Wednesday, December 7, 2016

Dia!





Lega itu setelah melewati masa penantian menjelang pernikahan. Laki-laki itu telah resmi menjadi suami ustadzah Fida. Aura bahagia tak henti-hentinya terlukis di wajah kedua mempelai. Mereka siap membentangkan sayap mengarungi samudra pernikahan.



Tak ada yang perlu dikhawatirkan sekarang. Tentang lika-liku perasaannya sebelum menikah, tentang harapannya dan jodoh. Laki-laki itu telah membuatnya jatuh cinta jauh sebelum ada rencana pernikahan.

Awal perkenalan mereka terjadi pada saat acara penyerahan bantuan pada korban bencana alam. Kedatangan laki-laki itu sebagai perwakilan dari kantornya. Dia yang ikut bagi-bagi barang kebutuhan buat para korban. Karena satu tujuan akhirnya mereka sempat berkenalan. Demikian juga teman-teman lainnya.

Kedua kalinya mereka bertemu di acara reuni sekolah. Benar jika ada yang mengatakan dunia terasa sempit. Ketemu lagi dan lagi. Ternyata laki-laki itu adalah kakak kelasnya. Bagaimana mungkin mereka tak tahu? Satu-satunya jawaban adalah karena mereka tak saling kenal dan tidak peduli satu sama lain.
Mengenang masa itu membuat mereka geli. Obrolan hanya seputar sekolah, masa remaja dan guru-guru yang galak. Yang terakhir itulah yang paling dikenang. Yang banyak karena kenangan buruk. Masih terngiang kata-katanya, “Guru-guru itu sebenarnya tidak galak, tapi disiplin. Kita saja yang nggak nurut. Lalu kena hukuman.”

Laki-laki itu tidak peduli dengan hukuman. Dia bersama teman-temannya bahagia menerimanya. Dijemur dibawah matahari hingga dicubit itu sudah biasa. Dipanggil kepala sekolah juga pernah. Tidak ada yang melawan karena mereka tahu mereka bersalah. Tidak pula merasa dendam karena mereka percaya yang dilakukan oleh guru-guru itu demi menegakkan disiplin di sekolahnya. Apa jadinya jika anak-anak bandel, nakal, suka membolos, dsb, dibiarkan saja. Mungkin mereka ini akan mengajak dan memaksa anak baik-baik untuk ikut serta. Lalu memboikot sekolah. Gawat! Pendidikan karakter bakal gagal total.

Kejujuran yang memalukan! Harusnya yang begini ini disimpan saja. Tapi kalau dia tidak cerita, bagaimana dia tahu masa lalu suaminya. Mungkinkah masih ada lagi kejutan buatnya? Atau dia yang harus mencari tahu?

Ustadzah Fida tersenyum masam. Tidak pernah terbersit sedikitpun di kepala ustadzah memiliki suami tipe ini. Jauh dari bayangannya. Idealnya seorang suami adalah teladan yang baik, kelak buat anak-anaknya. Tidak ada lucu-lucuan maupun kenakalan model begini.

Seperti dalam novel-novel religi yang pernah dibacanya. Tokoh yang baik, mendapatkan pasangan yang baik. Angan-angan itu telah diterbangkan jauh. Lalu, dia melirik ke arah suaminya. Benarkah laki-laki yang tampak pendiam ini sebenarnya memiliki watak yang berseberangan?

Sebagai seorang guru, ustadzah Fida bisa mengambil banyak pelajaran dari kasus kenakalan anak. Seperti pengakuan suaminya, “Sebenarnya aku cuma ikut-ikutan saja. Tapi kadang juga sering lupa. Lupa pakai dasi padahal hari Senin. Dan lupa-lupa lainnya.”

“Pasti guru-guru itu masih ingat sama Mas.”

Laki-laki itu terkekeh. Dia semakin akrab.  

Sekarang ketika mengenang masa itu, dia seperti sedang menemukan teman untuk berbagi masa lalu. Ceritanya bagai dua sisi mata uang yang belum pernah dilihat ustadzah. Percayakah dia? Tapi laki-laki itu seolah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan.

Ustadzah Fida menolak membahas itu lagi. Tidak menarik!

