Menikmati Jakarta Tanpa Macet? Coba Saja Naik MRT, Tiket Single Trip!


mrt jakarta


Assalamualaikum,

Jum’at, 8 November 2019 pukul 04.42, kereta api Agro Bromo Anggrek tiba di stasiun Jatinegara. Hampir 9 jam perjalanan dari Surabaya ke Jakarta, sesuai jadwal yang tercantum di layar gawai. Kereta hanya berhenti di 3 stasiun yaitu Tawang, Cirebon dan Jatinegara. Saya, suami dan bapak mertua tergopoh-gopoh mengambil barang bawaan. Beberapa porter menyerbu gerbong kami. Tanpa berpikir panjang, suami menerima tawaran seorang porter untuk mengangkut barang-barang kami.


Sepagi ini ibukota menggeliat. Para penumpang bergegas menuju pintu keluar. Ah, sudah masuk waktu shubuh. Kami berhenti di mushola. Porter ikut menunggu hingga kami selesai sholat. Sementara itu keluarga Bulik sudah siap di stasiun, menjemput kami.

Kami hanya memiliki waktu tiga hari di Jakarta. Kurang lama! Tapi kali ini bukan waktunya liburan. Bukan waktunya bersenang-senang. Jadwal ulangan harian si bungsu sudah berderet rapi. Kemarin saja berangkat sambil mengerjakan tugas sekolah. Saya hanya meminta izin 1 hari saja. Sehingga pelajaran sekolahnya tidak banyak terganggu.

view dari balik kaca KA
Dari balik kaca KA Jakarta - Surabaya


“Harusnya seminggu disini. Belum ke Ancol, Taman Safari,...” kata bulik ketika kami menginap di rumahnya.

Mungkin nanti kami harus membuat itinerary dulu sebelum berangkat ke Jakarta. Tapi sudahlah... kedatangan kami ke Jakarta karena bapak mertua yang sudah kangen dengan kedua saudaranya. Masalah jalan-jalan ke tempat wisata menjadi selingan atau nomor terakhir buat saya, suami dan anak.

Tempat wisata di Jakarta dan sekitarnya pasti banyak. Tidak akan selesai hanya dalam tempo 3 hari. Karena Jakarta itu luas. Saya, bukan saja harus menyiapkan mental untuk bermacet ria, namun juga fisik dan budget. Terbayang betapa kemacetan semakin menggurita. Ini hanya membuat saya tidak mood dan badan capek. Belum lagi memikirkan waktu yang tersita di jalan. Apa tidak lebih baik saya tinggal di rumah kerabat sambil menonton film?

Tapi kami jauh-jauh datang ke Jakarta cuma buat pindah tidur saja? No!

Setiap ingin ke luar rumah, saya terjebak  rasa malas dan penasaran. Malas karena jarak satu tempat dengan tempat lainnya itu jauh. Penasaran karena Jakarta terus berbenah. Ramainya pemberitaan transportasi umum yang semakin modern dan kekinian setidaknya membuat saya ingin mencobanya.

Jum’at, hari pertama di Jakarta, kami cukup dengan mengunjungi ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Suami sholat Jum’at di masjid At-Tin kemudian lanjut keliling TMII, satu putaran saja. Hari kedua, saya ingin menyerah. Melihat padatnya kendaraan di jalan membuat saya malas pergi lagi. Bahkan di jalan kampung saja, mobil berpapasan dengan mobil itu bikin saya deg-degan. Mau maju atau mundur saja susah. Harusnya salah satu mengalah. Tapi begitulah, kadang ada yang secara sadar mengalah dulu, ada juga yang sampai berhimpit, barulah salah satunya terpaksa mengalah. 

gerbong mrt jakarta

Kali ini bulik menyarankan untuk naik MRT. Tapi kami mau kemana? Saya itu buta peta Jakarta. Kalaupun mau pergi agak jauh biasanya diantar kerabat saja, beres. Namun, ada kalanya mereka benar-benar tidak bisa mengantar dan saya tidak ingin memaksa. Justru saya ingin petualang sendiri. Cuma takut tersesat saja.
 
