Friday, February 9, 2018

Kerajinan Perak Kotagede, Yogyakarta



Kerajinan Perak Kotagede



Kotagede dikenal sebagai sentra kerajinan perak. Salah satunya adalah Ansor’s Silver. Kalau biasanya saya menulis wisata alam, kali ini wisata belanja. Kalaupun tidak belanja, boleh kok melihat-lihat ada apa di Ansor's Silver ini. Lokasinya sangat mudah dijangkau dan ramai pengunjung terutama di musim liburan. Ansor’s Silver ini menempati bangunan klasik yang terawat dengan baik. Demikian juga perabot didalamnya, klasik.


Baca juga Jurang Tembelan, Yogyakarta...

Sepintas saya ragu. Saya mengatakan tujuan saya ke Kotagede. Mau mampir ke kerajinan perak. Tapi tak tahu tujuan pastinya (Ini mau jalan kok tidak niat banget ya!). Nah, taksi online yang saya pesan mengantarkan ke Ansor’s Silver karena tempat ini biasa digunakan sebagai jujugan wisatawan. “Biasanya orang-orang kesini, bu,” katanya. Saya percaya saja. Toh, dia lebih mengenal daerah Yogya daripada saya. Dan karena saya tidak memiliki banyak waktu untuk blusukan ke tempat-tempat lain, saya rasa di Ansor’s Silver ini cukup menjawab keingintahuan saya.

Kerajinan Perak Kotagede


Begitu turun dari taksi online, area parkir penuh dengan kendaraan. Ya, bisa jadi tempat ini memang sudah biasa dijadikan lokasi belanja wisatawan. Pandangan saya langsung tertuju pada bangunan klasik yang besar, menghadap ke jalan raya. Sekar Kedhaton. Kok, orang-orang ramai memasuki bangunan itu. Saya ikut saja dan ternyata resto.

Saya tidak memiliki rencana buat makan-makan. Tujuan saya ke tempat kerajinan perak. Ingin tahu seperti apakah proses pembuatannya hingga benda-benda yang diproduksi. Jadi saya keluar dan clingak-clinguk sambil membaca tulisan yang tertera di dinding pintu masuk setiap bangunan.

Oww... ternyata lokasi kerajinan perak ada di depan. Dekat pintu masuk tadi. Memasuki galeri silver saya langsung disambut oleh seorang guide yang ramah. Si mbak ini bertanya apakah saya bersama rombongan. Saya jawab tidak.

Kerajinan Perak Kotagede


Saya pikir saya akan dibiarkan saja. Saya hanya berdua dengan si sulung (dia bagian motret). Pengunjung lainnya? Ehm.... ada sih beberapa orang yang bergerombol dibelakang dan masih menunggu teman-temannya lengkap. Saya clingukan lagi, barangkali si mbak yang diam saja ini menunggu pengunjung lainnya.

Ternyata... saya tak perlu menunggu lebih lama lagi. Si mbak guide langsung memandu saya, menjelaskan banyak hal tentang proses pembuatan benda-benda kerajinan dari perak. Mulai dari bahan yang digunakan hingga rumitnya proses pembuatan oleh para pengrajin.

Produk Ansor’s Silver ini menggunakan biji perak murni (100%) yang dicampur dengan biji tembaga (7,5%). Campuran perak dan tembaga ini dimaksudkan agar mudah dibentuk. Karena perak murni sangat sulit untuk dibentuk, dan mudah pecah. Setelah dicampur, kandungan perak sebesar 92,5% ini diolah, dibentuk berbagai benda-benda menarik yang siap dijual. 

Disini para pengunjung bisa melihat alat-alat yang digunakan untuk memproduksi benda-benda kerajinan perak. Peralatannya mulai dari yang kecil hingga besar. Ada juga semacam sisir yang digunakan untuk membuat serabut perak. Jadi perak bisa dibuat super kecil seperti rambut. Lalu dibentuk sesuai dengan pola. Aduh... tidak terbayang juga betapa kerajinan perak bisa cakep-cakep seperti ini.

Kerajinan Perak Kotagede


Oh, ya, kita boleh mengambil foto para pengrajinnya. Beberapa alat yang sepertinya sudah tua banget diletakkan begitu saja. Saya berkesempatan melihat aktivitas para pengrajin yang sedang membuat cincin. Begitu rumit. Satu lingkaran super kecil dibentuk melingkar perlahan. Kemudian setelah terkumpul bulatan-bulatan kecil, digabung hingga membentuk cincin yang complicated. Jadi kalau biasanya saya melihat bentuk cincin yang untuh, kali ini tidak. Ada banyak model cincin dengan kombinasi bentuk yang beragam. Semuanya unik dan rumit.

Sampai disini saya merasa terharu. Hanya sebuah cincin yang ukurannya kecil membutuhkan ketelatenan, ketrampilan dan kreativitas yang luar biasa. Harus pelan-pelan agar produk tidak rusak.

Kadang kita sebagai konsumen merasa bahwa produk-produk kerajinan tangan itu harganya mahal. Ada baiknya jika sedang ada waktu, kita melihat sendiri bagaimana para pengrajin menghasilkan suatu produk. Saya kadang penasaran juga dengan penghasilan pengrajinnya. Akankah harga mahal sebuah perhiasan berbanding lurus dengan pendapatan mereka? Entahlah...





***

Mbak guide ini mengajari saya bagaimana cara membersihkan benda-benda dari perak. Dengan menggunakan lerak – biji-bijian yang biasa dipakai untuk mencuci kain batik tulis – sebuah benda dari perak (perhiasan) digosok dengan sikat kecil dan busa dari lerak tadi. Perlahan saja dan sebentar. Taraa... benda tersebut menjadi kinclong lagi.

Baca juga Puncak Kebun Buah Mangunan, Yogyakarta...

Cara merawat perhiasan dari perak (bukan perhiasan saja, namun benda-benda lain yang bahan bakunya adalah perak):

  1. Rendam perak dalam air panas (sekitar 15 menit)
  2. Basahi buah lerak dengan air
  3. Kupas sedikit kulit luar lerak dan sikat sampai berbusa
  4. Bersihkan perak dengan busa lerak
  5. Buah lerak ini bisa digunakan lebih dari sekali.
Barangkali ada yang bingung, ingin membersihkan perhiasan perak dengan apa dan bagaimana, bisa menggunakan lerak ya. Cara diatas semoga bisa membantu, ya. Membersihkan perak dengan bahan alami seperti lerak ini tidak memiliki efek buruk apapun. Jadi tetap aman. 

Produk perak seperti foto dibawah ini sangat indah. Gambar ikan arwana yang begitu detail. Ada banyak hiasan dinding seperti candi borobudur (ada juga miniaturnya), wayang, miniatur kapal, dsb yang rumit dan detail. Terlihat sekali bahwa proses pembuatannya tidak mudah. Dibutuhkan ketelitian untuk merangkai serabut-serabut perak hingga berbentuk seperti ini. Setiap melihatnya saya mengagumi kehebatan para perajin perak.

Karena tidak membeli hiasan tersebut, saya lebih suka mengamatinya pelan-pelan. Beberapa gambar berhasil difoto si sulung. Anggap saja sebagai kenang-kenangan ketika main ke Ansor's Silver.

Untuk harga? Sepandanlah dengan tingkat kerumitannya.

Hiasan dinding dari perak


Lanjut ya...

Setelah melihat proses produksi, saatnya saya melangkah ke showroom perak. Ada banyak benda-benda yang terbuat dari perak. Mulai dari hiasan dinding, cendera mata, aksesoris, perhiasaan seperti cincin, gelang, anting-anting, kalung. Aduh, cakep-cakep dan membuat lemah iman. Saya tak berdaya.

Sebelum memasuki ruangan ini saya sempat bertanya kepada si mbak guide, “Bisa terima debit?”

Ternyata bisa. Jadi ceritanya, uang cash sedang minim, takutnya ingin belanja ditolak. Lebih baik bertanya dulu. Karena pernah sih kejadian, saya sudah pilih-pilih barang dengan girangnya kemudian kartu ATM ditolak. Ketika menuju meja kasir, “Hanya menerima uang cash!” Gubrak! Mendadak jantung berdebar.

Bros


Di showroom ini pengunjung bebas melihat, bahkan menyentuh, mencoba memakai (juga tidak apa, kok) perhiasaan di etalase. Yang ingin bertanya kandungan peraknya seberapa juga boleh. Yang mau mencari perhiasaan murah sampai mahal juga ada. Atau barangkali mau memasan perhiasan juga bisa.

Si mbak guide juga menjelaskan benda-benda yang pernah dipesan kaisar Jepang sewaktu berkunjung ke Indonesia. Ada bros dengan bunga-bunga yang melambangkan persahabatan Indonesia dan Jepang. Keren karena begitu melihat dari dekat rumit banget hiasannya!

Jadi pilih yang mana? Saya melirik etalase cincin untuk wanita. Ada yang dihiasi dengan batu permata. Ada yang seluruhnya perak dengan ornamen yang indah. Semuanya menarik. 

Seorang ibu di samping saya, galau sedemikian rupa dengan cincin pilihannnya berulang kali ganti cincin. Satu dicoba di jari manis, beberapa saat kemudian ganti lagi. Beberapa kali memanggil suaminya, meminta pendapat, apakah cincinnya sudah cocok. Satu wadah dengan berderet cincin membuatnya gundah.

cincin perak


Si mbak yang melayani ini sabar, mengeluarkan dan memasukkan setiap wadah cincin yang selesai dicoba. Entah sudah berapa kali mencoba, namun hati belum kunjung sreg. Ya, begitulah, masalah memilih bagi wanita memang butuh waktu lebih lama daripada sesi mendengarkan penjelasan si mbak guide.

Kalau membeli perhiasan perak disini, kita mendapatkan dua buah lerak, surat pembelian dan kotak perhiasan. Anggap saja lerak itu sebagai bonusnya. Semuanya dimasukkan ke dalam tas kecil. Kotaknya biasa saja, terbuat dari kertas karton, kecil. Entah kalau perhiasaannya mahal, mungkin kotak perhiasannya lebih bagus lagi. Eaa...

Nah, kalau ada surat pembelian itu bisa dipakai untuk menjual perhiasan kita. Ini kalau ada rencana buat dijual lagi. Tapi tetap di tempat jual beli perhiasan perak ya.

Sabun mandi


Setelah ruangan ini, saya lanjutkan saja ke ruang berikutnya. Disini ada banyak souvenir cakep yang begitu khas. Cocok juga kalau belanja oleh-oleh. Mulai dari sabun mandi, aromaterapi, tas, dompet, gantungan kunci, hiasan dinding, post card, dsb. Beberapa diantaranya dibuat dengan gambar yang khas Yogya.

Saya tergoda dengan sabun mandi warna-warni sesuai dengan bahan pembuatnya dan message oil (aromatherapy). Untuk harga lumayan mahal (menurut saya sih). Sayangnya pada bagian ini, si mbak guide tidak bisa menjelaskan dengan detail. Jawabnya karena dia belum pernah mencoba sabun-sabun yang dijual. Tentu akan sulit menjelaskan aroma, rasa dan tekstur sabun. Kalau tentang khasiat, pasti semua pengunjung bisa membaca pada label sabun.

Untuk satu bungkus sabun mandi yang berisi 3 potong sabun dengan kandungan minyak kelapa dan aroma (lemon, stowberi, dsb) saya harus membayar Rp 84.000. Satunya lagi yang lebih murah seharga Rp 60.000. Tapi memang keduanya berbeda dengan sabun kebanyakan. Lebih enak saja, kulit lebih harum alami dan kenyal. (bukan beauty blogger) Sedangkan message oil aroma jasmin ukuran 100 ml seharga Rp 75.000. Aromanya terasa banget. Lembut dan alami. Saya suka memakai untuk pijat.

Nah, ketika tiba di meja kasir, ada beberapa produk cokelat merk Tugu. Jadi di Ansor’s Silver ini lengkap banget. Tidak perlu ke tempat lain. Cukup satu tempat untuk memenuhi keinginan belanja pengunjung. Selain memang memanjakan pengunjung dengan produk silver, ada cafe, resto (Sekar Kedaton), souvenir. Produk cokelatnya dengan merk Tugu (Tugu Chocolate) memiliki beberapa varian rasa (untuk cokelat batangan). Ada juga cokelat bubuk. Saya membeli satu bungkus cokelat bubuk. Sudah saya pakai untuk membuat brownies. Lebih hitam dan pekat dengan aroma cokelat yang lebih khas dari cokelat di pasaran. Ada lagi produk baju dengan merk Bajoe Djogdja. Saya mendapat voucher tapi ya sudah tidak saya belanjakan. Rasanya kok saya didorong terus untuk belanja dengan voucher-voucher ini. Setelah voucher cokelat tadi saya tutup acara belanja di Ansor's Silver.

Lokasi:

Jl. Tegalgendu No. 28 Kotagede Yogyakarta, 55173

Note:

Selain tempat-tempat besar yang menjual perhiasan perak, ada banyak pengrajin perak di Kotagede. Kalau mau blusukan sebenarnya masih ada banyak pengrajin di gang-gang. Biasanya di depan gang ada tulisannya. Tinggal kita masuk ke dalam dan mencari tempatnya.

Happy shopping!

^_^
Comments
14 Comments

14 comments:

  1. Kadang saya enggak habis pikir, di Jogja itu, orang-orangnya super kreatif tanpa batas. Segala sesuatunya bisa diciptakan sebagai kerajinan yang mempunyai nilai jual dan tetap dengan keindahan yang tentunya nyentrik.. duh.. jadi pengen ke Jogja lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yogya identik dengan barang-barang kerajinan yang khas.

      Delete
  2. Jadi pengen jalan-jalan lagi ke jogja setelah membaca tulisan dari mba

    ReplyDelete
  3. Mbak..aduh bagus-bagusnya ..memang kreatifitas layak dihargai dengan pantas.
    Saya pernah ke Kotagede jaman kuliah dulu, kunjungan tentang pengrajin perak ini..Tapi belum sebagus sekarang, ada one stop shopping dan layanan tour untuk wisatawan..Keren! Bisa jadi wisata edukasi sembari belanja belanji

    ReplyDelete
  4. Ini salah satu perusahaan silver yang gede dan kuat bertahan di Kotagede mba. Berawal dari perak, kemudian diversifikasi ke usaha resto+coklat

    Dulu...sebelum krismon 97, buanyak banget sentra kerajinan perak di Kotagede, dari skala kecil mpe skala besar.

    Ada sebuah jalan di kotagede, jl. Kemasan... Pas aku blm pindah domisili ngikut suami, kanan-kiri jalan rata2 gallery silver semua. Entah klo sekarang..

    Mbaca postingan ini aku jadi kangen sama Kotagede.. lama ga lewat😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, besar mba. Setelah dari Ansor's Silver ini aku jalan kaki disekitarnya. Aku lihat masuk ke gang ada juga galeri silver rumahan.

      Delete
  5. Saya jadi penasaran dengan dapur pembuatan perak, Mbak. Misalkan beli cincin gitu itungannya dari berat atau modelnya Mbak?
    Baru tau perhiasan perak bisa dijual lagi hehe..
    Seandainya gak pengen beli perhiasan tapi masuk ke dalam lihat-lihat cara pembuatannya boleh gak ya? Hihi.. Gak yakin juga sih bakalan gak beli, barang beginian bikin hati lemah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh kok mba Yun, lihat proses pembuatannya. Nggak ada paksaan buat beli. Tapi kalau pabriknya, aku kurang tahu. Pengunjung biasanya hanya melihat beberapa pengrajin di galeri. Yang khusus untuk ditunjukkan kepada umum sih.

      Kalau beli cincin (perhiasan perak lainnya) harga sesuai dengan kadar peraknya. Ada 3 macam sih (tapi maaf aku lupa). Yang paling bagus dan mahal seperti foto cincin diatas. Bisa juga dari tingkat kerumitan proses produksinya. Cincin paling murah sekitar 150,000 -200.000 ribu. Ini nggak ada permatanya.

      Delete
  6. Yaah sedih banget dlu ke yogya ga sempet main ke tempat ini hiks.. mbaaa seru banget ya liatin cara bikin cincin peraknya.. pengalaman luar biasa.. bener mba kadang kita ud dumel aja ya ko mahal bener.. padahal yang bkinnya bener2 telaten, susahnya minta ampun... makanya jangan banyak nawar nti kalau saya beli perak.. kasian yang bkinnya ya mba hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setidaknya kita bisa menghargai pekerjaan pra pengrajin ya.

      Delete

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Maaf, jika ada link hidup akan saya hapus!

COPYRIGHT © 2017 · LOVELY MOM | THEME BY RUMAH ES