Monday, January 11, 2016

Travel Till You Drop

No comments :


Bagi orang pantai seperti kami, tujuan wisata yang paling diinginkan adalah pegunungan. Suatu tempat yang jauh dan kontras dengan kehidupan pantai. Kami terlalu akrab dengan hawa pantai. Panas menyengat. Kami merindukan kesejukan, hijaunya dedaunan, hamparan gunung yang hanya singgah di angan.

Pantai selalu ada dalam hati kami. Bukan berarti kami tak lagi suka dengan keelokan pantai. Bukan! Namun, kami selalu merasa sudah bisa membaca aroma pantai. Sesuatu yang kami kenali bahkan sejak kami lahir.


Malang berada sekitar 5 jam perjalanan dari Tuban, kota kami. Liburan akhir tahun lalu kami memutuskan untuk mencari jalur alternatif. Demi menghindari macet, kami memilih jalur Pujon. Wuih, jalannya meliuk-liuk, hingga tak bisa memicingkan mata barang sebentar pun. miring ke kanan, miring ke kiri, pemandangan menyegarkan mata. kami menyewa elf dengan penumpang lima belas orang.

“Jadi tujuan kita pertama kali kemana?”

“Museum angkot.”

“Jatim Park.”

“Aku sudah pernah ke museum angkot.”

“Terserah anak-anak, saja, Mas. Pokoknya biar anak-anak senang,” sambung bu Lik.

“Yah, tujuan kita ke Malang untuk menyenangkan keluarga dari Jakarta,” timpalku. Memang tujuan kami untuk menunjukkan kota Malang. Apakah mirip Bogor, sama-sama daerah pegunungan, sejuk, dan mempesona. Wah, kalau Bogor, kami keluarga Tuban belum ada yang pernah kesana.

“Kita manut kok, mbak,” celetuk bu Lik.

“Bagaimana ini?” Mas Adi tampak bingung.

“Aduh, lumayan pusing deh, kalau disuruh memilih,” kataku.

Ada BNS, Jatim Park 2, Eco Green Park, Museum Angkut, Agro Kusuma dalam satu arah. Tinggal pilih sekarang. Aku jelaskan tempat-tempat itu satu persatu. Karena kebanyakan rombongan adalah orang dewasa sepertinya anak-anakku harus bisa menyesuaikan.

Isam yang paling kecil sampai berteriak-teriak ingin ke museum angkot.

“Oke. Kita akan mengunjungi museum angkot.”

“Hore!!”  Isam girang. Kedua kakaknya tampak tak bersemangat. Sudah banyak tempat wisata yang pernah kita jelajahi bersama. Namun tetap saja, pesona Malang selalu membuat kami ingin datang dan datang lagi.

Maka, pak sopir yang sudah mengarahkan kendaraan menuju Jatim Park akhirnya berganti haluan. Tak sampai di museum angkot, “Mas, bukannya museum angkot buka jam 12 siang.”

“What!” kita kecewa. Tapi kita tak akan tinggal diam. Selalu ada rencana kedua, ketiga, dst.

“Pak..pak, berhenti dulu,” perintah Mas Adi pada pak sopir.

“Wah, kita kan tidak boleh berhenti sembarangan.” Pak sopir tengok kanan kiri, berharap ada jalan untuk memutar balik.

“Ayo, kak, tanya mbah google... jam berapa bukanya?” perintah Mas Adi pada si sulung.

Mas Adi tak sabar rupanya, “Kok lama sih. Ini ditunggu pak sopir. Kita mau kemana?”

“Aduh, papa. Lemot,” jawab si sulung asal. Jari-jari masih bergerak cepat menekan layar hp. Tetap tak ada hasil.

“Ke Jatim Park saja,” pinta Ray, keponakanku.

Kami tiba di Jatim Park 2 pukul 09.30. Oh My God! Antriannya sudah mengular. Panjang! Padahal setengah jam lagi baru dibuka. Ada beberapa barisan manusia, semuanya sedang mengantri untuk masuk. Hanya untuk masuk. Ada yang mulai main serobot. Mereka sudah membeli tiketnya.

Tadinya kupikir antri membeli tiket. Dengan bergeser perlahan, kami tiba di depan petugas pemeriksa. Aku berada di belakang anak-anak. Berkali-kali aku melihat papan peringatan. Strategi ibu yang mau hematpun dilakukan.

Aku melihat makanan dan minuman yang terpaksa harus dititipkan pada petugas pintu masuk. Huff...masak cuma membawa minuman dan beberapa snack tidak boleh! Masak harus beli di tempat wisata. Biasanya mahal!Tidak, kecuali aku sedang butuh makan!

Dengan ekstra hati-hati akhirnya aku menutupi snack dan sebotol air putih. Irama jantung mulai tak karuan. Harap-harap cemas menunggu hingga selesai menggeledah isi tasku. Lulus. Artinya si petugas masih mengijinkan aku membawa air putih dan snack. Yang penting bukan nasi beserta lauk pauknya.

Tentu mereka mempunyai alasan kuat melarang kita membawa macam-macam makanan. Juga demi keamanan binatang-binatang yang biaya hidupnya mahal, karena bukan di habitat asalnya. Barangkali ada yang mau kasih makan..oh tentu dilarang!

