Tuesday, November 13, 2018

Stop Bullying dengan 3 Langkah Berikut




Bullying tidak dibenarkan. Apapun alasannya! Tetapi cerita tentang bullying tetap saja terjadi di dunia sekolah. Tindakan bullying yang seringkali terjadi berupa kekerasan fisik maupun non fisik. Pelaku bullying bisa memukul, mengejek, menggoda dan mengancam yang membuat korbannya ketakutan.

Kadang saya tidak habis pikir, anak-anak SD yang terlihat masih lugu, imut dan berada dalam lingkungan sekolah yang baik ternyata bisa menjadi pelaku bullying. Ada apa dengan si anak? Apakah dia butuh diperhatikan? Butuh kasih sayang yang tulus dari orang tuanya? Butuh teman? Butuh pengakuan diri? Butuh melampiaskan emosi, dan perasaan tak nyaman lainnya? Ah, begitu banyak pertanyaan yang kadang tak menemukan titik temu.

Ada banyak orang tua yang memilih untuk bungkam ketika mengetahui anaknya menjadi korban bullying. Alasannya karena perbuatan tersebut masih tergolong wajar. Sementara anaknya (korban) tidak mengeluh. Misalnya habis dipukul,  tapi tidak sakit, selesai masalah. Ada juga yang merasa bahwa masih anak-anak mengapa harus ribut. Istilah kerennya, “Namanya juga anak-anak”. Tidak! Saya tidak suka dengan pemakluman tersebut. Karena anak-anak bisa diajari untuk berbuat baik. Ada juga yang pasrah dalam arti menerima saja perlakuan tersebut. Watak si pelaku sudah seperti itu mau bagaimana lagi.

Kalau bullying itu terjadi hanya sekali dan tidak menyisakan luka (luka fisik dan psikis) pada anak-anak lain, saya pikir masih bisa memaafkan. Mungkin si anak sedang bercanda, tak sengaja melukai temannya. Namun sebaliknya jika ada korban yang terluka, takut dengan pelaku hingga menolak untuk berangkat sekolah, saya rasa ini sudah masuk ke dalam tanda BAHAYA.

Sebagai ibu saya tidak mau berdiam diri ketika anak saya menjadi korban bullying. Speak up! Saya tidak bisa menerima perbuatan kasar yang dilakukan teman anak saya. Mungkin si pelaku sedang bermasalah. Tapi tidak untuk didiamkan dan berlanjut hingga anak-anak lain menjadi korban. Mereka akhirnya takut dan mengadu kepada orang tua masing-masing.

Tanda bahwa anak menjadi korban bullying:

  • Terluka karena dipukul, ditendang, dilempar, dsb
  • Mendadak takut dan tak nyaman di sekolah
  • Tidak mau berteman dengan si pelaku
  • Tidak mau sekolah

Orang tua mana yang tidak sedih ketika melihat anaknya menolak ke sekolah. Apalagi kemudian meminta untuk pindah sekolah saja. Lha, kalau mau pindah pakai uang juga kan? Apalagi kalau masuk ke sekolah swasta. Hmmm... masak sih, tidak ada cara lain?

Jika hampir tiap hari ada anak yang menjadi korban bullying, maka orang tua harus lebih perhatian dan waspada pada masalah ini. Melapor kepada sekolah. Mulai dari wali kelas. Jika tidak ada perubahan maka lapor kepada kepala sekolah. Meski kenyataannya keluhan wali murid direspon dengan baik oleh sekolah, namun tindakan bullying tidak langsung berhenti begitu saja. Bukan sulap bukan sihir, tidak ada yang instan. Ada proses dan butuh kerjasama dengan berbagai pihak agar si pelaku sadar dan berubah menjadi baik.

Setidaknya dengan melapor kepada kepala sekolah, maka usaha wali murid lebih diperhatikan. Okelah kalau sekolah memang sudah berusaha keras untuk menyelesaikan masalah bullying dan meredakan emosi para wali murid yang melapor. Saya hanya bisa menunggu keajaiban. Mungkin ada sedikit keraguan, namun saya tetap menaruh harapan besar terhadap usaha dan kerja keras sekolah. Tentu saja ini butuh doa dan dukungan dari semua wali murid, guru dan orang tua.

Dari kejadian bullying disekolah, saya meminta anak saya untuk lebih berhati-hati dalam berteman. Lebih baik menghindari si pelaku daripada tiba-tiba entah sengaja atau tidak dia dipukul. Mungkin banyak alasan terhadap pemukulan tersebut, tapi orang tua pasti tidak suka, tidak terima begitu saja. Pemukulan termasuk tindakan kekerasan dan mengancam ketenangan anak-anak.

Jadi, apa yang sebaiknya dilakukan ketika terjadi bullying di sekolah:

  1. Laporkan
  2. Ajarkan Anak Untuk Berani Mempertahankan Diri
  3. Mencari Bantuan

Tidak semua anak berani untuk mempertahankan diri. Ada anak yang memiliki karakter pemalu, penakut. Apalagi kalau pembully memiliki badan lebih besar dan tenaga yang lebih kuat. Anak-anak yang lebih kecil pada umumnya sudah takut dulu. 

Berani mempertahankan diri dimaksudkan agar anak-anak tidak mudah diperlakukan semena-mena oleh pembully. Apapun alasannya! Meski sebuah ejekan atau pemerasan. Anak harus berani melapor, menjaga dirinya, selalu berada dalam lingkup pertemanan yang baik. Jadi kalau tiba-tiba ada teman yang emosi dan menyerang, anak kita masih bersama teman-temannya yang siap membantu bahkan melaporkan dengan segera kepada gurunya. Siapapun gurunya! Tidak harus mencari wali kelas. Siapapun guru terdekat, disitulah anak harus segera melapor.

Masalahnya, tindakan kekerasan dilakukan anak kadang membuat si guru tak sanggup menanganinya. Tenaga seroang guru wanita tak mampu menahan serangan-serangan dari pembully. Akibatnya ada saja anak-anak yang kena serangan membabi-buta. Sungguh mengerikan kejadian seperti ini. Maka diperlukan penangan serius dan kewaspadaan setiap guru untuk segala situasi. Tidak bisa lengah mengawasi si anak tersebut agar tidak lagi ada korban.

Sungguh wali murid tidak bisa menjangkau semua situasi di kelas karena ini menjadi tanggung jawab sekolah. Kami, para wali murid hanya bisa mendapatkan report hasil perkembangan anak-anak, termasuk si pembully. Itupun karena kami terus menerus bertanya kepada pihak sekolah, "Bagaimana keadaan si X? Apakah sudah ada perubahan (tidak membully)?"


Stop bullying!

Saya percaya kita bisa menghentikan bullying. Ya, harus percaya. Bagaimanapun membangun kepercayaan itu penting karena akan mempengaruhi pola pikir saya di kemudian hari. Satu lagi, semua butuh proses. Ini mungkin yang menjadi semacam mimpi buruk. Setiap hari bertanya kepada anak, “Bagaimana keadaan temanmu hari ini? apakah dia masih suka mengamuk di kelas? Apakah ada temanmu yang dipukul? Ataukan kamu sendiri yang jadi korban?”

Saya berkali-kali mengingatkan anak agar menjaga jarak dengan temannya yang suka membully itu. Saya tidak mengetahui kejadian di sekolah. Adapun wali kelas, tidak sepanjang detik berada di sisi anak-anak. Meski memang itu adalah tanggung jawab beliau mendampingi anak-anak. Bagaimana jika wali kelas sedang sibuk atau tidak kuat menghadapi si anak yang tenaganya luar biasa.

Rasanya deg-degan setiap hari. terlalu banyak “jangan-jangan” yang meracuni akal sehat saya.

Beberapa wali murid menyarankan untuk menemui orang tua si pelaku. Saya pikir sekali lagi, kemudian saya mundur. Saya khawatir terjadi salah paham. Kadang orang tua merasa anaknya baik-baik saja di sekolah. Alias tidak bisa menerima jika anaknya dianggap mengganggu anak lain.

Saya butuh orang ketiga yang bisa menjembatani masalah ini. Pilihan itu adalah sekolah. Karena kejadian di dalam area sekolah, tentu saja menjadi tanggung jawab sekolah. Meskipun sekolah tidak serta merta mau disalahkan (siapa juga yang menyalahkan!) namun sekolah tetap memiliki andil. Katakanlah si anak sudah bad mood ketika berangkat ke sekolah. Kemudian melampiaskan kepada teman-temannya. Masalah sudah terjadi sejak di rumah, bukan di sekolah. Maka sekolah meminta kerjasama dengan orang tua si anak. Karena keberhasilan untuk menangani anak ini juga berkaitan erat dengan keadaan di rumah, di sekolah teman-temannya dan guru.

Maka saya memilih melapor ke sekolah. Melaporkan masalah ini bisa secara perseorangan ataupun beberapa orang sebagai perwakilan. Apalagi kalau takut terbawa emosi, lebih baik memilih perwakilan saja.

Dengan melapor, kami sudah membuat satu langkah untuk memutus rantai bullying. Akhirnya banyak orang tua yang mengetahui masalah ini. Banyak anak yang pernah menjadi korban. Banyak yang merasa tak nyaman di sekolah. Banyak yang tiba-tiba bersimpati. Banyak yang memberikan masukan. Dan banyak wali murid yang akhirnya berani melapor!

^_^

Comments
7 Comments

7 comments:

  1. Aku dulu korban bullying. Alasannya sepele, karena aku kelihatan "beda" dan memang penyendiri. Encourage anak buat melapor itu penting banget, karena alasannya kemanan bukan buat jadi "pengadu". Mudah-mudahan kasus bullying semakin berkurang ya 💖

    ReplyDelete
  2. dulu pas masih sd sempet sih ngerasain yang namanya dibully, bahkan saya sering di pukul tanpa alasan, yaudah akhirnya saya lapor ke ortu dan ortu lapor ke pihak sekolah. Setelah itu pembullyan udah ga terjadi lagi sama saya.

    ReplyDelete
  3. Pernah ngalamin di-bully, dikatain jelek, gak laku, atau teman-teman sekolah menjauhi tanpa sebab. Kala itu di sekolah memang kurang menekankan pentingnya melapor, Bimbingan Konseling hanya sebatas tempat mengadu dimana Pelaku tidak ditindak dengan tegas. Sempat down gak mau ngelanjutin sekolah. Tapi saya sadar dulu dikucilkan itu karena saya dianggap 'berbeda' entah 'menonjol' dalam bidang tertentu, saya pun melanjutkan sekolah sampai tamat.

    ReplyDelete
  4. Siap terima aksih mbak, atas materinya. Kebetulan tahun-tahun depan tak lama lagi anak saya bakal masuk SD...mesti belajar ini dari sekarang.
    Jangan kayak bapaknya lah, yang dulu sering kena bully :(

    ReplyDelete
  5. setuju: "stop bullying" di manapun dan kapanpun.
    thank you for sharing

    ReplyDelete
  6. Ini kejadian sama ponakan aku yang mondok di daerah puncak. Belum lama ini, dia kena bully beberapa seniornya. I'm gonna show this to my mother.

    ReplyDelete
  7. Entah kenapa masih ada aja yang melakukan bullying. Bercanda juga ada batasnya ya mbak

    ReplyDelete

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Mohon maaf, jika ada link hidup, anonymous atau broken link akan saya hapus!

COPYRIGHT © 2017 · LOVELY MOM | THEME BY RUMAH ES