Tuesday, February 20, 2018

Ketika Bermain Menjadi Kenangan Indah Masa Kecil



main petak umpet


Masa kecil saya termasuk biasa saja. Mungkin karena saya anaknya anteng jadi tidak ada yang kejadian luar biasa. Pernah bertengkar dengan teman sampai diam cukup lama (berhari-hari). Padahal teman ini hubungannya cukup dekat dengan saya. Setiap berangkat dan pulang sekolah selalu bersama. Apapun yang terjadi selalu bersama-sama jalan kaki.

Herannya, ibu mengetahui masalah ini. Saya merasa ibu memiliki mata-mata, deh. Kemudian ibu membantu mencairkan suasana. Ibu mencari cara agar saya dan teman itu bisa bersama lagi. Awalnya memang kaku. Tidak ada yang memulai bicara. Sampai esoknya kami mulai saling sapa dan lupa kalau pernah diam-diaman. Lucu saja, ketika mengingat kejadian itu.

Sejujurnya, saya bukan anak dengan segudang prestasi di sekolah. Tidak juga menjadi anak yang populer karena satu dan lain hal. Hanya anak yang biasa saja tetap memiliki keinginan untuk bermain-main. Bermain membuat saya lupa kalau ibu sedang marah dan saya takut masuk rumah. Kesalahan apa coba! Saya bahkan sudah lupa deretan kesalahan itu. Karena tema untuk marah ternyata banyak. Kemudian sadar, jangan-jangan saya masih terbawa pengalaman masa kecil...

Iseng, saya bermain sendiri di luar rumah. Bermain tanah, dengan membuat istana, rumah dan perabotannya. Setelah suasana reda, barulah saya masuk rumah dan berharap suasana memang sudah tenang. Kalaupun belum, buru-buru saya keluar dan bermain. Kadang mencari teman tetangga. Lalu kami jalan-jalan saja sekitar rumah. Tidak boleh jauh-jauh nanti menambah daftar kemarahan ibu lagi.

Mengingat masa kecil, apa saja yang menarik?

Tentunya banyak. Masa SD saya tidak memiliki beban apapun. Belajar ya asal saja. Asal buka buku, asal membaca. Kadang mengerti tapi sering tidak mengerti. Tapi takut dan malu bertanya kepada guru. Sesekali pernah lupa mengerjakan PR. Mengerjakan di sekolah juga pernah. Sambil deg-degan dan merapal doa agar tidak ketahuan guru.

Tapi rasanya saya sangat beruntung. Anak yang nilai akademisnya biasa saja bisa masuk SMP favorit. Anggap saja ini prestasi saya. Ya, setidaknya saya ingin menghargai diri sendiri. Menghargai semua usaha belajar saya yang pas-pasan. Hiks!

Nah, mengingat masa kecil, memori saya lalu terbang ke masa bersenang-senang. Ya, waktu itu memang saya tidak tahu tujuan hidup (Berat amat ngomong tujuan hidup, tujuan sekolah, tujuan belajar, dsb). Bersenang-senang tetaplah menjadi tujuan utama. Caranya dengan bermain bersama teman-teman. Kalau tidak ada, ya bermain sendiri.

Mari mengenang permainan masa kecil, mengenang kebahagiaan yang sangat sederhana. Karena bermain itu manfaatnya luar biasa. Dari mengubah kesedihan menjadi kebahagiaan hingga mengubah kesendirian menjadi kebersamaan.

Beberapa permainan yang saya sukai di masa kecil adalah:

www.chemember.wordpress.com

1. Bola Bekel

Permainan ini menggunakan bola bekel yang terbuat dari karet dan biji bekel yang terbuat dari tembanga atau kuningan. Boleh dibawa ke sekolah. Saya ingat sewaktu masih SD suka bermain bekel saat istirahat sekolah. Permainan ini bisa dimainkan oleh minimal dua anak perempuan. 

2. Pasar-Pasaran

Bermain pasar-pasaran sangat menyenangkan. Biasanya anak-anak perempuan yang melakukannya. Yang dijual biasanya bunga, diambil di pekarangan tetangga, kadang juga bunga liar. Transaksi pakai uang daun. Sampai kelas 6 SD saya masih suka bermain pasar-pasaran. Sampai ada mas-mas yang menegur ketika melihat saya segedhe itu main pasar-pasaran. Abaikan saja! Perasaan saya sih masih anak kecil.

3. Lompat tali

Saya dan teman-teman menggunakan karet. Atau pentil (sepeda) yang diikat menjadi panjang. Kemudian dua anak berdiri memegangi tali (biasanya yang kalah ketika hompimpah, dan kalah ketika meloncat). Anak lainnya meloncat satu per satu (tidak boleh menyentuh tali). Ketika meloncat dan kaki menyentuh tali artinya kalah. Permainan ini bisa dilakukan oleh laki-laki dan perempuan di halaman.

Permainan yang saya benci adalah petak umpet. Entah bagaimana peraturannya, setiap bermain petak umpet ini wilayah bermainnya tidak jelas. Jadi kalau ada satu anak yang “jadi” (jadi mencari teman-temannya), maka teman-temannya ini seenaknya saja mencari tempat persembunyian.

Bisa saja teman-teman ini mencari tempat yang agak jauh. Yang belum terpikirkan akan bersembunyi disana. Biasanya di sekitar rumah, tapi kemudian di rumah tetangga, diantara batas satu rumah dengan rumah lainnya. Bisa pula di pekarangan. Makin lama makin jauh sampai harus berlari-lari untuk sembunyi.

Nah, si anak yang kebagian mencari teman-temannya ini beraksi, berjalan kian kemari dan tidak kunjung ketemu. Tiba-tiba saja dari arah tak terduga satu teman datang dan menyentuh tempat awal dia berdiri. Jelas si anak kalah lagi. Sementara teman-temannya tertawa merayakan kemenangan. Jadi enaknya bagaimana? Tetap kalah berkali-kali itu tidak menyenangkan. 

Untuk permainan petak umpet ini saya masih melakukannya bersama si bungsu. Permainan ini tidak lekang oleh waktu. Tetap menarik dan asyik. Bahkan ketika bermain cukup di dalam rumah. 

Bagaimanapun permainan masa kecil, bagi saya sangat menyenangkan. Saya yang orang rumahan jadi punya teman bermain. Saya bisa bersenang-senang bersama teman-teman. Saya lupa waktu. Tapi batas waktu bermain jelas. Sejelas antara siang dan malam. Dengan cara seperti ini saya belajar untuk menghargai waktu. Kapan waktu bermain, kapan harus beribadah dan belajar. Saya juga belajar untuk menjadi anak yang patuh kepada orang tua. Saya percaya kalau peraturan di rumah dibuat untuk kebaikan saya juga.

Menjelang maghrib, saya harus sudah masuk rumah. Sudah mandi dan menyiapkan pelajaran sekolah untuk esok. Sudah tidak menerima panggilan dari teman untuk bermain lagi. 

Note: 

Tidak ada foto masa kecil yang diupload karena saya selalu memakai rok buatan ibu. Semua rok saya di masa kecil adalah jahitan ibu. Modelnya macam-macam dan selalu cakep tapi diatas lutut. Kecuali baju untuk mengaji (sayang tidak ada fotonya). Sebagai ganti adalah foto bersama si bungsu yang sedang bersembunyi di kebun teh.

Nah, kalau teman-teman, apa saja kenangan di masa kecil? Sharing, yuk!

Tulisan ini diikutsertakan dalam #posttematik KEB

^_^

Friday, February 16, 2018

Oleh-Oleh Pasuruan: Bipang Jangkar



Bipang Jangkar


Jajanan dengan bahan utama beras ini lebih familiar di telinga saya dengan sebutan jipang. Bukan saya saja. Ada banyak pembeli di toko Bipang Jangkar ini yang menyebut bipang dengan jipang.

Tuesday, February 13, 2018

Sakit saat Traveling? Bagaimana Mengatasinya?





Siapapun pasti tidak akan mau sakit saat sedang traveling. Tidak! Masalahnya sakit itu tidak pernah kita undang. Sakit bisa terjadi  tiba-tiba saja. Padahal persiapan sudah maksimal. Upaya pencegahan sudah dilakukan.

Friday, February 9, 2018

Kerajinan Perak Kotagede, Yogyakarta



Kerajinan Perak Kotagede



Kotagede dikenal sebagai sentra kerajinan perak. Salah satunya adalah Ansor’s Silver. Kalau biasanya saya menulis wisata alam, kali ini wisata belanja. Kalaupun tidak belanja, boleh kok melihat-lihat ada apa di Ansor's Silver ini. Lokasinya sangat mudah dijangkau dan ramai pengunjung terutama di musim liburan. Ansor’s Silver ini menempati bangunan klasik yang terawat dengan baik. Demikian juga perabot didalamnya, klasik.

Tuesday, February 6, 2018

Jangan Ada Dendam Diantara Kita



Jangan Ada Dendam Diantara Kita


Cukup mengejutkan ketika membaca berita tentang kematian seorang guru di Madura yang dianiaya oleh siswanya. Bagaimana mungkin seroang guru yang merupakan pendidik menjadi korban kekerasan. Ah, sebagai seorang ibu dengan pengalaman maupun ilmu yang sangat cetek, saya tetap merasa terusik.

Friday, February 2, 2018

Jurang Tembelan Yogyakarta



Jurang Tembelan, Yogyakarta


Masih melanjutkan cerita jalan-jalan ke Yogyakarta. Kalau minggu lalu saya menulis Puncak Kebun Buah Mangunan, sekarang wisata alam di Jurang Tembelan.

Tuesday, January 30, 2018

Jika Anak Bertengkar dengan Teman di Sekolah





Memiliki tiga anak laki-laki itu seru. Semua anak tidak ada yang sama persis. Cara menghadapai setiap permasalahan mereka juga berbeda. Ada anak yang sekali saja saya ngomong sudah mengerti. Ada yang sampai berkali-kali untuk kasus yang sama. (Tabahkah hatimu ibu....)
COPYRIGHT © 2017 · LOVELY MOM | THEME BY RUMAH ES