Friday, June 2, 2017

Ngabuburit di Masjid Agung Tuban





Assalamualaikum.

Seperti tahun-tahun lalu, saya dan keluarga sering ngabuburit di Masjid Agung Tuban. (Note: kalau suami lagi di rumah). Masjid berwarna biru dan warna-warna cerah lainnya ini merupakan masjid kebanggaan warga Tuban. Tak heran jika banyak warga yang ingin menunaikan sholat dan setelah itu duduk-duduk cantik sambil memandang kemegahan masjid.


Kami datang menjelang adzan maghrib. Mulai jalanan hingga pintu gerbang masjid dijaga oleh satpol PP. Saat bulan puasa seeprti ini area masjid hingga alun-alun lumayan sepi. Orang-orang yang ziarah wali songo sedang libur. Tukang becak dan pedagangl kaki lima ikut libur. Lumayan terbebas dari ruwetnya arus lalu lintas yang dimonopoli oleh tukang becak.



Hanya beberapa saat setelah kami duduk menghadap taman, terdengar suara merdu sang muadzin mengumandangkan adzan maghrib. Di dekat taman ada dua galon air mineral dan gelas-gelas enamel kecil.

Begitu terdengar adzan, suami bertanya, “Nggak bawa minum?”

Saya menggeleng. Dia buru-buru mengambil secangkir air putih dekat taman.

Disini tersedia banyak galon. Kalau di dalam ruangan masjid ada air minum kemasan. Untuk takjil sudah dibagikan sejak pengajian menjelang maghrib tadi.



Sebaiknya kalau ingin sholat di masjid ini sudah berwudhu dulu. Karena begitu selesai adzan langsung iqomah dan sholat maghrib. Tidak ada jeda. Buat yang ingin berbuka, minimal bisa meneguk air dahulu untuk membatalkan puasa kita. Selanjutnya bersiap melaksanakan sholat maghrib berjamaah.

Tapi... kalau belum berwudhu, silakan turun ke lantai bawah. Ada petunjuknya untuk laki-laki (utara) maupun wanita (selatan).  Nah, karena cukup luas jadi lumayan butuh waktu dan tenaga buat naik turun kan. Sementara sholat sudah dimulai. Biasanya kalau belum berwudhu pasti ketinggalan sholatnya.

Sholat di dalam masjid dengan lantai marmer rasanya sejuk. Meski udara diluar terasa gerah ya. Semoga saja kesejukan ini dirasakan yang lainnya. Sayangnya kesadaran para jamaah masih kurang. Ada saja shaf yang bolong. Dan tidak ada petugas yang mengatur shaf. Para jamaah wanita suka memilih tempat tertentu.



Saya perhatikan ada panitia masjid dengan tanda pengenal yang dikalungkan di leher. Setahu saya tugasnya membagikan makanan. Mungkin yang lainnya saya tidak tahu saja.

Seperti tahun lalu, setiap jamaah yang selesai sholat maghrib mendapatkan satu nasi kotak lengkap dengan air mineral, buah dan kerupuk. Yang berbeda adalah kemasan kotaknya yang menggunakan gambar masjid agung Tuban tanpa menyertakan nama cateringnya.

Nah, berada di halaman masjid ini kita bakal menemukan jamaah yang makan bersama. Ada yang bersama keluarga seperti saya. Ada pula yang bersama teman-temannya.

Yang menyenangkan berada di masjid ini adalah tempatnya bersih dan luas, perasaan adem, tenang. Saya katakan luas karena untuk ukuran kabupaten sudah cukup untuk menampung para jamaah. Matapun senang memandang bangunan masjid. Sambil mendengarkan sholawatan kami menikmati menu berbuka puasa.



Karena saya sudah memasak dari rumah maka makananpun saya bawa. Masaknya yang sederhana saja. Rencananya malam itu saya menginap di rumah bapak.  

Tentang takjil dan nasi kotak itu sudah menjadi kebiasaan di bulan suci Ramadhan. Di tempat lain juga bukan? Pernah kami sampai menolak karena dirumahpun sudah ada makanan. Makanan bakal berlimpah. Sementara kami tidak akan kuat makan berkali-kali. Tapi kemudian saya berpikir, kenapa tidak diterima saja. Toh itu rejeki. Masalah siapa yang makan, nanti dipikir lagi di rumah. Ada tetangga, keluarga, tukang becak di jalanan. Kita bisa memilih salah satunya untuk diberi makanan ini.

Saya melihat mbak-mbak di samping saya juga membawa makanan sendiri dalam wadah tupperware, meskipun menerima juga nasi kotak dari masjid. Ada juga yang langsung dibawa pulang. Semua jamaah wanita dan laki-laki dapat nasi kotak semua. Kecuali anak kecil.

