan. Yang terakhir ini kadangkala orang tua abai. Saya seringkali mendengar bagaimana seorang ibu begitu kesulitan menghentikan acara tv yang sedang digandungi anaknya. Bahkan , demi anak tidak rewel, bebaslah mereka menonton.
    
  “Film kartun kan filmnya anak-anak. Lucu.” Tidak juga. Banyak film kartun yang mengisahkan permasalahan “dewasa”, kekerasan. Tanpa sadar, dibalik kelucuan itu anak-anak terbiasa menonton. Lalu membawanya ke sekolah, dipakainya adegan demi adegan yang “dianggap lucu” sebagai permainan. Akhirnya, cepat atau lambat anak-anak terbiasa dengan permasalahan “dewasa” dan kekerasan.

      Dalam film  Oscar ini tak ada percakapan! Paling ya teriakan-teriakan saja. Di awal film kita disuguhi nama-nama tokohnya. Beberapa adegan dengan raut muka yang menunjukkan watak si tokoh. Lalu disusul sepatah kata “Arrgh” disamping tokohnya. Entah untuk maksud dan tujuan apa. Saya rasa itu tidak penting. Anak-anak hanya menebak ceritanya.

      Isi film ini, hanya berkisar rebutan makanan dan minuman di gurun tandus yang penuh intrik. Saling kejar mengejar, tabrak sana sini. Nasib sial si cicak. Terus kejar sampai tak berdaya.

      Apa bagusnya? Ketika saya tanya anak saya, “Adik tahu jalan ceritanya?”

      Dia cuma geleng-geleng kepala. Meski dia tertawa-tawa dan bilang “lucu”, saya yakin dia hanya senang karena si cicak lagi sial, dikejar-kejar ayam setelah telur yang berhasil direbut itu pecah. Atau si cicak sial juga karena ketika akan menangkap mangsa, lidahnya yang sudah menjulur itu kepanasan saat menempel di gurun pasir.

      Sebelum acara itu selesai saya memintanya untuk segera bersiap ke sekolah. Beberapa kali terjadi “negosiasi” akhirnya dia bersedia mematikan teve.

No comments :

Post a Comment

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Maaf, jika ada link hidup akan saya hapus!