Setelah menikah, ustdzah Fida tetap menjalani pekerjaannya sebagai seorang guru. Dia membuat beberapa catatan tentang pekerjaannya. Tidak lagi memberikan pelajaran tambahan. Karena itu bisa menyita waktunya bersama suami. Tidak lagi berangkat bareng Alfi. Karena kadang-kadang suaminya yang mengantar dan menjemput. Mengurangi kegiatan diluar sekolah kecuali dia yang menjadi penanggung jawabnya.

Masalah berangkat bareng Alfi itu bunda sependapat. Jadi sekarang bunda sendiri yang harus mengantar anaknya. Bunda ingin memberikan keleluasaan buat ustadzah Fida. Maklum pengantin baru, butuh waktu untuk adaptasi terhadap pasangan, butuh waktu untuk menikmati waktu bersama, dan butuh untuk dimengerti.

Sampai satu bulan kemudian ustadzah Fida tidak pernah main lagi ke rumahnya. Rasanya kehidupan ustadzah sudah jauh berbeda. Setiap keluar rumah ustadzah Fida sering bersama suaminya.

Kondisi Alfi sudah membaik. Kakinya sudah bisa bergerak dengan nyaman. Sudah bisa jalan-jalan dan sekolah. Alfi lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Jika kak Amel ingin mewarnai, dengan terpaksa Alfi ikut membantunya. Alfi juga ikut merapikan semua mainan kak Amel. Meskipun dia tidak bermain.

Kadang-kadang karena terdorong rasa bosan, dia jalan-jalan di sepanjang gang rumahnya. Ketika melewati rumah ustdazah dan melihatnya sedang menyiram bunga, ada keinginan untuk mampir sejenak. Tapi kemudian dia mengurungkan niatnya. Pulang saja.

Pernah suatu kali, ustadzah memergokinya. Dia tersenyum dari balik daun-daun segar tanamannya. “Main disini Alfi.”

Alfipun berhenti. Sejenak hatinya ragu. Dia ingat pesan bunda, “Jangan mengganggu ustadzah.” Bukankah selama ini dia tidak pernah mengganggunya. Dia hanya bermain bersama. Kak Amel juga begitu.

Tak lama kemudian dia mendengar sebuah mobil berhenti di depan rumah ustadzah. Perasaannya menjadi tak nyaman. Dia tidak mengenal suami ustadzah. Belum pernah sekalipun bicara dengannya.

Suami ustadzah bilang tidak apa-apa Alfi bermain disini. Tapi dia segan saja. Bicara dengan orang baru membuatnya khawatir. Jangan-jangan dia tidak suka pada anak kecil. Tapi melihat dia menyapa tadi rasanya kok tidak.

Alfi berpikir lebih baik pulang saja. Ustadzah dari tadi juga ngobrol terus sama suaminya. Senyum-senyum dan saling lempar canda. Alfi menjadi makhluk asing diantara mereka berdua.

Alfi yakin ustadzah dan suaminya tidak peduli lagi dengan kehadirannya. Dia menjadi sangat kecil dibandingkan kedua orang dewasa di depannya. Kemudian dia menemukan kesadarannya.  Dia tak perlu berlama-lama lagi disini. “Ustadzah, aku pulang.” Cepat saja dia melangkah tanpa peduli dengan jawaban ustadzah.

***

Kak Amel masih sibuk dengan buku gambarnya. Crayon pemberian ustadzah Fida sudah kecil sekali. Sudah waktunya membeli yang baru. Mungkin bunda belum tahu.

Kak Amel berteriak menghampiri Alfi. Mengajaknya mewarnai. Rasanya bosan sekali. Masak setiap hari disuruh mewarnai. Memang tidak perlu satu halaman selesai. Baginya yang penting mau duduk disampingnya dan sedikit membantu mewarnai saja. Tapi Alfi bosan begini terus. Bosan tiap hari disuruh mewarnai.
Alfi duduk lantai keramik kecoklatan. Punggungnya disandarkan pada dinding yang banyak coretan. Sambil mewarnai dia bercerita kalau baru saja bermain ke rumah ustadzah.

Kak Amel melonjak. Dia juga ingin bermain ke rumah ustadzah. Bertemu dengan ustadzah membuatnya memiliki semangat baru. Dia senang berada di dekatnya.

“Tidak bisa,” kata Alfi begitu saja.

Kak Amel tidak mau tahu. Ditariknya tangan Alfi sekuat tenaga. Alfi menolak. Dia berpegangan pada kaki kursi kayu jati. Makin lama kursi itupun bergeser. Perlahan meninggalkan derit yang menyayat hati.

Nenek tergopoh-gopoh keluar dari kamarnya. Sambil menyisir rambutnya yang sudah memutih, dia berteriak dan melerai mereka. Sisir yang menempel di atas rambutnya jatuh seketika. Nenek memegang tangan Amel dan Alfi.

Tenaga nenek tak cukup mampu mengatasi keduanya. Nenek jatuh di lantai. Kedua anak itupun berhenti. Kak Amel memandangi nenek yang meringis menahan sakit di punggungnya. Maklumlah nenek sering mengeluh sakit ketika hendak berdiri. Mau berdiri susah. Apalagi habis jatuh seperti ini, makin susah saja berdiri.

“Besok aku bilang sama ustadzah. Kalau ketemu di sekolah,” kata Alfi acuh. Setidaknya dia tidak diteror dengan rencana untuk datang ke rumah ustadzah sekarang.

“Si...ni..!”

“Iya, kalau mau suruh ustadzah kesini. Kalau nggak mau ya...nggak jadi kesini.” Jawab Alfi sekenanya.

Esoknya, Alfi lupa dengan janjinya kepada kak Amel. Padahal begitu dia datang langsung saja disambut di depan pintu. Tapi tidak menanyakan apakah dia sudah bilang sama ustadzah atau belum. Alfi merasa aman. Teror itupun berhenti.

Beberapa hari berlalu, kak Amel tidak pernah menanyakan ustadzah lagi. Namun tiba-tiba saja ustadzah datang ke rumah. Membawakan kue brownies yang legit itu. Alfi tidak di rumah.

Kak Amel bersorak melihat kehadiran ustadzah. Dia bisa mewarnai lagi. Wajahnya selalu cerah. Kata-katanya sepatah-patah. Maksudnya ingin bercerita tentang semua gambarnya. Ustadzah menebak-nebak saja ketika melihat kedua tangannya yang bergerak-gerak. Sambil sesekali mengangguk. Itu sudah cukup membuat kak Amel senang.

Kak Amel juga memperlihatkan semua crayon yang kecil-kecil. Semakin sulit saja dipakai. Dia meraih pensil warna milik adiknya. Alfi tidak pernah protes. Dibiarkan saja kak Amel. Sudah ada beberapa yang patah. Alfi yang mesti merautnya agar kak Amel mudah menggunakan. Kalau kak Amel yang meraut bisa sampai habis. Ganti yang lain. Terus saja sampai habis semua pensil warna ini.

Sebelum pulang, ustdazah bilang mau membelikan crayon baru. Yang isi dan warnanya lebih banyak, sesuai dengan permintaan kak Amel.

Alfi baru datang ketika ustadzah pulang. Dia langsung saja mencomot brownies yang legit itu. Satu potong terasa masih kurang. Ambil lagi. Tapi kak Amel tidak mau. Dia meraih snack yang tadi pagi dibelikan nenek di warung tetangga. Seperti hari-hari sebelumnya, nenek senang memebelikan snack ini. kak Amel habis banyak. Kadang sampai tak makan nasi.

“Us...us...e...nyak!” Tangan kanannya mengacungkan snack itu tinggi-tinggi. Dia merasa snack itulah yang paling enak.

Bunda tidak pernah ada waktu buat berlama-lama di dapur. Urusan memasak lebih banyak dikerjakan oleh nenek, kecuali menyiapkan makan pagi. Bunda sendiri tidak pernah libur.

Di saat seperti ini kadang Alfi ingin menjadi anak ustadzah saja. Bisa belajar bersama, dibuatkan kue dan ada waktu untuk menikmati sepotong sore bersama. Tapi itu tak mungkin. Ustadzah bukan ibunya.

Alfi puas menikmati brownies. Perutnya kenyang, seolah tak perlu lagi makan malam. Bunda datang. Ditangannya ada dua dua kotak. Alfi mendekat.  Dia semakin penasaran dengan isinya. Dua nasi kotak dengan lauk ayam crispy kesukaannya. Tapi Alfi sudah tidak berminat.

