Tuesday, July 11, 2017

Anak Saya (Bukan) Juara





Assalamualaikum,

Saat ini anak-anak saya berada di suasana liburan dan awal masuk sekolah. Dua anak saya sudah masuk sekolah. Tinggal si bungsu yang masih libur (SD). Meskipun demikian, kemarin baru saja menerima rapor dan tentu saja sekaligus bertemu dengan teman-teman dan guru-gurunya di sekolah. Aroma sekolah sudah terasa...


Bisa dikatakan terima rapor setelah liburan itu rasanya sedikit aneh. Seperti ada tanggungan. Rapor maksudnya! Liburan artinya hari bebas bagi anak-anak. Tidak ada tugas yang membebani seperti hari-hari sekolah. Tapi masalah rapor... ya sudahlah, semua sudah ada jadwalnya. Percaya saja dengan sekolah.

Acara penerimaan rapor hari Senin itu dimulai dengan pengumuman dari sekolah, sambutan, dsb yang diadakan di masjid sekolah. Termasuk pengumuman siswa berprestasi secara akademik tiap jenjang, dan non akademik. Yang non akademik seperti biasa kurang mendapat perhatian.

Saya senang melihat anak-anak yang berprestasi. Ikut memberikan ucapan selamat jika mengenalnya. Meski ada rasa penasaran, “Bagaimana sih belajarnya? Anaknya setiap tahun pasti juara kelas!”

Orang tua yang hadir dipanggil, mewakili penerimaan penghargaan. Pasti bahagia ya. Sementara ketika melihat anak sendiri dan tidak mendapat juara apapun....

Andaikan semua anak ingin mendapatkan juara pertama, lalu siapa yang akan menjadi kedua, ketiga dst. Andaikan semua anak memiliki kecerdasan yang sama... semua terlihat monoton.

Pernah mendengar orang tua yang mengeluhkan anaknya, tidak berbakat, tidak pandai, tidak memiliki apapun yang patut dibanggakan. Pokoknya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan anak lainnya. Tapi begitu melihat anak lain, rasanya lebih menyenangkan hingga berandai-andai...



Berada di puncak (menjadi juara) itu menyenangkan. Mendapat penghargaan dan menjadi buah bibir. Bahagia. Bukan saja si anak yang disalami kepala sekolah, dan guru, tapi orang tuanya. Bahkan sesama wali murid juga ikut menyalami. Bahagia maksimal!

Kadang seperti tak percaya. Tapi nyata. Kadang merasa menjadi lebih baik bahkan terbaik daripada anak-anak lainnya tapi sungguh diatas langit masih ada langit.  

Namun sebaliknya, jika anak kita biasa saja, apa yang perlu diceritakan kepada dunia!

Ada hal-hal yang kadang tidak kita sadari bahwa setiap anak itu unik. Tiga anak saya memiliki kecenderungan yang berbeda. Saya berusaha untuk menyakini bahwa setiap anak memiliki jalan menuju takdirnya, menuju kesuksesannya. Orang tua wajib membukakan jalan, memberinya kesempatan untuk berkembang.

Tidak ada yang sama. Jika semua anak ingin menjadi dokter, lalu siapa yang menjadi perawat, arsitek, pedagang, guru, petani, nelayan dsb. Semua profesi itu saling melengkapi, saling mendukung dan saling dibutuhkan.

Anak pertama saya lebih suka berada di depan laptop, mengutak-atik aplikasi yang baru di download. Diwaktu lain dia bahagia dengan setumpuk bukunya. Sementara anak kedua lebih suka hal-hal yang bersifat teknis seperti membongkar pasang mainan, lalu mencoba membuat mainan baru. Di rumah, kalau ada barang yang rusak saya minta tolong padanya. Kadang bisa kadang juga tidak. Disaat seperti itu terlihat jelas bahwa anak-anak tidaklah sama persis, meskipun dari rahim yang sama. Meskipun saya berusaha mendidik dengan cara yang hampir sama.

Tentang anak berprestasi, bisa jadi tiap sekolah memiliki kriteria yang berbeda. Bulan lalu ketika menerima rapor di sekolah si sulung, guru menjelaskan kriteria anak berprestasi. Bukan hanya masalah akademik dan pencapaiannya namun juga memperhatikan akhlaq. Jadi ketika si anak tergolong pintar namun kurang bisa bersosialisasi, tidak bisa dimasukkan sebagai anak berprestasi.

Yang memberikan penilaian anak berprestasi bukan hanya guru-guru yang mengajar, namun juga guru-guru yang tidak pernah mengajar termasuk para karyawan di sekolah. Ternyata lebih rumit juga.

Saya ingat ketika si sulung sekolah di Taman Kanak-Kanak. Waktu itu saya masih tinggal di Surabaya. Sekolahnya masih baru dirintis. Tapi saya salut kepada para guru yang memberikan penghargaan kepada semua siswa.

Setiap siswa diminta naik ke panggung dan diberi gelar juara. Masih terasa aneh ditelinga saya. Namun gelar tersebut cukup membuat para orang tua merasa sangat dihargai. Gelarnya merupakan kata-kata positif, seperti ini: pemberani, rajin, kuat, ramah, dsb.

Nah, saat ini tidak ada sistem rangking di sekolah. Tapi ada saja orang tua yang penasaran dengan rangking anaknya. Solusinya sederhana, tanya saja kepada wali kelasnya. Nanti pasti diberitahu. Mau rangking di kelas atau paralel (satu angkatan).

Saya termasuk yang penasaran dengan rangking anak. Disatu sisi saya setuju dengan tiadanya sistem rangking. Biarlah rangking itu menjadi rahasia sekolah. Kalau rangking satu sih tenang saja. Tapi kalau rangking 1 dari belakang? Lalu daftar siswa ditulis bersama rangkingnya bagaimana? Seluruh siswa bahkan orang tua yang hadir pada penerimaan rapor bakal membacanya. Mengingatnya diam-diam dan .... marah, jengkel, malu dengan hasil belajar anak.

Saya pernah merasakan keadaan seperti ini. Di depan pintu masuk kelas, sudah ada anak-anak yang bertugas menyambut wali murid. Lalu  wali murid diminta mengisi daftar hadir. Dalam daftar siswa tersebut sudah dicantumkan nilai rapor beserta rangkingnya. Aduh kejam!



Anak-anak pasti sudah melihat sendiri rangkingnya. Entah bahagia atau tidak. Tapi berbeda dengan orang tua. Beberapa diantaranya terlihat pasrah, bahkan diam menyembunyikan semua kecewa.

Pasti tidak nyaman kalau berbicara dengan orang dengan topik seperti ini. “Nilai rapornya berapa? Rangking berapa? Aduh...sudah, nggak usah lihat rangking. Pasti rangking satu! Ah, situ enak, anaknya pinter, lha anakku...”

Saya tidak perlu menyembunyikan kenyataan bahwa tidak semua anak bisa mendapatkan nilai bagus. Bahwa anak saya akhirnya berproses. Ketika nilai-nilainya katakanlah jelek, ada rasa kecewa. Tapi untuk apa dipendam. Saya lebih suka mengatakan dengan jujur. “Nilai kamu segini artinya....”

Dengan begitu si anak belajar menyadari “keberadaannya”. Selanjutnya, mengevaluasi hasil belajar dan membuat rencana. Misalnya ingin lebih baik, ayo belajarnya ditingkatkan atau ikut les/bimbel.

Setiap orang tua pasti ingin semua anaknya pintar, sholih/sholihah, patuh. Pokoknya yang baik-baik! Kenyataannya tidak semua poin yang diinginkan tersebut berhasil diraih si anak. Bisa jadi keinginan orang tua terlalu berlebihan. Tidak sebanding dengan kemampuan anak.

Sayapun demikian....


Tidak ada salahnya untuk memahami anak kita. Berdamai dengan IQ, kemampuan, dan kecenderungannya, lalu membuatnya berkembang dengan hal-hal yang disukai.  

Beberapa kali saya sempat ngobrol dengan orang tua yang memiliki anak dengan kemampuan akademik yang katakanlah kurang. Sebagai orang tua, kita tidak bisa memaksakan anak. Mau dijejali dengan teori macam apapun jika si anak tidak ada semangat, tidak ada kemampuan disitu, pasti sulit. Lalu kita pasrah!



Tidak! Saya sepakat dengan orang tua yang memutuskan untuk berdamai dengan deretan angka di lembar-lembar rapor. Tapi selalu mengeksplore bakat anak. Kalau tidak mahir di bidang A, masih ada B, C, dst. Masih ada jalan untuk masa depannya. Masih ada proses panjang yang mesti dilewati.  Karena kesuksesan itu bukan hanya masalah deretan angka yang dibuat manusia.

Sampai saat ini saya berusaha meyakini bahwa setiap anak kita adalah juara. Iya, juara di hati kita, orang tua yang membesarkannya dengan limpahan kasih sayang!

^_^
Comments
14 Comments

14 comments:

  1. Wah pengen banget sekolah disana Mbak..saya pasti diberi gelar "paling absurd" hehehe.. Anak saya masih 3tahun, tapi jadi punya bayangan setelah baca ini.
    Setiap anak adalah juara, jika orang tuanya berkata demikian. *loveee*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak ada murid yang "absurd" hihi... tapi juara dong!

      Delete
  2. Di sekolah anakku nggak ada sistem rangking, mba. Sengaja milih sekolah yang seperti itu. anak lebih banyak penilaian dijabarkan dalam bentuk tulisan karena paham bahwa masing anka anak unik

    ReplyDelete
  3. Setiap anak memang mempunyai pribadi yang unik. Berprestasi menurutku tidak hanya dari sisi akademik, tetapi lebih pada menjadi pribadi yang menyenangkan dan anak-anak merasakan kebahagiaan dengan limpahan kasih sayang orangtuanya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, sering ya anak yang berprestasi di bidang non akademik kurang mendapat perhatian. Anggapan orang selama ini hanya berfokus pada sisi akademiknya.

      Delete
  4. Kalau kecerdasan hanya diukur dari IQ tinggi, maka apa indahnya setiap hal yg dimiliki anak2. Setuju Mba, bahwa setiap anak adalah unik ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anak-anak harus berkembang sesuai dengan bakat dan minatnya, bukan sekedar sisi akademiknya.

      Delete
  5. Jadi ingat film every child is special...

    ReplyDelete
  6. Setiap anak punya keunikan sendiri-sendiri
    Ada anak yang pandai secara akademik
    ada juga anak yang pandai bergaul
    ada juga anak yang peduli sesama
    ada anak yang senang berbagi
    jadi tentunya anak yg satu dg yg lain itu berbeda2
    Dan ..... setiap anak adalah juara dg keunikannya masing-masing hehe ....

    ReplyDelete
  7. Setiap anak memiliki kelebihan masing2. tidak semuanya harus menjadi juara kelas.. Di masa depan, yang tidak menjadi apa2 di kelas malah menjadi penolong bagi yg juara kelas...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kadang anak yang dianggap biasa saja malah lebih sukses dari yang dulu pinter secara akademik.

      Delete

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Maaf, jika ada link hidup akan saya hapus!

COPYRIGHT © 2017 · LOVELY MOM | THEME BY RUMAH ES