Friday, November 3, 2017

Goa Putri Asih dan Status Jomblo yang Kebangetan

goa



Tuban dijuluki sebagai kota seribu goa karena banyaknya goa di wilayah ini. Saya tidak tahu jumlah pastinya. Yang saya tahu hanya banyak goa. Coba saja kalau sedang blusukan ke Tuban. Jalan-jalan ke desa-desa. Saya sering menemukan goa yang baru pertama kali membaca namanya. Hanya diberi tanda sebuah papan di depan jalan.



Baca juga Kemarau di Goa Kancing.....
  

Beberapa goa memang sudah dikelola sebagai wisata. Tapi yang lainnya masih tergolong liar dan akses menuju goa-goa tersebut masih seadanya. Bahkan mungkin seperti sebuah cerukan di dalam batu. Bisa juga goa-goa liar seperti ini angker.

Goa Ngerong dan Goa Akbar sudah lama menjadi destinasi wisata lokal. Nah,  Goa akbar ini lokasinya di belakang Pasar Baru Tuban. Biasanya orang-orang yang berziarah wali songo, selain menunjungi makam Sunan Bonang, juga mengunjungi wisata Goa Akbar. Sedangkan Goa Ngerong di bawahnya ada sungai dan di langit-langit goa banyak kelelawarnya.

Tapi sekarang kita membahas Goa Putri Asih saja. Saya sudah dua kali berkunjung kesini. Pertama bersama keluarga, lengkap. Karena waktu itu masih suasana lebaran, kami jalan-jalan dong. Kedua kalinya, dua minggu lalu, bersama suami dan si bungsu.


Status Jomlo yang Kebangetan




goa


Masuk ke lokasi goa, kita langsung bertemu dengan petugasnya. Alias langsung membayar tiket masuk dan parkir. Karena pengunjung tidak begitu banyak, kami bisa parkir di depan warung-warung di lokasi goa.

Sebelum masuk goa, si bungsu rewel. Haus. Mampirlah ke salah satu warung yang menjual es degan. Harga Rp 5.000 per gelas. Lumayan bikin segar. Bagi yang lapar, banyak makanan disini. Tinggal pesan dan tunggu. Bisa loh, makannya di gazebo sambil memandang hutan jati. 

Lanjut deh masuk ke dalam goa...

Jalan menuju goa ini tergolong menarik. Apa ya? Ada banyak status jomblo yang bikin kita baper. Eh, jangan sampai baper akut ya! Papan-papan status ini bertebaran. Dicat dengan warna-warna mencolok sehingga banyak kaum muda yang mengabadikan moment disini.

goa


Contoh status jomblo:

Biar gini2 ngangenin loo...
Jalan bareng jadian kagak...
Jangan cuma mantan yang dibuang, sampah juga...
Cintamu tak sebesar angsuranmu... 
Kapan qta ke KUA beb...
Sebuah kenyamanan yang tanpa status. Ojo diwoco Boss...

Lucu-lucu deh. Hanya saja, lokasi ini kok semakin tinggi semak-semaknya ....

Masuk Goa

goa


Karena pertama kali kesini kami foto-foto goa dan hasilnya banyak yang gagal, maka kami perlu mengulang lagi. Faktanya masih saja gagal! Aduh... kami masih kesulitan memotret dalam keadaan cahaya yang minim. Parahnya lagi, pada kunjungan kedua ini, lampu di beberapa sudut goa padam. Wassalam ...

Tiba di mulut goa, kok sepi. Mana petugasnya? Jadi, kami duduk dulu sambil menunggu pengunjung lainnya. Bukan apa-apa. Tapi kalau masuk ramai-ramai lebih nyaman saja.

Ceritanya kita sudah masuk ke dalam goa. Bersama rombongan pengunjung lainnya, berjalan mengikuti batas bambu. Hingga tiba di tengah goa. Kok, gelap. Padahal sedang meniti tangga. Maunya kembali lagi. Tapi jalurnya harus memutar. Ya, sudah saya memanfaatkan senter dari handphone untuk menerangi jalan.

goa


Di lorong goa ini ada pembatas berupa bambu. Pembatas ini merupakan jalur pengunjung untuk melihat goa. Jadi kita tidak bakal tersesat di dalam goa. Lagipula jalut tersebut merupakan jalan satu arah. Kecuali kalau kita membelot, melewati pembatas bambunya.

Aktivitas yang bisa dilakukan di dalam goa ini adalah melihat dekorasi goa dan memotret kondisi goa. Sayang pengunjung bukan saja melihat namun menyentuh, mengetuk stalagmit dan stalaktit. Ada bunyi dentingan ketika seorang pengunjung mengetuk staglakmit, bunyinya nyaring tapi berbeda-beda. Dan itu bikin penasaran pengunjung lainnya.

Dalam keadaan seperti ini saya berharap ada petugas yang menjaga di dalam goa. Jadi tidak hanya petugas yang berada di pintu masuk goa dan menanyakan tiket masuk. Karena ini menyangkut kondisi goa. Bebatuan yang sering dipegang akan mati bisa pula rusak.


goa


Menurut penuturan petugasnya, stalagmit dan stalaktit disini masih tumbuh dan berproses. Butuh waktu puluhan tahun tetes-tetes air yang segar ini berubah menjadi batu.

Disinilah kita bisa melihat cave pearl (mutiara goa). Cave pearl merupakan ornamen dalam goa yang terbentuk saat kerikil terselimuti mineral kalsit pada lantai sebuah goa (sumber: kaskus). Nah, cave pearl ini kalau tertimpa cahaya tampak berpendar-pendar indah. Kalau kita perhatikan dengan teliti, tenang dan perlahan, bakal terlihat bulir-bulir kecil, seperti ukiran. Membentuk ornamen yang unik, yang menjadi ciri khas sebuah goa.

Saya jadi ingat sebuah novel karya Afifah Afra yang berjudul Akik dan Penghimpun Senja. Novel yang berlatar goa ini, cukup banyak menjelaskan keadaan goa dan aktivitas susur goa. Ya, baru kali itu saya tahu seluk-beluk susur goa yang bisa dilakukan oleh aktivis pencinta alam. Penuh tantangan. Tapi kalau saya melihatnya penuh bahaya jika persiapan minim atau terjadi resiko tanpa bisa diperhitungkan.

Kembali ke Goa Putri Asih...

Konon, goa ini juga sering dipakai sebagai tempat bertapa. Bapak petugas disini bercerita bahwa ada juga orang yang tertarik untuk uji nyali. Seperti jika kita tertarik ingin melihat penampakan Putri Nawang Asih. Kita bisa meminta petugasnya untuk menemani di malam hari. Tetap ada si bapak petugas ya. Karena untuk melihat penampakan si putri dibutuhkan minyak khusus yang hanya bisa diperoleh dari petugasnya.

Dalam kasus seperti ini saya tidak mau berkomentar terlalu jauh...

goa


Jadi bagaimana keadaan goa di siang hari? Tidak ada apa-apa. Tidak terjadi penampakan hantu dan teman-temannya. Tidak seram. Meski sebelum masuk, ada beberapa pengunjung (mostly, ibu-ibu) yang ragu dengan kondisi goa.

Seperti goa pada umumnya, kita masuk melewati lorong yang sudah ada. Lalu berjalan menyusurinya hingga kembali lagi. So far, semuanya baik-baik saja. Meski tadi ada insiden tidak ada lampu. Semoga ketika tulisan ini dibuat, sudah diperbaiki dan sudah terang.

Jadi ketika saya komplain kepada bapak petugas: “Gelap. Kenapa?”
Bapak petugas: “Sudah sejak kemarin mati lampu.”
Saya: “Kenapa tidak diperbaiki?”
Bapak petugas: “Bukan bagian saya.”

Disitu saya merasa sedih. Bagaimana ya, kok seperti tidak ada respon. Ini goa milik siapa sih. Siapa yang bekerja, siapa yang mengelola, mbok ya bekerja sama. Saling membantu demi... demi Tuban tercinta.

......



goa


Goa Putri Asih ini masih alami. Batu-batu yang membentuk ornamen goa masih asli. Pilar-pilar disini menarik, karena semua lekuk-lekuknya memperlihatkan keelokan goa. Sayang penerangannya masih minim. Meski ya, ada cahaya dari atas goa.

Terdapat 4 ruang yang bisa kita kunjungi yaitu ruang 1 hingga 4, kemudian berbelok menuju ruang 1 lagi. Kita bisa berjalan mengikuti pembatas dari bambu. Sayangnya tidak semua jalan rata. Di beberapa tempat masih berbatu. Di area tangga, mesti berhati-hati. Seperti saya, ketika lampu padam, harus lebih hati-hati melihat kondisi jalan. Mana pembatas, mana tangga! Jangan sampai terperosok gara-gara tidak melihat jalan.

Berada di dalam goa meskipun ada lubang-lubang cahaya, tetap saja rasanya gerah. Ada beberapa kipas angin yang terus-menerus menyala. Sayang, anginnya tidak sampai hingga tubuh pengunjung. Anginnya sekedar lewat saja. Keluar goa, baju ini penuh keringat.

goa


Lokasi

Goa Putri Asih terletak di desa Nguluhan kecamatan Montong, Tuban. Posisinya di tengah hutan milik Perhutani KPH Nguluhan, BKPH Mulyo Agung, KPH Parengan.

Lokasi goa cukup mudah dijangkau, kira-kita 29 km dari kota Tuban. Dari arah Tuban kita menuju Merakurak lalu di pertigaan itu pilih arah ke Montong. Jangan sampai salah ke Kerek ya!

Nanti ada petunjuk arah ke Goa Putri Asih. Masih sekitar 2 km lagi. Tapi tenang, jalan menuju goa sudah beraspal halus.

Tiket masuk:

Dewasa Rp 10.000
Anak-anak Rp 5.000

Parkir:

Mobil Rp 8.000
Sepeda motor Rp 2.000

Happy traveling!

^_^
Comments
18 Comments

18 comments:

  1. Keren juga, tapi saya belum pernah kesana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ada waktu bisa main-main kesini, mas.

      Delete
  2. Salah satu tantangan yg saya inginkan. Masuk2 ke dalam gua macam gini. Bikin semangat kayaknya. Harganya kece murah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh ya, mampir-mampilah mba Lid. Banyak goa disini.

      Delete
  3. Wah keren goanya.. udah murah, keren juga dalamnya.. btw itu ngakak liat tulisan2 yang jomblo2 gtu.. bkin ketawa2 mbaaa hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Status jomblonya buat lucu-lucuan. Jadi banyak yang foto disana.

      Delete
  4. kenapa ya kalau aku masuk gua selalu suka sesak nafas, jd suka takut

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udara memang kurang. Kudu dalam kondisi sehat. Kalau saya paling merasa gerah, padahal adem. Aduh gimana ya...

      Delete
  5. Terakhir masuk gua, Jatijajar di Kebumen mba. Itu juga pke drama...anakku yang kecil nggak mau masuk..alasannya takut. Akhirnya masuk gua gantian ma suami😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Suasana di goa itu kan kebanyakan suram. Mungkin itulah yang bikin anak takut.

      Delete
  6. aku belum pernah kalo ke gua ini
    pernahnya ke masjid dalam gua]
    tapi aku phobia ruang tertutup ya jadi ngeri ih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masjid dalam goa itu mungkin yang dimaksud adalah pesantren perut bumi. Disebut perut bumi karena seperti goa (goa buatan).

      Delete
  7. Ternyata indah juga ya di dalam goa. Saya jadi tertarik nih untuk masuk ke sana juga. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang menarik memang dekorasi dalam goa yang masih alami dan asli. Sampai saat ini nggak ada yang dibuat-buat disini.

      Delete
  8. Belum pernah mampir Tuban, cuma lewat2 aja. Itu pengap nggak guanya? Soalnya aku klaustrofobia. Di bioskop aja aku bisa sesak napas kalau nggak sekali2 keluar menghirup udara.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua goa pada dasarnya pastilah kurang yang udaranya. Meski tetap ada lubang udara. Apalagi kalau pengunjung sedang banyak. Untuk menyiasati sebaiknya kita tahu medannya, minimal baca reviewnya atau bertanya sama petugasnya. Satu lagi tidak dalam keadaan sepi atau ramai banget. Harusnya memang ada pembatasan jumlah pengunjung sih. Karena ini juga ada efeknya terhadap ornamen goa.

      Delete
  9. Aku kirain tuh Tuban cuman wisata pantai utara Jawa aja yang banyak, mb Nur. Ternyata ada goanya juga. Kayak Pacitan berarti ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mba. Banyak sih yang bisa dieksplore dari daerah sendiri.

      Delete

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Maaf, jika ada link hidup akan saya hapus!

COPYRIGHT © 2017 · LOVELY MOM | THEME BY RUMAH ES