Jatuh Terduduk, Tulang Ekor Nyeri. Segera Lakukan Pertolongan Ini!




Halo teman-teman. Alhamdulillah saya bisa update blog setelah seminggu kosong. Semoga teman-teman dalam keadaan baik, sehat dan bahagia.

Sebulan yang lalu saya terpeleset di dapur. Kelihatannya sepele. Terpeleset air galon karena anak menuang air dengan sembrono. Dua anak dalam keadaan emosi. Ah, drama anak-anak seperti itu, bertengkar, rukun, bertengkar, rukun lagi.


Kejadiannya cukup cepat. Tiba-tiba saya terpeleset dan jatuh di lantai.  Saya merasa cukup keras menabrak lantai. Bruk!!!

Tahu-tahu saya sudah jatuh terlentang. Saya yang tadinya berjalan ke arah barat, eh jatuh terlentang ke arah selatan. Di dekat saya adalah rak piring, gelas, dan peralatan memasak lainnya. Alhamdulillah. Saya bersyukur, meski menabrak rak namun tidak keras. Jadi rak hanya berguncang sedikit.

Setelah saya jatuh, anak kedua saya segera menghampiri. Mengulurkan tangan. Namun, saya masih shock, lemas dan tak berdaya. Sepersekian menit akhirnya saya bisa mengatur nafas. Dengan masih menahan rasa sakit di area tulang belakang (pantat hingga punggung) dan kepala, saya meraih tangan si anak. Kemudian saya ditarik untuk bangun. Selanjutnya disuruh berdiri. Lagi-lagi saya tak sanggup.

Anak saya segera memberikan air minum. Saya meneguk beberapa kali. Kemudian berusaha untuk bangun dengan bantuannya. Sayapun berjalan ke kamar dan tiduran.

Esoknya saya banyak istirahat. Meski masih terbayang saat saya jatuh, namun saya memutuskan untuk banyak istirahat karena masih terasa sakitnya. Terutama bagian tulang ekor.

Seminggu kemudian atas saran teman, saya berangkat ke laboratorium Populer untuk rontgen tulang ekor. Hasilnya bisa saya dapatkan hari itu juga karena ada teman yang bekerja disana dan berbaik hati untuk mengurusnya. Jujur, saya tidak bisa membaca hasilnya.

Saya meminta teman (orang medis) untuk mencari tahu hasil rontgen. Sampai disini  saya mulai resah. Katanya ada tulang ekor yang patah. Aduh bagaimana ini?



Esoknya saya periksa di poli orthopedi di RSUD R. Koesma. Dokter melihat hasil rontgen dan benar saja, ada tulang ekor yang patah. Tapi kecil dan tidak membahayakan jiwa. Cuma kondisi ini cukup mengganggu.

Nyeri tulang ekor

Keluhan saya pada waktu itu adalah tulang ekor yang terasa nyeri. Apalagi kalau saya sedang duduk. Jadi tidak bisa bertahan lama dan tidak nyaman juga. Fisik saya juga menurun. Yang awalnya bisa mondar-mandir naik motor kemana-mana, jadi terbatas. Saya mengurangi banyak aktivitas agar bisa sembuh.

Secara rutin saya mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan oleh dokter. Kalau masih nyeri, saya boleh kontrol lagi.

Yang perlu diperhatikan ketika nyeri tulang ekor

* Kompres dengan es batu

Kompres bagian yang nyeri dengan es batu. Begitu kita jatuh dan ada yang nyeri, segera berikan pertolongan awal. Caranya:  es batu dibungkus dengan kain kemudian ditempelkan di bagian yang sakit. Begitu terus hingga rasa nyeri berkurang. Tidak ada dosis yang pasti. Bisa tiga kali atau lebih. Begitu terasa nyeri bisa langsung dikompres.

Untuk mengompres dengan es batu itu harus dengan kain. Jangan sampai es batu langsung ditempelkan ke kulit kita. Hasilnya tidak baik.

* Jangan dipijat

Pijat tidak meredakan semua rasa sakit. Mungkin pada waktu itu bisa. Namun tidak seluruhnya bisa menyembuhkan. Nanti saya bahas lagi masalah pijat dan kegalauan saya.

* Periksa ke dokter

Jika rasa nyeri tidak kunjung berkurang, bahkan sebaliknya semakin menjadi-jadi, segera saja periksa ke dokter. Sehingga semakin cepat penanganannya semakin baik.

* Gunakan bantal ketika duduk di tempat yang keras

Saya memakai bantal leher untuk duduk di kursi atau bangku yang keras. Bahkan ketika naik mobil dan motor saya juga memakai bantal. Dengan memakai bantal tulang ekor saya terlindungi. Bahkan ketika naik motor, dan melewati guncangan entah polisi tidur atau jalan tak rata, bantal ini membuat tulang ekor saya terasa lebih aman. Seperti ada tumpuan yang empuk.

Gara-gara membawa bantal dan memakainya untuk duduk, ada orang yang menganggap saya sedang sakit ambein.

Selama sebulan ini saya sudah tiga kali periksa ke dokter orthopedi. Sampai saat saya menulis ini, masih ada rasa nyeri namun sudah berkurang. Masalah nyeri ini awalnya cuma di bagian tulang ekor, namun kemudian menjalar ke pinggang bagian kanan, merebet ke kiri hingga atasnya lagi yaitu sebagian punggung.

Kalau kumat sakitnya bukan main. Saya elus-elus, sambil meringis, menangis. Obat pereda nyeri sepertinya tidak cukup ampuh menghalau rasa nyeri ini. Terutama di malam hari ketika tubuh hendak istirahat. Baru terasa semua aktivitas pagi sampai malam menyisakan rasa nyeri yang mendera.

Saya ambil es batu dan mulai mengompres. Begitu terus sampai reda. Sayang, reda sebentar saja. Tapi karena saya sudah capek akhirmya bisa tidur juga.

Memang dokter mengatakan tidak membahayakan jiwa, namun rasa nyeri yang sering datang tiba-tiba itu sungguh membuat saya stress. Rutinitas jadi terganggu. Saya tidak lagi mampu melakukan pekerjaan rumah seperti biasa. Kadang saya merasa mampu, tapi ketika rasa nyeri menyerang, saya tak berdaya. Mau bagaimana lagi?

Obat oles pereda nyeri

Sebelum saya periksa ke dokter, saya memakai obat oles yang dijual di pasaran untuk meredakan nyeri. Sehari bisa saya pakai berkali-kali. Namun dokter yang saya temui pertama kali mengatakan obat oles pereda nyeri yang dijual dipasaran  tidak ada gunanya. Karena yang sakit tulangnya kenapa kulitnya yang dioles obat nyeri. Jadi lebih baik mengkonsumsi obat pereda nyeri. Pengobatan dilakukan dari dalam lebih efektif untuk mengurangi nyeri.

Sekali lagi, saya mengangguk dan patuh saja ketika dokter menjelaskan panjang kali lebar tentang kasus saya.

Ibaratnya ada tulang yang patah, masa sih langsung bisa sehat seperti sedia kala. Biarpun ini kecil, tetap saja yang namanya patah itu bikin sakit. Kata dokter, dari rumah sakit tidak ada tindakan. Karena kasus ini memang sepele tapi sungguh menyakitkan. Jadi kalau melihat orang sakit (patah tulang) lebih berat dari saya, ya seperti itu juga proses pemulihan saya.

“Masak habis patah tulang, besok sudah bisa jalan. Pasti ada proses untuk belajar jalan. Pakai penyangga hingga akhirnya benar-benar bisa jalan,”  kata dokter membuat perumpamaan.

Kemudian saya datang ke poli untuk kedua kalinya dan dokternya ternyata beda. Saya dikasih obat oles pereda nyeri. Hasilnya... tidak cukup ampuh mengusir nyeri.

Selain obat-obat tersebut, saya memakai obat pereda nyeri berupa spray yang dijual di toko obat Cina. Nama obatnya Dewi Bulan dengan aroma seperti param kocok. Anak-anak bilang, baunya tidak enak. Ah, biarkan saja! Rasanya panas, sepersekian menit, rasa nyeri hilang. Tapi cuma sebentar. Kemudian kembali ke asalnya. Kalau sakit sekali, saya bisa menggunakan berkali-kali.

Periksa ke dokter orthopedi untuk ketiga kalinya



Karena sebulan ini tidak banyak perubahan, saya berusaha keras untuk berobat. Pada dokter ini, saya tunjukkan hasil rontgen dan diberikan resep obat. Pertanyaan yang sama setiap kali dokter memberikan resep, “Punya sakit maag?”

Saya  jawab, “Iya.”

Seperti dokter-dokter lainnya, saya diberikan obat sekaligus obat maag. Mungkin ada yang bingung seperti saya. Kenapa saya tidak sedang sakit diberikan obat maag?

Kalau kemarin saya pasrah saja. Sekarang saya tanya dokternya. Obat maag ini berfungsi untuk mengurangi asam lambung. Karena semua obat nyeri itu asam. Kemungkinan besar akan menambah asam lambung saya.  Sebagai pencegahannya saya harus mengkonsumsi obat maag ketika minum obat pereda nyeri.

Rasa nyeri yang berbahaya itu ketika sudah menjalar ke kaki. Ini bisa menyebabkan kelumpuhan. Jadi kemungkinan karena ada saraf kejepit. Kalau seperti itu harus dilakukan tindakan. Tapi karena saya tidak seperti itu, maka saya kudu sabar menunggu sembuh.

Senam untuk melenturkan otot

Sebenarnya saya penasaran dengan rasa nyeri di pinggang. Harusnya yang sakit tulang ekor ya tulang ekor saja. Tidak usah sampai kemana-mana. Maklumlah saya orang awam!

Dokter mengatakan bahwa penyebab nyeri bisa karena memar di dalam. Jadi bukan tulangnya saja yang sakit, otot-otot disekitarnya juga sakit. Kemudian dokter lainnya mengatakan bahwa ototnya ketarik. Sehingga keras, kaku dan menyakitkan.

Untuk mengurangi rasa sakit, selain obat yang harus diminum dan obat oles, saya disarankan untuk senam. Akhir-akhir ini saya jalan kaki sebentar saja sudah sakit pinggang. Bagaimana saya bisa senam?

Ternyata senam yang dimaksud ini sederhana. Gerakannya bisa dilakukan sambil duduk. Kemudian membungkuk ke depan dan belakang, menyamping ke kanan dan ke kiri. Masing-masing 5 kali. Diulang-ulang saja setiap hari.

Pijat dan pengobatan alternatif lain

Selama sakit ini saya sering menceritakan kepada teman-teman dekat, kerabat dan orang-orang yang saya temui. Sebagian besar menyarankan untuk segera pijat saja. Bahkan ada yang mengatakan untuk tidak usah terlalu percaya kepada dokter. Pijat lebih ampuh daripada menunggu proses pengobatan dari dokter yang tak kunjung ada hasilnya.

Ada juga yang menyarankan untuk berhati-hati memilih tukang pijat. Harus benar-benar yang bisa menyembuhkan patah tulang yaitu di sangkal putung. Selain itu ada yang menyarankan untuk periksa ke dokter saraf, terapi di rumah sakit, akupuntur, kalung, gelang magnet dan terapi lainnya.

Dari berkali-kali ngobrol dengan orang-orang, ndilalah saya bertemu dengan kerabat yang juga mengalami sakit serupa. Saya katakan serupa, karena rasa nyeri yang timbul akibat jatuh terduduk itu tidak hanya di tulang ekor, namun sampai di pinggang dan punggung. Dia sudah berobat dan masih sakit. Kemudian pijat dan masih sakit.

Minggu lalu saya ngobrol santai dengan seorang wanita yang sedang menunggu pasien dokter gigi. Sambil ngobrol saya katakan bahwa saya habis jatuh. Kemudian obrolan kami semakin hangat karena dia juga pernah mengalami kejadian serupa. Jatuh terpeleset. Kemudian pijat dan hasilnya tidak memuaskan bahkan sampai operasi.

Entahlah. Saya bukannya anti pijat. Bukan! Tapi pengetahuan saya sangat terbatas. Saya pernah pijat urut sehabis jatuh dari motor. Sampai berbulan-bulan tangan saya masih ngilu terutama ketika sedang mengangkat sesuatu. Butuh berkali-kali pijat hingga bisa sembuh.

Nah, kali ini saya galau. Takut salah mengambil keputusan dan berakibat fatal. Meski ada juga orang yang pijat sampai beberapa kali dan sembuh.

On progress

Sekarang, masalah nyeri tulang ekor sudah mulai reda. Namun saya masih memakai bantal leher untuk duduk di tempat keras. Atau kalau terpaksa duduk, tidak apa, saya hanya sebentar saja. Saya berusaha mengukur kemampuan saja agar tidak menambah rasa sakit.

Kata dokter, ini sudah termasuk ada perkembangan lebih baik.

Namun nyeri pinggang hingga punggung ketika saya beraktivitas masih saja mengganggu. Saya tidak bisa berlama-lama memasak di dapur. Mau mencuci piring saja saya harus tahu diri. Sekiranya mulai pegal dan kaku, saya harus menyudahinya. Kalau diteruskan bisa nyeri sekali.

Lebih baik banyak istirahat dan mengoleskan obat pereda nyeri atau mengompres dengan es batu. Demikian juga ketika duduk. Saya tidak sanggup berlama-lama entah itu mau mengaji, menulis di depan laptop atau membaca buku.

Jatuh terduduk, terpeleset kelihatannya sepele. Namun kalau tidak segera ditangani bisa mengganggu kesehatan juga. Saya harus percaya, sekecil apapun perubahannya adalah proses menuju sembuh.

Teman-teman yang memiliki kisah seperti saya boleh sharing di kolom komentar ya. Terima kasih.

^_^

Gambar pertama : islamindonesia







4 Komentar untuk "Jatuh Terduduk, Tulang Ekor Nyeri. Segera Lakukan Pertolongan Ini!"

  1. Dulu pernah bercandaan tarik kursi, ternyata pas jatuh terduduk efeknya ngeri juga. Ckckck

    BalasHapus
  2. Waduh mba saya pikir kemana karena belum ada update menulis lagi, ternyata habis jatuh. Semoga cepat sembuh mba, memang kalau jatuh seperti itu sangat bahaya, mungkin bisa di perbanyak minum susu supaya cepat memulihkan tulang dengan kalsiumnya. Soal param kocok, saya setuju dengan anak mba, saya pun juga ngga terlalu suka sama baunya hehehe.

    BalasHapus

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. ^_^

Mohon maaf, jika ada link hidup, anonymous atau broken link akan saya hapus!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel