Sunday, November 15, 2015

Hadiah Dari Anak

No comments :

Tongsis
Kalau ibu yang dapat hadiah dari anak-anak? Ehm..tidak ada momen spesial tapi dapat hadiah! Senangnya..padahal saya tidak berulang tahun, atau merayakan sesuatu.
Kemarin anak saya, Irfan rekreasi bersama teman-teman sekolahnya ke Malang. Saya memberinya jajan, minuman dan uang saku. Sebelum berangkat saya berpesan, “Nanti ibu titip belikan oleh-oleh, ya?”

Tidak maksa sih. Kalau saja anaknya mau ya syukur. Masih ingat beli sesuatu buat orang-orang di rumah. Saya bilang, “Beli apel saja, kalau mampir di pasar atau toko oleh-oleh.”
Malang, Batu terkenal dengan apelnya. Macam-macam jenisnya, terserah mau dibelikan yang apa. Bisa langsung dimakan atau dijus, dan mungkin kalau saya punya banyak waktu bisa dibikin kue.
Irfan berangkat selepas shubuh dan tiba dini hari. Sebenarnya apa yang dibelinya dengan uang saku dari kami?
Gantungan kunci, beberapa mainan dari kayu. Kedua saudaranya diberikan oleh-oleh gantungan kunci. Kalau saya, “Ibu dibelikan apa, dik?”
“Itu tongsis buat ibu,” jawabnya.
Apa! Tongsis! Kenapa ibu dibelikan tongsis. Ibu pesan apel Malang. Aduh...apa yang ada di benak anak saya sehingga terdorong untuk membelikan tongsis. Jangan-jangan ikut-ikutan teman-temannya. Lagipula, hape saya tidak bisa dipakai untuk berfoto selfi. Yang bisa sih hape milik suami.
Olala...saya juga tidak berkeinginan untuk membeli tongsis. Cukup dengan kamera, untuk jepret sana sini. Saya merasa tidak perlu ikut-ikutan selfi bak anak ABG. Ah, bukan ya, siapa saja bisa berfoto selfie kok, mengabadikan saat-saat kebersamaan, kebahagiaan, tempat dan suasana tertentu.
Saya penasaran saja. “Kenapa beli tongsis, dik?”
“Karena ibu suka foto-foto,” jawabnya sambil berlalu.
Saya akui foto saya paling banyak dibanding anak-anak. Mereka kalau mau difoto, suka lari kesana kemari, susah juga ambil gambarnya. Jadinya, suami suka foto saya, he..he..he..
Setelah memiliki tongsis, saya jadi khawatir, jangan-jangan nanti suka selfie. Aduh.. foto-foto itu sebaiknya untuk dokumen pribadi saja.
“Makasih ya, dik.” Bagaimanapun juga saya patut menghargai hadiah dari anak saya.

No comments :

Post a Comment

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Maaf, jika ada link hidup akan saya hapus!