Kadang saya berpikir, andai setiap hari adalah Ramadhan, lalu kita berlomba-lomba mencari berkahnya sehingga masjid-masjid selalu ramai. Bukan sebagai tempat untuk berfoto atau lainnya namun semata-mata untuk memakmurkannya.



Tiba-tiba gerimis. Saya beruntung berada di bawah payung raksasa. Tidak terasa ada tetas-tetes air hujan. Sebelumnya saya merasa keberadaan payung raksasa ini cukup mengganggu pemandangan masjid. Terasa banget ketika saya mau mengambil foto bangunan masjid. Ketika payung terbuka, ada bagian masjid yang tertutup payung ini. Nah, kalau seperti ini terbukti bahwa keberadaan payung raksasa itu bermanfaat.

Kalau teman-teman, apa kisah menarik saat berbuka puasa di masjid? Sharing yuk!

Happy Ramadhan!
Comments
30 Comments

30 comments:

  1. Wah keren ada payung raksasanya juga. Kalau saya biasanya buka puasa di rumah aja mbak, nggak ke masjid.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau hari-hari biasa aku bukber ya di rumah sama anak-anak, dan bapakku. Nah, kalau ada suami, ada yang ngantar ke masjid. Bawaannya banyak, mba, kalau sama anak-anak.

      Delete
  2. Wah bagusnya mesjidnya. Seperti mesjid Semarang ada payungnya. Sesungguhnya bukber paling nikmat ya bareng2 di mesjid kayak gini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pernah ke masjid Agung Semarang. Kayaknya payungnya lebih besar disana deh.

      Delete
  3. megah banget mesjidnya, kaya mesjid nabawi ya, ada payung*nya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, berada di masjid itu menentramkan hati.

      Delete
  4. Haiiii Mak Nurrochma..saya terakhir ke masjid Agung Tuban 2011. Sekarang sudah ada paying seperti di Masjid Baiturahman Banda Aceh ya..Jadi kangen pantai sama rajungan pedeess hihii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mba...sudah ada payung raksasanya. Biar adem. Ayo, main. Kabari ya kalau kesini.

      Delete
    2. huaaaa..pengen ketemuuu Mbak Nur..iyaa Mbak insyaallah saya mention kalo kesana

      Delete
  5. Belum pernah tahu pas payungnya kebuka di masjid agung ini. Pas lewat masjid, dini hari (pad ziarah wali), kondisi gelap, payung tertutup. Udah pernah sholat juga di sini. Masjidnya bersih banget. Luas. Adem :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh ya. Kalau pagi, terlihat warna warni kesorot lampu yang sengaja dihadapkan ke masjid. Bagusnya dilihat dari alun-alun, kelihatan megah.

      Delete
  6. Payung Raksasanya mengingatkanku seperti yang di Masjid Nabawi, mba. Indahnya :)

    ReplyDelete
  7. wah ternyata masjidnya indah sekali,
    adaa payung besarnya juga. kereeennn tuban

    ReplyDelete
  8. Subhanallah.. mesjidnya megah sekali mbak..
    Payung-payungnya mirip seperti di mesjid Nabawi ya :)

    ReplyDelete
  9. Subhanallah keren banget Masjidnya mbak! Aku pengen banget shalat di setiap masjid yang ada di Indonesia, semoga saja ada langkahku untuk sampai ke masjid ini dan bisa shalat disini.

    ReplyDelete
  10. Makin cakep aja masjid tuban,
    Waktu masih mondok, kalok libur awal puasa, pasti diajak pulkam sm tmn tuban, trs diajak ngabuburit di masjid ini.
    :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi sudah pernah mampir disini ya. Sudah banyak berubah masjidnya.

      Delete
  11. Wah, Favorit anakku yang ketiga nih ngabuburit di Masjid. Dia pengennya tiap hari. Asyik memang ngabuburit di Masjid. Adeeeeem.

    ReplyDelete
  12. Replies
    1. Sekarang banyak masjid yang menggunakan payung raksasa.

      Delete
  13. lama deh nggak kesini mbak, sekarang udah ada payung2nya aja :)

    ReplyDelete
  14. Berarti masjid ini, di daerah tuban termasuk yang paling istimewa ya mba" nur,,,
    Tapi memang di daerah jawa timur banyak sekali masjid dan pesantren, para anak muda di daerah saya juga banyak yang mondok di jawa timur..makasih infonya mba,nur.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena masjid terbesar di kabupaten. Lagipula orang ziarah biasanya mampir kesini.

      Delete

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Maaf, jika ada link hidup akan saya hapus!

COPYRIGHT © 2017 · LOVELY MOM | THEME BY RUMAH ES