Thursday, October 20, 2016

Ikhlas




Bagaimana hati seorang ibu yang menyaksikan anak yang baru saja dilahirkannya sedang sakit? Bukankan dia sangat ingin bertemu, menyentuhnya, menyusuinya dan mengecup keningnya. Sembilan bulan lamanya berada dalam kandungan dan ternyata tak sedetikpun ada kesempatan untuk mendekapnya.

“Maaf, bayinya harus dirawat di ruang bayi ya,” kata suster yang seketika membuyarkan harapan saya.

Saya masih lemah, ingin bertanya tapi sudahlah. Ada suami dan ibu disana. Saya yakin mereka akan mengurusi segala sesuatu yang berhubungan dengan si bayi.

pexel.com

Setiap ibu yang baru melahirkan pasti ingin segera berada di dekat bayinya. Demikian juga dengan saya. Namun keinginan itu pupus. Bayi saya sedang menderita infeksi. Entahlah, infeksi jenis apa, bagaimana, saya kurang paham. Sewaktu lahir tidak bisa langsung menangis. Jadi perlu dirangsang beberapa kali baru keluar suaranya. Itupun sangat pelan. Suami hanya meminta saya untuk tenang dan berdoa untuk kebaikan si bayi.

Betapa kerinduan kepada si bayi mengalahkan segala rasa sakit setelah melahirkan. Saya meminta ijin kepada suster untuk menjenguk bayi saya. Hanya beberapa menit, seorang suster menghadirkan bayi saya. Saya menyentuhnya, membelainya, dan masih menahan segenap rindu.

Dua malam berada di rumah sakit, kondisi saya berangsur membaik. Saya diperbolehkan pulang. Namun tanpa membawa si bayi. Rasanya aneh. Separuh hati ini seolah melayang entah kemana.

Tiba di rumah, pihak rumah sakit menelpon suami. Saya mencoba menangkap pembicaraan mereka. “Adik kena kuning. Jadi mesti dirawat dulu. Mungkin agak lama,” kata suami yang berusaha menenangkan saya.

Selanjutnya suami bersedia mengantarkan ASI kepada si bayi. Dalam satu hari bisa beberapa kali mengunjungi rumah sakit. Saya ikut cuma sehari sekali saja. Setiap melihat bayi di ruangan itu, saya selalu menangis. Perasaan ini seolah sulit dikendalikan. Air mata mengalir begitu saja. Terus dan terus sehingga suami merasa kasihan melihat keadaan saya.

Ada tetangga yang menjenguk saya. Membawakan kado buat si bayi, namun bayinya tidak ada di rumah. Saat seperti itu saya semakin sedih. Mengenangnya saja berada disana. Sementara saya hanya bisa bercerita sedikit tentang si bayi.

Meski emosi saya tidak stabil, saya tetap ingin ikut menjenguk si bayi. Sebagai seorang ibu, saya ingin ada kesempatan untuk sentuhan fisik. Tetap saja susternya melarang. Keluarga bayi hanya diperbolehkan melihat bayi dari balik jendela kaca. Itupun pada hanya jam tertentu.

Saya jengkel sekali dengan pihak rumah sakit yang kurang bisa diajak bekerja sama. Saya memaksa bertemu dengan bayi tapi dilarang. Saya tetap masuk ke ruangan suster dan menanyakan kabar si bayi. Namun jawaban suster tidak pernah memuaskan.

Sampai akhirnya saya dan suami memutuskan untuk menunggu dokter anak yang menangani bayi saya. Setiap dokter selesai memeriksa bayi-bayi, saya dan suami mengikutinya. Menanyakan perkembangan kesehatan si bayi. Kadang kami kecewa. Dokter hanya mengucapkan beberapa patah kata lalu pergi.

Kami tak lelah untuk bertanya. Bagaimana mungkin kami, yang orang tuanya akan begitu saja meninggalkan rumah sakit tanpa tahu kabar si bayi. Meski perkembangannya lambat bahkan membuat saya kerap deg-degan, kami selalu berharap ada keajaiban.

Ketika saya mendapati beberapa bayi sudah pulang, hati ini semakin resah. Bayi-bayi yang lahirnya hampir bersamaan dengan bayi saya sudah sembuh. Berganti dengan bayi-bayi lain yang menempati box kecil-kecil. Kapan giliran bayi saya? Rasanya bayi saya sudah lama berada di ruangan ini.

Pada hari kedelapan saya melihat ada seorang wanita yang juga berdiri di depan jendela kaca. Dia merupakan keluarga si bayi yang berasal dari luar kota. Ibu si bayi itu sudah lama pulang. Tinggallah si bayi bersama bayi-bayi lainnya di ruang bayi.

Dalam keadaan seperti itu saya melihat keluarga mereka yang pasrah. Dalam arti keadaan seperti ini tidak pernah ada dalam benak seorang ibu manapun. Tapi apa mau dikata jika memang Allah memberikan ujian seperti ini.

Karena rumahnya jauh, maka si ibu bayi tidak pernah sekalipun menjenguk. Keluarganya secara bergantian datang ke rumah sakit, membawakan keperluan si bayi. Tentu dengan tetap berdoa akan kesembuhan si bayi.

Sementara saya....setiap hari saya bisa menjenguk bayi. Berusaha datang sebelum gorden ruang bayi terbuka untuk pengunjung. Lalu pulang setelah gorden ditutup. Bertanya kabar si bayi kepada suster dan dokter anak. Tetap merasa tak pernah cukup. Tetap tak puas.

Rumah saya dekat. Mudah saja bagi kami untuk datang. Saya masih memiliki banyak kesempatan untuk sekedar menatap wajah pulas si bayi. Sedangkan dia, ibu yang rumahnya jauh itu. Mungkin hanya menyimpan sekelebat wajah bayinya sebelum pulang.

Entah sudah berapa tissue yang saya habiskan untuk menyeka air mata. Semuanya tak cukup untuk menghapus segala rasa perih yang mendekam di dada. Melihat bayi saya yang ditemani dua selang, infus dan oksigen. Sementara kedua matanya ditutup karena dia harus disinar.

“Lha, gimana lagi, ibunya ya di rumah,” begitu kata si ibu yang masih berdiri di depan jendela kaca.

Lalu saya melihat diri saya yang layu. Saya...iya saya...sudah berapa kali menjenguknya? Tapi ibu si bayi...tak pernah hadir tapi yakin dengan kesembuhan anaknya.

“Biarlah bayinya disini. Biar dirawat,” katanya kemudian.

Benar juga. Mestinya saya ikhlas menempatkan si bayi di sini. Bukankan ada suster yang merawatnya. Saya masih bisa bertanya kabar dan sebagainya.

Saya menarik nafas dalam-dalam. Dengan hati yang lebih lapang, saya dan suami pulang. Segala macam kekurangan di rumah sakit itu tak mungkin kami cela. Kami masih membutuhkannya.

Alhamdulillah, esoknya (hari kesembilan) bayi saya boleh pulang. Pada siang hari setelah diperiksa dokter dan kondisinya dinyatakan stabil, saya membawa anak saya pulang. Dalam gendongan, saya menatap si bayi mungil, menyentuhnya dan mendekap sepenuh kasih.

Tak mungkin saya melupakan pengalaman enam tahun lalu. Ini adalah kisah ketika saya melahirkan anak ketiga. Antara harapan, suka dan duka, berputar bagai roda. Karena hidup menuntut kita untuk terus bergerak. Kemana kita akan melangkah, atau sebaliknya mundur dan diam di tempat semula. Tidak! Setiap langkah yang kita ambil, ada pelajaran berharga di dalamnya.

“Anak adalah amanah. Bagaimanapun jika saya menginginkan, memperjuangkan, dan mencintainya tapi kalau Allah menghendaki seperti ini, saya akan belajar ikhlas.” 
^_^


Note:

Barokallah mba Ira dan blognya. Met milad. Senang sekali bisa berkenalan dengan mba Ira, meski masih sebatas dunia maya. Memang jalinan pertemanan tidak perlu membuat jarak. Hanya dengan modal kuota internet saya bisa blogwalking kesini. Semoga tulisan-tulisan mba Ira selalu menginspirasi dan menebar manfaat. Happy blogging!


Comments
18 Comments

18 comments:

  1. Ih... Aku kok nangis baca ini. Teringat kisahku sendiri. :((

    ReplyDelete
  2. Sedih bacanya apalagi mba yang mengalaminya tentu menguras emosi :) salut dengan ketabahan dan kekuatan mba bersama suami menhadapi ujian tersebut. Semoga mba dan keluarga sehat selalu.
    gudluck GA-nya mba

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah ya mba, semuanya bisa dilalui. namun tetap pengalaman hidup tak bisa hilang dalam ingatan ya mba...

    ReplyDelete
  4. Mbaaakkkk, :(
    tp alhmdulillah ya mbk, akhirnya smua terlewati, salut dg ketabahanmu mbk

    ReplyDelete
  5. Ikut merasakan perjuangan mb nur rochma waktu itu, ga kebanyang gimana teraduk aduknya perasaan paska lahiran, dan baby masih hrus stay di incubator
    Sepupu aku juga ngalamin mb, tapi karena lahir prematur akibat pelengketan plasenta. Sempet cemas juga, tapi alhamdulilah setelahnya bisa sehat setelah beberapa bulan perawatan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya memang cemas, kacau banget deh waktu itu. Dan alhamdulillah semua ini berkat pertolonganNya.

      Delete
  6. Terkadang ada sesuatu yang membuat kita menangisi diri sendiri padahal di luaran sana banyak juga yang sebetulnya lebih tegar daripada kita. Terima kasih sudah berbagi kisah ini.

    ReplyDelete
  7. saat anak sakit, apalgi hrs diinfus, itu memang berasaaaa banget saitnya ya mba.. kyk kitanya jg ditusuk jarum :(..

    alhamdulillah si kecil bisa melewati masa2 sakitnya yaaa.. :).. good luck utk GA nya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anaknya yang sakit eh ibunya juga berasa sakitnya.

      Makasih mba.

      Delete
  8. Mba, anakku yg kedua juga kuning, jadi setelah kita pulang terus beberapa hari check up lagi, dan dinyatakan harus disinar di RS. Pas nganterin ke ruangan utk perawatan, dilepas bajunya, dipakein tutup mata...ngga kuat
    Anak sakit, ibu lebih terasa sakit ya mba. Tapi jadi saling menguatkan

    ReplyDelete
  9. alhamdulillah penantian Mba Rohma berakhir bahagia yah Mba :)

    terimakasih sudah berpatisipasi di GA saya :*

    ReplyDelete

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Maaf, jika ada link hidup akan saya hapus!

COPYRIGHT © 2017 · LOVELY MOM | THEME BY RUMAH ES