Perjalanan dimulai, kami disuguhi aneka binatang yang sebelumnya tak pernah kami temui. Aku, keluargaku dan keluarga dari Jakarta sangat menikmati suasana disana. Pengunjung berjejalan, mau memotret saja harus tahu diri. Jangan lama-lama ada yang menunggu, sambil menatap kita seolah sudah habislah jatah kita berfoto ria.

Mendung, gerimis menghiasi pagi. Tak surut langkah kita terus berjalan menelusuri tempat-tempat yang menakjubkan. Si kecil sanggup berjalan sendiri tanpa meminta gendong. Luar biasa.

“Susu!! Ayo beli, ya!” teriakku. Tak tahan melihat susu segar. Anak-anak berkerumun. Si sulung memilih rasa strawberry, si tengah coklat, dan si bungsu vanilla. Susu yang nikmat menghalau haus. Meski udara dingin, kami tetap memilih susu dingin.ingat dingin lebih nikmat!

Jangan lupa kalau ke Malang mampir di kedai-kedai susu sapi murni. Ada banyak varian rasanya dan rasakan kesegarannya. Ini kebetulan saja, di dalam tempat wisata ada yang menjual susu sapi segar. Lumayan mengusir dahaga.

Kami melepas lelah dibangku sambil menikmati susu segar. Masih gerimis. Tak apa, anak-anak ikut menikmati tetes-tetes air. Jalan yang mesti ditempuh masih jauh. Aku sengaja berpisah dengan rombongan. Biarlah rombongan orang tua berjalan dengan santai. Sementara aku dan Mas Adi berkejaran dengan anak-anak.

Mas Adi melirik jam tangannya. Adzan dhuhur pasti sudah berlalu. “Ada mushola, kita sholat dahulu!”

“Tadi sudah kutanya, mau sholat disini atau tidak. Tadi bilang apa. sholat diluar saja. Nah, kalau jawabannya tidak jelas begini, sulit buat wanita. Aku tidak membawa mukena.”

“Didalam pasti ada.”

Ternyata tidak semudah itu. Segala sesuatunya harus sabar mengantri. Mushola penuh sesak. Handphoneku berbunyi nyaring. Aku berhenti mengantri.

Ada panggilan dari bu Lik. “Bulik sudah diluar. Tak tunggu di tempat tadi ya. Pak Lik sudah tidak kuat berjalan jauh.” Khawatir terjadi sesuatu terhadap orang tua, aku segera mengiyakan.

“Iya..iya..nanti segera kesana,” ajakku.

“Kita sudah bayar tiket semahal in, eh sekarang mereka sudah selesai jalan-jalannya.”  Raut muka mas Adi menunjukkan rasa kecewa.

“Tak ikhlas?”

“Bukan begitu.”

“Lalu?”

“Sayangnya keluarga Pak lik  hanya berjalan sebentar. Padahal kita saja baru jalan separo. Sayang uangnya!”

“Orang tua berbeda dengan anak muda. Tidak sekuat masa mudanya dahulu. Sebelum kesini kita sudah jalan-jalan ke museum satwa. Cukup jauh juga, buat orang 50 tahun keatas. Jadi harap maklumlah. Setelah ini kita pulang saja.” Jalan-jalan bersama banyak orang tentu berbeda dengan sekeluarga saja.Tak bisa bebas.

“Pulang!?” anak-anak menjerit seketika.

“Aku belum mainan. Aku mau kesana! Ayo!” Anak-anak berteriak ketika melihat aneka permainan di kolam renang. Si kecil loncat-loncat girang.

“Tapi kita sudah ditunggu.” Aku memandang wajah anak-anak yang seolah memintaku mengulur waktu. Acara mereka belum selesai.

Mas Adi memandangku. “Masih siang. Biar mereka menunggu.”

“Tidak enak membuat orang lain menunggu. Bukankah tujuan kita kesini untuk menyenangkan mereka.”

“Tapi kita bersama anak-anak. Semuanya harus senang.”

“Kita masih bisa melanjutkan jalan-jalan.”

Setelah menerima telpon itu kami merasa tak memiliki banyak waktu. Kita hanya berjalan-jalan, berhenti sejenak ketika lelah. Di luar, kami melihat keluarga Pak lik duduk di bangku dengan santai dibawah payung besar. Mereka bercerita perjalanan panjangnya. “Terlalu berat buat orang tua.” Gerimis telah usai.

Mas Adi memandang kami, “Selanjutnya kemana?”

Suamiku mulai berhitung dengan cermat. Harga tiket, makan siang, makan malam. Semuanya menjadi urusannya. Menjadi bos sehari saja bisa membuat seseorang pusing. Sayang, kartu ATM kita tak berharga saat itu. Mesin sedang rusak. Persediaan uang cash menyusut. Padahal dalam keadaan seperti ini, apa  dan siapa yang bisa diandalkan? Meminta mereka membayar sendiri! Tidak! Mas Adi dan aku sudah sepakat untuk menanggung biaya. Kartu penyelamat itu akhirnya hanya menjadi pelengkap saja.

“Ke BNS saja?”

“Museum angkot!”

“Terserah.”

Mas Adi dan aku mulai berdiskusi. Namun, tak ada kata sepakat.

“Kalau museum angkot, nanti kita mesti jalan. Buat orang tua itu terlalu jauh.”

“Nanti kita tunggu di kendaraan saja, Mas,” sahut Bu lik.

“Lho? Sudah jauh-jauh datang ke malang dan tidak ikut,” kata Mas Adi.

“Tidak apa, Mas. Yang penting anak-anak senang.”

Mas Adi berbisik padaku. “Kalau ke museum angkot, berat di ongkos. Kamu sendiri tahu, kita sudah banyak mengeluarkan uang.”

“Tentu saja. Kita bayar orang banyak.”

“Ke BNS saja. Itu yang paling murah. Satu tempat saja. Cukup!”
“Sekarang jam berapa?”

“Masih jam satu. BNS belum buka. Nanti jam 3 sore. Apa kita mau menunggu disini?”

Huff. Rencana yang hampir gagal. Memang kami tak memiliki banyak waktu untuk merencanakan wisata ini. Semuanya berlangsung mendadak. Dapat kendaraan juga mendadak. Mengajak untuk berangkat sebelum shubuh, juga mendadak. Karena mendadak itu, kami lupa tidak menyediakan banyak minuman botol.

“Jadi...ke museum angkot ya.”

Jalan menuju museum angkot padat merayap. Mungkin semua orang yang berada disini sedang menikmati masa liburan panjang. Kita hendak mencari tempat parkir, tiba-tiba Mas Adi mengatakan ada rencana lain.“Kita ke Kusuma agro saja. Nanti bisa petik apel di kebun. Pasti belum pernah?”

Keluarga Jakarta tertarik. Mereka belum pernah wisata petik buah. Nah, sekaranglah saatnya. Maka, pak sopir dibuat bingung untuk kesekian kalinya, melaksanakan perintah dengan sigap.

Jalan menanjak, semua kendaraan ingin segera tiba di tempat. Langit kelabu, hawa dingin menyergap, ketika tiba di Kusuma agro. Kita memilih petik apel dan jambu biji. Senangnya, ternyata tiket kita sudah termasuk makan siang. Sayangnya Bu lik dan Pak Lik benar-benar menunggu di kendaraan. Pak lik yang memiliki riwayat penyakit jantung harus memperhatikan kesehatannya, harus istirahat. Maka Bu lik dengan sabar dan setia menemaninya.

Cuaca sedang tak bersahabat. Setelah makan siang yang paling akhir, kami mengunjungi kebun jambu biji. Per orang hanya boleh memetik dua buah. Tak boleh lebih. Kami bersemangat. Tak ada penjaganya, kami akan petik sendiri buah-buahan itu. Tiba-tiba hujan deras, tanpa jeda. Orang-orang berlarian menuju aula. Berkumpul menghindari terpaan hujan. Hampir satu jam kita tak berkutik. Kita tak membawa payung ataupun jas hujan. Tak ada yang bisa dilakukan selain menunggu hujan reda.

“Masih mau memetik apel?” tanya Mas Adi.

“Ayo, siapa takut!” Meski jas hujan yang disediakan agro telah habis, kami siap berangkat ke kebun apel. Ada mobil jemputan yang mengantar kita menuju kebun apel. “Apelnya lumayan besar, sayang kalau kita tidak ikut memetik.”

“So, kemana tujuan berikutnya?” tanya Mas Adi.

“Pulang!” jawab rombongan serempak. Dari bangku belakang orang-orang bersahutan.

“Capek, Mas.”

“Sudah hampir jam lima. Pulang!”

“Nanti kemalaman di rumah!”

“Bajuku sudah basah,” Ratih memperlihatkan bajunya.

“Ha..ha..ha.. baju bisa beli. Kita yang ikut ke kebuh basah semua.”

“Tidak basah kuyup, kok. Nanti juga kering,” sahut si sulung. Tentu dia bisa tenang karena aku sudah menyiapkan tas yang berisi baju ganti anak-anak.

“Tidak, aku mau pulang saja,” teriak Ratih.

“Barangkali ada yang mau beli oleh-oleh?” tanyaku.

Tak ada yang menjawab. Mungkin inilah saat yang tepat pulang. Kendaraan kami melaju perlahan. Dimana–mana macet. Masih saja ada kendaraan yang main serobot. Deretan kendaraan berjajar tak karuan, menambah kemacetan. Di bangku belakang, orang-orang menggerutu. Tak ada yang perlu disalahkan.Hanya perlu kesabaran. Sebagai penumpang, kami hanya bisa menikmati dalam senyap. Tidur adalah pilihan yang tepat. Semoga saja pak sopir mengerti. Tak perlu saling salip, kami hanya ingin ketenangan dalam kendaraan. 

***
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #Jalan2INDONESIA yang diselenggarakan Nulisbuku.com, Storial.co, dan Walk Indies.




No comments :

Post a Comment

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Maaf, jika ada link hidup akan saya hapus!