Monday, March 7, 2016

Uang Receh

3 comments :



 Cerpenku di Radar Bojonegoro
Cerita ini idenya karena sering berinteraksi dengan pengemis. Hampir setiap hari ada saja yang datang ke toko bapak. Hari Jum'at adalah puncaknya. Entah bagaimana asalnya, di hari ini banyak sekali pengemis yang datang. Kalau dua puluh orang pasti ada, bahkan lebih. Datang sendiri atau berkelompok. Semuanya sudah menjadi langganan selama bertahun-tahun.

Terima kasih sudah mampir. Silakan dibaca ya!


Uang Receh

Hampir sebulan ini Ninik menempati toko di jalan Pemuda. Toko seluas 4x6 meter itu disewanya dari seorang teman. Masalah harga sering menjadi momok bagi pemain baru. Tapi karena dia kenal dengan pemiliknya maka dipakailah harga teman.

Jam delapan pagi, Ninik baru saja membuka toko. Rutinitas berlanjut dengan menyapu lantai.  Lalu membersihkan etalase yang penuh dengan tumpukan kerudung dengan kemonceng. Kaca dilap hingga tak ada debu yang menempel.

Rombongan pengemis berhenti di depan toko Ninik. Sekitar delapan orang terdiri dari ibu-ibu, bayi dan anak-anak berjalan beriringan mengais receh. Di wajah mereka, ada setetes harapan ketika tiba di pertokoan, warung dan masjid. Mengharap belas kasihan orang-orang yang memiliki kelebihan rejeki.

“Bu shodaqohe, bu,” kata mereka menyapa Ninik.

Hari ini Jum’at. Hari yang biasa dipakai untuk mengemis. Entah bagaimana asalnya, hari Jum’at menjadi plihan favorit untuk mengemis. Berbondong-bondong pengemis berdatangan mengunjungi deretan toko di jalan Pemuda. Ada yang memberi ada juga tidak. Jika sekali saja ada yang memberi, maka mereka akan datang lagi. Bisa jadi mereka mengajak teman, tetangga, atau siapa saja. Mengabarkan bahwa si A adalah orang yang dermawan.   

Ninik menghentikan aktivitas bersih-bersih. Mencari uang recehan dari kotak uang. Tak ada.  Sekilas dia mencarinya di dalam dompet. Sayang, dompet DANNIS warna hijau kesayangannya tidak memberikan jawaban yang menyenangkan.

Sepurane, buk. Gak ono receh. “

Duwit gedhe yo ora popo.”

Apa! Pengemis-pengemis itu makin nglunjak. Tidak ada uang kecil, uang besar juga mau. Eh, enak sekali mereka. Tinggal minta. Tak perlu bersusah payah. Dikira bekerja itu tidak capek. Bisa capek secara tenaga dan pikiran. Kalau tidak laku, mikir bagaimana caranya agar dagangan laku.

“Besok saja.”

“Besok aku nggak kesini.”

“Halah!” Mereka, para pengemis itu juga mempunyai jadwal bekerja alias mengemis. Sekali mengemis, mereka akan mengemis terus. Kalau tidak disini, mungkin di kampung atau tempat-tempat ramai lainnya.

“Iya. Aku cuma Jum’at saja kesini.”

Yo wis, minggu depan saja.” Ninik memberikan tawaran. Setidaknya, dia ingin segera keluar dari urusan ini. Gemas melihat mereka. Tapi tak berdaya menolongnya keluar dari zona nyaman mengemis.

“Nggak bisa. Kelamaan.”

“Kalau begitu nggak usah saja. Daganganku belum ada yang laku. Ini baru buka.”

Ninik yakin mereka juga tahu kalau baru buka. Tapi adakah yang peduli. Tak ada. Kemajuan kota ini tidak berbanding lurus dengan peningkatan taraf hidup masyarakatnya. Lihatlah, di alun-alun, yang sampai detik ini masih dianggap sebagai pusat kota, pusat keramaian! Lihat pula, berapa banyak pengemis dan gelandangan yang berjejer rapi di depan masjid agung. Berharap para peziarah, pelancong, atau siapa saja yang sedang berjalan-jalan disana menaruh sekeping receh.

Tatapan wanita yang berdiri paling depan itu lebih garang. “Hah!”

Desahan keras itu adalah sebuah pertanda. Ya, tidak perlu mencari alasan untuk ribut dengan mereka. Meski Ninik merasa alasan itu benar. Ninik mencari cara aman menghadapi mereka. “Sebentar tak carikan lagi.”

Pengemis itu hanya butuh uang bukan butuh pekerjaan. Ini adalah Jum’at keempat kedatangan mereka. Menengadahkan tangan dan berteriak lantang jika tak kunjung diberi uang.

“Uangnya sampeyan berapa nanti aku kasih kembalian.”

Bah! Mereka, para pengemis itu pantang menyerah. Baginya, pulang harus membawa sekantong uang. Tak perlu peduli, apakah mereka yang memberikan uang itu ikhlas ataupun tidak. Yang penting dapat uang. Karena uanglah yang membuat mereka tetap hidup dan berjalan hingga tiba disini.

Ninik menatap wajah sangar para pengemis. Ada banyak kisah yang sempat didengarnya. Tak perlu berdebat. Karena berdebat dengan mereka hanya akan mempermalukan diri sendiri. Siapa yang menang tidak penting. Namun, jika suara lantang mereka ditambah misuh-misuh aneka macam hewan di tambah lagi dengan kotorannya itu didengar orang-orang sekitar termasuk pembeli ... lebih baik mengalah saja. Maka dengan jengkel, Ninik membuka sekali lagi dompetnya.

Lima puluh ribu. Ini terlalu besar buat mereka. Dibukanya lipatan-lipatan uang kertas yang berjejalan di dompet. Semoga saja ada uang yang lebih kecil, doanya lirih. Eman kalau uang besar ini dikasih. Ninik tersenyum ketika menemukan lipatan uang sepuluh ribu yang bersembunyi diantara uang-uang kertas lainnya.

 “Kasih kembalian sembilan ribu. Ini uangnya.”

Wanita yang berdiri paling depan mengambil sekantong uang receh yang disembunyikan dalam selendang. Lalu buru-buru menghitungnya. “Ini kembaliannya.”

Mata Ninik terbelalak. Rupanya mereka lebih pintar mencari uang. “Sepagi ini kalian sudah mendapat uang sebanyak ini.”

Seperti biasa, raut muka pengemis itu datar. Bahkan terlalu datar untuk dikatakan senang atas pemberian uang Ninik. Tak ada ucapan terima kasih. Tak ada senyum.

 “Belum banyak.” Tangan kanannya memegang plastik bening ukuran sekilo. Sepertiganya berisi uang logam, mulai dari seratus hingga seribu.  Tak ada basa-basi lagi setelah ini.

Baru beberapa menit rombongan pengemis itu pergi, datang rombongan berikutnya. Wajah mereka sama, garang. Hidup tak pernah ramah atau kita, manusia yang tak pernah bisa bersahabat dengan hidup. Wanita-wanita berkulit gelap dan kotor dengan rambut kemerahan karena terpapar matahari. Mereka selalu memakai baju-baju daster atau baby doll yang lusuh, entah berapa biji pakaian yang dimiliki. Mungkin saja itu tak penting.

Pernah, suami Ninik marah pada mereka. Mengapa mereka tiap minggu datang dan meminta-meminta. Kenapa tidak bekerja saja. Bukankah mereka masih kuat bekerja. Cari pekerjaan yang gampang, tak perlu keahlian. Kalau mau pasti ada jalan. Tapi apa yang terjadi! Suara mereka nyaris memekakkan telinga. Seperti harimau lapar, suara mereka menerkam sepi. Sejak saat itu tak pernah lagi suami Ninik bicara pada mereka.

“Berapa orang?”

“Enam.”

Anak-anak yang ikut mengemis membuatnya tertegun. Setiap melihat kenyataan ini dia merasa risih. Apa yang bisa diberikan kepada anak sekecil ini. Uang receh dan pelajaran mengemis. Anak sekecil itu harusnya sekolah.

“Anaknya nggak sekolah?”

“Nanti siang. Sekolahnya diperbaiki.”

“Kelas berapa?

“Yang ini kelas dua.” Ibunya menunjuk pada anak yang lebih tinggi. “Ini belum sekolah. Tahun depan TK.”

Ninik mneghitung uang receh. Kalau pengemisnya banyak begini dan terus-menerus, Ninik harus rela menyiapkan banyak uang receh. Mereka sudah menjadi langganan Ninik. Pasti mereka akan datang lagi minggu depan dan seterusnya.

Sejak kedatangan para pengemis, urusan bersih-bersih menjadi terganggu. Rombongan berikutnya adalah dua orang wanita yang membawa bayi-bayi mereka. Ninik mengamati bayi-bayi itu. Dia yakin mereka belum sampai setahun. Siapa yang peduli dengan usia. Urusan perut lebih penting dari apapun di dunia ini.

Seorang bayi merengek. Disusul tangisan yang kecang. Ingus meleleh dari hidung mungilnya. Si ibu segera mengusap dengan selendang gendongan. Si bayi masih saja meronta. Si ibu tak sabar dan menghardiknya. Bayi itupun ketakutan. Si ibu bergegas menyusuinya.  Tangisnya reda, sesekali masih sesegukan. Bayi lainnya sedang tidur dalam gendongan ibunya.

“Berapa orang?”

“Empat.”

Meskipun masih bayi, tetap masuk jatah. Mereka hafal dengan uang yang diberikan Ninik. Kalaupun kurang, mereka akan meminta lagi. Suara mereka lebih menakutkan daripada suara suami Ninik.

Hari ini urusan pengemis cukup merepotkan. Belum ada satupun pembeli yang datang. Justru para pengemis yang datang silih berganti. Seorang wanita tua menghampiri Ninik. Dia sudah layak dipanggil mbah. Rambut sudah memutih dan jalannya tidak secepat orang muda. Entah barang macam apa yang digendongnya. Mungkin hasil pemberian orang.

Ninik segera paham dan mengambilkan uang receh. “Mbah, sudah tua kok masih ngemis?”

“Ini buat cucu-cucu saya di rumah. Buat sekolah.”

Lalu mengalirlah kisah pilu si mbah. Lupakan saja, anggap saja semua pengemis memiliki kisah pilu sehingga layak untuk memilih jalan hidup seperti ini. Mengemis. Tidak ada pilihan lain karena mereka tak mau memilih.

Ninik mendengarkan tanpa berkomentar. Karena Ninik tak pernah tahu apakah kisah itu benar adanya ataukah hanya ingin menarik simpati. Lalu ketika rasa iba itu muncul cukup dengan memberikan receh lebih banyak dari biasanya.

Baru kali ini Ninik melihat pengemis yang tersenyum padanya. Mungkin karena uang yang diberikan Ninik lebih banyak dari biasanya atau karena rasa terima kasih. Tapi Ninik senang saja.

Ninik sedikit terkejut ketika si mbah ini mengatakan dari luar kota. Disini dia menyewa kamar per harinya Rp 5.000,00, kalau uangnya sudah terkumpul banyak dia akan pulang menjenguk keluarganya. Memberikan receh-receh yang telah ditukar dengan uang kertas.

Ninik mulai mengenali para pengemis yang datang ke tokonya. Yang rombongan biasanya satu kampung. Orang-orang di kota ini sudah paham kalau ada sebuah kampung yang warganya mengemis. Hanya sebagian kecil. Tapi itu cukup mencoreng wajah manis kampung itu. Mereka tak pernah malu menyebutkan nama kampungnya. Para lelakinya tak memiliki pekerjaan tetap.

Setelah berkeliling pertokoan dan kampung perjalanan mereka akan berakhir di masjid agung. Mereka sudah tiba sebelum adzan sholat Jum’at berkumandang, bahkan sebelum suara murottal diputar. Berderet-deret pengemis dari dalam maupun luar kota duduk di depan pagar, menengadahkan tangan seraya berteriak meminta shodaqoh.  Dihinggapi terik matahari mereka akan terus bertahan.


***
Keterangan:

Sepurane, buk. Gak ono receh : Maaf, bu. Tidak ada uang receh.
Duwit gedhe yo ora popo : Uang besar juga tidak apa-apa.
Yo wis : ya sudah
Sampeyan : kamu
misuh-misuh : mengumpat

3 comments :

  1. TFS ya mba :) mau belajar nulis cerpen aahh :)

    ReplyDelete
  2. cerita-cerita seperti ini lah yang membuat kita sadar akan unag itu bukan segalanya, oh iya mba aku juga ada cerpen mengharukan di cek ya, baru satu sih tapi judulnua keren kok Hadiah terbaik do komentarin ya mba...

    ReplyDelete

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Maaf, jika ada link hidup akan saya hapus!