My Sons My Bodyguards

by - Selasa, Januari 08, 2019


mu sons my bodyguards


Halo teman-teman! Apa kabarnya hari ini? Semoga sehat dan sukses mewujudkan harapan di tahun 2019.

Ceritanya kemarin saya menjemput anak-anak, eh si sulung juga menjemput. Saya pikir si tengah pulang lebih sore sehingga saya mampir-mampir dulu. Ternyata tidak, dia sudah menunggu dijemput. Jadinya si kakak menjemput si tengah juga.


Dua anak terbagi antara ikut saya dan ikut kakaknya. Si bungsu ikut kakak, sedangkan si tengah bersama saya. Anak tengah kok so sweet ya. “Ibu aku temani pulang. Nanti kalau ibu panik di jalan bisa gawat!” Lanjut dengan tawa khasnya yang sedikit mengejek.

Sudah bertahun-tahun naik motor masih saja diragukan kemampuan saya. Kalau cuma buat keliling kota sih saya pasti sudah hafal. Lagipula, saya naik motor tidak pernah jauh.

Tapi karena saya suka deg-degan kalau tiba-tiba ada kendaraan di depan, maka anak saya merasa perlu menemani saya. Katanya, biar ibu tidak panik. Lha, justru sebaliknya, kalau saya memboncengkan dia makin kacau. Anaknya suka ngobrol sepanjang jalan. Bikin saya tidak fokus!

Bagaimanapun saya menghargai usahanya. Terima kasih ya, Nak!

Lain lagi dengan si sulung dan si bungsu. Kalau si sulung sejak SMA sudah sering mengantarkan saya belanja, ke rumah teman dan lainnya.  Juga mengantar dan menjemput adiknya. Urusan antar jemput ini insyaAllah selalu beres asal perintahnya detail. Saya terbantu sekali ketika anak tidak malu harus mengantar ibunya.

Demikian juga dengan si bungsu yang perhatian sekali. Ketika saya katakan ingin menjenguk kakaknya yang sedang sakit, dia ingin ikut. “Aku temani ibu, ya!”

Sebenarnya saya ragu. Sejak menikah saya tidak pernah pergi keluar kota sendirian. Kecuali kalau terpaksa sekali. Seperti ketika alm ibu saya dirawat di sebuah rumah sakit di Surabaya sedangkan anak sulung sedang ujian nasional. Memang pilihan sulit. Tapi karena di Surabaya sudah ada adik saya dan istrinya yang domisili di Surabaya, saya agak tenang. Suami saya waktu itu dinas di Surabaya, setiap hari pasti ke rumah sakit. Setelah anak saya selesai UN barulah saya menyusul ke Surabaya sendirian.

Nah, kali ini saya ingin menyusul saja. Toh, ujian anak-anak sudah selesai. Anak-anak tahu bahwa saya sudah lama tidak pernah naik bus sendiri, jadi agak khawatir saja. Apalagi suami, “Sudah, nggak usah kesini. Kamu sama anak-anak saja di rumah.”

Namanya ibu, tahu anaknya sedang sakit, pasti naluri ibu langsung nyambung. Tidak mudah untuk berdiam saja di rumah. Selama jarak masih bisa dilipat, saya ingin segera menemuinya.

Bersama si bungsu saya menunggu bus. Hujan tidak kunjung reda. Saya tidak peduli apakah busnya bagus atau tidak, perjalanan ini harus terlaksana. Si bungsu anteng, bisa tidur meskipun kami duduk di bangku belakang. Saya deg-degan ketika melewati jalan bergelombang. Mungkin rasanya seperti diguncang ombak. Saya pasrah. Keinginan kuat untuk menemui anak lebih penting daripada sebuah rasa ini.

Karena saya tidak pernah naik bus sendirian itulah, bapak saya sampai tidak percaya. Tidak cukup melemparkan sekali pertanyaan agar yakin saya berangkat saat itu juga. Sementara suami saya, sepanjang jalan itu  menelpon berkali-kali untuk memastikan kami baik-baik saja.

Kadang saya berpikir anak laki-laki itu cenderung cuek alias kurang perhatian. Namun ketika saya mencoba untuk membuka pembicaraan, membuka masalah, mereka akan menyimak. Kalau itu menurut mereka penting pasti dengan kesadarannya akan memberikan ide untuk mencari jalan keluar yang bisa diterima bersama.

^_^


You May Also Like

14 Comments

  1. Bahagianya punya anak2 yang nurut mba.

    BalasHapus
  2. Kepekaan itu sbnrny bsa dilatih sejak kecil ya mba, anak laki2ku ini paliiiiing takut klo aku hamil lagi, katanya takut ibunya mati, byuhhhhhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh jangan! Kalau hamil lagi, nanti bakal punya teman main, hihi...

      Hapus
  3. sementara ini anak perempuanku yang lebih perhatian sama saya.

    BalasHapus
  4. Iya mbk, anak yang tengah manis banget yak. Biasanya kalok anak cowok memang kelihatan cuek, tp sebenarnya punya rasa peduli dan perhatian juga ya mbk.

    BalasHapus
  5. So sweet. Bahagianya punya anak anak yang soleh solehah juga penyayang ya mba. Masya Allah. Alhamdulillah.

    BalasHapus
  6. Jujur aku ngakak baca celotehan anaknya kak Rochma saat akan diboncengin ..., adaaa aja ya celotehan anak-anak jaman sekarang.
    Udah kayak dewasa saja bicaranya.

    Itu ponakanku juga kayak gitu kalau bicara, kak. Sok udah dewasa gitu ..., kadang malah bikin ngakak dengernya.

    BalasHapus

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Info: F untuk komen dengan akun facebook dan B untuk komen dengan akun blogger. ^_^

Mohon maaf, jika ada link hidup, anonymous atau broken link akan saya hapus!