Friday, November 10, 2017

Situs Goa Suci: Cagar Budaya di Tuban

Goa Suci



Menuju lokasi Goa Suci yang disebut juga Goa Majapahit, sejujurnya saya ragu. Benarkah ada goa di tengah ladang warga?


Kendaraan kami berhenti di area parkir milik warga. Ada warung di dekatnya. Siang yang panas. Pohon-pohon tak cukup membuat suasana teduh. Debu-debu dengan liar berterbangan. Suami mendekati warung dan bertanya lokasi goa.

Dari jalan raya yang sudah beraspal ini kami berjalan menuju ladang warga. Tidak ada tanda-tanda ada keberadaan goa. Hamparan ladang kosong dan beberapa pohon.

Sementara ladang yang sedang menunggu turunnya hujan ini tampak merana. Tanah merah tapi sudah siap untuk ditanam. Tampak garis-garis lurus dengan banyak lubang beraturan. Mungkin sudah ada benih jagung di dalamnya. Atau...

goa suci


Sepi. Ladang dan rumah adalah pemandangan yang khas pedesaan. Beberapa orang duduk di serambi rumahnya. Memandang jalanan yang mulai kosong setelah truk yang mengangkut batu-batu kapur lewat.

Masih ragu, saya sempat bertanya lagi kepada warga untuk memastikan lokasi goa.  “Di belakang ladang. Dari jalan lurus saja sampai ada pohon-pohon pisang.”

Benarkah? Apakah saya tidak salah mencari lokasi untuk mengisi label traveling di blog? Apakah saya tidak salah menulis sebuah tempat yang tidak terurus seperti ini? Yang bahkan, buat orang Tuban saja masih terdengar asing.

Saya melewati seorang lelaki tua dengan setandan pisang yang ditaruh diatas boncengan sepedanya. Dia tersenyum. Dia tahu kami, orang-orang yang ingin melihat goa. Tak ada tujuan lain. Meski pandangan kami tetap berkeliaran mencari lokasi.

Goa suci


Melewati ladang warga, kami mencoba berjalan dengan hati-hati.  Melewati pematang ladang, kami berjalan satu per satu. Khawatir langkah-langkah ini menginjak ladang yang sudah ada benih-benihnya. Tentu, kami tak ingin menjadi perusak. Entah karena sengaja ataupun tidak.

Setelah berjalan kaki sekitar 5 menit, akhirnya kami tiba di lokasi. Benar! Diantara ladang warga. Diantara pohon-pohon pisang dan semak. Saya berharap ada sedikit cerita disini. Namun sayang tak ada cerita apapun selain papan informasi bahwa situs Goa Suci adalah cagar budaya dan papan larangan.

Melihat dinding Goa Suci seperti melihat reruntuhan kejayaan sebuah bangunan kuno. Bongkahan-bongkahan batu raksasa yang membentuk sebuah tempat untuk sekedar berteduh.

Goa Suci


Saya mulai bingung mencari pintu masuk goa. Kalau biasanya kita masuk dan keluar goa dari satu pintu, namun disini tidak. Tidak ada pintu masuk yang sebenarnya. Karena kita bisa masuk melalui berbagai jalan. Lorong-lorong pendek langsung menuju ke ruang demi ruang. Ada yang luas ada pula yang sempit. Ada yang harus membungkuk ketika memasukinya. Tingginya sekitar tinggi anak bungsu saya.

Goa Suci merupakan goa buatan. Melihat bentuk goa ini mirip bekas pahatan-pahatan batu kapur. Atapnya berupa kerucut dan berlubang. Sinar matahari bisa masuk dengan leluasa dan membuat foto-foto kita tampak eksotis.

Ruang-ruang disini adalah hasil pahatan manusia yang terpola dengan baik. Kotak-kotak berundak seperti bahan bangunan rumah kita. Hampir semua ruang bisa kita jelajahi. Kecuali satu ruang. Sebenarnya bisa, namun harus melalui tangga karena jarak cukup dalam.

Goa Suci


Kalau biasanya kita menyebut goa adalah suatu tempat di bawah tanah, seperti lorong dengan degradasi kegelapan, mulai dari gelap hingga terang dan dengan berbagai ornamen di dalamnya. Namun kali saya agak terkejut. Saya berharap Goa Suci seperti dalam bayangan saya. Lorong gelap itu tak ada. Tidak!


Saya pernah mendapati orang-orang yang ragu untuk masuk goa karena cahaya yang minim. Namun disini, kita bakal menemukan cahaya yang cukup. Tidak melimpah tapi cukup untuk menyinari semua dinding goa.  Ada ruang yang agak temaram tapi tidak ada yang benar-benar gelap.

Kita juga tidak mungkin tersesat di dalam Goa Suci. Tak ada jalan yang meliuk apalagi yang naik turun curam. Semua medan bisa dengan mudah kita lewati. Asalkan tetap hati-hati. Karena ada area dengan lantai serpihan kapur agak curam.

Goa suci


Dinding Goa Suci berwarna coklat, dan bata – warna tanah. Padahal kalau dinding mengandung unsur batuan kapur, bisa dipastikan warnanya putih bersih. Menurut cerita, Goa Suci ini dulunya terendam lumpur yang membekas di dindingnya.

Goa Suci merupakan peninggalan kerajaan Majapahit. Di  jalan raya sudah ada papan informasi yang menyatakan bahwa goa ini adalah cagar budaya. Lalu di depan mulut goa ada juga papan informasi yang sama. Konon, disini sering digunakan sebagai tempat bertapa.

