Bersahabat dengan Anak




Suatu hari, seorang teman bercerita tentang anaknya yang mondok. Biarpun berjauhan, namun komunikasi tetap lancar. Yang terpenting, teman saya sangat terbuka dengan anaknya. Sehingga obrolan ringan sampai masalah yang sedang dihadapi pasti diketahuinya.

“Ada kejadian (yang berkesan) apa di sekolah pasti dia cerita. Jadi aku tahu bagaimana dia di sekolah, bagaimana di berteman dan bagaimana dia bertahan di pondok,” katanya serius.

Saya menyimak dengan seksama.

“Memangnya, anaknya nggak pernah cerita?” tanyanya.

Duh, ini sepertinya menjadi pertanyaan yang menohok bagi saya.

Ketiga anak saya memiliki karakter yang berbeda. Si sulung cenderung pendiam. Saya justru mengetahui kejadian “berkesan” dari orang lain. ketika saya tanyakan langsung, anak saya santai saja menjawabnya. Saya percaya dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.

Waktu itu mau rekreasi ke Bali. Beberapa wali murid mengeluhkan anak-anak perempuan mereka. Takut cinlok! Masalah ini sampai dilaporkan ke kepala sekolah loh. Tapi anak saya menanggapinya dengan santai. “Ibu-ibu terlalu berlebihan!”

Pada waktu penerimaan rapor saya sempat curhat kepada wali kelasnya di SMP. Karena wali kelasnya laki-laki, jawabannya seperti yang saya duga. “Tidak ada masalah dengan anak ibu. Lha wong saya saja sering ketawa-ketawa sama dia. Kadang saya godain juga. Kalau tidak cerita ya tidak ada masalah. Gitu saja nggak perlu mikir macam-macam.”

Kalau kata teman, meski pendiam tetap harusnya bisa cerita apa saja. Itu harus dilatih, dirangsang dengan pertanyaan-pertanyaan agar anak mampu bercerita dengan santai, tidak merasa diinterogasi oleh orang tua. Misalnya hari ini ada kejadian apa di sekolah. Pasti ada dong kejadian yang berkesan. Meski bukan tentang dia. Tak masalah. Contohnya, ada temannya yang jatuh ketika bermain.
Memang hal-hal sepele tapi buat obrolan bersama keluarga tetap astik juga. Nah, kalau yang seperti ini saya sering kok bertanya kepada anak-anak. Kalau lagi tidak capek, tidak ada tugas sekolah, jawaban bisa panjang. Tapi kalau lagi bete, siap-siap saja dengan jawaban ala kadarnya.

Berbeda dengan kakaknya, si bungsu tanpa diminta langsung bercerita apa saja. Dia bisa bercerita tentang teman-temannya yang lucu, jahil dan menyenangkan. Kalau lagi bete dengan gurunya, dia cerita. Kadang saya merasa lucu saja. Namanya juga anak kecil, sudut pandang dia pasti sangat subyektif.

Biasanya ketika tiba di rumah, si bungsu cerita tentang teman-temannya.

“Ibu... tadi temanku tabrakan.”

“Hah?”

“Iya, si A dari timur lari-lari kemudian si B dari barat juga lari-larian. Terus tabrakan. Aku juga lari, tapi nggak sampai tabrakan. Karena aku bisa menghindar.”

“Memang kena apanya?”

“Kepalanya. Sakit. Tapi sebentar.”

“Oww.”

Menjadi sahabat anak tidak mudah. Sampai saat ini saya masih belajar menjadi ibu yang baik bagi anak-anak. Belajar mengerti mereka dan belajar memahami keinginan yang kadang berseberangan dengan saya. Bagaimanapun saya ingin menjadi orang pertama ketika mereka berkeluh-kesah dan mencari jawaban atas masalahnya. 

Jangan mudah berprasangka

Di mata anak-anak, sosok ibu bisa jadi seorang peri atau sebaliknya, monster. Jika ibu adalah peri, semoga anak-anak senang berada di dekatnya. Namun jika ibu adalah seorang monster, pastinya menakutkan. Baru melihat sosok kita saya sudah mau kabur. Takut dimarahi, takut disalahkan, dan banyak ketakutan lainnya.

Salah satu kunci untuk dekat anak adalah dengan menjauhi prasangka. Ya, prasangka itu menimbulkan efek negatif yang meracuni pikiran. Coba kalau sebentar-sebentar saya berprasangka buruk, bagaimana kalau benar-benar terjadi. Apa tidak kecewa? 

Atau menjadi seorang ibu yang mudah menyalahkan anak. Di kemudian hari, sia anak menjadi tak percaya lagi. Tak mudah untuk bercerita apa saja. Yang ada dalam pikiran anak, "Nanti juga aku disalahin."

Saya pernah seperti itu. Karena kebiasaan saja. Ketika si anak berulang kali melakukan kesalahan, kemudian ada kejadian baru. Saya langsung menuduh. 

"Bukan aku!" protes si anak.

Namun karena saya terlanjur menuduh, dia menjadi tak percaya lagi. Ya sudah, saling meminta maaf dan damai.  Memulai cara berkomunikasi agar lebih efektif tanpa prasangka. Dengan begitu, anak bisa santai ngobrol apa saja.
 
Jangan sampai mereka justru mencari orang yang nyaman untuk bercerita, kemudian tersesat dengan pergaulan tak jelas. Atau mereka jusrtu mencari pembenaran atas kesalahannya. Mencari teman seiya sekata tanpa perlu ada yang mengkoreksi.

Saya ingin menjadi sahabat yang dipercaya anak-anak. Bukan yang ditakuti. Kala mereka merasa lelah dan galau, saya ada untuk mendengarkan resahnya. Ada waktu untuk menemaninya. 

Semoga saya dan juga ibu-ibu lainnya, diberikan kesabaran dan usia untuk menemani anak-anak mengembangkan passionnya dan menjadi sahabat yang baik sampai kapanpun.

^_^


2 Komentar untuk "Bersahabat dengan Anak"

  1. Maasya allah. Jadi Ibu yang bisa dekat dengan anak memang butuh perjuangan ya, mbak. Aamiin semoga mba Rochma sehat walafiat terus

    BalasHapus

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. ^_^

Mohon maaf, jika ada link hidup, anonymous atau broken link akan saya hapus!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel