Dari Museum Wayang Jakarta: Mari Kita Rawat Cagar Budaya Indonesia, Kita Kelola Jejak Peradaban Untuk Generasi Muda


museum wayang jakarta


Siang yang terik. Pengunjung kota tua seolah tak mempermasalahkan suhu udara di musim kemarau yang menyengat. Sebagian besar berada di lapangan, mengayuh sepeda, memotret, jalan-jalan atau keliling bangunan-bangunan kuno yang merupakan cagar budaya di Jakarta.


Beberapa bangunan besar digunakan sebagai museum. Salah satunya adalah Museum Wayang. Gambar tokoh wayang terpampang di depan pintu masuk. Di atas pintu masuk ada tulisan Museum Wayang.

Saya bergegas bergabung dalam barisan pengunjung di depan pintu masuk Museum Wayang. Dalam antrean yang mengular itu, saya mendengarkan petugas keamanan memperkenalkan kartu bergambar Museum Wayang yang bisa digunakan sebagai alat bayar untuk masuk tempat-tempat wisata hingga transportasi umum di Jakarta.

Perlahan, saya berhasil menginjakkan kaki ke gedung museum. Saya membayangkan seperti apakah wayang yang menjadi koleksi museum ini. Yang ada dalam benak saya hanya wayang kulit dengan tokoh Pandawa 5 (Yudhistira, Werkudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa) dan Punakawan (Semar, Gareng, Petruk dan Bagong). Lainnya masih terlalu sulit saya ingat.

  wayang


Beberapa waktu lalu, ada pelajaran bahasa daerah (bahasa Jawa) anak saya tentang wayang. Saat itu grup whattsapp wali murid ramai dengan berbagai keluhan. Semuanya mengeluhkan betapa pelajaran wayang ini makin sulit. Kami yang asli orang Jawa tidak familiar dengan tokoh-tokoh pewayangan. 

Sayang sekali, tidak ada tindak lanjut dari sekolah. Kata wali kelasnya, memang seperti itu pelajarannya. Suka atau tidak tetap anak-anak harus belajar menghafal. Pelajaran tentang wayang inipun tuntas ketika ada penilaian dari sekolah. Setelah itu, anak-anak melupakannya.

Saya tidak membayangkan dalam 10 atau 20 tahun mendatang, akankah wayang masih ada dalam ingatan anak-anak Indonesia? Jika dalam pelajaran bahasa daerah hanya sebagai pelengkap saja, akankah mereka mengenal pesan moral dalam seni wayang? Akankah mereka masih menggenggam erat warisan budaya luhur ini?

Sungguh, pertanyaan demi pertanyaan tersebut seolah menjadi pisau yang menghujam di dada. Menyakitkan! Ketika generasi muda sekedar tahu bahwa wayang identik dengan barang kuno, dan hiburan untuk orang-orang tua. Bentuk-bentuk wayang hanya pajangan di museum-museum. Ya, wayang yang terlibas oleh pusaran waktu. 

Seni Wayang: Tak Kenal Maka Tak Sayang

wayang


Wayang yang telah dikenal sejak zaman purba merupakan perwujudan bayang-bayang nenek moyang. Dalam kepercayaan animisme dan dinamisme, roh nenek moyang yang telah lama mati dianggap sebagai pelindung bagi manusia yang masih hidup. Roh tersebut tinggal di bukit-bukit, gunung-gunung, pohon besar dan benda-benda lainnya. 

Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum agama Hindu masuk ke pulau Jawa. Namun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami perubahan dan penambahan sesuai dengan falsafah asli Indonesia. 


Wayang yang sering saya lihat adalah wayang kulit. Itupun karena saya pernah menonton pagelaran wayang kulit sepintas. Kadang gambar lakon wayang menjadi benda pajangan di rumah-rumah kuno. Di beberapa daerah Jawa, pagelaran wayang kulit masih diadakan ketika ada orang memiliki hajat misalnya khitanan, pernikahan, perayaan hari jadi, sedekah bumi, dsb.

Selain wayang kulit, Indonesia mengenal bermacam-macam jenis wayang. Satu daerah dengan daerah lain bisa sangat berbeda. Itulah yang membuat budaya bangsa ini makin kaya. Makin berkarakter.

Jenis-jenis wayang menurut bahan pembuatannya:

Wayang Kulit

  • Wayang Purwa
    • Wayang Kulit Gagrag Yogyakarta
    • Wayang Kulit Gagrag Banyumasan
  • Wayang Madya
  • Wayang Gedog
  • Wayang Dupara
  • Wayang Wahyu
  • Wayang Suluh
  • Wayang Kancil
  • Wayang Calonarang
  • Wayang Krucil
  • Wayang Ajen
  • Wayang Sasak
  • Wayang Sadat
  • Wayang Parwa
  • Wayang Arja
  • Wayang Gambuh
  • Wayang Cupak
  • Wayang Beber

Wayang Bambu

  1. Wayang Golek Langkung

Wayang Kayu

  1. Wayang Golek/Wayang Thengul
  2. Wayang Menak
  3. Wayang Papak/Wayang Cepak
  4. Wayang Klithik
  5. Wayang Timplong
  6. Wayang Potehi
  7. Wayang Golek Techno
  8. Wayang Ajen

Wayang Orang

  1. Wayang Gung
  2. Wayang Topeng

Wayang Motekar

  • Wayang Plastik Berwarna

Wayang potehi

  • Wayang potehi

Wayang Rumput

  • Wayang Suket
wayang golek

Jenis-jenis wayang menurut asal daerah


Beberapa seni budaya wayang selain menggunakan bahasa Jawa, Sunda, dan Bali, ada juga yang menggunakan bahasa Melayu lokal seperti bahasa Betawi, Palembang dan Banjar. Beberapa diantaranya adalah:
 
Wayang Surakarta
  • Wayang Jawa Timur
  • Wayang Bali
  • Wayang Sasak (NTB)
  • Wayang Kulit Banjar (Kalimantan Selatan)
  • Wayang Palembang (Sumatra Selatan)
  • Wayang Betawi (Jakarta)
  • Wayang Cirebon (Jawa Barat)
  • Wayang Madura (sudah punah)
  • Wayang Siam (Kelantan, Malaysia)
Sejarah Museum Wayang Jakarta

Museum Wayang terletak di Jalan Pintu Besar utara No. 27 Jakarta Barat. Dahulu, bangunan ini merupakan gereja tua yang didirikan VOC pada tahun 1640 dengan nama de oude Hollandsche Kerk sampai tahun 1732. Pada tahun berikutnya terjadi perubahan nama menjadi de nieuwe Hollandsche Kerk.


Pada tahun 1808 bangunan ini mengalami kerusakan akibat gempa bumi.  Genootshap van Kunsten en Wetwnschappen yaitu lembaga yang menangani pengetahuan dan kebudayaan Indonesia membeli bangunan ini. Oleh lembaga ini, bangunan ini diserahkan kepada Stichting Oud Batavia pada tanggal 22 Desember 1939 dijadikan museum dengan nama Oude Bataviasche Museum atau Museum Batavia Lama.

Pada tahun 1957 bangunan ini diserahkan kepada Lembaga Kebudayaan Indonesia dan pada tanggal 17 September 1962 diberikan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI yang selanjutnya diserahkan kepada Pemerintah DKI Jakarta pada tanggal 23 Juni 1968 untuk dijadikan Museum Wayang. Museum Wayang diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Bapak H. Ali Sadikin pada tanggal 13 Agustus 1975.

Museum Wayang  dibangun dengan tujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat khususnya anak muda mengenai wayang sebagai salah satu seni khas Indonesia yang harus terus dipertahankan dan dikembangkan. Selain itu, Museum Wayang berfungsi untuk meningkatkan eksistensi wayang di Indonesia.
 

Jejak-Jejak Peradaban Bangsa di Museum Wayang Jakarta

Untuk pertama kalinya, saya memasuki ruangan-ruangan dengan lebih dari 4.000 koleksi wayang. Setiap koleksi dilengkapi dengan informasi tentang nama tokoh wayang, asal usul, ciri khas dan sebagainya. Dari satu tokoh ke tokoh wayang berikutnya seolah mengajak saya untuk mengenal berbagai karakter manusia, sikap maupun perilaku lakon dari berbagai daerah. Ya, ada jejak-jejak peradaban bangsa yang rasanya sayang kalau cuma untuk dilihat-lihat saja.

wayang golek


Sejumlah koleksi wayang dari penjuru tanah air meliputi wayang kulit, wayang golek, patung wayang, wayang mainan, topeng wayang, wayang beber, wayang kaca, gamelan, serta lukisan-lukisan wayang. Dari museum wayang Jakarta, semakin bertambah pengetahuan saya. Semakin saya bangga dengan budaya bangsa.

Selain itu ada juga berbagai koleksi wayang dan boneka dari negara-negara sahabat yaitu Malaysia, Thailand, Surinama, Cina, Vietnam, Perancis, Rusia, Polandia, India, dan Kamboja. Berkunjung ke museum wayang bukan sekedar mencari hiburan atau untuk update media sosial kita. Museum Wayang bisa dijadikan tempat pelatihan, pusat dokumentasi, dan penelitian pewayangan, serta dapat dijadikan media pengetahuan budaya antar daerah dan antar bangsa. Untuk mendukung keberadaannya, museum ini secara berkala melakukan perubahan tata pamer, pagelaran wayang dan antraksi pembuatan wayang. Jadwal pagelaran bisa dilihat pada banner yang dipasang di depan museum.

wayang boneka

Cagar Budaya Milik Kita, Rawatlah dengan Sepenuh Jiwa!

Menurut UU RI Nomor 11 tahun 2010, suatu bangunan dapat digolongkan dalam cagar budaya dengan kriteria sebagai berikut:


Benda, bangunan atau struktur dapat diusulkan sebagai cagar budaya, bangunan cagar budaya atau struktur cagar budaya apabila memenuhi kriteria: 

1. Berusia 50 tahun
2. Mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 tahun. Yang dimaksud dengan masa gaya adalah ciri yang mewakili masa gaya tertentu, yang berlangsung sekurang-kurangnya 50 tahun, antara lain tulisan, karangan, pemakaian bahasa dan bangunan rumah, misalnya gedung Bank Indonesia yang memiliki gaya arsitektur tropis modern Indonesia pertama.
3. Memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan/atau kebudayaan.
4. Memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

Museum Wayang Jakarta memenuhi kriteria diatas karena sampai tahun ini sudah berumur 379 tahun. Bangunan ini cukup lama bertahan karena peran serta pemerintah untuk melakukan renovasi dengan tetap mempertahankan keasliannya.

Bangunan Museum Wayang bergaya arsitektur Eropa kuno, yang memiliki ciri dinding tembok tebal dengan langit-langit yang tinggi. Daun pintu dan jendala berukuran cukup lebar terbuat dari kayu jati masif. Terdiri dari dua lantai, bagian bawah dipergunakan sebagai sekretariat Yayasan Nawangi dan kantor museum. Di tengah ruangan lantai bawah, terdapat sebuah taman, dimana beberapa pejabat tinggi Hindia Belanda dikuburkan di tempat tersebut. 

Pada saat saya berkunjung, museum sedang dalam perbaikan. Di lantai atas hingga bawah. Namun perbaikan gedung tidak membuat museum ditutup untuk umum. Perbaikan tersebut dilakukan di sebagian tempat. Setelah selesai, berganti dengan bagian lainnya. Sehingga pengunjung masih bisa melihat sebagian koleksi museum sambil mendengarkan instrumen gamelan.
 

komunitas cagar budaya

Sayang sekali, di ruangan-ruangan museum wayang ini tidak ada pemandu wisata. Namun jika kita ingin mendapatkan informasi lengkap bisa bertanya kepada petugas saat itu. Saya berharap, pihak museum bisa bekerja sama dengan relawan dan komunitas cagar budaya agar edukasi kepada masyarakat lebih mudah. Beberapa komunitas cagar budaya yang bisa kita ikuti adalah Cagar Budaya Id (@cagarbudayaid) yang memiliki berbagi informasi tentang cagar budaya dan kegiatan wisata cagar budaya di Indonesia. Ada juga malam museum yang memiliki kegiatan Kids in Museum dan jelajah museum malam hari.

Merawat cagar budaya apakah cukup dengan perbaikan saja?

Tidak! Perbaikan bangunan maupun koleksi harus dibarengi dengan melestarikan seni pewayangan. Bangunan museum tetap menjadi tempat pembelajaran, sedangkan seni pewayangan tetap hidup di tengah-tengah masyarakat. Hidup di hati kita!


Wayang kulit sudah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003 sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga. Sayang saja jika perjalanan wayang hingga mendapat pengakuan ini terabaikan oleh generasi muda. Karena mereka tidak tahu, tidak merasa memilki dan tidak peduli.  

Saya rasa perlu untuk menjembatani cita-cita generasi tua dan muda. Membuat regenerasi pegiat wayang dan memperbanyak komunitas pecinta sejarah dan budaya. Mulai saja dari diri sendiri. Kita bisa ikut melestarikan wayang dengan cara:

1.   Mengenalkan wayang kepada anak-anak
2.   Membuat pagelaran wayang secara rutin
3.   Memasukkan wayang dalam pelajaran sekolah
4.   Membuat festival dalang, kompetisi wayang dan penulisan
5.   Mengemas wayang secara modern dan mudah dimengerti

Kesenian tradisional tidak harus ditampilkan sesuai dengan pakem-pakemnya sehingga terkesan kaku dan tidak mengikuti perkembangan zaman. Contohnya pagelaran wayang orang dengan judul Arjuna Galau di Taman Ismail Marzuki, Jakarta dengan durasi 4,5 jam. Pagelaran wayang ini didukung artis Maudy Koesnaedy dan Wulan Guritno mampu menarik perhatian penonton. Oleh Jaya Suprana disebut Wayang Gaul. Seni wayang berkolaborasi dengan budaya lain (breakdance, rap, dll), tidak monoton dan dengan bahasa yang mudah dimengerti sehingga lebih dekat dengan generasi muda. Dengan cara tersebut nilai-nilai luhur bangsa ini tetap tersampaikan dengan baik. 

dalang cilik
Sumber: detik

Saya berharap hal yang sama pada pagelaran wayang kulit dan wayang-wayang lainnya. Ada regenerasi dalang untuk bisa diterima dengan baik di semua kalangan. Munculnya dalang-dalang cilik dari festival dalang maupun karena bakat dan minatnya merupakan kabar baik. Ada Gymna Cahyo Nugroho yang pernah menampilkan Lakon Gatotkaca di KBRI Washington, Amerika Serikat. Pramariza Fadhlansyah dan Rafi Ramadhan pernah tampil di India dan Rusia. 

Sebagai orang tua, saya harus banyak belajar warisan budaya ini agar kelak ada penerusnya. Mengenal wayang tidak boleh berhenti pada saya. Berhenti artinya  musnah! Sebaliknya, harus berkelanjutan pada anak keturunan saya dan seterusnya. Ditangan merekalah, pelestarian budaya itu. Mulailah dengan mengenalkan tokoh-tokoh wayang atau superhero dengan berbagai nilai-nilai kepahlawanan.

Mengenalkan wayang kepada anak, bisa dilakukan dengan berbagai media seperti boneka dan mainan. Karena tidak semua anak bisa menerima kehadiran wayang. Bentuk wayang bisa jadi sebuah trauma. Tentu kita tidak ingin warisan budaya menjadi hal menakutkan. Kita bisa menghadirkan seni wayang sesuai dengan usia dan pemahaman anak. Dengan memilih boneka, kita bisa lebih dekat dengan dunia imajinasi anak. Di Museum Wayang ada koleksi boneka Si Unyil yang pernah hits di era 90an.




Selain dengan media boneka, kita bisa membuat wayang dari kardus atau rumput. Di museum wayang ada contoh wayang dari rumput kering yang disebut wayang mainan. Bagi saya ini cukup menarik. Karena untuk penyampaian sejak dini, anak-anak harus memiliki rasa senang. Begitu juga orang tua dan guru pengajar. Ketika kita sudah senang, maka mudah saja untuk mempelajarinya.

Nah, teman-teman boleh dong, sharing upaya untuk melestarikan cagar budaya Indonesia di kolom komentar ya. Terima kasih.



^_^

Sumber bacaan:

  • https://jdih.kemdikbud.go.id/arsip/UU_Tahun2010_Nomor11.pdf
  • http://staff.ui.ac.id/system/files/users/darmoko/material/beberapapendapatasal-usulwayangdiindonesia.pdf
  • Brosur 'Museum Wayang'. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.
  • https://id/wikipedia.org/wiki/Wayang
  • https://situsbudaya.id/sejarah-museum-wayang-jakarta/
  • https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt58e85f1db5483/kriteria-sebuah-bangunan-ditetapkan-sebagai-cagar-budaya/
  • http://edupaint.com/jelajah/8091-bangunan-museum-wayang-di-jakarta
  • https://thecrazymuseum.wordpress.com/2018/05/10/museum-wayang-jakarta/
  • https://brainly.co.id/tugas/2302124
  • https://www.pusakapusaka.com/melestarikan-budaya-indonesia-melalui-wayang-orang.html
  • https://www.hipwee.com/list/yuk-kenali-5-komunitas-pecinta-sejarah-dan-budaya-di-indonesia/
  • https://news.detik.com/berita/d-2979856/ini-gymna-dalang-cilik-dari-gunungkidul-yang-beraksi-ciamik-di-washington-dc
  • https://kumparan.com/kumparannews/duo-dalang-cilik-ini-mahir-mainkan-wayang-hingga-rusia-dan-india
  • Wawancara dengan guru PAUD, TK, SD dan pegiat literasi








18 Komentar untuk "Dari Museum Wayang Jakarta: Mari Kita Rawat Cagar Budaya Indonesia, Kita Kelola Jejak Peradaban Untuk Generasi Muda "

  1. salah satu kekayaan budaya kita nih. Sayang kalo sampe musnah tertelan zaman

    BalasHapus
  2. Waktu SMA dulu, sekolah saya deket sekali sama museum, dan menyempatkan setidaknya 1 bulan sekali berkunjung kesana, sambil bawa keponakan dan beberapa anak tetangga, haha.. Ya sedikit demi sedikit memperkenalkan sejarah kepada mereka. Semoga generasi milenial lebih bisa mengenal dan menjaga cagar budaya Indonesia ya.
    Keren artikelnya mba Nur.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak-anak harus diajak mengenal sejarah dan budaya dari museum.

      Hapus
  3. Cagar budaya emang kudu dijaga ya, biar gak hilang dan terus dapat menjadi saksi sejarah

    BalasHapus
  4. Semoga hari demi hari akan terlahir anak - anak yang menyukai dan melestarikan wayang. Sehingga wayang akan selalu eksis dimasa akan datang.

    Ohy...saya suka permainan wayang golek loh....soalnya lucu, apalagi yang memainkannya adalah anak - anak. Lucu bangetz.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di daerah saya masih sering ada wayang kulit.

      Hapus
  5. Kalau di tempat saya Wayang masih sering dipertunjukkan. Bahkan beberapa bulan lagi bakal ada pementasan wayang kulit di Desa saya

    BalasHapus
  6. Kalau di desa saya masih ada pertunjukan wayang meskipun sudah sangat jarang. Itu pun penontonnya rata-rata sudah berusia lanjut

    BalasHapus
  7. Di kampungku, wayang masih sering ada mbak. Biasanya kalau pas sunatan atau nikahan. Terutama yang sunat atau nikah anak satu2nya. Wajib nanggap wayangan.

    BalasHapus
  8. Padahal dulunya wayang adalah alat penyebaran informasi dan pembelajaran ya. Sekarang mempelajari wayang saja susah. Sungguh suatu ironi.

    BalasHapus
  9. Makasih mbk Nur sudah diajak jalan2 ke museum wayang plus diceritain pula segala hal ttg wayang. Berharap bgd wayang tetap lestari sbg warisan yg membanggakan utk generasi penerus bangsa selanjutnya.

    BalasHapus

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. ^_^

Mohon maaf, jika ada link hidup, anonymous atau broken link akan saya hapus!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel