Menikah Bukanlah Suatu Perlombaan Untuk Menjadi Pemenang

love

Tadi pagi saya ngobrol dengan dua teman baru. Biasa kan, ibu-ibu begitu kenalan langsung bertanya ini itu. Contohnya, anaknya berapa, rumah dimana, di rumah sibuk apa (baca: kerja apa). Pertanyaan tersebut kadang bikin bete. Tapi ya tetap dijawab saja daripada bertemu teman-teman baru tapi diam saja karena tidak mempunyai bahan cerita.


Nah, tadi itu saya ikut cerita tentang keluarga. Anak pertama saya sudah kuliah lalu dua adiknya masih sekolah. Entah bagaimana salah seorang teman salah menghitung usianya. Akhirnya menyebutkan tahun kelahirannya. Kemudian kami ikut menyebutkan tahun kelahiran juga.

Oww... saya agak kaget ketika mendengar bahwa ibu A usianya lebih muda daripada saya namun anaknya sudah lebih dulu kuliah. Kemudian dia berkata. “Tinggal nunggu menikahkan anak.”

Diantara kami, si ibu A itu yang paling muda tapi anaknya yang paling tua. Sampai dia bilang nikah muda. Tidak juga. Saya menebak dia menikah usia dua puluh sekian. Sekiannnya cuma sedikit.

Ada yang menganggap menikah usia dua puluh sekian itu masih muda, Jadi dianggap menikah muda. Tapi menurut saya tidak juga. Mau usia dibawah 20 atau lebih kalau merasa masih muda ya dianggap muda. Gampang kan.

Saya menikah setelah lulus kuliah. Waktu itu saya merasa terlalu cepat  menikah karena hampir semua teman kuliah ingin bekerja dulu. Kalaupun ada yang sudah menikah saat kuliah (sepertinya hanya dua orang) saya percaya mereka memiliki jalan yang berbeda. Sedangkan saya termasuk ke dalam golongan yang ingin bersenang-senang selama masih single. Masa depan depan seperti apa, rasanya masih kabur. Mohon jangan ditiru!

Dulu, Menikah Karena Apa?

Kalau sekarang ada pertanyaan seperti itu saya pasti akan menjawab menikah karena Allah. Menikah untuk menyempurnakan agama. Menikah untuk ibadah. Menikah untuk menjaga diri. Kemudian calon yang datang agamanya baik, dsb... Jawab sesuai dengan apa yang seharusnya saya yakini.

Namun masa menjelang menikah adalah masa sulit. Saya mengatakan ini berat. Karena akan berlangsung seumur hidup. Tidak bisa salah pilih orang. Tidak bisa main-main. Tidak bisa untuk urusan senang-senang. Seperti saya yang ketika dapat uang dari ngajar privat langsung buat belanja dan jalan.

***

Tadi kami tertawa membicarakan tentang keluarga. Ibu-ibu seperti kami juga senang mengenang masa muda. Masa ketika kami  masih labil tapi memutuskan untuk menikah.  

Jadi menikah karena apa?

Alasan menikah kami pada dasarnya sama karena sudah ada calon yang cocok di hati orang tua. Penting banget buat mendapatkan ridha orang tua. Tidak muluk dan tidak aneh, sih.

Mau mencari yang bagaimana lagi? Bukankah sudah datang lelaki yang baik? Mau berharap untuk yang lebih dari ini? Lalu ingat usia, ah masih muda, masih ingin bekerja, masih ingin berkelana. Tapi rasanya sudah siap menikah. Ah galau dan hopeless...

“Ada yang cocok, ayo nikah!” begitu kata teman.

Saya mengangguk setuju! Saya mulai mengingat apa dulu menjadi pertimbangan saya. Bukan...bukan saya! Namun pertimbangan orang tua karena saya dan suami bisa saling kenal karena orang tua. Alias dijodohkan. 

Rasanya tidak ada. Saya ingin patuh, bakti pada orang tua. Apa yang diinginkan orang tua ada pada diri suami. Mungkin seperti itu. Sementara saya masih blank. Tapi saya menyimpan keyakinan bahwa calon saya ini orang baik.

cincin nikah


Usia bukan tolok ukur kesiapan menikah

Berapa usia ideal untuk menikah bagi wanita? Ada patokannya? Ada alasannya?

Berdasarkan survey dari Tirto adalah usia 20-23. Karena masyarakat kita beranggapan di rentang usia tersebut, wanita mampu hamil, melahirkan dan mengurus anak. Almarhumah ibu saya juga sependapat. Dulu saya sempat galau, aduh mengapa disuruh menikah. Pikiran saya masih jauh menuju tahap ini.

Ibu saya menjelaskan dengan gamblang bahwa jika saya menikah di usia itu, saya berada di usia produktif. Bisa hamil dan melahirkan 2 anak sebelum usia 30 tahun. Saya masih akan cukup kuat untuk mengurus anak-anak. Faktanya, anak ketiga saya lahir setelah saya berusia 30 tahun plus sekian. Terakhir saya hamil menjelang usia 35 tahun namun keguguran.

Bagi saya usia menikah itu relatif, ya. Saya tidak suka ketika orang mengatakan untuk segera menikah agar cepat punya anak. Atau agar tidak menjadi bahan pembicaraan orang kampung. Pernikahan itu bukan untuk lomba. Siapa yang cepat dia menang. Memang dapat hadiah apa?

Usia menikah bagi saya sangat pribadi. Tidak bisa disamakan satu orang dengan lainnya. Orang desa banyak yang menikah dibawah usia 20 tahun dan baik-baik saja (langgeng). Usia tersebut dianggap sudah matang. Sudah tepat untuk berumah tangga.

Berapapun usia menikah, itulah usia ideal kita. Karena jodoh datang di saat yang tepat. Siap atau tidak kalau sudah melangsungkan pernikahan artinya sudah siap mengarungi bahtera rumah tangga. Sudah siap dengan segala resiko baik dan buruk pasangan.

Kalau saya merasa berada di usia yang labil saat memutuskan menikah. Kata suami saya masih “anak-anak”. Hahaha...(jujur amat sih). Namun karena dia sudah siap (termasuk siap membimbing saya ke jalan yang benar), maka apapun masalah yang dihadapi insyaallah ada solusinya jika mau ikhtiar. Dengan berjalannya waktu kami sama-sama belajar. Kadang merasa tidak cocok, ya wajar. Lha, saya dan suami bertolak belakang hobi, passion, dsb. Tapi bagaimana menyikapinya itu yang mesti dilakukan.

Ketika ada orang yang berjodoh karena mereka cocok, enak diajak ngobrol alias nyambung kadang saya sempat merasa iri. Saya dan suami tidak bisa seperti itu. Tapi kami memiliki toleransi yang tinggi. Tidak mempermasalahkan hal-hal seperti ini. Yang penting tujuan akhir perjalanan kami di dunia ini sama, insyaallah.

Jadi, lupakan target usia ideal menikah. Syukur-syukur kalau bisa tercapai. Namun sesungguhnya menikah itu karena kita siap! Bismillah. Bukan karena ingin berlomba lepas dari status jomblo, atau lainnya. Menikah atas kesadaran sendiri, bukan karena terpaksa. Menikahlah karena Allah.

^_^


3 Komentar untuk "Menikah Bukanlah Suatu Perlombaan Untuk Menjadi Pemenang"

  1. Dear mom, saya nikah usia 23th sekarang mau annive ke 5 dan udah ada anak usia 2th dan belum kepikiran kapan promil lagi soalnya 1 aja ini harus diurus hihi tfs ya mom

    BalasHapus
  2. "Berdasarkan survey dari Tirto adalah usia 20-23."

    Agak gimana gitu pas baca kalimat itu wkwkkwkw...
    Soalnya saya & suami sekarang menganggap waktu masih umur 20 awal, kami masih "anak-anak banget". Ada banyak momen di mana kami egois, nggak memikirkan pasangan, suka sibuk sendiri, dll

    Saya sendiri nikah di usia 26. Mungkin agak "ketuaan" buat banyak perempuan. Terlebih saya dari desa dan teman2 saya di sana usia 19 tahun rata2 sudah menikah (saya milih kuliah dulu). Dulu banyak orang yang "mendesak" agar cepat menikah, karena sudah cocok dgn pacar (sekarang pak suami hehe).

    Tapi sampai saat ini saya tetap berpikir, umur saya sudah pas waktu menikah. Nggak kelamaan, nggak kecepetan. Saya & pasangan juga sudah mulai bisa berpikir lebih dewasa & mengesampingkan ego kami demi pasangan

    BalasHapus
  3. Ketika seseorang nggak mampu membanggakan isi kepalanya, maka mau nggak mau dia membanggakan kelaminnya. Karena cuma itu yang dia bisa.

    Mereka yang menikah karena Tuhannya, akan dijadikan pernikahan itu sebagai ibadah, bukan ajang perlombaan.

    BalasHapus

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Info: F untuk komen dengan akun facebook dan B untuk komen dengan akun blogger. ^_^

Mohon maaf, jika ada link hidup, anonymous atau broken link akan saya hapus!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel