Thursday, November 17, 2016

Rumah Kedua



“Kamu suka?”

“Ha..ha..ha..pasti. Kue ini enak.”

Cerita sebelumnya....
 
“Ini dibawa pulang saja ya.”

Alfi menggeleng. “Aku mau disini saja.”

“Tapi Alfi harus bilang bunda, dulu.” Ustadzah Fida mengambil beberapa potong kue brownies dengan topping cokelat leleh. Kue ini hasil uji coba yang kesekian kalinya. Dan hanya anak kecil inilah yang mengagumi hasil karyanya.

Tak perlu menjadi ahli memasak untuk membuat kue. Yang penting latihan dan jangan mudah menyerah jika super bantat.  Asal bisa dimakan saja sudah senang. Abaikan penampilannya yang belum rapi. Soal rasa tak perlu ragu. Hampir mirip dengan yang dijual di toko roti langganannya. Itu kata Alfi yang membuat ustadzah Fida makin bersemangat belajar memasak.

Alfi mengayun langkahnya yang terasa makin berat. Rumahnya masih berantakan. Beres-beres barang dirumah adalah tanggung jawabnya. Tapi kalau yang bikin berantakan adalah kak Amel, masak tetap Alfi yang membereskan.

Tubuh kak Amel lebih besar dan lebih tinggi darinya. Usianya terpaut tiga tahun. Lalu kenapa mesti Alfi? Kenapa bunda selalu memaksa Alfi? Kenapa selalu Alfi yang menanggungnya? Tidak adil, bukan?

Alfi menjerit, “Haaa!”

Keterlaluan, nenek dengan gerakan lambatnya merangkak mengambil mainan yang berserakan di rumah. Sementara kak Amel masih saja melempar semua barang miliknya. Lihat saja, di kolong sofa banyak lego warna-warni.

Tak ada yang menyenangkan di rumah ini. Nenek mulai mengomel panjang lebar sambil memunguti mainan. “Kak Amel berhenti!”

“Hu...a.....me.....”

“Iya, kak Amel! Ber..hen..ti lem..par!” perintah Alfi patah-patah.

Kak Amel menggeleng.

“Kenapa sih, anak nggak tahu orang tua capek beres-beres, eh dia terus saja begini!” keluh nenek. Tangannya menyeka berkeringat yang menetes di dahi. Lengan dasternya yang panjang dilipat.

Kak Amel memungut satu lego. Benda kecil berwarna pink itulah yang kemudian ditunjukkan kepada Alfi. “Ma...na?”

“Hilang?” tanya Alfi.

Kak Amel mengangguk.

“Kalau hilang kenapa malah dilempar-lempar, bukannya bertambah hilang. Kalau perlu dibuang saja semuanya. Biar tidak beres-beres lego lagi.” Alfi mendesah sebal.

Ruang tamu sudah rapi, tapi lego yang diinginkan kak Amel belum ketemu. Dia meraung. Semakin keras. Bunda...kenapa belum datang juga? Saat seperti inilah, Alfi butuh bantuan bunda.

Nenek mengajak Alfi mencari lagi. Tidak di ruang tamu. Di kamar kak Amel, hingga di dapur. Tak ada. Tenaga orang setua nenek tidak gesit lagi. Mau berdiri saja harus mencari pegangan. Kadang kursi, lemari bahkan dinding. Lalu perlahan bangkit. 

“Alfi...Alfi...Alfi!” Alfi berlari keluar rumah. Dilihatnya ada Nis dan Rara yang membawa sepeda mini. Sepeda Nis berwarna pink sedangkan Rara berwarna ungu. Dan sepeda Alfi?

Sejak diangkut truk belum dilihatnya lagi. Sepeda itu ditaruh saja di garasi. Baginya garasi atau gudang sama saja. Tempat menyimpan semua barang yang masih bisa dipakai ataupun tidak. Mulai dari barang kakek, nenek hingga barang Alfi. Semuanya berjejalan di sana. Antara debu, sarang laba-laba hingga tumpukan tanah bekas galian semut tumpah ruah disana.

“Masuk,” peritah Alfi langsung disambut kedua temannya. Dua sepeda tergeletak begitu saja di jalanan depan rumah.

“Yuk, mainan,” ajak Nis.

