Sunday, December 17, 2017

Ingin Fotomu Direpost Akun Instagram Lokal? Perhatikan 3 Hal Berikut!



patung


Akhir-akhir ini saya melihat semakin banyak saja akun-akun instagram lokal yang khusus membahas suatu daerah. Sebagai contoh adalah akun IG Tuban yang tujuan utamanya adalah memperkenalkan potensi daerah.


Tujuan saya upload foto-foto tentang Tuban kurang lebih sama. Memperkenalkan daerah Tuban. Siapa sih yang mengenal Tuban? Ada apa di Tuban? Makanan khasnya apa? Mau jalan-jalan sebaiknya dimana?

Keinginan saya tidak muluk. Saya memotret sesuatu yang biasa. Ya, menurut saya seperti itu. Jalan, sawah, makanan khas, destinasi wisata. Sambil jalan saja. Tidak ada waktu khusus. Kalau ingin ke suatu tempat, ayo saja. Mumpung suami dan anak libur. Sekarang yang sering diajak kemana-mana cuma satu anak, si bungsu.

Sampai saya menulis ini tercatat ada @beritatuban @lingkartuban @mampirtuban @tentangkotatuban @ilovetuban @tubancekrek, dsb. Kalau ditulis banyak banget. Sepertinya bertambah terus.

Saya tidak tahu siapa admin semua akun tersebut. Namun ada juga yang menyertakan akun adminnya. Lainnya masih abu-abu. Saya tidak berani menebak. Tapi melihat perkembangan instagram dan follower mereka, kemungkinan adalah anak-anak muda.

Selain untuk merepost foto-foto kita, akun-akun tersebut menerima media partner/promosi. Tinggal kirim pesan saja lalu mereka akan menampilkan foto kita. Biasanya untuk promosi bisnis, seminar, lowongan kerja, dsb.

Ketika foto kita direpost di akun-akun tersebut jelas mendapat banyak like. Lha, follower mereka bisa mencapai puluhan ribu dan terus bertambah. Entah itu follower organik atau bukan, saya tidak tahu.

kecap cap Laron


Bagaimana agar foto kita direpost oleh mereka?


1. Foto harus jelas (tidak blur) dan menarik.
2. Foto tentang sesuatu yang khas di daerah kita. Bisa lokasi, wisata, kuliner. Apapun yang terlihat khas.
3. Caption yang informatif dan lengkap. Jika berita, harus up to date.


Gampang ya! Asalkan kita jeli dengan situasi dan kondisi daerah, sepertinya mudah saja untuk menampilkan foto. Tidak perlu harus dengan kamera mirorless atau DLSR. Saya pernah mengunggah dengan kamera handphone dan direpost.

Intinya tetap saya mengandalkan potensi lokal. Misalnya makanan yang legendaris, yang membuat orang kangen. Jadi ketika mimin melemparkan pertanyaan kepada followernya, akan disambut juga. Seperti ketika merepost foto Kecap cap Laron dan Ketan.

Bagi perantau yang mengikuti akun-akun IG lokal, foto-foto semacam ini seolah membangkitkan kenangan masa lampau. Membangkitkan rasa untuk pulang ke kampung lalu mampir ngopi dan nyicip ketan. Sambil nongkrong selepas shubuh.

Selalu menarik ketika membahas kampung halaman. Selalu ada rasa yang entah terdefinisikan seperti apa tetap saja memunculkan kerinduan. Suasana yang natural. Semua cerita hadir mengobati rindu itu.

Saya sudah tidak menghitung berapa kali foto saya direpost oleh akun-akun tersebut. ada yang dengan sopan meminta izin untuk merepost tapi yang sering terjadi adalah langsung direpost. Setahu saya sebagian besar akun tersebut selalu mencantumkan pemilik akun yang direpost.

Namun sayangnya, sekali foto kita beredar di akun-akun dengan follower banyak maka pergerakan foto kita sudah tak terkontrol lagi. Tak ada yang bisa menjamin bahwa foto kita bakal selalu dicantumkan sumbernya. Bahwa foto kita akan digunakan untuk hal-hal yang baik saja. Tak ada jaminan.

Sekali foto diunggah, saat itulah foto kita adalah milik publik. Ini berlaku jika akun kita tidak digembok ya.

Tanpa kita sadari ada banyak mata yang memandang foto kita hingga detail, sedetail-detailnya. Bahkan merepost foto kita tanpa menyertakan akun kita. Ada yang kecewa?

Ketan


Saya menulis seperti ini karena sudah beberapa kali foto yang saya unggah di media sosial bertebaran hingga saya tak bisa lagi melacaknya. Seperti yang terjadi baru-baru ini. Foto patung (orang Tuban menyebutnya patung pasti mengacu pada patung di perempatan ini) di perempatan SMPN 3 Tuban direpost oleh @ilovetuban. Kemudian ada anak sekolahan (foto-foto IGnya dengan seragam sekolah / SD) yang mengunggah di IG. Disusul anak sekolahan ini lagi yang ngetag akun-akun IG lokal. Kemudian @tuban_gram merepost dari akun anak sekolahan.

Ah... ruwet ya!

Bukan saya saja yang mengalami peristiwa pencurian foto di dunia maya. Ada banyak blogger dan fotografer beken yang bernasib sama. Apalah saya, kemampuan memotret masih ala kadarnya.

Terbersit rasa jengkel, kemudian malas upload foto. Ada teman yang menyarankan untuk ngetag orangnya dan sudah saya lakukan. Saya juga komentar di postingan mereka. Hasilnya nihil.

Kejengkelan saya karena foto tersebut benar-benar tidak sesuai dengan captionnya. Mereka tidak tahu kapan foto diambil. Mereka tidak merasakan bagaimana sih hunting foto itu. Kapan moment yang bagus buat cekrek-cekrek.

Captionnya juga terlalu lebay. Kadang saya berpikir, mengapa tidak memakai foto sendiri saja ya lalu bikin caption entah itu cinta-cintaan, rayuan cewek atau apapun! Kalau seperti ini saya merasa aduh... bagaimana ya, sedih.

Sejujurnya ketika foto saya direpost ada sedikit kegembiraan. Bagaimana mungkin saya dengan follower seribuan bisa mendapatkan like hingga ribuan juga. Tapi like itu milik akun IG lokal. Ah, sudahlah... like tidak menjamin apapun. Apakah follower saya bertambah? Tidak juga! Bertambah satu, dua masih wajar. Karena kalau kita sering upload foto biasanya follower ikut naik. Turunnya juga, sama. Suka-suka naik, suka-suka pula turun.

Apakah saya mendapatkan kerjasama setelah foto saya ngehits? Sampai detik ini tidak. Masalah like hanyalah bumbu penyedap media sosial. Hanya untuk menyenangkan diri saja. Belum banyak pengaruhnya.

Setiap perbuatan pasti ada resikonya. Seperti kasus saya ini, mungkin inilah resiko ketika foto kita populer.

Watermark

Salah satu cara agar foto kita tidak sembarang diambil adalah dengan memberikan watermark. Sayangnya, orang kalau sudah niat banget, tetap saja diakui sebagai fotonya. Foto bisa dicrop sehingga watermark yang ditepi hilang. Atau diedit sedemikian rupa sehingga tampak seperti foto baru.

Setidaknya dengan watermark, foto itu ada pemiliknya. Ada nama kita yang menempel di foto. Meski sebenarnya saya sering malas memberikan watermark. Malas ribet karena harus utak-utik. Padahal tidak butuh waktu lama ya untuk membuat watermark.

So, jika teman-teman ingin fotonya direpost, yuk upload foto sendiri dan gunakan caption yang menarik!

^_^
Comments
6 Comments

6 comments:

  1. Ho oh mbk di watermark ajalah klok gt. Ada positifnya tp lbh bnyak gk nyenenginnya ya mbk

    ReplyDelete
  2. aku jarang maen beberapa waktu ini hiks
    eh taopi yg anak sd itu parah juga mbak huhu
    yg enak emang kasih watermark, cuma lebih baik agak samaran

    ReplyDelete
  3. Saya suka bingung bikin caption, tp yg pasti saya jg seneng sih kalau bisa memajukan potensi daerah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba. Caption memang bikin galau. Akupun demikian.

      Delete

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Maaf, jika ada link hidup akan saya hapus!

COPYRIGHT © 2017 · LOVELY MOM | THEME BY RUMAH ES