Tuesday, October 24, 2017

Kakak dan Adik Bertengkar, Siapa yang Salah?



kakak dan adik


Ibu-ibu yang memiliki anak lebih dari satu mana suaranya? Pernah menikmati suasana bertengkar ala anak-anak? Bagaimana frekwensinya, jarang, sedang atau sering?

Sejak memiliki anak kedua, perhatian ibu terbagi dengan kehadiran si adik baru. Kemudian anak ketiga, begitulah, perhatian kita terbagi lagi. Anak yang lebih kecil belum bisa mandiri sehingga memerlukan banyak waktu kebersamaan. Tapi tetap kasih sayang orang tua terhadap anak sama.

Sepanjang waktu bersama anak-anak, ada saja gesekan-gesekan yang membuat adik ataupun kakak bertengkar. Masalahnya sepele seperti kesenggol ketika sedang berjalan. Itu saja sudah bisa memicu pertengkaran.

Atau yang lebih berat seperti merusak mainan dan mencoret buku pelajaran kakak. Anak kecil yang belum paham harusnya dijauhkan dari barang-barang sekolah kakak. Pada kasus seperti ini saya gagal. Beberapa kali kecolongan.

Waktu itu sedang mengajari kakak. Adiknya tentu ikut duduk bersama. Dia asyik bermain dengan mainannya. Tahu-tahu tangannya sudah memegang pulpen dan mendarat di bukunya. Aw... kakaknya jelas marah.

Lalu ketika adik merusak mainan kakak, entah karena tak sengaja atau karena ingin balas dendam. Ya Allah, begini ini seperti lingkaran setan. Berulang-ulang!

Apa yang harus orang tua lakukan?


  1. Mencari pemicunya. Apa sih penyebab pertengkaran mereka. Dengan mengetahui penyebabnya saya berharap tidak terjadi kasus serupa. Meski faktanya masih saja berulang.
  2. Mencari solusi. Pertengkaran adik dan kakak terjadi karena adik yang ingin menang sendiri atau kakak yang tidak mau mengalah? Solusinya mungkin tidak akan sama. Tapi diharapkan mampu menenangkan kedua belah pihak.
  3. Belajar meminta maaf dan memaafkan. Siapa yang salah, entah kakak atau adik ya sebaiknya meminta maaf. Begitu pula ketika saudaranya sudah meminta maaf, sebaiknya diterima. Bukan menyembunyikan tangannya.
  4. Mengalihkan perhatian. Daripada memikirkan pertengkaran, lebih baik mengajak keduanya untuk bermain. Setelah emosi agak reda, biasanya anak-anak mau bermain kembali.
  5. Berdamai. Jika kenyataannya ada saja faktor pemicu pertengkaran tersebut, saatnya kita berdamai dengan keadaan. Bosen mendengar mereka berantem! Bosen melihat raut wajah anak-anak yang sedang emosi! Tapi percayalah, tidak selamanya ini terjadi.


Adik, badannya lebih kecil, pemahamannya masih rendah, sementara keinginannya untuk terus bersama kakak membuat huru-hara. Sementara kakak, badannya lebih besar dan kuat. Dia merasa lebih dari adiknya. Termasuk lebih berkuasa.

Jadi, orang tua memilih memihak siapa? Adik atau kakak?

“Kakak, ngalah toh. Adiknya kan masih kecil!”

Suatu hari si adik merusak barang kakak secara tak sengaja. Anaknya sudah ketakutan untuk mengakuinya. Takut nanti kakaknya marah. Takut akan ada adu fisik. Tapi, kejujuran adalah hal yang penting. Masalah nanti kalau kakak marah, nanti ibu temani.

Jangan sampai ada anak yang protes, “Ibu tidak adil!” Hanya karena semua kesalahan adik menjadi beban si kakak. Akhirnya adik yang diatas angin. Selalu benar semua tingkahnya. Sementara kakak, dipaksa untuk mengalah.

Karena si anak belum ikhlas untuk mengalah, diam-diam dia balas dendam. Mainan si adik dirusak. Begitu seterusnya. Kadang saya tahu kadang juga tidak. (lagi-lagi, ibu merasa gagal)

Waktupun berlalu, anak-anak mudah melupakan kesalahan saudaranya maupun kesalahannya sendiri. Kakak dan adik akur kembali. Bermain bersama. Makan bersama. Pergi bersama. Pokoknya lupa kejadian tadi. Lupa pertengkaran yang baru beberapa menit. Belum sampai sampai satu jam....

Kalau setiap hari melihat keakraban mereka seperti ini pastinya kita senang. Masalah yang kemarin-kemarin itu kita juga sudah lupa saja. Ingin seperti ini saja. Akrab, akur dan saling menyayangi.

Bagi saya, memiliki anak-anak dengan karakter berbeda-beda itu seperti belajar mengelola emosi. Ada seni yang mesti dilewati atau diukir dengan indah. Ada proses panjang untuk menerima dan memaafkan. Sst.. orang tua berperan untuk membiasakan budaya meminta maaf dan memaafkan. Dimulai dari orang tua dahulu agar anak merasa, It's fine. 

Jadi tidak apa kok meminta maaf. Tapi jangan diulangi ya. Dan menerima maaf itu bisa membuat saudara  senang. Luapan emosi mereda.

Tak ada yang benar-benar sempurna. Saya masih belajar menyelami hati anak-anak. Bagaimana meredakan emosi saya juga anak-anak. Bagaimana belajar memaafkan. Perjalanan ini masih panjang. Saya tidak tahu sampai kapan mereka bertengkar. Mungkin ini seperti sedang meniti jalan terjal dan berliku. Kemudian kita akan sampai di jalan mulus.

^_^

Comments
4 Comments

4 comments:

  1. hihihi jadi ingget jaman dulu, berantem mulu sama kakak... Nyokap dah pusing, ambil piso di dapur, trus ngasih ke kita sambil bilang "nih sekalian aja deh tusuk2an drpd berantem mulu!" langsung kami berdua diem hahahaha :D
    kakak-adek mah pasti ada berantemnya, tapi tetep saling sayang.. macam bumbu penyedap dalam persaudaraan itu mah #eeeaaa

    ReplyDelete
  2. Lihat anak-anak rukun itu rasanya bahagia sekali ya, tapi kalo mereka sudah tengkar ya ampun ramenyaaa, bikin kepala jadi pusing.
    Seringnya memang si Kakak yang kuminta mengalah, terus dia protes, kok aku terus yang ngalah hiks.

    ReplyDelete
  3. aku anak terakhir, kalau aku nangis, entah kenapa yang kena marah kakak2ku. hihihi.. padahal dulu akunya cengeng :D

    ReplyDelete
  4. Dulu saya sering ikut campur kalau anak-anak berantem, pengen segera mengurai masalah dan melihat mereka akur lagi. Eh, lama-lama malah mereka berebut saling cari perhatian, saling menyalahkan, saling membenarkan diri. Akhirnya saya memilih diam saja, mengamati dari jauh kalau mereka berantem. Saya menahan diri, supaya mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Alhamdulillah cara ini ampuh, mereka mulai jarang bertengkar.

    ReplyDelete

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Maaf, jika ada link hidup akan saya hapus!

COPYRIGHT © 2017 · LOVELY MOM | THEME BY RUMAH ES