“Tapi aku nggak punya mainan,” kata Alfi jujur. Entah mengapa rasanya Alfi tidak lagi memiliki mainan. Beberapa boneka akhirnya menjadi bahan lempar-lemparan kak Amel. Lalu, legonya juga sudah menjadi miliki kak Amel.

Bagi Alfi bermain adalah bercanda, bercerita dan bergerak bersama teman-temannya. Tidak perlu benda-benda seperti itu. Karena akhirnya menjadi bahan rebutan kak Amel. Meskipun kak Amel sudah memilikinya.

Bermain adalah bersenang-senang, lupakan tugas sekolah ataupun jadwal ulangan. Karena bermain hanya butuh waktu dan kesempatan. Tidak menjadi masalah tempat maupun situasinya. Karena bermain adalah hak kami, anak-anak yang ingin merayakan kebahagiaan.

“Kita main tebak-tebakan saja.” Ajakan Nis disambut dengan tatapan kedua temannya.

“Atau main saja ke rumahku. Dekat kok.” Rara, gadis paling kecil diantara mereka merayu.

“Kamu tahu kan, Alfi tidak punya sepeda. Untuk sampai ke rumahmu harus melewati jalan besar. Memang cuma menyebrang, tapi Alfi belum pernah.”

“Kita bareng-bareng. Alfi sama  aku saja. Aku kuat boncengkan dia.”

“Mana mungkin. Kamu itu kecil, Rara. Sudah, sama aku saja Alfi,” bantah Nis. Rara memang suka seperti itu. Sok pahlawan. Padahal jika mengeluh tak ada habisnya.

“Tunggu dulu ya!” Alfi berlari ke belakang. Menyambar kunci yang tergantung di dinding. Deretan kunci diletakkan disana. Agar mudah mencarinya. Tak butuh waktu lama. Karena setiap kunci ada tempelan kertas warnanya. Kunci garasi berwarna kuning.

Pintu terbuka disambut dengan jeritan cicak yang melarikan diri. Satu kertas koran bekas jatuh dari lemari. Alfi mendongak. Tidak ada apa-apa.



Sepeda Alfi warna pink, kotor dan tak terawat. Alfi mengambilnya secara paksa. Satu sepeda jatuh ketika dia berjalan keluar. Kakinya menyenggol lalu goyang dan roboh. Alfi menengok sebentar. “Biar saja. Nanti kubereskan!”

Dinaiki sepeda kesayangan itu. Rodanya...masih bisa dipakai meski sedikit kempes.

“Ayo!” teriak Alfi riang.

“Nek, Alfi mau main ke rumah teman.” Tanpa menunggu persetujuan nenek, Alfi sudah pergi. Dia tahu waktu untuk pulang. Sebelum maghrib. Itulah batasan waktu bermain yang selama ini dianut.

Sebelum maghrib hari masih terang. Tapi sesudahnya, jangan harap bisa berjalan tanpa lampu jalan, lampu rumah dan lampu-lampu lainnya. Alfi tak pernah bermmain melebih waktu tersebut. 

Beberapa mainan kak Amel sudah dimasukkan ke dalam wadah. Masih sedikit dibawah kolong sofa. Hati-hati, nenek meraih sapu lalu mengaisnya. Berhasil. Kak Amel berseru-seru riang. Semua mainan sudah terkumpul. Nenek menemaninya di sore yang mendung.

Apa yang lebih menyenangkan daripada bermain bersama teman-teman sebaya? Alfi selalu berpikir untuk bermain saja setiap pulang sekolah. Tidak usah pulang saja sampai menjelang maghrib. Tapi bunda selalu menjemputnya tepat waktu. Tidak menyisakan waktu untuk bermain lagi bersama teman-teman sekolahnya.

Sore ini agak mendung. Alfi yakin tidak akan turun hujan. Atau hujannya menunggu dia pulang saja. Biar dia puas bermain.

Gara-gara mendung ini Alfi tidak bisa membedakan waktu. Perasaannya sudah menjelang maghrib tapi ketika melihat jam dinding rumah Rara belum. Kemudian dia tenang dan kembali bermain. Masih ada waktu sekitar tiga puluh menitan.

Mereka berjanji tidak akan bermain lama. Ya, mama Rara sedang membuat kue. Sebentar lagi matang. Pas banget dengan kedatangan teman-teman Rara. Pasti mereka senang.

