Saturday, November 26, 2016

Kisah Liburan



Ustadzah Hani bertanya tentang cita-cita anak-anak. Alfi menjawab ingin jadi dokter. Cita-citanya masih sama seperti dulu. Karena pekerjaan seorang dokter itu baik, menolong orang sakit, memberi resep obat. Ada juga yang langsung memberikan obat. Ada juga yang suka melarang makan ini itu sampai sehat lagi.



Kalau Rara ingin jadi koki hebat. Seperti mamanya. Dia ingin sekolah memasak di luar negeri. Keren ya!

Nis lain lagi, dia ingin jadi guru. Karena guru itu berhati mulia. Dia mengajar murid-murid dengan sabar, termasuk anak-anak nakal dan bandel. Yang suka bikin kegaduhan di dalam dan di luar kelas. Yang suka berkelahi dengan teman-temannya. Pokoknya pekerjaan seorang guru itu mengajari anak-anak supaya pintar dan baik.

Teman-teman lainnya ada yang ingin jadi pilot, tentara, polisi, profesor, hafidz dan ilmuwan. Seluruh murid tertawa bahagia. Ustadzah Hani melangitkan cita-cita semua muridnya.

Alfi membayangkan seperti apa jadinya kalau semua temannya sudah besar nanti. Sudah bekerja.  Tercapai cita-citanya. Tubuh mereka sudah besar dan pasti banyak yang berubah.

Tak terasa kelas 1 sudah berakhir, semua anak berharap mendapat nilai terbaik. Meraih prestasi yang diinginkan. Demikian juga harapan setiap orang tua.

Bunda cukup bahagia dengan nilai rapor Alfi. Meskipun tidak ada sistem rangking tapi nilai rapor Alfi adalah yang tertinggi di kelasnya. Bunda tak henti-hentinya mengucap syukur.

Ada berita yang mengejutkan buat anak-anak kelas 1C. Pada penerimaan rapor itu mama Rara sekaligus pamit. Alfi yang ikut menemani bunda ikut terkejut juga.

“Rara mau kemana?” selidiknya.

“Ikut papa, pindah,” jawab Rara datar.

Mama Rara sekaligus mengurus surat pindah. Meminta maaf kepada ustadzah dan mama-mama yang ikut hadir disana.

Sejak itu Alfi merasa sangat kehilangan seorang teman baiknya. Padahal rumahnya paling dekat. Dan dia bakal merindukan kue-kue lezat buatan mama Rara.

“Apakah kamu akan kesini lagi?” Alfi masih berharap bisa bertemu dengan Rara. Lalu bersepeda bersama. Tidak perlu takut dimarahi ustadzah, karena mereka sudah memasuki masa liburan.

Rara mengangkat bahu. Sorot matanya datar. Ada sesuatu yang masih mengganjal di hatinya. Dia akan pindah ke tempat baru yang belum dikenalnya. Sekolah baru, teman baru, tetangga baru. Semuanya perlu waktu untuk saling kenal.

Alfi merasa baru saja mengenal Rara. Kepindahan Rara pasti membuatnya kehilangan teman bermain sekaligus. Lalu dengan siapa dia akan menghabiskan waktu di sore. Kak Amel jelas tak bisa diajak bermain. Dia hanya membuat masalah saja. 

Alfi berpikir keras mencari pengganti Rara. Sulit. Teman sekolahnya tak ada yang ebih dekat lagi. Hanya Nis. Tapi dia sering les. Waktunya terbatas. Belum lagi kalau dilarang mamanya.  

***

Liburan ini Alfi tidak ada kegiatan apapun. Sebenarnya dia ingin ikut menemani bunda bekerja. Tapi bunda menginginkan agar di rumah saja, menemani kak Amel.

Alfi merajuk. Dia rela melakukan apapun asal bisa ikut bunda. Dia ingin cerita liburan. Ya, cerita seru ketika anak-anak menghabiskan liburan tidak di rumah. Dimana saja yang penting tidak di rumah.

