Friday, January 20, 2017

Kampung Jodipan (Kampung Warna-Warni)





Assalamualaikum,

Sudah beberapa bulan lalu ingin menulis kampung Jodipan. Sejak sering berkunjung ke Malang akhirnya tulisan traveling saya banyak yang membahas seputar Malang Raya.

Kampung Jodipan ini terlihat mencolok sekali dari jalan raya. Maka, tak heran jika banyak pengendara motor maupun mobil yang berhenti sejenak di tepi jembatan. Lalu cekrek!



Nah, gambar diatas menunjukkan pentingnya untuk mengabadikan warna warni rumah warga di kampung Jodipan. Spot yang satu ini makin ngehits saja. Sekedar lewat, foto-foto sebentar dan jalan lagi. Termasuk yang sedang jalan kaki, biasanya melirik sejenak ke kampung yang dicat dengan warna-warna yang cerah.




Sejarah terbentuknya kampung Jodipan ini tak lepas dari ide kreatif sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang yang sedang melakukan praktikum Public Relations Ilmu Komunikasi. Kelompok mahasiswa yang tergabung dalam kelompok Guys of Public Relations (bisa dilihat di IG @guyspro) ingin agar kampung kumuh yang terletak di bantaran sungai Brantas ini menjadi menjadi bersih. Nah, mereka memilih untuk membuat sesuatu yang beda.  Dengan menggandeng Decofresh, sebuah produsen cat di Malang, akhirnya tercipta sebuah kampung warna-warni.

Diresmikan pada tanggal 4 September 2016, kampung ini selalu ramai pengunjung lokal maupun mancanegara. Terutama weekend dan musim liburan.

Kampung Warna–Warni vs Kampung Tridi

Sebagai seorang pengunjung, saya pikir bahwa semua rumah yang berwarna-warni termasuk ke dalam Kampung Warna. Ternyata tidak teman-teman! Jadi begini, yang kampung warna-warni adalah kampung yang berada di 3 RT yaitu 6,7,9 di wilayah RW 02 Kelurahan Jodipan, Malang. Lokasinya dapat terlihat dari jembatan embong Brantas (Jl. Gatot Subroto) sekitar 500 meter dari stasiun kota Malang.

Nah, saya kira sama saja dengan di kampung di sebelahnya, yaitu kampung tridi (3D). Di Kampung tridi ini rumah-rumah warga dicat warna-warni dan dihiasi gambar 3 dimensi (lukisan mural). Ada brand Decofresh juga. Jika jeli, kita bisa melihat atap Kampung Tridi yang dicat dengan warna lebih teratur per barisnya. Sedangkan di Kampung Warna, atap waga dicat secara acak.

Jujur, saya baru tahu dari warga yang bertugas menjadi penjaga tiket masuk bahwa di kampung tridi adalah ide dari Walikota yang ingin agar kampung ini sama warna-warninya. Jadi dana untuk pengecatan dan lain sebagainya menjadi tanggung jawab Pemkot. Dan saya pernah masuk kesini tanpa dipungut biaya.

Sedangkan kampung warna-warni ini sudah tidak mendapatkan kucuran dana dari brand cat lagi. Jadi kalau kita membayar tiket sudah termasuk untuk biaya perawatan, inovasi gambar, kebersihan, dll. 

Foto-foto dari Kampung Tridi







Di kampung tridi ini kita bisa menemukan gambar-gambar tiga dimensi yang tampak hidup, menghiasi dinding-dinding rumah warga. Mulai dari gang masuk perkampungan, gambar-gambar tridi layak dijadikan spot foto selfie.



So, itulah sekelumit perbedaan kampung warna-warni dan kampung tridi.

Untuk menjaga kebersihan di area rumah warga menjadi tanggung jawab pemilik rumah, sedangkan di jalanan merupakan tanggung jawab bersama. Seperti ketika pagi itu saya melihat beberapa laki-laki yang sedang bergotong-royong membersihkan dan melakukan perawatan kampung. Untuk pengecatan biasa dilakukan oleh warga (karang taruna). Sedangkan untuk gambar, mereka menyewa tukang gambar.

Kabarnya, Kampung Warna ini menggunakan 17 macam warna dengan gambar yang dilukis oleh komunitas mural. Saya melihat catnya sudah mulai luntur. Sudah waktunya dilakukan pengecatan ulang. Karena kampung ini menjadi tanggung jawab bersama, maka tak ada yang keberatan untuk melakukan perawatan.

Ada apa di Kampung Warna?



Memasuki kampung ini, teman-teman akan disambut oleh payung-payung yang tergantung di atas jalan. Iya, jalannya sempit, kadang landai kadang naik turun. Ada tangga dan jalan untuk sepeda motor.



Jika sedang menjelajah kampung dan lapar, jangan khawatir, banyak warung disini. Murah banget!  Saya sempat bertanya kepada mbak-mabak penjaganya, “Apakah tidak dibuatkan tempat buat nongkrong saja agar para pengunjung bisa duduk santai sambil menikmati segelas kopi?”

“Belum ada rencana. Begini saja sudah capek,” kata mereka.

Setiap harinya pengunjung bisa mencapai ratusan. Tidak ada jam buka maupun tutup. Jam berapapun, tetap boleh masuk. Tapi sebaiknya jangan malam-malam, kasihan yang jaga tiket. Kalau pagi sebaiknya mulai pukul 06.00. Di waktu tersebut, warga sudah mulai bersiap menyambut pengunjung. Tapi untuk warung, sepertinya belum ada yang buka.





Dan masih banyak lagi gambar-gambar menarik disini.






Urusan tiket ini dipegang oleh ibu-ibu secara bergantian. Ketika saya datang, pagi itu belum ada penjaganya. Tak lama, seorang wanita menyapa dan meminta untuk membayar tiket masuk.

Harga tiket



Cuma Rp 2.000

Murah bukan. Dengan uang itu kita (para pengunjung) bisa ikut membantu memajukan perkonomian warga. Beberapa warga membuka warung makan, minuman dan mengelola tempat parkir.

Parkir

Tempat parkirnya agak susah ya. Karena memang tidak disediakan lahan yang luas. Tapi jangan khawatir, nanti ada warga yang akan mengarahkan kita.

Sepeda motor Rp 2.000
Mobil             Rp 5.000

Saya pikir lokasi parkirnya sama saja dengan Kampung Tridi. Jadi dua kali ke lokasi dengan memarkir mobil di pinggir jalan yang merupakan wilayah kekuasaan Kampung Tridi. Belum ada penjaganya. Tapi tiba-tiba ada seorang laki-laki yang meminta uang parkir Rp 10.000. Jelas saja saya tolak. Saya pernah kesini dengan membayar Rp 5.000. Jadi tidak ada alasan untuk menarik biaya seenaknya.

Di kampung warna ini ada tiga pintu masuk. Mulai dari RT 09 yang dekat jembatan, selanjutnya RT 07. Satu lagi RT 06 yang biasa disebut kampung lampion. Ini sih karena banyak lampion yang tergantung di atas jalan. Mungkin kalau malam kelihatan cantik ya.


Kampung Lampion
















Perpustakaan Mini




Ada perpustakaan mini yang terletak di RT 09. Hari masih pagi tak ada warga disekitar, padahal saya mau melihat koleksinya. Pintu kotak saya tarik barangkali saja bisa terbuka. Ternyata tidak. Ya sudahlah. Cari fotonya saja. Masih sepi.

Kita bisa berfoto-foto dengan latar gambar-gambar dinding. Ada banyak gambar menarik, seperti tokoh kartun, wayang, pahlawan, binatang, dsb. Sedangkan di Kampun Tridi, gambar-gambarnya lebih banyak lagi. Cakep-cakep juga.

Bersih

Kampung warna-warni ini benar-benar berbenah. Sudah banyak perubahan yang dilakukan warga sehingga kampungnya layak untuk dikunjungi. Seperti sampah, seringkali saya temukan di berbagai sudut tempat wisata. Namun atas kesadaran sendiri warga disini memperhatikan dan menjaga kebersihan lingkungan. Pagi-pagi sudah bersih-bersih halaman. Genangan air disapu sehingga tidak mengganggu pejalan kaki. Para pengunjung dihimbau tidak membuang sampah sembarangan. Disediakan tempat sampah di beberapa sudut kampung.

Sejak kedatangan para pengunjung, warga tidak lagi membuang sampah ke sungai. Masalah sanitasi diperbaiki.  Semoga saja semakin baik di masa mendatang.

Daerah sepanjang sungai di kampung ini rutin dibersihkan. Jadi meskipun air sungainya berwarna coklat dan keruh, yang penting tidak menimbulkan aroma menyengat. Tentunya ini butuh perjuangan dan tidak bisa instan.



Harapan

Sebagai salah satu tujuan wisata, tak heran jika warga Kampung Warna Warni ini menaruh harapan besar agar kampung ini makin maju, bersih dan aman. Aamiin.
Happy traveling!

^_^

Comments
42 Comments

42 comments:

  1. Kampung warna warni ini emang bagus banget mba. Sering baca juganih tentang ini. Asyik buat dijadiin tempat foto-foto. Hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mba. Gambarnya bagus-bagus di kampung Tridi dan Kampung Warna.

      Delete
  2. Replies
    1. Sejak dijadikan lokasi wisata, perilaku warga berubah menjadi lebih baik.

      Delete
  3. Unik dan kreatif. Acung 4 jempol. Sukaaa sama idenya..walaupun perkampungan padat tapi menarik dikunjungi. Beda sama stereotip selama ini. Padat biasanya identik dengan kumuh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini ceritanya yang muda yang berkarya. Tentu sangat bermanfaat terutama untuk warga.

      Delete
  4. Pernah lihat d tv. Jika dikelola dgn baik jd nyaman bwt dikunjungi. Apalagi bersih dan warganya ramah

    ReplyDelete
  5. andai semua kampung kampung di Indonesia mau berbenah seperti kampung ini insyallah Indonesia penuh dengan warna warni keindahan.

    ReplyDelete
  6. Pernah nonton tentang kampung ini di kick andy. Kreatif bgt ya ide nya sekarang kayanya makin keren

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lagi ngehits lokasi wisata ini.

      Ada tiket masuknya buat biaya perawatan,inovasi gambar dan kebersihan.

      Delete
  7. kota yang lagi ngehits, saya liat teman saya yang di Malang ngepost ini di IG nya dan saya penasaran perasaan sering ke Malang tapi kok nggak tau ini ya
    Insya Allah bulan depan kami mudik, mudahan sempat kemari deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga bisa jalan-jalan kesini ya mba Lidha.

      Delete
  8. Waah kampungnya lucuuu. Kapan -kapan pengin ke sana.Asyik ya mbak buat foto-foto.

    ReplyDelete
  9. Ini warbiyasaaaaak!! Keren dan patut dikunjungi! Duh jadi pengin ke Malang :( Idenya sukak banget, akhirnya para warga juga punya penghasilan lebih ya mak..
    Kayak di Rio de Jeneiro kalo lihat ini :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayak bukan di Indonesia....padahal di Malang. hihihi...

      Delete
  10. waah idenya keren, kreatif banget. terus kampungnya jadi hidup dan bersih banget ya... semoga ide ini menular ke tempat yg lain juga. warga pun jadi selalu penuh semangat ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga semakin banyak kampung-kampung yang bersih.

      Delete
  11. Tahun lalu ke Malang belum ada Kampung Jodipan Mba, aah aku harus balik lagi ke Malang biar bisa kesini nih.. Kayaknya bahagia banget ya tinggal disini hihi

    ReplyDelete
  12. ini spertinya malang punya ya... saya tau waktu ke malang dulu. bagus banget... sungainya juga bersih banget..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya di Malang. Sungainya keruh, tapi di sekitar sungai mulai rajin dibersihkan.

      Delete
  13. Sumpah cakep bangetttttt. Malah kliatan bgs di cat warna warni gini ya mba.. Sukur kalo warganya udh pada sadar utk ga buang sampah k sungai, biar ttp terjaga kampungnya

    ReplyDelete
  14. Kamera mana kameraaa ...aku mupeng banget mbaaak...tempatnya asik banget buat diphoto..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau mba Dewi yang motret pasti cakep banget. Sukak! Apalah aku...*tutup muka.

      Delete
    2. Ha ha ha..nggak lah mak..dikau yang moto juga bagus banget looh :)

      Delete
  15. Woooow luar biasa. Harusnya di tiap indo ada kampung spt ini. Bkn cuma untuk menarik minat wisatawan tp budaya hdp bersih & tertib hrs digalakkan

    ReplyDelete
  16. Ini seperti tempat wisata ikonik mancanegara di Santorini, Itali yang femes itu ya.
    Idenya sungguh luar biasa!
    Mendatangkan manfaat bagi warga di sana.

    Kampung warna-warni, bagus yah, namanya.

    ReplyDelete
  17. jadi terlihat indah, ya, mbak. Mirip seperti salah satu kota di Brazil kalo gak salah. Lupa lagi.

    Salam kenal Mbak Nur :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup. Dari jalan raya tampak ngejreng. Secara tak langsung mengundang siapapun penasaran pengen mampir.

      Delete
  18. Duhh mantaf juga yah tempatnya nih mba..jadi pengen kesana nih penasaran kaya gimana liat kampung yang berwarna-warni mba

    ReplyDelete
  19. Aku asli Malang, tapi pas dulu jadi warga Malang, belum ada mbak. Ehh udah banyak baca dan sempat masuk TV juga sih daerah Jodipan ini. Pengen deh kalau mudik nyempetin diri dan ajak keluarga mampir. Ahh semoga bisa keturutan ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh ya. Malang memang keren ya. Banyak tempat wisatanya. Semoga bisa mampir ke kampung Jodipan.

      Delete

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Maaf, jika ada link hidup akan saya hapus!

COPYRIGHT © 2017 · LOVELY MOM | THEME BY RUMAH ES