Rabu, 12 Desember 2018

Menyesal, Tidak belajar Mengaji Sejak Kecil

al qur'an


Ini adalah tema yang sejujurnya saya benci. Banyak penyesalan yang kalau diukur dari tingkatannya, ada yang rendah sampai tinggi. Tapi karena ini challenge yang sudah disepakati, baiklah saya mau menulis beberapa harapan yang tak bisa direalisasi.


Baca juga Belajar Mengaji dengan 5 Channel Youtube Ini...
 
Menilik masa lalu ada saja yang membuat saya menyesal. Misalnya sebelum lulus kuliah, pasti ada keinginan untuk bekerja kantoran. Agak nggaya sedikit biar terlihat keren dan berpenghasilan. 

Namun saya segera menikah setelah lulus kuliah. Hanya beberapa kali mengajukan lamaran, sedikit kok. Kemudian resmi menjadi stay at home mom. Disinilah petualangan sebagai ibu rumah tangga dimulai. Manis, asam, gurih, seperti rasa permen nano-nano sampai akhirnya bisa menikmati penghasilan sendiri.

Dalam hal ini saya tidak kecewa berlarut-larut. Karena menjadi orang yang berpenghasilan bisa dimulai dari rumah. Dengan segala ketrampilan dan kesempatan yang ada.

Tapi ada juga loh, penyesalan yang rasanya selalu menghantui saya. “Kok nggak dari dulu-dulu ya saya begini.” Nah, kalimat seperti ini bukan memotivasi saya. Justru sebaliknya, saya gagal move on. Saya merasa bersalah tidak menggunakan waktu dan kesempatan dengan benar. Kemudian ketika saya berada dalam fase sekarang, saya seperti telah kehilangan kesempatan emas itu. Sesal kemudian tak berguna.

Menyesal tidak belajar mengaji dengan benar sejak kecil

Saya mulai belajar mengaji sejak usia SD. Seingat saya, ibu membelikan beberapa baju sebagai hadiah. Saya suka baju-baju panjang tersebut. Sayapun setuju untuk berangkat mengaji di sebuah surau.

Zaman dahulu, saya tidak mengenal metode membaca Al Qur’an seperti saat ini. Mengaji dimulai dengan membaca alif ba’ ta’ tsa’  dst. Kemudian huruf-huruf tersebut dikasih harakat. Semakin lama semakin lancar sehingga naik ke bacaan Al Qur’an.

Namun saya tidak belajar teknik pengucapan huruf-huruf hijaiyah tersebut dengan baik dan benar. Tajwid, juga ala kadarnya. Mana yang mesti dibaca idhar, ghunnah, ikhfa’. Saya buta tajwid. Cuma bisa membaca nglender (sekedar baca) aja.

Saya tidak mau menyalahkan siapapun. Orang zaman old tidak mengenal TPQ. Tempat-tempat yang dipakai anak-anak untuk belajar mengaji adalah surau, musholla dan rumah-rumah guru mengaji. Saya sendiri kurang paham apa latar belakang pendidikan guru mengaji zaman dahulu. Yang penting anak mau berangkat mengaji itu sudah luar biasa. karena banyak mengenal mengaji sejak kecil.

Selama bertahun-tahun saya membaca Al Qur’an belepotan, kacau, ngawur. Saya merasa begitu malu ketika anak pertama berangkat mengaji di musholla. Di rumah saya dengar bacaannya kok bagus. Itu anak kecil, sementara saya yang sudah setua ini kok tidak mau belajar.

Disusul anak kedua. Saya merasa ketabok. Baiklah, saya mendaftar kelas mengaji yang pesertanya sedikit, cuma sebulan atau dua bulan karena akhirnya semua peserta berguguran. Saya berhenti karena sedang hamil dan tidak kuat keluar rumah.

Setelah itu saya tidak kunjung belajar mengaji lagi. Sepertinya saya ini orangnya butuh dipecut agar semangatnya muncul. Butuh dibangunkan dari tidur panjang karena keasyikan di rumah. Keinginan akhirnya tinggal keinginan. Bagaimana bisa membaca Al Qur’an dengan baik jika tidak mau belajar dengan yang ahli.

Just move on!

al qur'an

Niat ingsun saya mau belajar mengaji. Bismillah, saya ingin memperbaiki diri. Saya memantapkan diri untuk belajar mengaji mulai dari nol. Saya menghubungi guru mengaji dan mengikuti jadwal mengaji di rumahnya.

Saya mulai belajar dari awal. Pesertanya masih sama dalam jumlah angka alias tidak banyak. Ya, bisa dihitung dengan dua tangan. Kemudian menyusut hingga bertahun-tahun sampai tinggal 4 orang. Ada yang tiba-tiba menghilang dan ada yang ijin untuk keluar baik-baik.

Dengan peserta yang sedikit, saya pasrah. Mungkin memang harus seperti ini. Kadang saya datang seorang diri. Tapi saya sudah siap dengan segala resiko. Saya siap menempuh jalan ini meski harus sendiri. Karena saya tidak mau menyesal untuk kesekian kalinya.

Mengaji itu tidak mengenal usia. Teman-teman saya rata-rata berusia 40 tahun keatas. Kalau mengeja itu ada yang susah. Ada yang harus mengulang satu ayat berkali-kali sampai hopeless. Entah bagaimana lidah ini bergerak tidak sesuai dengan perintah otak. Saya termasuk golongan ini. Tapi sekali lagi, saya tidak ingin menyesal untuk kesekian kali. Meski belajar di usia ini seperti sedang mengukir diatas air. Susah! Ini ustadzahnya mengulang-ulang sampai kami hafal. Ustadzah juga berusaha memaklumi  kemampuan kami yang masih jauh dari harapannya.

Ibu-ibu ini kalau bertemu masyaAllah senang banget. Kami saling support untuk istiqomah menuntut ilmu seperti ini.

Jika teman-teman memiliki penyesalan, boleh dong share disini. Feel free ya.

#BPN30dayChallenge2018

#bloggerperempuan

#day23

^_^


Comments
6 Comments

6 komentar:

  1. Saya juga ngaji pas SD mba, dulu sembunyi-sembunyi ke rumah guru agama demi ikut ngaji, soalnya bapak melarang kami keluar rumah.
    Ngajinya juga mulai alif, ba, ta dst itu hehehe.

    Awalnya sih bacanya asal-asalan, namun setelah masuk ke Alquran, yang ngajar guru lain dan Alhamdulillah beliau tegas banget dalam melatih kami untuk mengaji dengan benar.
    Sekarang yang saya sesali adalah, mengapa jarang ngaji lagi hiks

    BalasHapus
  2. saya juga pingin belajar ngaji lagi, rasanya kok masih kuraaang banget. tajwid ngerti sih, tapi gatau namanya. targetnya sih bisa belajar tahfidz. semoga aja nanti bisa.

    semangat mbaak.. aku juga semangat ini.

    BalasHapus
  3. Makharijul huruf emang susah untuk lidah kita--anak jaman old--yang udah terlanjur lidahnya twisted mbak heheheh. Saya juga mengalaminya. Apalagi huruf "kho", harus bener2 terdengar 'kotor'. Tapi alhamdulillah sedikit demi sedikit bisa.

    Semangat mbak 💪💪

    BalasHapus
    Balasan
    1. Susah banget mba. Ini masih pr buat aku. Kadang ingat kadang lupa. Ya Allah, semoga dimudahkan.

      Hapus

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Info: F untuk komen dengan akun facebook dan B untuk komen dengan akun blogger. ^_^

Mohon maaf, jika ada link hidup, anonymous atau broken link akan saya hapus!

COPYRIGHT © 2017 · LOVELY MOM | THEME BY RUMAH ES