Seperti Nis, yang selalu pulang kampung setiap liburan semester. Bertemu dengan keluarga besarnya. Bermain di sawah dan ladang. Memberi makan hewan ternak. Lalu semua anak mendengarkan semua cerita liburannya. Sampai selesai. Semua ikut merasakan aura kebahagiaan cerita liburan Nis. Dan Alfi ingin cerita liburan yang seru!

Betapa membosankan liburan hanya dihabiskan di rumah. Bertemu bunda, kak Amel nenek dan kakek sudah setiap hari. Bermain sepeda juga sudah sehari-hari. Beres-beres rumah sudah.

Pergi ke suatu tempat yang indah memang asyik. Tapi bunda tak punya uang banyak. Alfi harus tahu. Ke sawah, ladang, tidak ada di dekat sini. Di desa seperti Nis, tapi di rumah siapa. 

Satu-satunya tempat berbeda adalah di pusat grosir tempat bunda bekerja. Teman-temannya pasti ada yang pernah belanja kesana. Tapi kalau bekerja? Ehm...Alfi yakin tak seorangpun dari mereka yang mau bersusah payah disana. Bekerja adalah hal lain. Buat anak-anak dimanapun yang penting bukan di rumah adalah tempat piknik.

Alfi memikirkan rencananya. Bunda harus setuju. Tidak mungkin berada di rumah sepanjang hari. Bersama kak Amel yang membosankan dan nenek yang cerewet.

Rencana awal itu ditentang mentah-mentah oleh bunda. Apalagi nenek. "Ikut ke tempat kerja bunda hanya akan menyusahkan saja. Anak kecil tahu apa. Paling cuma lari-lari. Mengganggu saja. Di rumah saja sama nenek. Nonton film kartun. Liburan biasanya banyak film anak."

Alfi melengos. Tapi nenek masih saja bicara. "Pokoknya nggak usah ikut!"

Tatapan marah sang nenek membuat hati Alfi panas. "Aku mau ikut bunda!"

Suara Alfi melengking, menembus batas kesabaran nenek. Sahut menyahut umpatan tak terelakkan lagi. Pagi yang kacau mengintai mereka. Bunda tak suka mendengarkan ataupun terlibat dalam debat ini. Anak kecil tak mau menyerah. Dia seolah merong-rong telinga bunda dan nenek. Tidak berhenti.

Bunda ingin sekali mengakhiri perdebatan tentang ini. Tapi Alfi selalu saja memunculkan masalah yang sama. Setiap pagi, menjelang makan pagi. Lalu nenek seperti biasanya akan terus saja membuat narasi yang panjang seolah-olah Alfi  yang salah.

Pembicaraan tak sehat itu jika ada emosi yang menggelora. Membuat dirinya dan orang lain yang terlibat ingin menang. Tak peduli apapun alasannya. Yang penting kehendaknya harus dituruti. Dan bunda tak sanggup lagi mengacaukan makan pagi yang susah payah dibuatnya.
  
Bunda menyerah. Awal liburan ini boleh ikut bunda. Rencana cuma sehari tapi akhirnya sampai seminggu juga. Setiap bangun tidur Alfi selalu mendekati bunda. Merayunya sampai air matanya menetes di baju bunda.

“Baiklah, Alfi boleh ikut.” Kata-kata bunda membuatnya gembira. Tangisannya berubah menjadi derai tawa yang nyaring.

Alfi mendengarkan semua perintah bunda. Suasana musim liburan di tempat bunda bekerja sedikit berbeda. Di saat seperti ini biasanya banyak orang yang ingin jalan-jalan. Sekaligus belanja di pusat grosir. Makanya bunda mempersiapkan stok barang lebih banyak dari hari-hari biasa.

Beruntung di kiosnya bunda sudah ada dua pelayan yang membantu. Bunda tidak perlu khawatir meninggalkan kios sebentar. Mereka baik dan mau ngobrol dengan Alfi.

Bekerja itu capek. Alfi membantu mengeluarkan baju-baju yang dipajang di depan kios. Kadang juga mengambilkan pesanan pelanggan. Belajar membungkus baju. Belum bisa rapi seperti mbak-mbak disini.

Awalnya Alfi pusing melihat orang lalu lalang. Setelah dua hari Alfi mulai terbiasa dengan keramaian. Suasana hiruk pikuk antara teriakan antara penjual dan pembeli, juga suara musik keras-keras.

Buat orang dewasa mungkin tidak capek. Bekerja bisa menyenangkan. Alfi melihat wajah bunda cerah ketika menerima uang dari orang-orang yang datang dan membeli barangnya.

Bunda selalu ramah menyapa mereka, menanyakan barang apa yang diinginkan. Lalu bunda mengajak mereka melihat-lihat contoh barangnya. Kalau cocok bunda akan mengambilkan di tumpukan barang.

Kios bunda memang kecil. Bunda menyewa 1 kios saja. Padahal menurut Alfi sih terlalu sempit. Hanya bisa dipakai untuk duduk-duduk saja. Mau tiduran juga tidak bisa. Mau sholat ya mesti di mushola. Tapi kadang si mbak lebih suka sholat diantara tumpukan baju. Katanya yang penting bersih.

Alfi mengangguk saja.

Dua hari ikut bekerja bunda lumayan juga. Lumayan capek, dan jenuh. Kalau sudah begini dia akan jalan-jalan sepanjang lorong. Bunda meminta salah satu pelayannya menemaninya.

Alfi berlari-lari kecil sepanjang lorong. Kadang menabrak orang, kadang menyerempet barang dagangan di depan kios-kios. Cuma baju-baju yang melambai dan pelayannya gusar melihat tingkah Alfi.

Benar kata bunda, ramai sekali. Sebagian besar adalah orang dewasa. Langkahnya berhenti di depan kios boneka. Ada macam-macam boneka, mulai dari yang kecil untuk gantungan kunci hingga boneka setinggi anak-anak. Alfi menyebutnya boneka raksasa.

Dari depan kios ini, Alfi bisa membelai rambut boneka gadis kecil. Rambut palsu warna hitam pekat tetap saja menarik. Lucu. Sudah berapa lama tidak mainan boneka?

“Mau yang ini?” Tiba-tiba saja seorang wanita muda keluar dari tumpukan boneka.  

Alfi menggeleng.

“Yang mana?”

Alfi menengok ke belakang. “Mbak!” Seketika dia sadar telah kehilangan mbak. Lalu bagaimana jalan pulang? Mendadak rasa takut menyergap hatinya. “Bagaimana ini? Mbak dimana? Aduh, aku tak tahu jalan?”

Ramainya suara pembeli dan penjual semakin membuat hatinya kacau. Musik mengiringi kegelisahannya. Pengeras suara tak henti-hentinya menawarkan diskon, harga murah, dsb. Semuanya hanya ingin memikat hati calon pembeli.

Di tengah keramaian itu Alfi merasa sendiri. Tak ada seorangpun yang dikenalnya. Orang sebanyak ini hanya lewat saja. Menenteng belajaan di kedua tangannya atau sekedar melihat-lihat dagangan. Sementara para pelayan disekitarnya sibuk dengan barang dagangan dan merayu calon pembeli.

Dia ingin segera berjumpa dengan bunda. Oh bunda ada dimana? Ingatannya berusaha mencari nama kios bunda... oh dia lupa... Mengapa bisa semudah itu lupa. Dua hari ini selalu membantu bunda membungkus barang dengan label kiosnya.  Dan dia lupa begitu saja.

Alfi berlari kesana kemari, berharap bertemu mbak yang bersamanya tadi. Sia-sia. Lorong-lorong disini ini terlalu banyak, sempit dan terlalu sulit dihafal. Alfi berhenti. Kepalanya pusing. Tubuhnya tersungkur di lantai ketika seorang laki-laki tinggi besar tiba-tiba menabraknya. Laki-laki berbaju biru itu tetap berjalan seolah tak terjadi apa-apa. Meninggalkan Alfi begitu saja.

Alfi terisak. Tubuhnya gemetar. “Bunda!” Semua ini adalah kesalahannya. Mengapa tidak mau berjalan bersama mbak. Malah lari-lari dan sembunyi.

“Hei, dik. Itu bundamu!” teriak seorang wanita dengan logat Madura.

Tangan bunda meraih tubuh Alfi. Ketakutan itu sudah sirna. “Untung masih di lantai dua. Nggak turun atau naik. Pasti bunda sulit mencarimu.”

Alfi memeluk bunda. Erat! Si mbak ada di belakangnya. Alfi janji tidak akan pergi-pergi lagi.

***

Liburan ini Alfi sengaja tidak bermain ke rumah ustadzah Fida. Hatinya belum sembuh tapi Alfi sudah mulai bisa melupakan ustadzah Fida. Kebohongan ustadzah Fida itu sudah keterlaluan.

Anehnya selama tiga hari ikut bunda bekerja, nenek bercerita kalau sudah dua kali datang ke rumah. Dua kali? Ada apa? Apakah ustadzah hendak meminta maaf? Ataukah ustadzah mau memberikan hadiah seperti keinginannya? Ataukah ustadzah hanya menanyakannya?

Biarlah, Alfi masih ingin ikut bunda. Asal tetap berpegang pada janjinya. Dia tidak kapok. Dia masih ingin menikmati liburan bersama bunda di kios.

Jadi nanti kalau sudah masuk sekolah, Alfi bisa bercerita tentang liburannya. Memang tidak seperti teman-teman yang piknik kemana-mana. Tapi pengalaman liburan kali ini seru! Pasti tak ada yang memiliki pengalaman tersesat sepertinya. Atau bertemu dengan pembeli yang galak yang selalu minta harga murah, semurah-murahnya.

Alfi tersenyum geli jika mengingat pengalamannya bersama bunda di kios. Ada-ada saja ulah pembeli. Tapi bunda selalu sabar melayani. Tidak pernah marah jika ada yang mencela barangnya.

Tentang ustadzah Fida, jika nanti bertemu lagi, Alfi tetap seperti biasa. Begitupun dengan rasa penasarannya. Semoga saja ustadzah masih mau berteman dengannnya.

Segala macam tanda tanya tentang kedatangan ustadzah Fida akhirnya terjawab di minggu kedua libur sekolah. Sesuai janji, Alfi tidak perlu ikut bunda lagi. Alfi di rumah saja menemani kak Amel bermain.

Kak Amel bersorak ketika melihat kedatangan ustadzah Fida. Melompat girang dan berlari mengambil buku gambarnya. Seolah sudah saling kenal, kak Amel berusaha mencari perhatian.

Semua gambar kak Amel ditunjukkan kepada ustadzah Fida. Ada yang cuma goresan pensil. Ustadzah takjub dengan perilaku kak Amel. Tapi dia tetap menghargai segala gerak-geriknya. Memberi pujian pada setiap hasil karyanya.



Hari ini ustadzah membawa kartu bergambar yang biasa dipakai sebagai alat peraga dalam mengajar bahasa Inggris. Kalau selama ini Alfi mengucapkan kata dalam bahasa Inggris, tapi tidak demikian dengan kak Amel. Dia belajar bicara. Hanya untuk mengucapkan satu kata, susah sekali.

Ustadzah Fida membuka mulutnya lebar-lebar dan mengucapkan kata-kata dalam bahasa Indonesia. Satu kata diucapkan dengan intonasi jelas, perlahan, berulang-ulang dan tetap dengan konsentrasi yang tinggi.

Kak Amel mengikuti grakan mulut ustadzah. Tapi suara yang keluar tidak ssesuai harapan. Ustadzah memberi semangat. Kak Amel lelah. Dia menjerit marah.

Alfi diam, memperhatikan dari sudut ruang tamu. Jadi ustadzah bermain dengan kak Amel, bukan dengannya?

“Alfi!” Ustadzah Fida mengajak Alfi mendekat. Bukan untuk belajar melainkan bermain saja. Kak Amel sepertinya sudah tidak mau lagi. Sekarang ustadzah mengajak main tebak-tebakan. Mencari kartu sesuai dengan kata yang disebutkan ustadzah.

Alfi merasa bukan waktunya lagi bersama ustadzah. Ada kak Amel. Ustadzah lebih memilih kak Amel. Kenapa?

Kak Amel tak henti-hentinya memanggil Alfi. Buat apa kalau bukan untuk melihat gambarnya.

Alfi tak peduli. Ia memandang keluar. Kak Amel tiba-tiba saja menarik lengannya. Memaksanya duduk berdua. Di depannya ada sebuah meja belajar lipat. Meja sekecil itu hanya cukup buat kak Amel. Sementara Alfi duduk diam disamping kak Amel. Seolah sedang belajar bersama ustadzah.

Ustadzah bertanya kepada Alfi. Seperti dahulu di rumah ustadzah Fida, dia suka belajar kosakata bahasa Inggris. Mengeja nama-nama benda lalu menghafalnya. Ketika sudah siap, ustadzah akan menanyakan. Dan Alfi bisa menjawab. Setiap jawaban yang benar mereka akan toss.

Tiba-tiba Alfi rindu teman-teman sekolahnya. Daripada liburan seperti ini lebih baik sekolah saja. Di sana dia bertemu dengan teman-temannya dan bermain bersama. Padahal baru libur satu minggu. Adakah teman-temannya merasakan seperti ini? Atau mungkin cuma Alfi.

Alfi teringat kalau sore-sore begini biasa main ke rumah Rara. Alfi tak mungkin bertemu dengannya. Pasti dia sudah memiliki teman baru. Mungkin saja dia telah melupakan Alfi.

Di akhir liburan ini ustadzah Fida tetap datang ke rumah. Tiap dua hari sekali. Kak Amel sampai hafal kapan ustadzah Fida datang. Dia akan bersiap, bahkan rela berdiri di depan pintu.

Karena urusan ustadzah tidak lagi sama Alfi maka dia tetap keluar rumah. Seperti biasa, bersepeda di depan rumah sampai di depan gang Soka.

Kak Amel masih berdiri di depan pintu rumah. setiap sore menunggu ustadzah Fida. Tapi kata nenek, hari ini ustadzah tidak akan ke rumah. Ustadzah sibuk. Kak Amel tak peduli. Seperti dia tak pernah peduli sekarang hari apa.

Sambil bersepeda Alfi membantu nenek membeli kebutuhan rumah tangga. Kemarin dia membeli sabun mandi dan shampo. Ada sisa kembaliannya dipakai untuk membeli jajan sekalian. Mumpung ke warung.

Kali ini dia disuruh membeli gula pasir dan kopi. Alfi bersemangat sekali. Dia mengayuh sepedanya cepat-cepat. Bayangan jajan sudah ada di pelupuk matanya. Menyenangkan sekali karena dia bisa memilih jajan yang diinginkan sendiri. Dan titipan nenek, semoga saja tidak lupa.

“Gula satu kilo dan kopi satu renteng.” Tangan Alfi menunjuk kopi susu sachet yang ada gambar cangkir penuh dengan kopi susu yang asapnya mengepul.

Titipan nenek sudah beres. Dia sudah menerima uang kembalian. Tapi tunggu dulu. Dihitungnya uang kembalian itu. Masih cukup untuk membeli jajan.

Kedua matanya berbinar melihat deretan snack di etalase. Dia menunjuk barang yang diinginkan. Membaca harganya dan membawanya ke meja kasir. Ehm...tidak boleh melebihi uang yang dibawa.

Alfi pulang dengan riang. Belanjaan ditaruh di di stang sepeda bagian kiri.  Tidak ada keranjang. Wah, keranjang sepedanya sudah penyok sejak lama. Sejak dia sering jatuh dari sepeda.

Dalam perjalanan pulang Alfi berpapasan dengan rombongan anak yang bersepeda dari gang sebelah. Seorang anak laki-laki mengayuh sepedanya cepat-cepat. Tiba di atas polisi tidur yang tingginya kira-kira 10 cm sepeda itu seolah melayang sebentar. Anak-anak lainnya bersorak. Yang lainnya ikut mencoba.

Alfi menepi hingga pertunjukan mereka selesai. Alfi tergoda. Dia pasti bisa melakukannya. Gampang! Dia mengayuh sepedanya cepat-cepat.

Ketika melewati polisi tidur dia oleng ke samping kiri. Dia tidak mampu menahan keseimbangan. Gubrak! Alfi jatuh tersungkur di jalan berpaving. Kerangka sepeda menimpa tubuhnya.

Ada yang nyeri. Oh kakinya. Seolah ditusuk pisau yang tajam. Tajam sekali hingga dia mengerang kesakitan.

Alfi meihat sekelilingnya. Tak ada seorangpun disana. Tak ada yang datang menolongnya.

Alfi berusaha bangun. Berat sekali. Kaki kirinya tak mau bergerak. Oh tidak, dipaksanya sekali lagi untuk bergerak. Tidak usah naik sepeda. Jalan kaki saja. Tapi sungguh, kaki ini rasanya nyeri. Tetap tak mau diajak bergerak.

Rasanya ingin menyerah saja. Tapi di jalan ini sepi. Tak ada seorangpun yang lewat. Pasti nenek mencarinya. Mudah-mudahan segera sampai disini.

Sia-sia saja dia menangis, menjerit. Air matanya tumpah hingga di kerudung putihnya. Rumah-rumah yang berdiri kokoh didepannya mungkin tak berpenghuni. Entahlah, disini dia merasa sepi saja.

Di gang ini ada sekitar 20 rumah, dua diantaranya kosong. Selebihnya rumah-rumah itu dihuni oleh orang-orang yang sibuk. Mungkin masih di luar sana. Mungkin masih bekerja seperti bunda.

Alfi duduk perlahan, meraba bagian sepedanya. Masih utuh. Tapi ada apa dengan kakinya. Rasa sakit itu kian menjalar di sekujur kakinya. Tak berubah. Tak bisa bergerak.

Sekantung gula di dalam plastik bening tercecer di tanah. Sekelompok semut hitam buru-buru datang mengerubungi. Memanggil teman-temannya. Semakin banyak saja. Sedangkan satu  renteng kopi sachetnya masih utuh. Kemasannya cukup tebal sehingga aman hingga terjatuh sekalipun.

Langit mendung. Gerombolan awan hitam bergerak, menggeser awan putih yang cerah. Semakin lama semakin cepat. Seolah ingin menutupi seluruh langit saja.

Sekawanan burung bertengger diatas kabel listrik bersahut-sahutan. Lalu pergi beriringan. Mungkin sudah waktunya pulang, sebelum hujan tiba.

Sekali lagi Alfi berusaha untuk menggerakkan kakinya. “Oww...sakit!” Alfi merintih. Dia terus saja memandangi kakinya. Tak ada luka. Tapi mengapa sesakit ini.

Ini bukan pertama kalinya Alfi jatuh dari sepeda. Lecet-lecet itu sudah biasa. Kata bunda, Alfi pemberani. Alfi tidak akan menangis gara-gara jatuh dari sepeda.

Alfi ingat cerita teman-temannya yang baru belajar naik sepeda. Jatuh. Setiap anak yang belajar naik sepeda pasti pernah jatuh. Alfi sampai lupa sudah berapa kali terjatuh. Besok-besok lukanya sudah kering dan dia kembali bersepeda lagi.

Luka kali ini sungguh aneh. Hanya lecet sedikit. Tak ada darah yang menetes, tapi sakit sekali. Bergerak saja tak bisa. Dia masih duduk, mengelus kakinya. Kenapa ya?

Tidak ada yang kebetulan di muka bumi. Allah menggerakkan hati orang-orang untuk saling bertemu. Seperti sore itu, Alfi yang masih duduk lemas, mendengar deru sepeda motor. Semakin lama semakin dekat. Tiba-tiba saja berhenti di depannya.

Pengendara motor ini adalah seorang laki-laki tua yang baru pulang kerja. Dia iba melihat Alfi. Segera saja kedua tangannya mengangkat tubuh Alfi.
Alfi menjerit. “Kakiku!”

“Kenapa?” Laki-laki itu melihat kedua kakinya. Tak ada luka.

“Sakit.”

Alfi meringis menahan sakit. Dia harus pulang. Kalau tidak digendong seperti ini pasti dia tidak akan pulang.

Langit semakin gelap. Hembusan angin membuat rasa sakit ini semakin menjadi-jadi. Rintik hujan menemani kepulangan Alfi.

Nenek tergopoh-gopoh menemuinya. Alfi didudukkan di sofa. Tangisnya pecah. Tidak bisa. Kaki Alfi harus diselonjorkan saja. Alfi tiduran diatas sofa. Kakinya masih menyisakan nyeri.

Yang terbersit di benak nenek adalah memanggil tukang urut saja. Nenek sudah menelepon bunda tapi sayangnya tak kunjung ada jawaban. Mungkin sore ini bunda sedang dalam perjalan pulang.



Setelah laki-laki yang menolongnya pulang, ustadzah Fida datang. Wajahnya selalu cerah. Dia terkejut melihat keadaan Alfi. “Cepat sembuh ya,” kata ustadzah Fida sambil membelai lengannya.

Ustadzah tidak membawa kartu ataupun alat tulis. Tak ada hadiah. Tidak pula mengajari kak Amel. Dia hanya sebentar saja mampir ke rumah. Dia membawa undangan berwarna krem. Ada gambar bunga di sisi kirinya.

Alfi memandang langit-langit rumahnya. Masih berwarna putih. Masih bersih. Kecuali dinding yang sudah berwarna-warni. Nenek masih sibuk menekan nomor ponsel. Entah menghubungi siapa lagi. Kak Amel duduk di depannya. Tak ada suara. Lalu bangkit mengejar ustadzah Fida di ambang pintu.

Liburan seharusnya buat bersenang-senang. Mungkin teman-temannya seperti itu. Sedangkan Alfi,  kini tak berdaya. Pengalaman seru apa lagi yang akan terjadi.

Alfi menghela nafas. Diliriknya undangan yang tergeletak diatas meja di depannya. Semacam undangan pernikahan. Ustadzah Fida dengan laki-laki itu... Hatinya perih menyaksikan orang yang pernah dekat dengannya perlahan menjauh. 

#blogtobook

^_^
Comments
8 Comments

8 comments:

  1. Alfi jangan sediih ustazah cuma nikah kan? Aku suka ceritanya, manis

    ReplyDelete
  2. pasingnya terlalu cepat. dinikmati aja alurnya saat menulis :)

    ReplyDelete
  3. Baca bagian ikut berjualan di kios jadi ingat masa kecilku. Sama juga ingin bantu ibu di pasar tapi ujung-ujungnya numpang tidur aja

    ReplyDelete
  4. ayoo Alfi jangan sedih. Cari temen lagi yang lebih banyak. Eh,

    :D

    ReplyDelete

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Maaf, jika ada link hidup akan saya hapus!

COPYRIGHT © 2017 · LOVELY MOM | THEME BY RUMAH ES