Monday, October 3, 2016

Perhatikan 6 Hal Ketika Menemani Anak Belajar

16 comments :



Seperti biasa menjelang UTS (Ujian Tengah Semester) atau ujian semester, atau ujian apapun pihak sekolah menghimbau agar orang tua mendampingi anak dalam belajar. Jadi sudah siap moms?

Menemani anak-anak dalam belajar itu susah- susah gampang. Ada anak dengan sekali ngomong saja sudah mengerti lalu belajar. Moms pasti senang kalau si anak seperti ini. Tidak perlu mengeluarkan berbagai jurus sakti untuk merayunya. Sebaliknya, ada anak yang sampai berkali-kali diingatkan tetap tidak digubris. Ayo moms, apakah pernah merasakan seperti ini?

Kadang saya mikir begini, mungkin saya dulunya juga seperti anak-anak ini. Sulit diatur. Atau orang tua yang sudah terlanjur pasrah saja. ya sudahlah, kejadian di masa kanak-kanan kita semoga menjadi pelajaran berharga.

Jadi bagaimana dong? Masak anak-anak kita dibiarkan saja. Ehm...kadang juga merasa super galau. Mengapa si anak kok susah diatur, susah dinasihati. Bukankah belajar itu untuk dirinya juga. Dia merasakan manfaat/keuntungan. Tapi kenyataannya si anak kok tidak kunjung sadar. Sebaliknya masih asyik bermain, atau bahkan pergi ke rumah teman. Sepertinya memang butuh piknik ya, Nak!

Suatu hari anak saya bercerita bahwa dia mau kok diingatkan untuk belajar. Masalahnya untuk belajar saja saya harus ngomong berkali-kali. Padahal dia sudah kelas VI SD. Di usia ini, anak-anak mestinya sudah mengerti tanggung jawabnya. Tidak menunggu perintah dari guru maupun orang tua.

“Kalau ibu capek, ibu bosen, ibu jengkel, ibu nggak mau nyuruh belajar, gimana? Biar aja!” kata saya.

Jelas saja dia tidak terima. Entah apa yang ada di dalam pikiran si anak ini. Seorang ibu juga manusia biasa. Kadang lelah, kadang khilaf bahkan tak sanggup mengatur emosi. Bahaya bukan!

Tidak ada salahnya kalau kita mengetahui karakter si anak lalu mencari cara yang sesuai dengan gaya belajarnya. Tujuannya agar anak merasa nyaman ketika belajar. Sebagai orang tua saya ingin yang terbaik tanpa harus memaksakan kehendak.

Ini yang saya lakukan untuk menemani mereka agar bersedia belajar:

  1. Buat kesepakatan. Saya biasa membuat kesepakatan dengan anak jika dia tidak kunjung mau belajar. Misalnya begini, jam berapa adik bisa belajar? Jadwal moms sebaiknya menyesuaikan si anak.
  2. Luangkan waktu. Hanya ada satu cara untuk meluangkan waktu. Lupakan masalah pekerjaan rumah yang menumpuk, lupakan to do list yang memenuhi isi kepala kita. Curahkan waktu buat dia. Sesuaikan dengan kebutuhan waktu belajar untuk si anak. Anak kelas 1 SD tentu tidak tahan belajar selama satu jam. Berbeda dengan kakaknya.
  3. Sabar. Ya, kadang si anak butuh berkali-kali penjelasan hingga akhirnya mengerti. Sekali dua kali masih mudah, tapi kalau setiap soal harus menuntunnya mencari jawaban bisa membuat stok kesabaran menurun drastis! Tapi tenang, coba kita posisikan diri kita sebagai anak. Pelajaran anak-anak sekarang rasanya kok semakin rumit saja. Semakin banyak yang dipelajari, semakin banyak tugas, dsb.
  4. Selalu mendukung upaya anak untuk belajar. Termasuk jika anak membutuhkan guru les. Karena tidak semua anak memiliki kemampuan yang sama untuk memahami semua pelajaran di sekolah. Jangan lupa untuk tetap memberikan kata-kata positif bahkan ketika si anak kesulitan belajar. 
  5. Perhatikan asupan gizinya. Menjelang ujian moms pasti ingin agar anak selalu sehat sehingga dapat mengikuti ujian dengan baik. Sebaliknya jika sedang sakit, ah ujian pasti menyusul. Keadaan seperti buat sebagian anak tidak menyenangkan. Bayangkan saja, teman-temannya sedang asyik bermain, dia harus ujian sendirian.
  6. Berdoa. Berikan doa-doa terbaik untuk anak-anak tercinta. Semoga dimudahkan dalam usahanya mencapai cita-cita.

Selain tips diatas saya berusaha untuk percaya terhadap kemampuan si anak. Tidak perlu terlalu berlebihan. Tapi percaya saja deh. Masalahnya anak-anak saya pernah menghadapi keadaan saat dia tidak siap untuk ulangan. Ya, namanya lupa, bisa terjadi pada anak-anak juga.

Misalnya malam hari sudah saya tanya, “Besok ada ulangan, nggak?”

Jawabannya, “Tidak.” 

Tak tahunya menjelang berangkat sekolah baru sadar ada ulangan. Ya, sudah semampunya saja. Saya mau marah juga percuma. Kejadian seperti ini pernah menimpa dua anak saya, SD dan SMP. Sekali-sekali mereka perlu “menikmati” keadaan seperti ini. Dengan begitu anak akan belajar bertanggung jawab, menyiapkan diri untuk ujian. Meski faktanya keadaan seperti ini bisa berulang kembali.

Sebagai orang tua, kitalah yang mestinya tahu karakter anak. Kita telah bersamanya sejak dalam kandungan hingga saat ini. Jadi, saya yakin setiap moms pasti bisa mengenali setiap kesempatan anak untuk belajar.

Setiap anak walaupun saudara kandung, tetap saja berbeda dalam gaya belajar. Termasuk dalam mencari waktu yang tepat untuk belajar. Ada anak saya yang lebih suka belajar dalam keheningan. Maka, dia akan mencari tempat sepi untuk belajar. Jika suasana di rumah tak mendukung pasti sulit untuk konsentrasi. Akhirnya sia-sia saja membaca buku tapi tak paham.

Ada juga anak yang tak terganggu dengan suasana rumah. Karena pada dasarnya dia suka berada di tengah-tengah keluarga. Dia bisa tenang dan tetap konsentrasi belajar. 

Buat semua moms yang anaknya sedang menempuh ujian, semoga sukses ya!

^_^

16 comments :

  1. Biasanya saya kalau nemenin belajar habis magrib sih.Tapi namanya anak2 ya jadi kadang suka2 dia aja deh hehe.

    ReplyDelete
  2. Biasanya aku nemanin anakku pas abis halat magrib juga sama kayak mba Amel :p
    Kalau udah nemanin belajar, aku nggak boleh megang handphone atau bahkan buku mbaa. Benar2 harus meluangkan waktu :)

    ReplyDelete
  3. Semangat y mba, PEER banget buatku klo nanti anakku besar hehehe skerang aza 3 tahun susah bet di ajak belajar ngaji hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Santai mba Herva.

      Sejak kecil dibiasakan saja.

      Delete
  4. Hiks, itu yang adegan lupa ulangan, saya banget itu. Dan rasanya gemeeessss :( :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengen marah, tapi akhirnya saya cuma tersenyum (terpaksa).

      Delete
  5. Membuat kesepakatan, berusaha sabar dan penuh kasih sayang, juga doa, ini yang biasanya berusaha betul saya lakukan :)

    ReplyDelete
  6. Betul y mba jgn disuruh belajar terus tp nutrisinya gak diperhatikan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nutrisi kan mendukung si anak untuk konsentrasi belajar.

      Delete
  7. Wkwkw hal terpenting yang harus ditahan banget itu tetep sabar sih mbak :D hehe

    ReplyDelete
  8. Mau langsung praktik ke anakku ah. :D Soalnya anakku perempuan masih TK. Masih aktif-aktifnya

    ReplyDelete

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Maaf, jika ada link hidup akan saya hapus!