Sunday, February 26, 2017

Kuliner Khas Tuban: Becek Menthok

Gandjel Rel


Setiap daerah pastinya memiliki kuliner yang khas, unik dan ngangeni. Perasaan ngangeni (kangen) ini biasanya terjadi ketika sedang jauh dari kampung halaman alias merantau. Namanya juga makanan khas pastinya tidak ada di tempat lain. Kalaupun ada dengan sedikit atau banyak variasi.


Seperti kerabat saya yang sudah bertahun-tahun tak pulang kampung. Kenangan bersama kuliner lokal terlalu kuat untuk diabaikan begitu saja. Masakan kampung begitu saja terlintas dalam pikiran. Ketika rindu menyergap. Ketika lidah ingin mencecap. 

Ingin mencicip tapi jauh, masih harus memikirkan ongkos perjalanan. Ingin memasak tapi bahannya tak sepenuhnya lengkap. Maka, begitu ada rejeki dan kesempatan untuk pulang kampung, langsung saja memanfaatkan waktu untuk wisata kuliner. Blusukan ke warung-warung yang ngangeni tadi. Tentunya setelah mengunjungi kerabat.  

Becek Menthok



Nah, saya ingin memperkenalkan becek menthok, kuliner Tuban yang layak dicicipi. Menggunakan menthok sebagai bahan utama, sejenis unggas yang dipelihara untuk diambil daging dan telurnya. Istilah mentog berasal dari bahasa Jawa. Sedangkan di daerah lain disebut entog, enthok, enthog, itik manila, bebek manila. Dalam bahasa Inggris disebut Muscovy duck atau Barbary duck.

Whatever namanya, yang penting begitu masuk wilayah Tuban harap menyebut menthok saja. Khawatirnya begitu menyebut nama lainnya, penduduk lokal tidak tahu. Gagal wisata kuliner, dong!

Sebenarnya untuk olahan menthok ini masih banyak macamnya. Ada rica-rica menthok, sate menthok, dsb. Saya pilih becek menthok karena masakan ini tidak asing lagi bagi warga Tuban dan lumayan banyak dijual di warung tradisional.

Patut diperhatikan bahwa warung tradisional ini memang asli warung yang sepanjang tahun tak berubah. Sepanjang yang saya ketahui keadaannya ya seperti itu-itu saja, meski pengunjungnya ramai. Mungkin inilah yang membuat suasana natural, sederhana, santai dan begitu ndeso.

Jadi bukan restoran ataupun rumah makan di pinggir jalan besar yang mudah ditemukan. Melainkan harus rela blusukan ke kampung-kampung. Tapi jangan khawatir kalau bertanya dimana tempatnya, pasti banyak yang tahu. Sebut saja Warung Sor Sawo di desa Karang. Meskipun tidak berada di kotanya tapi ramai pengunjung. Bahkan pernah diliput stasiun teve. Tuh, kan, lokasi kadang menjadi tidak penting. Soal rasa tak bisa bohong! Atau warung Bagong dan Jangkar dan masih ada lagi yang jauh dari riuhnya pemberitaan media.

Sebagai penduduk asli Tuban, saya ingin ikut mempromosikan kuliner lokal. Setidaknya dengan membuat tulisan seperti ini, akan semakin banyak orang yang mengenalnya. Apalagi kalau warungnya tambah ramai, dan pendapatan makin meningkat. Semoga ya!

Dalam foto ini saya membeli becek menthok di dua lokasi. Pertama di depan lapangan Kebonsari. Ini tempat yang paling mudah dijangkau karena terletak di kotanya. Sebagai pedoman, lapangan Kebonsari biasa dipakai sebagai tempat parkir wisata religi Sunan Bonang. Ramai dan sopir-sopir bus pasti mengetahuinya.

Penjualnya adalah suami istri yang sudah bertahun-tahun memakai gerobak di depan trotoar. Jika ingin makan disini ada tikar sebagai alas duduk. Buka pagi hingga pukul 10.00. Karena lokasi ini sebenarnya tidak diperbolehkan untuk berjualan. Ada papan peringatan disana. Sampai detik ini bapak penjualnya tidak pernah ada masalah dengan satpol PP karena selalu mematuhi perintah/perjanjian di waktu tersebut.


Seporsi becek menthok harganya Rp 8.000. Sudah termasuk nasi jagung. Potongan menthoknya kecil-kecil dan dibungkus daun pisang. Kalau makan di tempat langsung saja diguyur dengan kuah. Tapi kalau dibungkus, kuah dibungkus secara terpisah. Seporsi becek menthok ini lumayan murah buat sarapan.