Goa ini ditemukan sekitar tahun 70 an. Hingga kini Goa Suci belum dikelola dengan baik. Sampah-sampah bertebaran. Bukan hanya dari reruntuhan daun-daun di sekitar lokasi, namun sampah botol minuman dan makanan. Demikian juga coretan-coretan di dinding goa. Mungkin ada pengunjung atau siapapun yang kurang bisa menjaga situs Goa Suci. Padahal kita tahu bahwa ini adalah bangunan yang dilindungi. Entahlah.


Goa suci


Berikut ini saya kutip dari kemdikbud:

Situs Goa Suci berukuran panjang 90 m, lebar 80 m. Tinggalan arkeologis di situs ini berupa ruang-ruang yang saling dihubungkan dnegan lorong-lorong yang besar. Goa ini dikenal dengan nama Goa suci, berukuran 70m dan lebar 60 m, tinggi 15 m. Goa merupakan goa batu kars/atu kapur, terbentuk oleh aktivitas manusia yaitu penambangan batu kapur untuk dijadikan blok-blok batu putih (batu kumbung) sebagai material/bahan bangunan. Material bangunan di daerah pesisir Gresik, Lamongan, Surabaya banyak menggunakan batu kumbung mengingat batu ini tidak mudah keropos di daerah pesisir yang berair tanah payau dan banyak menggunakan garam. Tinggalan arkeologis lain berupa adanya inskripsi angka tahun berhuruf Jawa kuno, goresan gambar wayang yang merupakan salah satu bagian cerita Arjunawiwaha, serta gambar-gambar (kode-kode) seperti lengkungan yang hingga kini belum diketahui maksudnya.

Setelah berkeliling Goa Suci, saya makin penasaran. Orang-orang zaman dahulu sudah berpikir cerdas untuk memanfaatkan bahan dari alam. Lalu, kami berjalan, tidak untuk pulang. Justru melihat goa dari atas.


Kami naik bebatuan hingga tiba di atas goa. Kalau tadi goa berada di tengah ladang warga. Demikian juga di atas goa. Ada petak-petak ladang milik warga. Mungkin terdengar aneh. Tapi begitulah keadaannya. Semua tempat kalau bisa ya dimanfaatkan saja. Apalagi negara kita adalah negara agraris.

Goa Suci


Ada sesuatu yang menarik disini. Di dekat lokasi Goa Suci ini ada penambangan batu kapur. Saya sangat takjub melihat pola batuan kapur yang dipotong-potong.  Suara berisik mesin pemotong ini membuat kami duduk sejenak. Menyadari alam yang begitu bebas digunakan manusia.  Betapa Allah ini Maha Pemurah, Allah Maha Besar. Maha Segalanya.

Untuk beberapa saat saya belum bisa move on dari lokasi Goa Suci.



Note:

Masuk goa gratis (sampai detik saya menulis ini)
Tidak ada biaya parkir meski ada tulisan parkir Rp 2.000.



Lokasi:

Goa Suci ini terletak di dusun Suci desa Wangun, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban. Nama Goa Suci diambil dari dusun setempat.

Untuk menuju lokasi, dari kota Tuban, ambil arah pantura. Sambil menyusuri pantainya, sambil melihat jalan ya! Tiba di pertigaan Rembes, Palang belok ke kanan. Nanti akan terlihat bukit kapur, artinya lokasi goa sudah dekat. Kita bisa bertanya kepada warga setempat. Seperti saya yang berkali-kali bertanya. Daripada tersesat!

Happy traveling!

^_^
Comments
15 Comments

15 comments:

  1. Wah mbak ...Ini mirip sama di madura ya ..

    Duh lama saya g baca blog mbak hehehe

    ReplyDelete
  2. Wah mbak ...Ini mirip sama di madura ya ..

    Duh lama saya g baca blog mbak hehehe

    ReplyDelete
  3. Semoga aja cagar budaya kaya gini dirawat terus dan dilestarikan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sayang juga sih. Jadi terlantar. Katanya ada petugas yang jaga, namun saya nggak ketemu.

      Delete
  4. Wah Goa Suci dari uda lama ya namun sayang tidak diperdayakan menjadi objec wisata

    ReplyDelete
  5. Biasanya aku menghindari msk ke goa krn takut ama binatang2 yg ada di dlm, kelelawar, ular. Tapi kalo goa ini lumayan terang, kyknya 2 binatang itu g ada ya mba :D.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak ada binatang seperti itu. Ini seperti bongkahan batu raksasa.

      Delete
  6. Sayang yaaa kurang terawat. Pintu masum ajah gak ada arahannya lewat mana. Padahal indah gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak semak pula. Dari luar memang tidak terlihat.

      Delete
  7. struktur bebatuannya keren ya mbak, berbeda dengan goa2 pada umumnya

    ReplyDelete
  8. Sayang banget kalau Goa Suci ini belum dikelola dengan baik. Sedihnya, soal banyak coretan dan sampah di sekitar Goa. MenurutKu, keberadaannya yang di kelilingi ladang warga ini yang bikin perjalanan mba dan suami ke sana jadi semakin asik.

    ReplyDelete

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Maaf, jika ada link hidup akan saya hapus!

COPYRIGHT © 2017 · LOVELY MOM | THEME BY RUMAH ES