Perkiraan mendung, hujan atau tidak itu akhirnya buyar. Air hujan seolah tumpah dari langit. Cepat dan banyak. Datang dengan tiba-tiba. Alfi dan kedua temannya sedang asyik bersepeda di jalanan, langsung saja kaget. Tidak sempat berlari ataupun berlindung. Rumah Rara masih satu blok di depannya.

Meski kue mama Rara sudah siap, ketiga anak kecil itu belum kunjung pulang. Hujan makin deras. Mama Rara mengintip dari balik jendela. “Anak-anak kemana?”

Mama Rara keluar pagar dengan payung besarnya. Kira-kira cukup untuk memayungi semua anak yang kehujanan ini. Berharap semoga saja semuanya segera pulang ke rumah Rara.

Sayangnya petir yang menyambar-nyambar membuat hati ketiga anak kecil ini semakin menciut. Mereka berhimpitan di samping pagar rumah tetangga. Berharap tubuhnya dapat terlindungi dengan daun-daun pohon mangga yang menjulur keluar pagar. Membuat teduh ketika siang. Namun disaat hujan sederas ini tetap saja tubuh mereka basah kuyup.

Suara adzan maghrib dari pengeras suara musholla beradu dengan tetes-tetes hujan.

“Maghrib,” Alfi berkata lirih.

Meski tak ada yang benar-benar mendengarkan suara Alfi, tapi mereka pasti tahu sekarang sudah masuk waktu maghrib. Harusnya menjelang maghrib tadi terlihat warna alam yang berubah merah di batas langit dan bumi. Tapi langit masih saja kelabu.

Dan hujan belum juga reda. “Kita mesti pulang.” Kedua temannya sepakat. Lupakan rasa takut. Sekarang waktunya pulang.

***

“Alfi tidak kasih tahu ke rumah siapa? Nama temannya? Aduh yang mana? Kok aku nggak kenal teman-temannya Alfi.” Bunda cemas sekali. Sejak datang dia sudah berkali-kali mondar-mandir di ruang tamu.

Adzan Isya sudah berkumandang sejak tadi dan Alfi belum juga pulang. hujan masih menyisakan tetes-tetesnya. Tidak deras. Tapi tidak pula berhenti. Jalanan di depan rumah sudah mulai tergenang air. Seperti biasa, nanti setelah hujan reda, akan surut kembali.

Sudah ada dua nomor yang dihubungi bunda. Nomor ustadzah Fida dan wali kelasnya Alfi. Semuanya tidak ada yang tahu keberadaan Alfi.

Dari grup Whatapps kelas 1C, diketahui bahwa Alfi saat ini masih di rumah Rara. Hah, Rara, siapa itu, dimana rumahnya? Kecemasan bunda diakhiri dengan diantarkannya Alfi pulang ke rumah.

Sepeda Alfi masih di rumah Rara. Sepeda itu masih kotor dan rasanya tidak mungkin dimasukkan ke dalam mobil Rara. Cukup Alfi saja yang diantar pulang. Besok-besok, Alfi bisa mengambil sepedanya. Alfi sudah tahu jalannya.

Tentu saja bunda marah. Alfi diam. Bukannya bermain di rumah aja. Alfi janji tidak pergi jauh-jauh. Cukup di sekitar rumah saja. Kalau ke rumah ustadzah Fida? Apakah bunda akan marah juga?

“Boleh? Janji pulang ya?”

Alfi mengangguk. Wajah kak Amel cerah. Dia berseru-seru riang sambil menunjukkan gambar terbarunya. Alfi tidak memiliki minat sedikitpun dengan gambarnya. Dia terpaksa tersenyum sebentar lalu melengos.

Sore yang cerah, Rara dan Nis datang lagi ke rumah. Mengajak bermain ke rumah Rara. Sesuai janji di sekolah tadi siang.

“Aku cuma mau mengambil sepedaku. Setelah itu pulang. Bunda marah.”

Rara mendengus, kesal. “Kita nggak jadi main?”

“Ya, mainlah. Sebentar. Bunda kamu pasti nggak tahu. Berapa lama kamu main ke rumah Rara. Bilang saja kalau kita mau mengambil sepeda. Eh, sepedanya kempes, jadi harus dibawa ke tukang tambal ban. Eh lalu tertusuk duri, jadi balik lagi.”

Rara melirik Nis, “Ih, kenapa sih kamu ngajari bohong!”

Bunda memang belum pulang. Tapi ada kakek dan nenek di rumah. Jadi Alfi tetap harus ijin sama mereka. “Aku ke rumah Rara. Sebelum maghrib pasti pulang.”

Urusan mengambil sepeda tidak butuh waktu lama. Sepeda Alfi sudah lebih baik sekarang. Rodanya tidak kempes lagi. Rara bilang sama papanya. Dipompa sepeda itu hingga terasa nyaman untuk dinaiki.

Karena Alfi takut akan kejadian kemarin, dia langsung pulang saja. Rara kecewa. Alfi janji akan bermain lagi di hari lain.

Alfi berhenti ketika melewati pagar rumah ustadzah Fida. Alfi melihatnya baru datang.  Dia memanggilnya keras, “Ustadzah Fida!”

“Hai, Alfi. Mampir yuk! Darimana saja?” pintu pagar terbuka lebar. Senyum ustadzah merekah seolah tak elok untuk menolaknya. Alfi langsung saja memasukkan sepedanya.

“Tadi aku baru saja dari rumahnya Rara, ustadzah. Mamanya suka bikin kue. Enak. Kayak ustadzah.” Lapor Alfi tanpa diminta.

Ustadzah yang mendengarkan cuma bisa senyum simpul. Bagaimana mungkin mama Rara yang biasa menerima pesanan kue disamakan dengan dirinya yang masih dalam tahap pemula. Jelas tidak sebanding. Meski di rumah, tapi pesanan kue mama Rara mengalir terus. Buktinya dia pernah ditolak ketika pesan kue untuk arisan RT. Waktunya terlalu mepetlah, yang bantu-bantu pulang. tetap ditolak! Meski menggunakan alasan demi kesopanan.

“Tadi aku juga dikasih kue. Kalau ini namanya muffin. Enak loh. Ada cokelatnya di dalam. Pas kita gigit nanti cokelatnya lumer. Kayak saus...tapi ehm...kayak apa ya? Ehm...kayak cokelat. Benar cokelat. Karena isinya cokelat. Ustadzah pasti suka.”

“Ustadzah mau coba? Ini.” Alfi mengulurkan muffin miliknya. Cuma bawa pulang satu cup. Disana makan cuma satu juga. Tapi lumayan bikin perut Alfi kenyang.

“Buat Alfi saja.”

“Aku sudah, kok.”

“Iya, gak apa. Atau buat kak Amel. Pasti belum pernah makan kue ini.”

“Tapi ustadzah harus mencicipi muffin ini dulu. Nanti kapan-kapan bikin kue yang kayak gini. Aku juga mau bantu-bantu ustadzah bikin kue.” Kedua mata Alfi berbinar. Dia berharap ustadzah menerimanya. Tidak mengulurkan kembali kue ini. Ustadzah harus bisa. Enaknya begini. Jadi kalau dia bikin bisa ikut makan.

“Please, buat kak Amel saja ya.”

“Nggak. Buat ustadzah. Pokoknya ustadzah harus makan kue ini.”

Lha ini anak kecil kok malah mengatur hidup ustadzah Fida. Padahal baru kenal. Baru saja ngobrolnya. Menyerocos saja dari tadi. Eh, tahu-tahu sudah menyuruh bikin kue. Memangnya kalau sudah mencicipi pasti tahu resepnya?

“Oke. Kue ini buat kak Amel saja. Tapi ustadzah janji kalau bikin kue, pasti Alfi dikasih. Gimana?”

Alfi tersenyum riang. Telapak tangan kanannya dibuka, lalu berseru, “Toss!” ustadzah Fida langsung menepuk tangannya. Alfi tertawa riang.

“Ustadzah mau mandi dulu ya.”

Alfi mengangguk. Menunggunya dengan sabar. Oh ya, ada buku-buku yang tergeletak diatas meja ruang tamu. Alfi mengambilnya satu, membukanya dengan cepat. Ternyata ustadzah sukanya membaca buku tebal-tebal begini. Biar pintar. Kalau ustadzah pintar, anak-anak juga pintar. Hihihi, begitulah yang dipikirkan Alfi dengan buku-buku didepannya.

Untungnya ustadzah tidak lama. Duduk di dekatnya serasa mencium aroma bunga. Segar dan membuatnya betah. “Ustadzah, kok pulangnya lama. Harusnya pulang bareng aku saja. Siang. Nanti sorenya aku bisa main-main ke sini lama.”

Seperti biasa, ustadzah Fida dengan lembut menjelaskan, “Ustadzah mengajar kelas 5 dan 6. Jadi pulangnya setelah sholat ashar. Yang penting Alfi masih bisa bermain disini.”

Alfi memainkan jari-jari tangannya. Mengurutkan ruas-ruas jari sambil berhitung. Kadang-kadang mengurutkan abjad. Ustadzah jadi geli melihatnya. Tapi dibiarkan saja.

“Ehm...aku belum hafal abjad dalam bahasa Inggris. Masih suka salah-salah ngomongnya. Kenapa sih orang Inggris ngomongnya gitu. Harusnya a juga dibaca a saja. Aku pasti bisa. Tapi kalau a dibaca e aku jadi bingung.

“Bukan e, Alfi. Tapi...”

“Sama saja. Susah ngomongnya.

“Eh, yang ngomong bahasa Inggris itu bukan hanya orang Inggris, tapi banyak. Dan karena bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa internasional, kita sebaiknya belajar.”

“Bukan bahasa kita, ustadzah,” sahut Alfi.

“Iya bukan. Kita pakai bahasa Indonesia,” ustadzah Fida mulai bingung menjelaskan tentang bahasa untuk anak kelas 1 ini dengan bahasa yang mudah dicerna. Sepertinya butuh waktu. Karena bukan bahasa ibu.

“Kenapa ustadzah tidak mengajar di kelas 1. Nanti ketemu aku. Ustadzah tidak suka ya?”

“Bukan begitu. Sudah ada pembagiannya, Alfi. Ustadzah kebagian mengajar kelas 5 dan 6. Siapa tahu tahun ustadzah mengajar anak-anak kelas 1.”

“Tapi tahun depan aku sudah kelas 2, bukan kelas 1.”

“Sekarang pulang dulu ya. Sebentar lagi maghrib.”

Alfi mengangguk.

***

“Hah! Kak Amel! Kenapa isi lemari jadi porak poranda seperti ini?” Alfi mendapati lemari baju yang berantakan. Lemari baju dua pintu ini seharusnya mampu menampung semua pakaian Alfi dan kak Amel. tidak perlu ada yang tercecer seperti ini.

Ah, pakaian mereka sudah tak sebanyak dulu lagi. Sebelum pindah, bunda sudah memilah mana yang masih bisa dipakai dan tidak. Yang masih layak pakai tapi tak muat dikasihkan orang. Dengan begitu lemari baju bisa muat lagi. Baju tidak bertumpuk-tumpuk kacau.

Bunda mengajari Amel untuk memisahkan baju-baju. Kalau baju sekolah ya ditumpuk bersama baju sekolah. Jadi enak kalau mau mengambilnya.

“Hu...” seru kak Amel seraya menunjukkan baju yang pakai.

Jadi tadi mau mengambil baju, dan tidak ketemu. Terus diobrak-abrik seperti ini. Kok, bisa dia santai banget seperti itu?

“Kak Amel kembalikan baju-baju ini!” Alfi meraih satu baju dan memasukkan ke dalam lemari. Berikutnya dia meminta kakaknya yang memasukkan baju-baju seperti semula.

Kak Amel menggeleng.

“Tapi kak Amel yang membuat lemari ini berantakan! Kak Amel harus bertanggung jawab. Seenaknya saja!” Satu baju melayang ke tubuh kak Amel.

Baju itu kembali menjadi bulan-bulanan. Lempar sana sini, hingga makin kacau saja. Alfi kesal kenapa bajunya ditaruh di satu lemari bareng kakaknya. Harusnya kakak memiliki lemari sendiri. Entah mau rapi atau berantakan itu urusannya. Kalau seperti ini, pasti Alfi juga yang dimarahi.

Kenapa orang tua suka marah sama anak kecil? Ayo! Andaikan bunda bisa menjawabnya. Eh, tapi Alfi tidak berani bertanya seperti ini pada bunda. Pasti takut saja kalau bunda makin marah.

“Sudah..sudah!” teriak bunda yang baru saja datang.

“Alfi dan kak Amel mau berbuat baik?”

“Iya, bunda.”

“Kak Amel juga?”

Cepat-cepat kak Amel mengangguk.

“Sekarang bajunya dimasukkan ke dalam lemari ya. Punya kak Amel juga. Katanya kak Amel mau berbuat baik.”

Kak Amel berontak. Dia menunjuk-nunjuk Alfi.

“Kak Amel yang memulai.”

Kak Amel balas menunjuknya, “Aiii..”

Bagi bunda sama saja, kak Amel maupun Alfi sama-sama memicu pertengkaran. Dan untuk meredakannya, semua harus bekerjasama.

Satu persatu baju Alfi dimasukkan ke dalam lemari. Sisi sebelah kanan adalah miliknya. “Bunda, aku mau lemari sendiri. Pokoknya lemari bunda. Bajuku tidak perlu dicampur dengan baju kakak. Aku nggak suka. Aku mau lemari sendiri. Lemari, bunda!”

Sementara kak Amel dibantu bunda membereskan semua baju miliknya. Bunda melipat lagi baju-baju yang berserakan. Kak Amel bagian memasukkan ke dalam lemari. Menyusunnya dengan rapi. Sesekali mengintip sisi kanan hanya untuk memastikan tumpukan bajunya sama rapinya seperti milik Alfi.

Senja memerah membentuk lukisan alam yang indah. Dari ujung laut, kalau memang boleh dikatakan seperti itu, mengalun deburan ombak berpadu dengan desir angin. “Apa cita-citamu, Nak?” tanya  ayah dan bunda.

“Aku ingin jadi dokter, bunda!” seru Alfi. “Dokter anak saja.” Lalu ayah tersenyum.

“Kenapa dokter?”

Alfi selalu bersemangat mengatakan cita-citanya. Meski sejujurnya dia tak tahu persis apa pekerjaan dokter selain mengobati orang sakit.

Hari ini dia telah melewatkan 365 senja bersama bunda dan kak Amel. Tanpa pernah sekalipun menjenguk senja di pantai. Tempat yang menyenangkan untuk bermain pasir, air dan berlarian. Senja yang selalu terlewatkan sejak setahun kepergian ayah.

Alfi masih menyimpan kerang-kerang dari pantai terakhir yang dikunjungi bersama keluarganya. Kerang-kerang itu sudah dicuci bersih dan disimpan diantara kardus-kardus baju. Sekarang kerang-kerang itu ada di bagian bawah lemarinya. Sebagai kenang-kenangan dari pantai.

***

“Bunda, aku mau ke ustadzah Fida. Sebentar saja.” Seperti kebiasaannya, setelah pamit langsung lari. Bunda berusaha mencegahnya.

Bunda langsung menelpon ustadzah Fida. Syukurlah, Alfi sudah tiba disana. Katanya cuma mau belajar bahasa Inggris. Tadi sewaktu mengganti buku untuk pelajaran besok, Alfi baru ingat kalau ada ulangan. Belum belajar.

Masih ada waktu seharian untuk belajar. Tapi ustadzah bilang hari Minggu sore tidak bisa. Ustadzah ada acara. Jadi pagi-pagi Alfi sudah berada di rumah ustadzah Fida. Alfi memperhatikan ustadzah Fida. Tangannya telaten membersihkan rumput liar di taman mungilnya. Lalu pot-pot bunga dan dedaunan. Semuanya segar setelah disiram.

Bagian terakhir adalah anggrek. Nah, setahu Alfi, ustadzah jarang menyiraminya. Kenapa ya? Mungkin nanti bisa tanya ustadzah. Kalau sekarang kayaknya repot banget.

“Mau bantu menyiangi rumput?”

Alfi menggeleng. “Ih, jijik!”

“Ha..ha..ha..tangan yang kotor bisa dicuci dengan air dan sabun sampai bersih. Jangan lupa ya.”

Anggrek ustadzah selalu menyita perhatian Alfi ketika datang. Rugi jika hanya melihatnya sekilas. Yang pink seperti warna kesukaannya sungguh indah. Untungnya bunga anggrek ini bisa bertahan lama. Coba kalau cuma sehari saja. Pasti Alfi kecewa jika terlewatkan.  

Belajar bahasa Inggris itu cuma sebentar. Anak-anak pasti tidak tahan berlama-lama berhadapan dengan buku dan peralatan tulis. Ustadzah Fida cukup kreatif untuk membuat anak suka dengan bahasa Inggris. Alfi menyukai setiap tatapan lembut ustadzah. Alfi menyukai cara ustadzah mengajar. Alfi menyukai segala hal tentang ustadzah Fida.

Alfi jadi malas pulang. Buat apa pulang kalau di rumah bertemu dengan kak Amel yang selalu bikin kekacauan.

Sholat dhuhur dan makan siang di rumah ustadzah Fida. Enak sih masakannya. Cuma Alfi yang kepedasan. Tadi ustadzah sudah menawarkan untuk membuat telur ceplok. Alfi menolak. Takut membuatnya repot saja. Ternyata gulai ikannya pedas. Ah, sejak kapan dia pernah makan ikan selain ikan goreng? Rasanya baru kali ini. Gurih, sedap dan pedas.

Siang itu tak terasa kalau Alfi tertidur pulas di depan teve. Maksud hati ingin ikutan nonton teve, tapi lelah yang mendera memaksanya untuk tidur di tempat itu juga.

Lagipula disana disediakan kasur kecil. Jadi makin asyik saja di depan teve. Tidak tahu juga apa yang ditonton. Hingga suara adzan ashar terdengar. Alfi masih setia di depan teve. Ustadzah sudah membangunkan. Mengajak sholat bersama. Alfi cuma menggeliat dan tidur lagi. Pulas.

Bunda datang mencari anaknya. Mendengar suara bunda, Alfi kaget. “Kok bunda ada disini.”

Bunda melotot. “Ini sudah sore. Yuk, pulang. Sudah selesai belajarnya?”

“Iya, nanti Alfi sholat di rumah.”

Alfi mengelak. “Alfi mau sholat disini saja. Alfi masih mengantuk.” Benar-benar tidur yang damai, tanpa gangguan apapun. Sepertinya Alfi mimpi sesuatu. Tapi sudahlah, Alfi sudah lupa.

“Nggak!” kata bunda tegas. “Alfi harus pulang!”

Alfi menguap. Tubuhnya terasa masih berat. Bunda membantunya bangun. Perlahan. Alfi mengucek kedua matanya. Menguap lagi!

Alfi berjalan tersuruk-suruk pulang. Sayup-sayup dia mendengar suara ustadzah. Katanya mau ada acara, kok sekarang ada tamu. Mungkinkah ustadzah lupa dengan acaranya. Atau ustadzah tidak jadi pergi gara-gara ada tamu ini.

#blogtobook

^_^

Sumber gambar: internet
Comments
6 Comments

6 comments:

  1. Benar-benar mesti menghidupkan imajinasi ini, Mba. Biar makin lancar nulisnya dan memunculkan kejutan-kejutan asyik :)

    ReplyDelete
  2. Huuu sudah panjnag begini ceritanya. Lagi pulang kampung ketemu temen2 mulu jadi ga konsen nulis.hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang menulis butuh konsentrasi dan konsistensi.

      Delete
  3. Ini kalau di-film-in, kayaknya keren Mbak. Cuma kalau boleh, aku ada masukan nih. Ibaratnya kalau di film, antar scenenya itu kadang aku bingung pas baca cerita ini. Misalnya Alfi lagi sama teman-temannya, terus paragraf berikutnya ada scene tentang nenek dan Amel, lalu cepat balik lagi nerusin ke Alfi dkk. Tadi pas baca yang bagian ini, sempat aku kira Alfinya sudah pulang ke rumah. Terus juga ada yang bagian yang memori tentang ayah, itu juga sempat bingung pas baca. Mungkin di sebelum itu diberi pemisah atau kata-kata penghubung yang menandakan ceritanya sudah beralih ke bagian lain *maafkeun... :D

    ReplyDelete

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Maaf, jika ada link hidup akan saya hapus!

COPYRIGHT © 2017 · LOVELY MOM | THEME BY RUMAH ES