Gregetnya Mengajari Matematika



perkalian

Target matematika untuk anak kelas 3 SD adalah tuntas menghafal perkalian 1 sampai 10. Itu tidak mudah teman-teman. Mungkin buat anak-anak lain, tidak perlu menunggu sampai satu tahun sudah hafal. Iya, setahun itu lama. Mestinya sudah lancar jaya perkalian ini.


Saya melihat kemampuan anak-anak saya berbeda. Ada yang memang suka dan mampu mengerjakan matematika dan ada yang sebaliknya. Yang suka dan mampu pada pelajaran matematika perlu belajar sebentar, sudah ingat dan beres mengerjakan soal-soal matematika. Ada anak yang susah banget diajak hafalan perkalian. Disitu saya merasa semua teori, tips dan trik seolah menguap begitu saja. Hamba pasrah....

Prinsip saya selama si anak bisa, tidak perlu tiap hari dipaksa dengan berbagai macam dalih untuk belajar dan ikut les. Bersenang-senang saja menikmati masa kecil. Bermain-main sepulang sekolah dengan teman-teman sebaya. Tapi kalau tidak kunjung bisa mengerjakan soal-soal matematika, orang tua ikut stress.

Bagaimana ya, kurikulum sekolah kadang tidak berpihak pada anak-anak yang memiliki kemampuan diluar akademik. Suka tak suka tetap harus belajar mengejar target KKM. Bagaimana mungkin orang tua menutup mata ketika ikut rapat yang membahas tentang ini.

Nah, tulisan ini hanyalah curhat nano-nano ibu rumah tangga yang galau mengajari matematika pada anak. Perkalian itu sudah dimulai secara rutin sejak kelas 2. Sekarang anak saya kelas tiga. Artinya sudah hampir dua tahun belajar perkalian dan tidak kunjung khatam. Ingat... lupa... ingat... lupa. Mbuhlah...

Apalagi setelah libur panjang semesteran kemarin. Ngeblank perkaliannya. Maksud hati tiap hari saya tanya perkalian, tapi kadang saya lupa, kadang anaknya melarikan diri. Mau konsisten belajar darimana kalau tidak dimulai dari orang tuanya. Jadi, Buk, Pak jangan sok sibuklah!

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya saya mengajari matematika pada anak. Saya memang tidak pintar dalam hal matematika. Tidak hafal macam-macam rumus. Namun operasi sederhana tentang tambah, kurang, kali dan bagi, insyaallah masih bisa. Ini kan semua orang juga auto bisa. Ya, kan!

Anak-anak memang masih belajar dan belum menemukan cara yang cocok untuk menghafalkan perkalian. Ya, disekolahnya ada kartu untuk setoran hafalan perkalian dua kali seminggu. Kartu ini dimaksudkan untuk memotivasi anak untuk belajar perkalian. Orang tua juga harus paham dan menyemangati anak untuk belajar.

Faktanya tak semudah itu!

Yang menjadi masalah adalah perkalian mulai angka 6-9. Kalau dulu, awal mengajari anak pakai media misalnya stik es krim, sekarang sudah tidak mungkin. Angkanya sudah besar dan harus hafal. Ingat ya hafal. Bukan dihitung satu-satu. 

Masalah lainnya adalah konsep perkalian itu sendiri. Untuk soal yang langsung to the point seperti 2 x 6 = 12, lebih mudah daripada mengerjakan soal cerita. Karena soal cerita itu butuh penalaran, ini harus dikerjakan dengan cara bagaimana? Ditambah, kali, kurang atau bagi. 

Kalau ada lima soal cerita yang modelnya sama ya pasti bisa. Tapi begitu ganti, si anak bingung lagi. Dan itu bukan anak saya sendiri. Saya tidak hendak mencari teman seperjuangan, namun lebih kepada mencari solusi.

Pada pertemuan orang tua dan guru saya bertanya kepada guru anak saya, barangkali ada tips agar mudah menghafal. Seperti yang pernah saya tulis di blog, diulang-ulang. Nanti juga hafal.

Ada yang menyarankan agar ketika anak sedang bermain, ditanya perkalian. Saran lainnya, sebelum meminta anak belajar perkalian, orang tua juga harus bisa. Aduh, deh jangan tanya kita bisa perkalian atau tidak. Kalau tidak, buyar tuh jatah belanja! 

Suami menyarankan untuk ikut les saja. Tapi saya masih mikir-mikir dulu. Karena pulang sekolah anaknya sudah capek. Saya masih pengen waktu yang ada buat bermain. Belajar juga iya.

Berhitung itu penting! Sampai kapanpun! Dimanapun! Karena kita tidak bisa lari dari tambah, kurang, kali dan bagi dalam kehidupan sehari-hari. Mau belanja juga mesti memikirkan berapa budget. Mau menyiapkan sarapan juga memikirkan berapa lama prosesnya sehingga anak-anak bisa menikmatinya tanpa terlambat ke sekolah. Dan masih banyak contoh nyata lainnya.

Seberapa greget saya mengajari matematika pada anak?

matematika


Saya membuat soal-soal untuk segera dikerjakan. Sementara saya tinggalkan untuk melakukan pekerjaan rumah. Sebentar saja soal-soal tersebut sudah ada jawabannya. Saya senang dong. Lanjut saya berikan lagi soal-soal sambil diam-diam saya intip. Ternyata kunci sukses mengerjakan soal-soal tersebut adalah dengan melihat tabel perkalian yang dibagikan dari sekolah. Rasanya seperti sia-sia saja saya membuat soal!

Demi rutin belajar matematika, saya membuat soal perkalian setiap hari. tapi apa kata si anak?

“Sekarang itu nggak perkalian, buk! Tapi belajar jam. Jadi aku nggak mau kerjakan ini.”

“Terserah disekolah belajar apa. Tapi perkalian itu tiap hari.”

“Nggak ada perkalian lagi, di sekolah, Buk!”

Karena si anak menolak belajar perkalian, saya lapor gurunya. Jadi biar nyambung dengan soal-soal yang saya berikan, saya minta gurunya untuk sounding. Perkalian tetap tiap hari. Tetap saja jawaban anak ada saja.

“Ibuk, kemarin sudah belajar perkalian 6. Sudah mengerjakan soal. Ini! kok sekarang dikasih soal lagi. Jawabannya kan sama!”

Atau ketika sore hari waktu bagian belajar. “Dek, ini soalnya ya!”

“Ibuk, ada teman-temanku. Aku main dulu ya.” Katanya sambil berlari seolah takut ditinggal bermain bola.

Ibu mengalah. Selesai maghrib dan mengaji adalah jam belajar.

“Ibuk aku ngantuk. Aku boleh tidur dulu ya!”

“Nggak boleh! Tunggu abis Isya’.”

Setelah Isya’ anaknya sudah tepar.

Rasanya film komedi cocok sebagai obat sakit kepala saya. (Yang mau kasih rekomendasi film dipersilakan.) Daripada memikirkan anak yang mencari-cari alasan untuk tidak belajar matematika, mending saya ikut tidur saja.

Jadi orang tua itu harus kreatif. Satu cara tidak mempan artinya kami harus mampu mencari cara lain. Kalau menunggu moodnya bagus, bisa sampai minggu depan juga tidak mau belajar. Lalu, saya harus bagaimana lagi?

Oh ya, kemarin ada ibu yang bercerita bagaimana anaknya belajar matematika. Di sekolah belajar matematika itu ada lagunya. Mungkin sedang ngetrend ya, belajar menghafal dengan cara bernyanyii. Nah, begitu hendak mengerjakan soal, anaknya langsung bernyanyi dulu. Aduh, kalau menyanyi itu dimulai dari 1 x 1 = 1, lanjut dua, tiga, dsb, butuh waktu berapa lama. Mungkin saya bakal tertidur duluan.

Ada juga yang menyarankan untuk memberikan pertanyaan saat anak sedang bermain. Kalau diterapkan pada anak saya bakal kacau. Pertama dia memikirkan mainannya. Kedua hafalan perkalian yang lupa. Kemudian mood anak anjlok. Akhirnya marah karena penampakan legonya tidak sesuai dengan harapan.

Tidak berhenti disitu, loh! Bagaimana kalau dia meminta saya membuat sesuatu dari legonya. Saya menyerah saja!

Beberapa minggu ini saya buka channel youtube untuk belajar matematika. Hasilnya, anak saya khusyuk menonton youtube. Baguslah untuk belajar jarimatika. Tapi tetap kan walaupun disitu dikatakan caranya mudah, namun  si anak menghitung, tambah dan kali. Butuh waktu sepersekian menit untuk menghitung. Tidak bisa langsung hafal.


Well, jika teman-teman memiliki tips untuk belajar matematika untuk anak SD, please share disini ya.  Buat orang tua yang setia mendampingi anak belajar, apapun hasilnya, semoga selalu tabah dan sabar. Terima kasih .

^_^

3 Komentar untuk "Gregetnya Mengajari Matematika "

  1. Metode menghapal pake lagu kayaknya boleh juga, mbak. Soalnya si anak kalo terbiasa nyanyi lama2 bakal hapal liriknya. Kalo sudah hapal lirik, maka nanti nggak perlu nyanyi dari 1x1 buat menuju ke 7x5, biasanya langsung terngiang di kepalanya

    BalasHapus
  2. Kebayang pusingnya yaa mba.. hduh.. anakku gimanaa nanti... hehe... kalo ipar sy dr awal memang anaknua nggak disuruh hapal.. tapi dibuat logika misal 4x3 jadi 4 nya ada 3 kali. Si anak cuma hitung penambahan 4+4+4 ... lama2 nanti dia hapal sendiri., memang awalnya jadi lama banget.. tapi itu lebih efektif sih... akhirnya skrg anaknya ikut olimpiade matematika di sekolah,

    BalasHapus
  3. Saya suka matematika. Kuliah pada jurusan yg bnyk matematikanya.
    Tapi gak sanggup ngajarin anak. Bawaannya emosian mulu hehehe.


    Salut sama para guru yg dengan sbar mengajari anak2 di sekolah

    BalasHapus

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. ^_^

Mohon maaf, jika ada link hidup, anonymous atau broken link akan saya hapus!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel