Friday, August 3, 2018

Nikmati Teduhnya Hutan Bambu dan Taman Harmoni Surabaya dengan 5 Spot Keren Berikut!


taman bunga

Setelah dua tahun terakhir saya sering main ke Malang, mungkin tahun-tahun berikutnya akan sering main ke Surabaya. Yeah, hidup kadang tak bisa ditebak.
Tiga tahun tinggal di Surabaya tak membuat saya hafal jalan-jalan di kota metropolitan ini. Hanya jalan di sekitar rumah dinas dan tempat-tempat yang sering saya kunjungi bersama suami. Menikmati jalan-jalan tersebut seperti sebuah penggalan memori.


Tempat favorit saya tetap di Masjid Agung Surabaya. Karena disini banyak kenangannya. Seperti ketika saya mengajari si tengah jalan kaki. Menginjak rumput merangsang anak berjalan. Juga kuliner di sekitar masjid. Kalau hari Minggu pagi saya masih suka mampir buat makan semanggi. 
***

Sabtu itu si sulung ada urusan ke Surabaya. Akhirnya saya sekalian ikut saja. Sekalian jalan-jalan. Setelah urusannya selesai memang tak ada tujuan lain. Maksud hati ingin menginap di Gresik, tapi gagal. Hari masih siang, kalau pulang ke Tuban kok ya terlalu cepat. Biasanya kalau ke Surabaya berangkat pagi pulang malam. Jadilah saya ke Taman Harmoni di Keputih.  

taman harmoni


Sering melihat foto hutan bambu Keputih di sosial media membuat saya baper. Aduh, kalau ke Surabaya biasanya bukan untuk bersenang-senang dengan wisata. Tapi untuk tujuan lain yang lebih penting. Nah, waktu itu saya sedang mencari tempat buat ngadem.

Surabaya itu panas. Tapi saat ini sudah banyak taman-taman yang ramah anak. Buat yang lagi jalan, mampir di tempat seperti ini seperti sebuah oase. Mata lebih segar memandang yang hijau. Bunga-bunga ikut serta memanjakan mata.
Tiba di Taman Harmoni, “Kayaknya memang ini tempatnya!” kata saya ragu.

Sekilas pohon bambu yang bergerombol membuat saya semakin yakin. “Iya, ini tempatnya!” seru suami.

Karena baru pertama kali saya tak tahu dimana tempat parkir. Suami yakin saja, tancap gas masuk ke terminal angkutan kota (Terminal Keputih). Si bapak petugasnya langsung mengarahkan kami untuk segera parkir di deretan mobil kuning. Bayar Rp 2.000 lanjut main sepuasnya.


track jogging


Aduh panas benar ya di parkiran. Segera saja saya melangkahkan kaki, naik tangga ke taman di depannya. Deretan pohon bambu sejak tadi membuat saya ingin segera mengambil pose seperti yang dilakukan teman-teman.

Jika ingin mengisi feed instagram atau sekedar ingin menyimpan foto buat kenang-kenangan, beberapa spot di Taman Harmoni berikut ini bisa dijadikan pilihan:

1. Hutan bambu yang rindang

hutan bambu


Siapa sangka jika di area ini dahulunya adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sampah-sampah di daerah Keputih berakhir disini. Walaupun sudah bersih, tapi sisa-sisa sampah plastik yang mengendap di tanah masih bisa kita saksikan disini. Kalau jeli, sampah plastik, hitam dan putih menjadi semacam landasan yang kemudian tertutup sampah daun-daun bambu.

Tempat Pembuangan Sampah inipun diubah oleh Walikota Surabaya Tri Rismaharini menjadi ruang publik atau taman menarik buat warga kota Surabaya dan sekitarnya. Taman Harmoni disebut juga Taman Sakura. Deretan pohon bambu disini terlihat unik. Pohon-pohon bambu seperti sebuah kumpulan. Dari satu kumpulan ke kumpulan lainnya ada jarak yang memisahkan.

Pohon bambu membentuk sebuah kumpulan. Berderet di kanan dan kiri. Sementara di tengahnya biasa dipakai sebagai tempat foto. Suasana seperti ini sangat kontras dengan jalanan yang padat kendaraan. Teduh.

Siapapun yang berada disini tak akan begitu saja melewatkan sesi pemotretan ala-ala seleb. #Eh.

Siang itu pandangan saya tertuju pada seorang wanita dengan gaun warna hitam. Eh, ada pemotretan. Iya, sepertinya untuk pre wedding atau apalah. Si mbak dengan gaun hitam menjuntai ke tanah. Tapi begitu jalan, gaun itupun ditarik agar memudahkan jalan. Saya yang melihatnya jadi ikut ribet juga.

