Tuesday, August 22, 2017

Belanja di Pasar Tradisional, Mengasah Rasa, Mencintai Produk Lokal





 “Jadi ikut ibu ke pasar?”

Si bungsu mengangguk. Segera dia mengambil celana panjang dan memakainya dengan tergesa.

“Nggak beli-beli ya?”

Saya masih berusaha memastikan tidak ada rengekan diantara sesi belanja. Tidak ada mogok ketika harus menyusuri los pasar. Tidak ada amarah ketika permintaannya tidak dituruti.

Membawa anak kecil ke pasar tradisional bukan perkara mudah. Dulu, si anak sering merengek minta mainan. Juga jajan yang akhirnya tidak disentuh. Setelah perjanjian, saya berharap sesi belanja berjalan lancar.

Apa yang terbayang ketika menyebut pasar tradisional? Tempatnya yang kumuh. Ramai. Pedagang yang galak karena tak berhasil menawar dengan harga rendah. Atau...



Pada suatu kesempatan ketika di Malang, saya mampir di sebuah pasar yang bersih, rapi dan nyaman. Ada troli untuk memasukkan belanjaan kita. Saya berkeliling bersama anak-anak mencari buah dan jajan pasar. Menyusuri los pasar, melihat daging, ikan di tempat yang rapi. Anak-anak biasanya sudah menolak kalau harus berhadapan dengan ikan.

Kemudian saya berpikir, bagaimana ya jika ada pasar seperti itu minimal  satu di kabupaten. Ah, mungkin saya terlalu mengada-ada. Mau bikin pasar seperti itu tidak langsung bisa. Lha, pasar mau dipindah saja pakai acara kebakaran. Sedih.

Sehari-hari saya biasa belanja sayur di pasar tradisional dan tukang sayur langganan. Pernah di supermarket tapi jarang. Itu karena saya membeli sayuran organik. Padahal di pasar tradisional kadang-kadang juga ada. Kadang!



Nah, ketika mengajak anak ke pasar tradisional ini butuh kesabaran juga. Anak-anak biasanya penasaran. Banyak yang ditanyakan. Ketika melihat ikan, sayur bahkan bisa-bisa si anak mendadak hilang.

Gawat, kalau sampai si anak lari jauh dari kita. Sementara kita masih sibuk memilih sayur. Atau ketemu dengan teman lalu asyik ngobrol. Baru sadar kalau si anak sudah tidak disamping lagi. Aww...

Tips mengajak anak ke pasar:
 

  1. Membuat kesepakatan. Seperti saya tadi agar tidak ada belanja diluar kebutuhan.
  2. Pasar aman buat anak-anak. Kalau pasarnya ramai sekali, sepertinya kasihan membawa anak kecil. Tempatnya juga diperhatikan. Kalau saya sih yang penting lantai tidak licin. Apalagi kalau ke pasar setelah hujan. Banyak genangan air.
  3. Pastikan si anak selalu dekat dengan kita. Untuk menghindari si anak kabur atau tertarik ke tempat lain.
  4. Mengenalkan produk lokal. Lebih banyak tentang makanan, misalnya sedang di bakul buah. Disana kita bisa bercerita tentang buah-buahan lokal.
  5. Akrab dengan para penjual. Karena saya sering ke pasar, jadi banyak yang kenal. Biasanya si anak juga diajak ngobrol bakulnya. Kadang anaknya senyum-senyum kadang juga mau menjawab. Aduh, dimaklumi saja ya.


Sekarang ini pasar tempat saya belanja termasuk nyaman. Ya, kalau membandingkan tidak perlu terlalu tinggi. Saya hidup di daerah kabupaten, berbeda dengan daerah lain. Beberapa kali pasar ini direnovasi sehingga  tidak terlihat jorok sekali. Lantai juga sudah lebih baik. Dulunya sih tanah. Kalau hujan ada genangan air dan bau.



Ketika saya ajak ke tempat ikan, anak saya girang. Dia bisa memegang ikan-ikan dan bertanya macam-macam. Lebih banyak yang ikan yang dia ketahui. Saya sih membeli ikan itu-itu saja. Tapi disini dia tahu ikan itu banyak macamnya.

Belanja di pasar tradisional ini si anak akan melihat bahwa orang harus bekerja untuk mendapatkan hasil. Ada bakul yang ramai namun  ada juga yang sepi. Ada yang jualan di kios dan ada juga yang di lantai.

Ada binar-binar bahagia ketika bakul itu menerima uang dari kita. Lalu, masih tegakah kita menawar dagangan dengan harga serendah-rendahnya?

Bagi bakul yang berjualan di lantai pasar dan sudah sepuh, rasanya tak tega ya untuk menawar. Harga yang dikatakan saja sudah murah. Contohnya ketika saya membeli pisang kepok. Kondisinya bagus dan besar, rasanya juga enak karena matangnya pas, harganya Rp 15.000. Saya sih merasa lebih murah dari bakul lainnya.

Sebelum pulang, saya ajak membeli jajan. Silakan pilih sesuka hatinya. Tapi ada syaratnya, harus dimakan.

^_^



Comments
16 Comments

16 comments:

  1. pasarnya bagus dan bersih yaa mba. suka males ngajak anak ke pasar karena becek

    ReplyDelete
  2. beberapa kali ajak anak ke PAsar alhamdulilah dia seneng dan tentunya banyak hal yang bisa diajarin y mb disini, salah satunya mengajarkan bersyukur karena di pasar banyak sekali fenomena yang membuat hati terenyuh :) so far aku selalu belanja ke pasar tradisional

    ReplyDelete
  3. Kalo ke pasar tradisional untuk belanja sayur, dll (kecuali ikan) gak pernah nawar, mbak. Harganya udah cukup murah. Kasian pedagangnya.

    ReplyDelete
  4. Waktu aku tinggal di Semarang, aku suka bawa Faiz kecil belanja, karena memang pasarnya enggak begitu kumuh dan kotor. Tapi pas di Tangerang sini, aku belum pernah mengajak Fira ke pasar tradisional yang ramai, paling di pasar komplek.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tetep ngajak ke pasar ya. Sama aja mba, pasar kompleknya.

      Delete
  5. Jadi inget waktu kecil nih mbak, saya dulu yang sering merengek ke ibu saat tidak dibelikan mainan. Saya dulu sedikit nakal juga ya. Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga membelikan mainan buat anak setelah belanja selesai.

      Delete
  6. Lebih seru lagi punya kebun sayur sendiri di pekarangan hehe. Bisa ngajak anak2 berkebun bareng

    ReplyDelete
  7. Saya biasa berbelanja keperluan harian di pasar tradisional, biasanya bawa anak juga mbak sambil mengenalkan hal-hal yg mungkin blm ia ketahui, biasaya ya anak-anak banyak tanya

    ReplyDelete
  8. Pasar tradisionalnya ada troli ya, keren.

    Ak sampai sekarang masih temanin Ibu ak belanja, hehe

    ReplyDelete

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Maaf, jika ada link hidup akan saya hapus!

COPYRIGHT © 2017 · LOVELY MOM | THEME BY RUMAH ES