Sebagai orang kampung yang jarang pergi ke ibukota, saya merasa takjub dengan berbagai moda transportasi umum disini. Semuanya pasti demi memudahkan warga untuk bepergian dan berinteraksi. Demi perbaikan ekonomi, kesejahteraan hidup atau demi silaturahim. Termasuk kami, keluarga pendatang!

Menjadi pendatang, apapun alasan dan tujuan kedatangannya sering dianggap sebagai penyumbang kemacetan. Kedatangan warga diluar Jabodetabek dengan segala aktivitasnya membuat jalanan yang sudah padat makin padat lagi. Berbagai peraturan dibuat untuk mengurai kemacetan seperti penggunaan nomor kendaraan ganjil dan genap sesuai dengan tanggal hari itu.  


gerbong mrt jakarta


Nah, berhubung hari Sabtu itu tidak termasuk dalam aturan ganjil dan genap, saya maupun suami bersedia diajak keliling ibukota. Sambil berharap jumlah kendaraan tidak sebanyak di hari kerja. Ah, namanya juga harapan. Tapi faktanya, di beberapa ruas jalan tol, kendaraan merayap. Jadi kondisi jalan tidak bisa diprediksi.

Lelah sekali membayangkan jika saya adalah salah satu pekerja disini. Waktu banyak tersita di jalanan. Sampai ada keponakan yang mengatakan bahwa orang Jakarta itu tua di jalan. Dia sendiri harus menghabiskan berjam-jam untuk perjalanan dari rumah ke kantornya. Di akhir pekan digunakan untuk istirahat di rumah. Tidak ada keinginan untuk pergi kecuali terpaksa.

Keliling Jakarta Tanpa Macet? Memang Bisa?
 
Kemacetan lalu lintas selalu menjadi topik hangat kami. Kalaupun di tempat lain dikatakan macet, tidak akan separah di Jakarta. Begitulah anggapan kerabat-kerabat di Jakarta. Saya jelas tak mau terjebak kemacetan. Saya ingin menikmati Jakarta kekinian tanpa macet.

gerbong mrt jakarta


Salah satu cara mengurangi kemacetan yang bisa kami lakukan adalah dengan memilih moda transportasi umum. Tapi di Jakarta banyak pilihan. Ada bus Transjakarta, KRL, LRT dan MRT. Bagaimana mungkin kami paham rute dalam sekejap!

Dengan mempertimbangkan efektivitas waktu dan ajakan bulik, akhirnya kami memilih naik MRT (Moda Raya Terpadu) dari Bundaran Hotel Indonesia. Melihat gedung-gedung bertingkat di sekitarnya, kami hanya bisa berdecak kagum. Proyek-proyek besar sungguh membuat wajah Indonesia tampak lebih keren dan modern.

Di depan stasiun Bundaran HI terlihat sepi. Siang yang terik itu desir angin cukup kencang membuat wajah saya makin kusut dan kemilau. Lagi-lagi keringat saya mengucur deras. Begitu pula dengan si bungsu yang mulai mengeluh gerah. Ingin rasanya kami cepat-cepat masuk ke ruangan berpendingin sampai keringat ini hilang tak bersisa.

ruang baca stasiun lebak bulus

Keinginan kami terwujud. Stasiun HI ini nyaman karena bersih, sejuk dan dilengkapi dengan fasilitas umum seperti mini market, musholla dan toilet. Sebagian besar dinding ditempeli iklan. Namun justru ini menjadi daya tarik bagi anak muda. Khususnya yang ada foto artis Korea. Di stasiun Lebak Bulus saya melewati ruang baca. Satu anak kecil sedang menikmati bacaan bersama orang tuanya. Sebuah pemandangan yang tak biasa di stasiun.