Beberapa hari kemudian, ustadzah datang lagi. Biasanya dia tidak pernah lebih dari setengah jam. Kak amel sudah bisa memegang pensil dengan baik. dia selalu berteriak-teriak ketika bisa membuat coretan. Dan ustadzah akan memberikan tepuk tangan yang meriah.

Alfi memperhatikan mereka. Sesekali ustadzah mengajaknya belajar bahasa Inggris. Mengenalkan benda-benda yang ada disekitarnya. Menanyakan kembali. Kadang lupa kadang ingat.

Kak Amel selalu meminta perhatian ustadzah. Baru ngomong sebentar saja dengan Alfi, dia marah. Entah bunyi apa yang keluar dari mulutnya, yang jelas dia tidak suka. Kalau sudah begini, ustadzah hanya akan fokus kepadanya.

Alfi melengos dan pergi.

***

Hujan turun sesaat ketika ustadzah hendak pergi ke rumah Alfi. Seperti kebiasaannya beberapa hari ini. Seminggu bisa dua kali main-main bersama Amel. Memang tak lama, tapi anak itu sungguh-sungguh menunggunya.
 
Ustadzah Fida memutuskan untuk berangkat saja. Jaraknya dekat saja. Lagipula dia bisa membawa payung. Tapi makin lama hujan semakin deras disertai petir yang menyambar-nyambar, membuat dia harus menunggunya hingga agak reda.

Niat berkunjung itupun harus diundur. Beberapa hari ini, setiap sore selalu turun hujan deras. Ya, sudah, semoga saja mereka bisa mengerti. Sampai ustadzah sendiri lupa. Dia asyik dengan setumpuk buku yang menunggu giliran dibaca sambil menunggu suaminya pulang. Tanggung. Besok-besok bisa main-main lagi.

***

Suatu sore yang mendung, kak Amel mulai marah, mengacak-acak semua buku gambar yang ada di meja ruang tamu. Nenek tak mampu mengatasinya. Alfi menelpon bunda. Bunda berjanji segera pulang.

“Jadi apa maumu?” Nenek mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan. Memasukkan ke dalam kresek dan membuangnya ke tempat sampah di depan rumah.

“Sudah, jangan dibuang-buang lagi. Sampah!” Tubuh nenek terasa lemas melihat kertas-kertas yang berterbangan di dekatnya.

Kertas habis. Tinggal buku gambarnya. Dia merasa terlalu sayang untuk merobeknya. Kak Amel mengangguk. Beberapa kertas dipunguti dan diserahkan kepada nenek. Ruang tamu kembali bersih.

“Aiii!” kedua mata kak Amel menyapu ruangan. Tak ada adiknya disini. Mungkin dia sudah pergi.

Kak Amel bangkit. Nenek berteriak, “Disini saja mainnya!”

Tiba-tiba saja kak Amel sudah lari ke jalan. Alfi berteriak memanggil nenek. Benar saja, dugaan Alfi. Kak Amel berhenti di rumah ustadzah Fida. Dia menggedor pagar hitam minimalis setinggi 1,5 meter.

Suara berisik itu dekat sekali. Ustadzah mengintip dari balik gorden putih. "Amel!" Dia menjerit, gelisah. Dia segera keluar dan membukakan pintu.

“Siapa dia?” tanya suami ustadzah Fida.

"Anak tetangga. Namanya Amel. Dia suka menggambar dan mewarnai." Ustadzah mempercepat langkahnya menyambut mereka.

“Ayo duduk disini!” Anak-anak diajak masuk ke ruang tamu.

Mata kak Amel menjelajahi setiap sudut ruangan. Kursi-kursi jati yang berdiri kokoh dan meja kayunya sudah tak menarik lagi. Dia tak mau duduk. Matanya lalu berhenti menatap benda-benda  yang menempel di dinding ruang tamu. Dia berdiri dan mengamati satu per satu benda itu. Merasa asing, dia ingin menyentuh, tapi tangannya tak mampu menggampai.

Lettering yang dibingkai kayu berwana coklat tua ini cukup menarik perhatian kak Amel. Tulisan itu seperti sedang menari-nari. Tinta tebal dan tipis dirangkai indah. Membuat sebuah lingkaran seperti bola.

Ustadzah membuatnya beberapa tahun yang lalu. Ketika musim liburan sekolah. Satu gambar bisa sehari, kalau fokus. Kadang bisa berhari-hari. Daripada menganggur di rumah lebih baik membuat sesuatu.

Teman-temannya sempat memuji lettering ini. Bahkan ada yang minta dibuatkan. Satu dua teman dekatnya pernah dibuatkan ustadzah. Selanjutnya dia menolak. Dia merasa masih jauh dari sempurna. tulisannya banyak yang mencontoh di internet. Sama persis. Bedanya hanya bingkai untuk canvas saja.
Membuat kata-kata indah itu mudah. Semudah ketika seorang dilanda kegalauan. Itulah salah satu penyebab dia suka dengan kata-kata motivasi. Karena kata-kata positif akan mendorong seseorang melakukan kegiatan positif. Minimal berpikir positif dulu.

Kak Amel masih berdiri di bawah pajangan itu. Berharap ustadzah akan mengambilkannya. Tapi tidak. Benda itu sangat berharga. Bukan karena nilainya. Biaya produksinya tak seberapa dibandingkan dengan ketelatenan menulis. Setiap kata yang ditulis murni karena ungkapan hatinya. Inilah satu-satunya yang orisinal. Dua lainnya termasuk kategori mencontoh.

Ustadzah mendekatinya dan memberikan sebuah buku kecil. ada gamar-gambar lucu. Cocok buat anak-anak yang belajar membaca. Kak Amel tak beranjak dari tempatnya. Dia merengek sambil menunjuk ke arah pajangan di atasnya. Tidak mau yang lain.

Di saat seperti ini, ustadzahpun merasa bingung. Apa dan bagaimana seharusnya. Dia berbeda. Dia memaksa ustadzah mengenal karakter istimewanya.

Ustadzah biasa menangani anak-anak bermasalah di kelasnya. Dia bisa langsung memanggilnya, mengajak diskusi dan membuat perjanjian dengannya. Si murid akan patuh, kalau tidak, akan ada sanksi lainnya. Urusan beres. Tapi dengan Amel. Dia harus mencari cara lain.

Keadaan semakin tak terkendali ketika kak Amel melompat-lompat menggapai pajangan itu. Ustadzah merangkulnya, mengajaknya bicara meski tak ada hasilnya. Sesekali dia tampak diam. Tapi keinginan itu terlalu kuat untuk dikendalikan. Dia memaksa ustadzah.

Di dalam ruang tamu masih ribut. Suara teriakan kak Amel terdengar juga oleh suami ustadzah yang sudah berpindah ke kamar. “Ada apa?”

Ustadzah memperkenalkan Alfi dan Amel. Alfi berdiri mematung. Mereka sudah pernah berkenalan beberapa hari lalu. Sementara kak Amel...apakah suami ustadzah juga menyukainya?

Merasa ada yang aneh, suami ustadzah menanyakan dua anak yang sedang bertamu ini. Wajah kak Amel jelas saja berbeda.  

Mereka adalah anak-anak hebat yang ingin dekat dengan ustadzah. Suami ustadzah memandangi kedua anak itu dan berlalu. Tapi keributan kak Amel tidak kunjung berhenti. Mengganggu sekali hingga suami ustadzah bolak balik melihat mereka. Memastikan semuanya baik-baik saja seperti janji ustadzah Fida.

Dengan sopan, ustadzah meminta mereka pulang saja. Toh, sebentar lagi maghrib. Alfi mengangguk. Tapi tidak dengan kak Amel.

Sepuluh menit kemudian, bunda datang dan memaksa kak Amel pulang. 

Begitulah awal huru hara ustadzah dengan suaminya.

“Tidak usah bermain ke rumahnya. Juga dia tak perlu datang kesini. Menyusahkan saja.”

Ustadzah Fida belum pernah bercerita tentang Amel. Baginya ini adalah masalah yang tak perlu dibagi bersama suaminya. Khawatir saja akan ada celah yang membuatnya berbeda pendapat. Kenyataannya seperti itu.

Tapi tekadnya sudah bulat. Dia cuma menghabiskan waktu sekitar 30 menit hingga satu jam untuk bersama Amel. Mengapa tidak boleh? Tidak akan mengganggu pekerjaan apapun. Dia selalu berada di rumah ketika suaminya di datang. Lalu mengapa dilarang?

Ustadzah mendesah, seharusnya memang tidak ada yang terganggu. Tidak perlu dipermasalahkan.

“Mengapa menghentikan les buat murid-muridmu?”

"Ehm...itu sudah keputusanku. Aku tidak mau terlalu sibuk. Aku ingin ada waktu buat Mas.”

“Benarkah?”

“Bagaimana dengan dua anak tadi?”

Hening. Mengapa jadi seperti ini. Sesuatu yang tak pernah terlintas sedikitpun di benaknya. Bahwa kehadiran Amel bisa jadi memperkeruh hubungannya dengan suami.

“Tidak mau dengan murid-murid disekolah tapi dengan anak itu mau. Sama saja bukan?” Laki-laki itu menatapnya tajam. Kepercayaan itu sedikit pudar.

“Mending tetap kasih les saja. Kamu tetap berhubungan dengan murid-murid itu dan tentu saja bisa membantu mereka. Sementara dia? Siapa namanya?”

“Amel.”

“Iya. Buat apa? Itu urusan orang tuanya. Kamu tidak perlu bersusah payah seperti ini.”

“Aku cuma main-main saja. Itu tidak mengganggu waktuku.”

Ustadzah Fida tak terlalu peduli dengan kata-kata suaminya. Dia sudah memikirkan baik-baik sebelum memberhentikan semua murid yang ikut les di rumahnya. Semua pilihan pasti ada resikonya. Termasuk berkurangnya pendapatan dari hasil les. Tapi itu tidak penting. Sudah ada suami yang mencari nafkah.

Sejak berhenti memberikan les, ustadzah memiliki waktu luang di rumah. Ustadzah bisa menikmati hobinya, lettering dan membaca novel-novel yang masih menumpuk di rak buku. Ada beberapa teman yang memberinya hadiah sebelum menikah.

Pernikahan tidak seperti dongeng prince dan princess. Tokoh utama yang menemukan jalan cintanya dengan bahagia. Happily ever after. Ustadzah Fida merasa  seperti sedang memasuki pintu misteri. Sesekali dia mendapat kejutan. Kadang dia butuh merenung. Tapi dia mesti melangkah. Tidak lagi sendirian. Ada seseorang yang akan menggenggam tangannya. Merengkuh semua rasa yang pernah dikhawatirkan. Pernikahan membuatnya belajar banyak hal. Tentang pasangan, tentang masa depan, dan tentang toleransi. Sejauh ini dia masih bisa berjalan beriringan.

Amel. Nama itu selalu memenuhi memori di kepalanya. Dia telah menyeret ke dalam dunia yang berbeda. Yang memaksanya untuk tetap melangkah. Tapi kemudian ragu.

“Dia! Haruskah aku menjauh? Sampai kapan?” Diabaikannya kebimbangan ini. 
Dia akan melangkah. Seperti rencana semula.  

Ustadzah tetap bertemu dengan Alfi dan Amel. Dua anak itu membuatnya merasa sangat beruntung. Apa sih yang lebih membahagiakan daripada membuat mereka bahagia? Sederhana saja, ketika Amel menunggunya di depan pintu. Rasanya dia sangat berharga sekali. Setiap langkahnya terasa ringan saja. Setiap kata-katanya menjadi sesuatu yang diperhatikan.

Jujur, tak ada keinginan yang muluk. Ini semata-mata untuk kebaikannya sendiri. Ustadzah tidak mendapat apapun. Tidak uang ataupun penghargaan. Tapi ada secercah kebahagiaan ketika menatap wajah Amel. Melihat tangan kanannya mengayun mantap. Membuat goresan-goresan yang lebih rapi. Membuat gambar yang lebih enak dipandang.

Tak ada yang bisa menghalanginya untuk bertemu Amel. Tidak juga suaminya. Semuanya akan baik-baik saja. Semoga.

 #BlogtoBook

^_^




Comments
3 Comments

3 comments:

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Maaf, jika ada link hidup akan saya hapus!

COPYRIGHT © 2017 · LOVELY MOM | THEME BY RUMAH ES