Ada satu hal yang menarik ketika saya googling Taman harmoni. Q&A, Q: Waktu yang pas buat dapetin lighting yang bagus kapan?

A: Awal masuk musim penghujan, daun bambu mulai bersemi. Atau puncak kemarau pas bambu kelihatan kering. Yang ramai biasanya pagi jam 9-10, kadang sore.

Nah, sewaktu saya kesini memang daun-daun bambu sedang berguguran. Pohon bambu sedang kering tapi di ujung-ujungnya masih hijau. Saya sudah kesiangan. Menurut saya tidak terlalu ramai. Meski beberapa kali sempat foto dan ada orang yang masuk ke frame. Ulangi. Atau daripada menunggu sampai sepi, lebih baik memilih angle yang pas lurus dengan orang dibelakang saya. Sehingga orang tersebut tertutup tubuh kita. Agak gambling juga sih. Tapi daripada bolak-balik cekrek, kasihan yang mau foto juga.

2. Taman Bermain


ayunan


Di taman bermain ada banyak anak remaja sekolahan yang bergerombol, menghabiskan siang bersama teman-temannya. Bercanda disaat siang terik ini. Sementara di sampingnya ada ibu-ibu yang menggelar tikar. Wadah-wadah makanan dan minuman ikut menemani. Rupanya piknik murah meriah seperti ini tetap menjadi idola. Kegembiraan terpancar dari wajah mereka.

Fasilitas bermain antara lain, jungkat-jungkit, ayunan, seluncuran, dsb. Ayunannya banyak. Ada yang cuma buat seorang, ada juga yang model untuk banyak anak. Sementara di dekatnya banyak bangku. Jadi, orang tua seperti saya bisa sambil mengawasi anak sambil duduk. Kecuali anak balita ya, pasti membutuhkan perhatian lebih.

Orang tua yang membawa anak-anak disini dibiarkan bermain dengan gembira. Cuaca cerah alias panas bukan halangan lagi. Toh, anak-anak tidak peduli lagi. Kecuali hanya bermain dan bermain.

Kalau menurut anak saya, tempat ini bukan saja menyediakan tempat bermain, namun tempat pijat. Ada semacam “mainan” yang memiliki bentuk runcing. Cara menggunakannya dengan menempelkan punggung. Rasanya seperti dipijat. Sayang saya tidak memotretnya, karena didekat ini adalah mushola yang waktu itu banyak laki-laki tiduran di lantai.

3. Air Mancur

air mancur


Entah mengapa saya agak.... melihat dua sejoli mencari tempat ngadem di air mancur ini. Beberapa kali saya intip, masih saja duduk dengan damai. Akhirnya saya lanjut jalan saja. Barangkali nanti pulang sudah sepi. Namun sayangnya mereka tetap menikmati suasana disini.

Ya sudah, saya tetap ambil gambar yang belakang. Ada seorang anak yang duduk menghadap air mancur. Kedua kakinya dibiarkan menjuntai ke air kolam yang berwarna hijau. Sendiri. 

Air mancurnya tidak besar. Jadi air mancur ini dibuat semacam kolam saja. Kalau melihat air seperti ini rasanya segar saja. Ditengah hiruk pikuk kota, masih bisa menikmati gemericik air.

4. Taman Bunga

taman bunga


Taman Harmoni memiliki koleksi beberapa jenis bunga antara lain jakaranda, pagoda, tabebuya, bungur dsb. Bunga-bunga ini dikelompokkan berdasarkan jenis dan warnanya. Dalam satu deret ada bunga berwarna ungu. Begitu seterusnya sehingga membuat pemandangan taman lebih cantik.

Favorit saya adalah blok bunga berwarna ungu. Jangan tanya jenis bunganya ya. Saya kurang paham nama-nama bunga kecuali mawar, melati, bugenvil, matahari dan kamboja. Siapa yang tidak suka melihat bunga bermekaran. Cantik pula. Seperti di blok bunga warna ungu ini membuat saya seolah-olah berada di negara lain.

Di tempat ini pengunjung bebas memanfaatkan untuk berburu foto. Tapi ingat jangan sampai menginjak rumput dan memetik bunganya. Tetap ya, dipatuhi aturan yang ada.

Saya masih penasaran dengan bunga sakura. Jadi pengunjung tak perlu pergi ke Jepang  buat menikmati indahnya bunga sakura. Sayang banget saya tidak sempat mengambil fotonya. Terjebak lapar dan haus membuat saya segera meninggalkan lokasi ini.

Di beberapa lokasi sepertinya masih dalam proses pembangunan. Tidak semua tempat saya kunjungi. 

5. Tanaman rambat

Lokasinya dekat taman bermain. Suasananya teduh. Tanaman merambat melalui tiang-tiang penyangga yang membentuk sebuah terowongan nan hijau. Sayangnya ketika kesini ada motor gerobak sampah.  Tentu dengan sampah yang memenuhi gerobaknya. Jadi urung saya foto.

Sumber: pesona surabaya

Satu lagi yang bisa dijadikan spot cantik buat foto seperti gambar dibawah ini. Entah harus mengatakan apa bentuk terowongan merah. ah, kalau terowongan tertutup, sementara ini hanya penyangga saja. Entah mengapa dalam foto terlihat miring ya!

balok merah


Kalau ini tempatnya panas, tidak teduh lagi. Sebentar saja sudah kemringet. Apa coba! Tapi tiang-tiang yang kokoh ini berderet dan sangat kontras dengan pemandangan disekitarnya. Mungkin masih tahap penanaman jadi pohon besar belum ada.

Boleh dicoba kalau pagi hari dan langit sedang cerah. Mungkin suatu saat nanti dikasih pohon-pohon rindang (siapa tahu kan) jadi lebih menarik lagi. Sampai saat ini hanya deretan pohon bambu yang rindang. Pohon-pohon besar sudah banyak di sepanjang track jogging dan taman.

Untuk fasilitas umum seperti toilet sudah ada di taman Harmoni. Tersedia track buat jogging. Atau buat pengunjung yang ingin jalan-jalan diatas kerikil, seperti sedang pijat kaki. Lepas sandal lalu jalan. Kerikilnya mulai dari yang kecil hingga yang besar dan tajam. Yang kecil sih biasa saja, tapi yang besar? Yang lebih runcing? Lumayan terasa dikaki. Hmmm...


jalan


Taman harmoni dilengkapi dengan musholla. Atau bisa memilih di lokasi terminal Keputih. Tadinya suami dan anak-anak pengen sholat dhuhur di musholla taman, tapi karena banyak orang entah pekerja atau siapapun itu yang tiduran di lantai, keinginan tersebut menjadi gagal. Saat pulang, baru sadar kalau di terminal ada musholla juga. 


Sumber bacaan:

www.humas.surabaya.go.id
www.sportourism.id

Happy traveling!

^_^



Comments
14 Comments

14 comments:

  1. Keren nih ..., bekas tempat akhir pembuangan sampah disulap jadi lokasi taman wisata seperti ini.
    Cocok untuk liburan bareng keluarga.

    ReplyDelete
  2. Baru tau ada taman Harmoni di Keputih. Soalnya dulu pas masih kuliah di ITS nggak pernah dengar. Ternyata masih baru ya bekas lokasi TPA

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, ada alumni ITS. Sekali-kali mampir deh, gelar tikar, dan piknik sederhana.

      Delete
    2. Wah enggak alumni mbak saya keluar dari ITS setelah satu semester trus pindah kuliah perhotelan hihi.
      Nggak bau bekas TPA? Trus sampahnya yang dulu pada kemana ya?

      Delete
    3. Nggak bau, kok. Biasa aja, kayak taman-taman pada umumnya. Cuma masih ada sisa sampah plastik (kresek plastik). Kalau pas musim kemarau dan daun-daun pada berguguran, jadi ketutup daun.

      Kalau sekarag sampahnya dipindah kemana, aku kurang tahu.

      Delete
  3. Wah aku tadi sore langsung berangkat ke hutan bambu ini deh mbak, gegara baca tulisan mbak hehe. Cuma gak sempat mengelilingi, krn udah sore menjelang maghrib. Cakep ya ternyata :) padahal bekas TPA.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga nggak semuanya, mba. Terlanjut kepanasan. Niatnya cuma mampir saja.

      Delete
  4. Hutan bambu itu kayak di Jepang yaaa hahahah. Aku blm pernah lagi ke Surabaya, udah lama banget etapi aku mah emang jarang jalan2 ding :D paling banter ke Bandung doang karena ada nyokap :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. View yang bagus kalau banyak daun-daun bambu yang berguguran. Yuk, main-main ke Surabaya.

      Delete
  5. Sudah pernah ke sini, sayang gak sempat keliling-keliling karena dulu bawa bayi 1 bulan hehehehe.
    Surabaya emang keren banget sekarang.

    makanya selalu jatuh cinta dan kangen kota ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Surabaya banyak tamannya. Makin keren ya Surabaya.

      Delete
  6. Surabaya, favoooooo!
    Kangen bgt pgn kesana lg dan mampir ke spot² ini :)

    ReplyDelete

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Mohon maaf, jika ada link hidup, anonymous atau broken link akan saya hapus!

COPYRIGHT © 2017 · LOVELY MOM | THEME BY RUMAH ES