Yang kedua, berdasarkan rekomendasi dari teman-teman, maka saya datang ke warung di belakang kantor BRI cabang di Jalan Majapahit, Tuban. Warungnya berada di belakang pasar baru Tuban, menghadap ke timur. Namanya warung Lek Mah. Disediakan bangku panjang jika makan di tempat. Pengunjungnya mayoritas adalah kaum laki-laki. Seporsi becek menthok tanpa nasi baik nasi putih maupun nasi jagung harganya Rp 25.000. Daging bebeknya lumayan besar dengan kuah santan yang kental.

Hanya saja untuk parkir kendaraan agak susah. Namanya juga pasar, pasti ramai. Sementara tempat parkir terbatas dan kendaraan parkir sembarangan.

Becek menthok ini adalah masakan dengan banyak rempah dan  kuah santan. Tekstur menthok yang berserat besar dimasak hingga empuk. Bumbu meresap hingga daging menthok. Rasanya cenderung pedas dan gurih. Secara umum masakan di daerah Tuban seperti itu. Pedasnya luar biasa! Kemringet (keluar keringat) begitu selesai makan. Tapi jangan khawatir kalau ingin mencicipi kuliner lokal dan tidak terbiasa makan pedas sebaiknya dibungkus saja. Lalu koreksi rasa dengan menambahkan air, dan gula. Atau dimakan daging menthok dengan kuah sedikit.

Olahan becek menthok ini biasa disajikan bersama nasi jagung. Jadi nasi jagungnya dibungkus dalam plastik kecil-kecil. Tapi begitu dibuka langsung ambyar (mekar) menjadi banyak. Ayo yang mau mencicipi, datang ke Tuban!

Yang ingin mencoba memasak becek menthok di rumah bisa menyimak resep berikut ini. Makannya sambil membayangkan suasana kampung halaman ya! Untuk cabe bisa menyesuaikan selera kita. Dalam resep ini cabenya masih belum ada apa-apanya dengan masakan Tuban. Silakan dicoba!

Becek Menthok



Bahan :
1 ekor methok, dipotong 12 bagian
1/2 sendok makan air jeruk nipis
1 sendok teh garam
4 lembar daun jeruk , dibuang tulangnya
2 lembar daun salam
2 batang serai, diambil putihnya, dimemarkan
1 sendok makan garam
1 sendok teh merica bubuk
1/2 sendok teh gula pasir
1.500 ml santan dari 1 butir kelapa
1 sendok makan minyak untuk menumis
2 sendok makan bawang merah goreng untuk taburan

Bumbu Halus:
12 siung bawang merah
5 siung bawang putih
4 butir kemiri goreng
2 cm jahe
4 buah cabai merah keriting
2 buah cabai merah rawit
2 cm kunyit
1/4 sendok teh jinten
1/2 sendok teh ketumbar


Cara membuat :
  1. Lumuri potongan menthok dengan air jeruk nipis dan garam.
  2. Panaskan minyak. Tumis bumbu halus, daun jeruk, daun salam, dan serai sampai harum. Masukkan menthok. Aduk rata.
  3. Tambahkan garam, merica bubuk, dan gula pasir. Aduk rata. Tuang santan sedikit-sedikit. Masak sampai matang dan kental.
  4. Sajikan dengan taburan bawang merah goreng.

 Untuk 4 porsi

Mengapa Asus?



Kuliner lokal itu sebaiknya diabadikan dengan baik. Sayangnya untuk urusan seperti ini saya sering melewatkan. Pengennya langsung makan saja. Apalagi kalau sedang lapar berat. Ugh, urusan jeprat sana-sini jadi mengganggu.

Sejujurnya untuk memotret makanan lebih enteng kalau memakai smartphone. Lha, tinggal jepret, beres! Mau makan di warungnya, sambil nunggu, sambil ngobrol, lalu jepret, jadi deh. Tidak menyolok alias tidak menjadi perhatian orang kalau mau motret. Nah, kalau membawa kamera, aduh ribetnya, belum lagi dilihat orang-orang sekitar. Lalu sayapun mendadak grogi....

Akhirnya saya meminjam Asus Zenfone Max milik bapak. Namanya pinjam ya sebentar, termasuk belajar motretnya. Iya, memotret menggunakan Asus Zenfone ini mudah, bahkan bagi orang yang belum pernah menyentuhnya sekalipun. Itu sih saya! Sebagai pemula, hasilnya lumayanlah!



PixelMaster Camera membuat hasil jepretan amatir seperti saya makin menawan. Asus memiliki beberapa fitur yang membantu kita untuk menangkap momen yang bagus. Untuk mudahnya pakai mode auto. Tanpa utak-atikpun hasilnya sudah bagus. Tapi kalau memang ingin manual layaknya kamera DLSR, pixelmaster ini mampu menjaga stabilitas gambar. Kita bisa mengatur ISO, shutter speed (S), eksposure (EV), White Balance (WB) dan fokus manual. Asyiknya lagi ketika menggunakan Asus ini saya bisa bereksperimen dengan mengutak-atik mode dan langsung bisa melihat hasilnya. Saya suka dengan focusnya meskipun dalam keadaan gambar bergerak-gerak tapi tetap bisa menyesuaikan. Itupun tak butuh waktu lama. Sementara, saya masih geser sana-sini, mesti mencari angle yang pas dulu.

Selanjutnya, saya mencoba memotret di tempat dengan pencahayaan yang kurang.  Tinggal geser-geser ISO, EV dan WB. Kalau angkanya dinaikkan bakal seperti apa, diturunkan lagi bagaimana. Layar langsung menampilkan hasilnya. Lalu fokus, dan jepret. Ternyata sesimple itu, ya!  

Kalau teman-teman bagaimana? Sharing yuk!

^_^

Sumber:

Wikipedia
www.sajiansedap
www.asus.com

Artikel ini diikutsertakan dalam Blogging Competition Jepret Kuliner Nusantara dengan Smartphone yang diselenggarakan oleh Gandjel Rel.
Comments
22 Comments

22 comments:

  1. Ihhhh kalo pedes banget ini kuliner berarti wajib dicobaaaa :D makin pedes, makin aku suka mba :D. Catet dulu ah, kalo nanti bisa ke Tuban ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi mba Fanny penggemar masakan pedes. Mari mba, disini banyak!

      Delete
  2. Mba, aku jadi pnasaran nyobain becek menthok..Aku suka bebek mba.
    Blm pernah ke Tuban jugaa..mau

    ReplyDelete
  3. Pas ke Banyumas, aku sempat makan menthok mba. RAsanay mirip ayam tapi lebih liat ya. Wah lihat makananya jadi ngiler nih mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena tekstur dagingnya yang berserat besar, jadi liat. Tapi kalau dimasak lama, bisa empuk kok.

      Delete
  4. Aih..pengen makan si becek mentok pake nasi jagung..pengen nyicip yg 8rb itu..nasi jagungnya menggoda oi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Murah meriah, mba. Kalau kurang bisa nambah menthok yang dibungkus kecil-kecil itu.

      Delete
  5. Itu lafal beceknya gimana? Seperti becek tak ada ojek gitu ya? Tapi aku suka menthok. Kalau disini khasnya utk rica2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama seperti mengucapkan huruf e pada kata "ojek". Yang rica-rica aku malah belum pernah nyoba.

      Delete
  6. Nasi jagung itu aku pernah makan & enyaaaak... cuman si becek menthok belum pernah, kl ada rejeki ke Tuban mau nyobain aah :D

    ReplyDelete
  7. Waow enak juga nih, pengen coba kalau ke Tuban

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silakan! Semoga bisa mencicipi kuliner khas Tuban.

      Delete
  8. Bumbunya mirip2 opor ya mba, cuma beda di jahe dan ada cabenya. Waaahh.. udah mbayangin betapa gurihnya nih becek menthok :)

    Keren Mba Rochma lah pakenya mode manual, saya suka ga sabar pake mode yg satu itu hihiii... seringnya pake auto atau DOF ajah :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cocok buat penggemar masakan pedas. Beneran gurih dan seger becek menthok ini.

      Masih perlu banyak latihan motret nih.

      Delete
  9. Kayaknya resepnya ada yg kurang deh mbak. Setahu saya bumbu becek itu ada tambahan rempah kas Tuban yaitu MESOYI, sejenis kayu rempah kas Tuban yg tidak ada ditempat lain dan ini yg membedakan masakan Becek dengan Opor atau Kare atau Lodo dari daerah lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih koreksinya. Iya, mesoyi. Kalau orang tua biasanya masak dengan bumbu lengkap hingga aroma dan rasa yang dihasilkan perfect. Untuk resep saya mengambilnya di Sedap Sekejap.

      Delete

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Maaf, jika ada link hidup akan saya hapus!

COPYRIGHT © 2017 · LOVELY MOM | THEME BY RUMAH ES