Tuesday, October 10, 2017

Tak Ada Buku Lungsuran Untuk Adik



buku


Ketika kita bicara tentang buku, tentu berkaitan erat dengan dunia pendidikan. Namun ada sedikit yang mengganjal ketika tahun ajaran baru dimulai. Artinya... kita harus memiliki alokasi dana untuk membeli buku pelajaran sekolah anak-anak.


Beberapa puluh tahun yang lalu (zaman dahulu kala. Lol!) buku sekolah bisa meminjam milik tetangga, memakai lungsuran kakak, atau siapapun yang mau berbagi. Orang tua kita masih bisa bernafas lega. Tidak perlu mengeluarkan dana untuk belanja buku.

Tapi zaman selalu berubah, dunia pendidikan berkembang dan tentu saja menteri pendidikan beserta kebijakan terkait di dalamnya berubah. Harga buku pelajaran sekolahpun berubah alias naik. Semua berubah. Kitapun mestinya bisa berubah. Tapi ya ....seperti ini jadinya.

Cerita sedikit tentang buku-buku sekolah anak-anak saya, ya.

Anak pertama, sejak sekolah selalu membeli buku-buku pelajaran sekolah. Dasar anaknya sendiri suka dengan buku, jadinya selain buku-buku resmi, dia membeli buku-buku lainnya. Tetap berhubungan dengan buku pelajaran sekolah.

Dari sekolahnya saat ini, ada kewajiban untuk membeli buku. Termasuk buku-buku yang ditulis oleh gurunya. Belum lagi dia ikut suatu kegiatan dan membeli buku lalu tidak menyelesaikan kegiatan tersebut. Dia bilang, “Aku sudah tidak ada waktu lagi untuk kegiatan selain sekolah.”

Lha, nasib bukunya bagaimana? 

***

Anak kedua juga membeli buku-buku pelajaran sekolah ketika di sekolah dasar. Tapi baru-baru ini saya agak lega. Di sekolah (SMP) tidak mewajibkan anak-anak untuk membeli buku pelajaran sekolah. Saya sendiri heran. Karena pengetahuan dan pengalaman saya cukup dangkal maka saya galau bagaimana anak-anak disekolahnya belajar dan menghadapi ujian.

Lalu, orang tua seperti saya, bagaimana kalau ingin mengajari anak? Lha, saya tidak memiliki buku pegangan. Mau googling dulu kok ya galau. Saya seperti sedang melompat-lompat mengejar anak-anak. Ada jarak yang entah bagaimana agar saya bisa mengerti.

Kenyataannya semuanya baik-baik saja. Sekolah tetap memiliki kurikulum dan buku pendamping. Selebihnya ada banyak proyek secara rutin untuk mengukur kemampuan anak-anak.

Anak ketiga. Saya membelikan buku-buku pelajaran sekolah seperti kedua kakaknya dulu. Sebenarnya saya pernah mendapat lungsuran buku bekas anak teman saya. Buku-bukunya masih rapi meski ada coretan ketika mengisi soal-soal latihan.

Tahun lalu, dua teman saya menanyakan buku-buku sekolah si sulung. Anak-anak mereka satu sekolah dan diharapkan memiliki buku. Sekolah tidak menyediakan, tidak menjual, sementara stok buku di toko buku tidak ada. Kalau begini, orang tua ikut galau juga.

Baiklah, saya pinjamkan saja. Lebih baik buku-buku tersebut bermanfaat daripada ditimbun. Saya pikir nanti kalau anak kedua SMP, buku tersebut akan dipakainya. Ternyata dugaan saya salah!

Seperti yang saya jelaskan, sekolah anak kedua saya menggunakan kurikulum sendiri. Buku-buku dibebaskan. Termasuk buku catatan. Hanya ada satu binder untuk semua mata pelajaran. Tapi tetap ada materi dari sekolah.

Buku memang tidak selalu berbentuk fisik. Anak-anak bisa googling untuk mencari sumber referensi yang dibutuhkan. Jadi kalau tidak memiliki buku, pastikan kuota internet selalu ada.

Dari pengalaman dengan ketiga anak, buku pelajaran sekolah itu tetap wajib. Bagaimanapun kita mengusahakannya, buku, apapun bentuknya adalah sumber ilmu pengetahuan. Bagaimana seorang anak melakukan sebuah percobaan jika tidak ada daftar bacaan sama sekali. Bagaimana seorang anak akan mengenal dasar-dasar ilmu pengetahuan jika dia tidak mau membaca buku.

Nah, jika teman-teman memiliki cerita seputar buku-buku pelajaran sekolah, sharing yuk!

^_^





Comments
18 Comments

18 comments:

  1. kalau jaman saya dulu buku masih bisa pinjam sama kakak kelas atau dipinjam perpustakaan selama waktu satu tahun. yang beli biasanya LKS-nya. kalau jaman sekarang kayaknya sudah berubah banget ya kurikulumnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, berganti kurikulum. Orang tua ikut bingung.

      Delete
  2. satu kurikulum 2013, satu KTSP..nggak bisa pakai buku si kakak jadinya :D

    ReplyDelete
  3. Sepertinya memang kembali ke peraturan masing-masing sekolah. Waktu SD, di sekolah anak-anak saya memang setiap tahun ada yang namanya uang buku. Tapi saya gak ribet harus cari buku karena semua sudah disediakan sekolah. Gak mungkin juga dilungsurin karena mengerjakan tugas kebanyakan langsung di buku

    Di SMP pakai buku lungsuran. Semuanya disediakan sekolah dan gak disediakan sama sekali. Tapi kadang dapat buku yang kondisinya mengenaskan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener deh, semua tergantung pada peraturan sekolah masing-masing.

      Delete
  4. Anak-anak disini dapet buku paket gratis dari sekolah, tidak ada biaya tambahan untuk pembelian buku. Selain itu juga perpustakaan sekolahnya lengkap jadi alokasi dana buku minimal, cuman kalo rewel pengen beli manga aja. Itu juga biasanya suka saya bawa ke toko buku second.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pasti membantu banget ya kalau dapat buku gratis dari sekolah.

      Delete
  5. wah iya mba dlu jaman aku sekolah dari sd sampe sma lungsuran semua kakak sama sepupu nda pernah beli wah klo nti anakku berarti siap2 y mb makasih infonya menyadarkanku pendidikan ga spt dlu hehege

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tergantung kebijaksanaan sekolah juga sih. Tapi yang sering terjadi saat ini ya beli buku baru.

      Delete
  6. “Termasuk buku-buku yang ditulis oleh gurunya.”

    Yah, mbak... gurunya cari duit bisa’an banget yes.. WAJIB beli lho...

    Jaman udah keren, teknologi udah canggih, ngapa ga pada inisiatif bikin e-book aja yak? Kan lenih mureeeh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mudah-mudahan tahun depan nggak pakai banyak buku. Berat di ongkos sama berat bawanya.

      Delete
  7. Anakku kebetulan pernah sekolah di 3 SD saat kelas 1, karena drama minta ditunggu terus. Ada 3 buku SD kelas 1 dalam 1 tahun. BUkunya semua berbeda, karena memang penerbitnya beda. Isinya sebetulnya sama saja, mungkin karena memang sudah kurikulumnya ya. Ini mungkin karena makin banyak bermunculan penerbit-penerbit buku. Jangankan beda SD niy, setiap tahun, di sekolah swasta, daftar ulang atau membayar di tahun ajaran baru, sudah termasuk paket buku, jadi tidak bisa dikurangi dengan tidak membeli buku di sekolah. JUmlah yang harus dibayarkan untuk membayar buku, hampir 300.000 rupiah. Mahal atau murah, tergantung sudut pandang yang melihat siy.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Allah, 3 SD! Pada dasarnya isi buku sama ya, tapi karena beda penerbit jadinya beli baru. Semoga tidak ada masalah lagi dan betah di sekolahnya.

      Delete
  8. yang pasti anak harus gemar membaca, jadi sebagai orang tua gak apa-apa ngeluarin budget banyakin dikit asal buku yang dibeli tadinya dibaca. setidak nya anak bisa belajar secara optimal

    ReplyDelete
  9. Anak2ku msh paud dan playgrub mba. Jd aku blm ada pengalaman ato bayangan ttg buku sekolah. Malah baru tau skr ini ada sekolah ga nyediain buku -_-..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sediakan dana buat beli buku mba.... Harga buku selalu naik dan dibuat berbeda. Entah kalau menteri atau kebijakannya berganti lagi.

      Delete

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Maaf, jika ada link hidup akan saya hapus!

COPYRIGHT © 2017 · LOVELY MOM | THEME BY RUMAH ES