Tuesday, August 7, 2018

5 Tanda Anak Bahagia di Sekolah



Memasuki tahun ajaran baru ini rasanya nano-nano. Anak-anak cepat banget mereka gedhe. Padahal sewaktu masih balita, duh ibu pengennya ya cepet gedhe. Biar lebih mandiri. Biar tidak terlalu capek fisik mengurus mereka.

Nah, ketika mereka sudah sekolah dan menghabiskan pagi hingga sore di sekolah, duh saya kok rindu masa-masa sibuk mengurus balita. Yang belajar jalan, belajar bicara, belajar lainnya. Betapa repotnya hari-hari hanya untuk mengurus mereka. Sementara suami ada ketika hari libur saja.

Sekarang ketika dua anak masih di bangku sekolah, saya perhatikan mereka menikmati waktu di sekolah. Kalaupun tidak, pasti ada masalah. Bisa jadi karena bertengkar dengan teman, bosan dengan pelajaran di sekolah, atau sedang sakit saat di sekolah.

Tapi secara keseluruhan mereka baik-baik saja di sekolah. Sejak awal kami memilih sekolah berdasarkan banyak pertimbangan. Lokasi hingga apa saja yang diajarkan di sekolah. Sehingga anak tidak merasa terbebani meski berat tasnya melebihi timbangan kue saya. Ya iyalah, timbangan kue cuma berapa kilo itu...

Orang tua pasti paham dengan aura yang dipancarkan anak-anak ketika kita ingin mengulik lebih jauh tentang sekolahnya. Kalau kita baru bertanya sebentar, anaknya mengelak, wah pasti ada sesuatu dong. Atau memang si anak yang malas saja untuk cerita. Ini sering terjadi.

Anak saja semuanya laki-laki. Kalau tidak ada yang perlu dilaporkan tentang semua kejadian di sekolah, artinya meraka baik-baik saja. jadi, ibu yang sering bertanya ini itu. Berhasil? Kadang iya, kalau mood pas baik.

Dari gesture anak saja ibu paham, kira-kira anak bakal enjoy tidak di skeolah. Apa saja tanda-tanda yang bisa kita ketahui?

1. Berprestasi

Berprestasi bukan semata-mata mendapatkan sertifikat dan piala memenangi sebuah lomba, namun prestasi disini memiliki makna yang lebih luas. Prestasi anak yang tak bisa dilihat namun bisa dirasakan seperti menjadi lebih baik dalam berteman, mau membantu teman yang kesulitan memahami pelajaran, dsb harusnya lebih diapresiasi. Contohnya, anak saya suka cerita habis berbagi bekal kepada teman-temannya. 

2. Tuntas dalam pelajaran di sekolah

Kalau sampai anak ketinggalan pelajaran, orang tua ikut sedih. Yang mencarikan guru les, atau justru marathon mengajari anak. Bahkan protes dengan guru. Bagaimanapun orang tua akan berusaha agar anak tetap bisa mengikuti pelajaran sekolah dengan baik. Sehingga ketika tiba waktunya ujian, anak sudah siap dengan materi yang sudah diajarkan.

3. Berangkat dan pulang sekolah dengan gembira

Pernah melihat anak yang merengut ketika hendak berangkat ke sekolah? Aduh, ibu jadi was-was, pikiran buruk segera hadir. Ada apa dengan si anak? Adakah yang membuatnya cemas? Tugas yang belum selesai? Seragam sekolah yang tidak lengkap? Atau teman sekolah yang jahil?
Berbeda jika anak berangkat dalam keadaan gembira. Ibu ikut senang mengantarkan dan menjemput sekolah. Ada saja cerita menggemaskan selama di sekolah.

4. Puas bermain

Tidak hanya anak SD yang perlu bermain, anak SMP juga perlu. Contohnya anak saya. Ketika saya tanya mengapa tidak kunjung pulang, jawabannya adalah masih asyik bermain bersama teman-temannya. Kadang main bola, atau lainnya. Si anak perlu menyalurkan energi untuk hal-hal positif.

5. Guru dan teman sekolah yang menyenangkan

Pernah tidak mendengar anak yang benci kepada gurunya? Tapi tunggu dulu, apa sih kesalahan guru kepada anak? Karena banyak tugas, dimarahi bahkan dihukum. Yang perlu dibenahi adalah mindset anak yang terlalu berharap sekolah tanpa perjuangan. Sudah di rumah saja, berleha-leha...

Sementara ketika saya melihat hubungan guru dan murid yang akrab, anak-anak jadi senang. Pengen ngobrol maupun mengungkapkan perasaannya tidak canggung lagi. Kalau saya lihat anak-anak sekarang lebih berani dan terbuka dengan guru-gurunya. Di sekolah-sekolah swasta hubungan guru dan murid menjadi perhatian wali wurid.

Kemudian teman, ya ada saja yang jahil, yang sensitif, yang suka seenaknya. Macam-macamlah, tapi sewajarnya saja. kalau lebih suka bermain dengan A, B atau C ya silakan, tapi tidak perlu menggaggu lainnya.

Saya sering juga mendapat laporan anak bungsu, “Aku nggak mau main sama si X karena....”

Saya sih santai. Karena anak harus memiliki keberanian, dan solidaritas dalam berteman. Kalau tidak suka, ya cari teman lainnya. Anak-anak itu akan memilih teman karena dia merasa nyaman dan saling support. Selebihnya karena ramai-ramai.

Ada yang mau menambahkan? Feel free to drop your comment!

^_^





Comments
6 Comments

6 comments:

  1. Wah, klo gak ber prestasi kurang bahagia dong ya bunda. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Prestasi dalam arti luas ya. Bukan soal piala, sih. Kalau si anak berbuat baik, insyaAllah banyak yang suka. Tapi sebaliknya, kalau anak suka jahil, mengganggu teman, suka malak, kemungkinan ya temannya sedikit bahkan nggak mau berteman.

      Contohnya ketika anak berbagi bekal atau peralatan sekolah dengan temannya. Bagi saya ini prestasi. Anaknya seneng juga.

      Delete
  2. kalau tidak di bully teman2nya, insya allah anak bahagia di sekolah

    ReplyDelete
  3. TK B ini Rayyaan pindah ke sekolah baru yang lebih dekat dengan rumah kami, insyaa Allah sih sudah betah. Tandanya adalah kalau dijemput nggak mau langsung pulang hi hi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi...kayak anakku mba. Betah di sekolah, nggak mau pulang.

      Delete

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Mohon maaf, jika ada link hidup, anonymous atau broken link akan saya hapus!

COPYRIGHT © 2017 · LOVELY MOM | THEME BY RUMAH ES