Friday, September 16, 2016

Wisata Coban Pelangi

8 comments :



Assalamualaikum, travelers.

Jalan-jalan kami kali ini dengan berkunjung ke Coban Pelangi yang terletak di Gubukklakah kecamatan Poncokusumo, Malang. Sekitar 32 km dari kota Malang. Lumayan jauh juga. Saya menggunakan bantuan GPS untuk mencari lokasi ini. Sesekali bertanya kepada penduduk lokal.


Jalan menuju lokasi wisata ini sebenarnya tidak sulit. Karena ada papan petunjuknya. Tapi tetap saja ada rasa was-was, terutama ketika melewati jembatan yang hanya muat untuk satu mobil saja. Sementara di sisi kanan dan kirinya tidak ada pembatas apapun. Sempit banget. Lihat ke bawah ada sungai kecil. Wow...tantangan! Bismillah.

Setelah jembatan itu, jalanan mulai menanjak. Karena disini jalannya lurus-lurus saja, jadinya tidak takut tersesat. Ketika mendekati lokasi wisata, terlihat pemandangan yang indah. Ada kebun sayur, apel. Lalu di kanan kiri jurang dan banyak tikungan. Jadi kudu waspada ya!

Sebagai orang pantai kami sangat senang bisa melihat kanan kiri jalan banyak pepohonan, kebun-kebun. Udara segar, pemandangan segar. Mata bisa memandang jauh. Wah, pokoknya beda dengan pantai yang suhu udaranya panas dan menyengat. Tapi keduanya memiliki sisi-sisi yang unik.


Harga tiket masuk:

Domestik Rp 8.000,00
Internasional Rp 15.000,00

Di depan lokasi wisata ada beberapa warung yang menjual makanan dan minuman. Lebih banyak menjual mie instan sih. Ketika anak saya mencari es, tidak ada. Kata penjualnya, karena disini sudah dingin sih.

Note:

  • Sebelum menuju lokasi wisata pastikan fisik Anda dalam keadaan prima.
  • Sudah makan dan minum. Sehingga ada energi yang cukup untuk naik dan turun area wisata yang penuh tantangan.
  • Membawa air minum. Saya rasa air minum sangat penting karena medan yang cukup menantang (seperti naik turun bukit) dengan posisi yang curam.

Setelah tiket sudah ada di genggaman, saatnya kami memulai perjalanan. Jangan lupa membaca peta lokasi dulu. Agar ada gambaran perjalanan yang hendak ditempuh. Hanya ada satu cara menuju air terjun ini: jalan kaki. Menurut petugasnya, jaraknya hanya 1 km. Tapi rasanya seperti berpuluh-puluh km, karena beraaat!

Awalnya kami harus menuruni jalanan yang cukup curam. Kadang ada tangga batu, kadang cuma tanah lembab yang sudah sangat halus karena banyak diinjak orang. Meski jalan menurun tak butuh tenaga ekstra namun harus hati-hati. Jangan sampai terpeleset.


Note:

  • Sebaiknya mengunjungi tempat wisata seperti ini di musim kemarau. Jangan musim hujan. Berbahaya. Jalanan lebih licin sehingga rawan tergelincir.
  • Jika lelah, kita beristirahat di pinggir jalan. Ada banyak bangku dari bambu yang bisa dipakai untuk duduk-duduk santai sambil mengatur nafas.

Semakin mendekati aliran sungai di Coban Pelangi semakin terdengar suara sungai yang berisik. Kami makin bersemangat untuk segera melihat air terjunnya.


Udara terasa semakin dingin hingga di depan Coban Pelangi. Disini diberi pembatas dan peringatan. Jadi pengunjung hanya bisa melihat sampai disini saja. Sebenarnya kalau mau mendekati air terjun juga bisa. Tapi demi keamanan bersama kami memutuskan hingga di pembatas saja.

Sebentar saja berada disini seperti sedang berhujan-hujan. Tetes-tetes air terjun ini bisa mencapai tubuh kami. Kerudung sudah mulai basah. Anak-anak juga demikian. Saya selalu menggandeng si kecil agar tidak jauh dari saya.


Note:

  • Perlu ekstra hati-hati karena tanah disini basah dan licin.
  • Ketinggian air terjun coban pelangi: 107 meter
Selama beberapa saat saya mengagumi air terjun. Sayangnya kami datang ketika hari sudah sore dan suasana tidak cerah alias sedang berkabut. Matahari tidak kelihatan sinarnya. Ditambah kami tidak bisa memotret dengan baik. Jadi mengambil gambar apa adanya saja.


Mengapa disebut Coban Pelangi?

Ketika kami datang kesini saya berharap melihat warna-warni pelangginya. Penasaran! Tapi karena tidak tahu akhirnya kami hanya mendapatkan gambar air terjun. Bagaimanapun, bagi kami, air terjun saja sudah sangat luar biasa.
Jika Anda datang disaat tepat, yaitu ketika ada matahari sehingga ada pantulan sinar yang mampu membuat air seolah berwarna-warni. Itulah alasan disebut Coban Pelangi.

Oh ya, coban itu artinya air terjun. Sebaiknya datang ke lokasi ini pagi hingga siang sekitar pukul 14.00. Kalau hari sedang cerah, di waktu tersebut masih ada sinar matahari.

Lokasi wisata ini dikelola oleh Perhutani setempat. Keadaannya masih alami. Udara sejuk, asri, benar-benar berada di dalam hutan dengan pohon-pohon yang menjulang.

Pengunjung bisa mendengarkan suara binatang yang bersahut-sahutan. Saya penasaran dengan makhluk ini. Suaranya keras sekali. Seperti jangkrik kalau sedang mengerik. Berisik. Tapi binatangnya tidak kelihatan. Penduduk sekitar menamakannya renong. Mirip dengan capung. Saya sendiri baru kali ini mendengar namanya. CMIIW.

Ada pula burung-burung kecil yang hinggap di atas dahan pohon. Benar-benar natural. Mereka bebas terbang dan mencari makan.

Lalu ada tupai yang sedang memanjat pohon. Kedua anak saya mengamatinya hingga hilang dari pandangan. Jarang kan melihat seperti ini.

Fasilitas:


  • Hanya ada satu warung di dalam lokasi. Padahal ada beberapa bangunan warung lagi, namun kosong.
  • Ada banyak toilet. Sayangnya kurang dijaga kebersihannya. Airnya dingin sekali.
  • Ada mushola kecil. Dilengkapi dengan air wudhu yang terus mengalir dari dua bilah bambu. Air ini berasal dari mata air Coban Pelangi.
  • Banyak bangku di sisi-sisi jalan. Jika sudah sangat capek bisa beristirahat sebentar disini. Sambil melihat pemandangan di sekitar, sambil mengatur nafas pula. Atau mengganjal perut sebelum melanjutkan perjalanan. 

Untuk melihat air terjun, kami harus melewati jembatan bambu. Jembatan ini cukup unik. Jangan khawatir, ketika merasakan goyangan. Jembatan ini tidak terlalu tinggi dan cukup kuat untuk menahan para pengunjung.


Di bawah jembatan bambu ada sungai yang airnya jernih. Arusnya cukup deras. Lumayan bikin hati deg-degan. Saya ajak anak-anak bermain air dipinggir saja. Lebih aman dan lebih tenang arusnya.

Disini kami bisa duduk-duduk di atas batu sungai berwarna hitam. Tidak licin kok. Lalu menjulurkan kaki ke dalam air sungai yang super dingin. Merasakan aliran arusnya perlahan.

Kami senang sekali ketika melihat air sejernih ini. Tidak ada sampah yang terserak. Ya, karena dekat dengan sumber airnya dan tidak dimanfaatkan manusia untuk hajat hidup. Bisa cuci tangan, cuci muka dengan nyaman. Rasanya segar sekali. Seperti biasa, bermain di air, anak-anak saya tidak mau pulang. Mereka seolah lupa dengan perjalanan berat melewati tangga demi tangga.

Perjalanan pulang ternyata lebih berat daripada berangkat tadi. Jalanan curam menanjak. Nafas ngos-ngosan.  Jalan pelan-pelan saja. Yang penting selamat hingga di tempat tujuan. 

Di jalan menikung ada pagar pembatas. Menurut saya sih, selain sebagai pembatas dengan jurang di bawahnya juga sebagai pegangan. Terbukti ada saja orang yang memanfaatkan untuk pegangan ketika naik dan turun tangga. Termasuk saya.

Banyak pengunjung ketika melakukan perjalanan naik tangga berhenti di tiap bangku. Ada yang makan, minum, ngobrol, maupun sekedar duduk. Seperti kami yang duduk dulu sambil mengatur nafas. Apalagi si kecil sudah mengeluh capek. Seperti sebuah jeda, bangku-bangku ini menjadi penyelamat deh!

Lega rasanya ketika sudah tiba di atas. Seolah saya menjadi seorang pemenang dalam sebuah perlombaan. Karena selama ini saya jarang berolah raga jadi mengunjungi air terjun terasa sangat berat. Bagi saya, hanya perlu tekad yang kuat sebelum melakukan perjalanan seperti ini.

Kata bapak petugasnya, “Karena sehat itu mahal, maka perjalanan ke air terjun ini jadi sangat penting. Kalau sudah sepuluh kali naik turun disini, pasti ringan.”

Ya, tentunya para petugas disini sudah sangat biasa naik turun medan seperti ini. Sudah sangat ringan melangkah. Berbeda dengan saya, yang jarang berdekatan dengan gunung, bukit, air terjun, sungai.

Bagaimana dengan travelers?


8 comments :

  1. Udah lama juga ga ngeliat air terjun.. sejuknya Masya Allah ya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asyik mba, berada disini. Semakin dekat dengan air terjunnya semakin dingin.

      Delete
  2. Waaah seru juga ya kemari. Berarti kalau kemari diusahakan musim kemarau ya :)

    ReplyDelete
  3. Perjuangan juga ya, haha... Tapi anak2 kuat ya, mba, naik turun dg jalanan yg curam gitu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anak-anak lebih kuat daripada ibunya. Aktivitas seperti ini cocok buat mereka.

      Delete
  4. ini yg gagal kita datangin pas ke malang 2013 lalu mba... waktu itu lg kliling jawa naik mobil, dan aku udh pgn bgt bisa kesana.. tp pas hari H, hujaaan,jadi batal ke coban pelangi... ujung2nya malah ke selecta -__-.. makanya kalo ke malang lg aku msh pgn bgt bisa kesana... aku suka wisata air terjun gini soalnya... krn sejuk.. ga masalah medan kesananya berat, asal bisa nemu air terjun secakep ni, kebayar rasanya ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perjuangan sih berat. Tapi kalau sudah bisa melihat air terjun dan menyentuh dinginnya air, rasanya sungguh luar biasa.

      Delete

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Maaf, jika ada link hidup akan saya hapus!