Tiket Single Trip MRT

Agak ragu memutuskan membeli tiket apa disini. Jujur, saya tidak ada rencana mengunjungi tempat wisata, tempat kuliner maupun pusat perbelanjaan. Karena saya lelah! Saya hanya ingin menikmati betapa moda transportasi yang diresmikan pada tanggal 24 Maret 2019 oleh Presiden Jokowi ini membuat saya semakin bangga dengan Indonesia, selangkah lebih maju.

Bagi orang kampung seperti saya, cukup “wow” ketika menginjakkan kaki di stasiun MRT. Suasana modern terlihat dari lift yang mengantarkan para penumpang yang masuk dan keluar. Stasiun bersih, rapi dan adem. Keinginan saya agar bebas keringat tercapai juga.

tiket single trip mrt jakarta


Para petugas cukup ramah menjawab berbagai pertanyaan para penumpang. Mulai dari tempat membeli tiket dan caranya, mushola, toilet hingga rute MRT. Saya merasa tidak sendiri dalam kebingungan ini. Kemudian saya mencoba untuk tetap santai dan fokus. Tiket single trip sudah ada di tangan. Satu kartu untuk satu orang. Karena kami berempat maka ada 4 kartu single trip. Masing-masing kartu senilai Rp 14.000,00 untuk perjalanan dari Bundaran HI – Lebak Bulus. Ditambah asuransi sebesar Rp 15.000,00. Asuransi ini bisa diambil setelah penumpang selesai melakukan perjalanan hingga maksimal 7 hari kemudian.  

Karena waktu cukup terbatas, maka setelah tiba di Lebak Bulus, saya langsung menuju tempat tiket. Tanpa berlama-lama menjelaskan kepada mbak tiket, kartu tiket tersebut langsung ditukar dengan uang, masing-masing Rp 15.000,00.

Jadi, harga tiket MRT tidak mahal alias murah bila dibandingkan dengan ojek online. Sesuai keputusan Kementerian Perhubungan, tarif (bawah) ojek online Rp 2.000,00 per kilometer. Kalau 16 km (HI – Lebak Bulus) tinggal dikalikan saja. Hasilnya Rp 32.000. Jelas lebih murah MRT, bukan?

penukaran tiket single trip mrt jakarta

Sepanjang perjalanan, para penumpang bisa melihat wajah baru moda transportasi modern ini. Tidak ada kata macet, kereta melaju cepat dan smooth. Tidak ada polusi udara karena penumpang berada di dalam gerbong yang nyaman, aman, bersih, adem dan wangi. Tidak perlu takut kebablasan karena setiap menjelang tiba di stasiun pasti ada pemberitahuan. Begitu juga tulisan stasiun tujuan berikutnya, yang ada di dinding atas gerbong.

Perjalanan sejauh 16 km bisa ditempuh kurang dari 30 menit. Berangkat pukul 13.34 tiba di Lebak Bulus pukul 13.59. MRT melewati 13 stasiun, 7 diantaranya adalah stasiun layang yang berada di Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M dan Sisingamangaraja. Sedangkan stasiun bawah tanah berada di Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas dan Bundaran HI.

MRT, Moda Transportasi Unggul Untuk Indonesia Maju

Saya semakin yakin bahwa moda transportasi ini mampu mendukung sektor ekonomi maupun pariwisata. Jika kemana-mana jadi mudah dan cepat, buat apa ragu-ragu. Ingin belanja? Penumpang bisa naik MRT dan turun di Blok A atau Blok M. Sektor ekonomi yang cenderung lesu bisa sedikit demi sedikit terangkat dengan moda transportasi ini. Buat orang awam akan dimudahkan dengan MRT. Begitu turun, bisa langsung menuju pusat perbelanjaan untuk melakukan transaksi jual beli. Atau penumpang bisa memilih untuk melanjutkan perjalanan dengan bus Transjakarta.

Mau jogging dan olah raga lainnya? Coba saja turun di stasiun Istora. Atau ingin melihat karya seni? Bisa loh, berhenti di stasiun Fatmawati. Penumpang bisa berwisata di Museum Basuki Abdullah yang terletak di Jalan Keuangan Raya, Cilandak Barat. Namun jika penumpang hanya ingin bersantai di taman, bisa memilih stasiun Sisingamangaraja. Di sini ada Taman Ayodya dan Taman Langsat yang rasanya sayang kalau dilewatkan tanpa berswafoto.


Jalan-jalan ke Jakarta semakin mudah dengan banyaknya pilihan transportasi umum saling terintegrasi hingga di tempat publik. Semakin mudah bagi warga untuk beraktivas. Harapan saya semoga MRT menambah rute sehingga bisa menghubungkan lebih banyak tempat di Jabodetabek. Seperti yang dikatakan Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, "Nanti ada MRT sepanjang 200 km, di Jakarta, ada dari lintas selatan-utara dan barat-timur."

Dalam 5 tahun terakhir ini, pemerintah semakin gencar mengembangkan transportasi umum yang unggul dan maju. Peningkatan pelayanan dan infrastuktur meliputi transportasi darat, laut dan udara. Untuk perkeretaapian, selain fokus pada pembangunan kereta ringan, KAI telah membangun rel 833 km, dan merawat 623 dari target 750 km rel. Selain itu KAI juga membangun 775 stasiun dan merevitalisasi. Saya membayangkan perjalanan dari Surabaya ke Jakarta di tahun-tahun selanjutnya semakin mudah, aman dan menyenangkan. Keliling Jakarta tak perlu ragu karena macet. Ada MRT yang terintegrasi dengan moda transportasi lain. Transportasi unggul adalah milik kita bersama. Indonesia maju adalah cita-cita kita. 

Nah, teman-teman bisa ikut memantau info dan program dari sosial media Kementerian Perhubungan berikut:

Instagram: @kemenhub151
Twitter : @kemenhub151
Fanpage: kemenhub151

^_^


Sumber bacaan:

https://megapolitan.kompas.com/read/2019/03/28/21094721/tarif-mrt-dinilai-mahal-anies-minta-publik-bandingkan-dengan-ojek-online

http://beritatrans.com/2019/10/19/kemenhub-paparkan-capaian-kinerja-5-tahun/

https://kumparan.com/kumparanbisnis/capaian-pembangunan-infrastruktur-transportasi-dalam-4-tahun-terakhir-1540434468807201559

https://ekonomi.bisnis.com/read/20191019/98/1160965/budi-karya-mrt-jakarta-akan-sepanjang-200-kilometer

https://www.beritasatu.com/megapolitan/547711/naik-mrt-jakarta-bisa-jalanjalan-di-10-destinasi-wisata-ini

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190325141954-20-380441/lima-rute-transjakarta-lewat-stasiun-mrt-ramai-penumpang
 
 





42 Komentar untuk "Menikmati Jakarta Tanpa Macet? Coba Saja Naik MRT, Tiket Single Trip!"

  1. Semoga saya bisa ngerasain juga naik MRT, hihihi... Rasanya lihat orang-oramg pada foto dan cerita kok jadi pengen juga ๐Ÿ˜€

    BalasHapus
  2. Pengeeen nyoba naik MRT. Semoga kesampaian suatu saat nanti. Tapi memang benar sih, kalau ke Jakarta itu minimal 1 minggu ya jadi puas bisa main ke tempat wisata.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bulikku juga bilang minimal 1 minggu. Tapi ini nggak musim liburan, hihi..

      Hapus
  3. Wah, malah udah nyobain MRT. Aku mupeeeeng.

    BTW Mbak tinggal di Tuban kan? Met HUT buat kotamu ya, Mbak...

    BalasHapus
  4. Luar biasa, semoga semakin maju dan semakin memudahkan masyarakat Jakarta, Indonesia pada umumnya. Sehingga bisa berkurang adanya opini *Jakarta Macet* hehe...

    BalasHapus
  5. Belum pernah cobain MRT hahaha semoga pas balik kampung Bekasi bisa mampir MRT mba :p

    BalasHapus
  6. Wah sama kite. Aku kalau lg piknik murce n seru, naik MRT. Drop mobil di C4 lebak bulus, naik, turun senayan. Makan2 trus labjut ke benhil. Baru balik ke lebak bulus ahahaha.
    Btw good luck buat lomba bloggernya

    BalasHapus
  7. Baru sepekan lalu saya kembali dari Jakarta, dan merasa rugi karena tak sempat mencoba naik MRT padahal sejak jauh-jauh hari sudah berniat ngerasain moda transportasi ini, hiks. Semoga lain waktu.

    BalasHapus
  8. Kami belum pernah nyobain MRT mbak. Kayaknya seru juga nyobainnya. Bisa bebas macet. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selain bebas macet juga aman dan nyaman. Tiket lebih murah daripada naik ojek online.

      Hapus
  9. Dulu tahun 2010 pertama kali ke Singapura terkagum kagum lihat MRT. Tahun 2010 pas liburan ke KL juga takjub naik monorail. Sekarang Jakarta sudah keren. Ada MRT dan LRT juga. Sudah Cobain dua duanya. Kemenhub keren deeh..

    BalasHapus
  10. Naik MRT kayaknya harus seharian penuh baru puas hehe... Nice travelling

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti kalau rutenya sudah nambah, bisa lebih banyak menjangkau tempat- tempat di Jakarta. Bisa lebih puas naik MRT.

      Hapus
  11. Dannnn, baca ini saya jadi kangen ke Jakarta lagi. Pengin menjelajah menggunakan moda transportasi barunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk, menjelajahi Jakarta tanpa macet dengan transportasi umum.

      Hapus
  12. Benar, Jakarta panas dan macetnya bikin tidak nyaman. Saya saja tidak betah jika tidak berada di tempat adem. Jadi pengen kleliling Jakarta naik MRT. Asyik banget melihat bagian dalamnya yang bersih gitu. Alhamdulillah, kian modern saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berada di gerbong MRT betah karena adem, bersih dan wangi. Jadi nyaman selama dalam perjalanan.

      Hapus
  13. Emang seru nyoba moda massa baru, ayo coba juga LRT kalau lagi ke Jakarta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga di lain waktu bisa naik LRT. Moda transportasi di ibukota makin keren dan modern.

      Hapus
  14. Huaa kmrn pas ke jkt blm sempat naik mrt..

    Cm ngerasain kereta bandara saja..

    Smg next bs nyobain mrt

    BalasHapus
  15. Aku juga baru sekali naik MRT mbak, dan emang senyaman itu... Stasiunnya bagus, rapi, bersih... banyak petugasnya pada ramah-ramah, keretanya sendiri jalannya cepat dan alus banget gak kaya KRL... hehe

    BalasHapus
  16. Sayang banget aku sekarang tinggal di Cileungsi, belum sempat naik MRT nih ๐Ÿ˜… tapi kapan-kapan aku pingin coba!

    BalasHapus
  17. Nyaman bener nih mbak punya MRT, bersih dan modern, wah ada ruangan buku dan baca juga. Kereeen.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di stasiunnya ada ruang baca. Kita juga bisa nyumbang buku.

      Hapus
  18. Sayaaaa belum pernah naik MRT padahal udah lama tinggal di Jakarta...huhu. Kemarin suamik ajakin sekalian main bareng anak-anak, tapi belum ketemu waktu yang pas nih, Mbak...sedih deh..

    BalasHapus
  19. Balasan
    1. Asyik ya Bu, bisa naik MRT, moda transportasi unggul.

      Hapus

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. ^_^

Mohon maaf, jika ada link hidup, anonymous atau broken link akan saya hapus!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel