Jumat, 01 Februari 2019

Ingin Mengenal Jawa Tengah? Datang Saja di Grand Maerakaca, Taman Mininya Jawa Tengah


grand maerakaca


Jawa Tengah memiliki taman mini, loh. Bagi warga Semarang mungkin tak asing lagi dengan Grand Maerakaca yang dulu bernama Puri Maerakaca. Tempat ini berada dalam satu kawasan PRPP (Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan) Jawa Tengah, kompleks Tawang Mas, Semarang.

Baca juga Maghrib di Masjid Agung Jawa Tengah.

Meskipun sudah  berganti nama, saya suka menyebut Puri Maerakaca. Mungkin karena kata “puri” sudah lebih dahulu familiar di telinga saja. Zaman masih single dulu, pernah main disini bersama dengan teman-teman kos. Seingat saya, ada banyak anjungan. Lainnya saya lupa.

anjungan


anjungan


Kalau sekarang, sudah banyak berubah. Tempat yang saya tuju pertama kali adalah PRPP. Ternyata tertutup rapat. Byiuh... terancam gagal. Saya lupa di pintu mana pengunjung bisa masuk.

Mobil melaju perlahan. Pintu masuknya ada di samping. Seorang wanita dengan baju seragamnya memberhentikan kami. Saat itu juga si mbak bertanya berapa orang yang mau masuk. Okelah, tanpa basa-basi, saya harus membayar tiket masuk. Untuk lima orang saya membayar Rp 45.000. Uang tersebut sekaligus untuk membayar parkir. Anak bungsu saya tidak dihitung. Mungkin bonus ya.



Dari sini, saya cuma bisa membatin, “Kok kayak gini lokasinya.”

anjungan

anjungan


Maklumlah kalau saya belum menemukan hal-hal istimewa. Jalan menuju tempat parkir becek selepas hujan malam hari. Sedangkan di tempat parkir tidak. Tempat ini berbatasan langsung dengan PRPP.

Waktu itu masih pagi, belum banyak pengunjung. Mobil di parkiran bisa dihitung dengan satu jari. Saya ajak anak-anak menuju Grand Maerakaca. Sekilas tempat wisata ini biasa saja. Di depan tulisan besar Grand Maerakaca adalah tempat bermain anak-anak. Seperti sebuah pasar malam yang buka pagi, aneka permainan menjadi daya tarik anak-anak kecil. Daripada diajak jalan-jalan keliling Grand Maerakaca dalam suasana bad mood, mending bermain disini.

Kami melanjutkan perjalanan menuju anjungan-anjungan. Di setiap anjungan ditulis nama kabupaten. Kemudian gapura, yang berbeda tiap kabupaten. Bentuk rumahpun demikian.



anjungan



anjungan



Pengunjung diperbolehkan memasuki anjungan-anjungan tersebut. saya tidak masuk di semua anjungan. Karena untuk masuk satu per satu butuh waktu yang sebentar. Belum lagi kalau terjebak keinginan difoto oleh suami.

Buat yang ingin memuaskan rasa penasaran bisa banget masuk ke anjungan-anjungan disini. Di dalamnya ada hasil kerajinan dan budaya setempat. Ada juga yang memajang lukisan pahlawan yang berasal dari daerahnya.

Sayangnya tidak semua anjungan ini pintunya terbuka. Di beberapa tempat, justru anjungan tidak terawat dengan baik. Ada juga yang pintu pagarnya digembok. Yang seperti ini tidak ada penjaganya.

anjungan


Berbeda dengan anjungan yang benar-benar ada penjaganya. Kita dipersilakan masuk dan bebas mau duduk, selonjoran, sambil cekrek-cekrek. Atau yang cuma pengen bertanya soal daerah tersebut. Ada juga yang menjual hasil kerajinan lokal. Seperti ketika saya berkunjung ke anjungan Jepara. Ada etalase yang menjual hasil kerajinan monel. Rata-rata di anjungan ini menjual snack dan minuman dingin.

Anjungan-anjungan disini menampilkan wisata, kuliner dan hal-hal menarik yang orang-orang awam mudah mengenalinya. Seperti anjungan Blora yang memajang angkringan sate Blora. Juga anjungan Klaten yang membuat miniatur candi.

anjungan


Untuk mengelilingi semua anjungan ini saya berjalan kaki. Ada kalanya saya berhenti dan masuk ke dalam rumah-rumah khas suatu daerah. Ada kalanya saya mencari angle yang sekiranya pas buat foto-foto. Yang lebih banyak adalah hanya lewat dan menyaksikan suami yang sibuk memotret.  

Di sini, saya baru tahu anjungan ini bisa dipakai untuk acara kelompok atau komunitas. Terutama yang memiliki teras luas, bisa menampung banyak orang di satu tempat. Mungkin karena ini musim liburan, beberapa grup memutuskan untuk berwisata disini sambil makan siang. Mobil bahkan bisa masuk hingga di depan anjungan dan menurunkan kotak-kotak makanan.

anjungan


Selain jalan kaki, pengunjung bisa menyewa sepeda tandem. Per 30 menit kita hanya perlu membayar Rp 10.000. Lumayan juga buat olah raga bareng-bareng. Saya menyewa dua sepeda. Awalnya buat saya dan suami. Kemudian satu lagi, buat tiga anak saya. Ternyata saya maupun suami tidak sempat mengayuh sepeda tandem. Dipakai saja oleh anak-anak. 

Baca juga Terjebak Spot Instagrammable di Kota Lama Semarang.

Hutan Mangrove yang instagrammable

Sisi lain dari Grand Maerakaca adalah hutan mangrove yang instagrammable. Mau dilihat dari atas, samping, depan, belakang, aih, tetep cantik. Rimbunnya pohon mangrove merupakan angin segar bagi penggemar fotografi.

hutan mangrove


Hutan mangrove terletak di pinggir pantai kota Semarang. Kita bisa menyusuri jalan atau sekedar duduk di bangku sambil memandang hijaunya air dan birunya langit. Tenang, sejuk dan damai. Mungkin tiga kata itulah yang tepat untuk menyuarakan view di hutan mangrove.

kafe

Selain dengan berjalan kaki, kita bisa menikmati hutan mangrove dengan menyewa perahu. Pengen lebih syahdu, kita bisa menikmati hamparan air telaga ini dari atas jembatan yang dipakai sebagai cafe. Ya, cafe angringan Ngambang terlihat romantis kala ada sejoli yang sedang menikmati liburan.

Ops, saya tidak ikut naik ke jembatan, ke cafe. Saya ingin membebaskan diri dengan segala keriuhan disini. Memandang air yang tenang. Pohon-pohon yang menghijau. Lalu menghirup udara segar. Sayang, tak berapa lama, seorang laki-laki merokok di samping saya. Bubar semua khayalan saya!

grand maerakaca


Pengunjung sudah mulai ramai. Bukan saja keluarga-keluarga yang ingin menikmati libur akhir tahun, namun juga bermacam-macam komunitas tumplek di dekat hutan mangrove. Bangku-bangku yang menghadap ke hutan mangrove mulai penuh oleh orang-orang dan barang bawaan mereka.

Note:

Disamping hal-hal menarik seperti yang saya ceritakan diatas, pastinya ada yang perlu menjadi perhatian pihak pengelola wisata. Yang paling mengganggu bagi saya adalah saluran air yang berada di dekat tempat parkir. Aromanya menyengat sekali. Kemudian di beberapa bagian anjungan, saya melewati genangan air dan selokan yang juga menyebabkan aroma khasnya.

Tidak semua anjungan terbuka. Ada yang digembok rapat. Padahal anjungan ini dibuat untuk dipamerkan kepada para pengunjung. Kalau sedang diperbaiki, ya tidak masalah. Para pengunjung pasti bisa memakuminya. Lha, kalau digembok artinya kita hanya bisa melihat bangunan dari suatu kabupaten. Itu saja.

***

Wisata seperti ini sangat bagus untuk memperkenalkan kota-kota kabupaten di Jawa Tengah. Bukan saja untuk warga Jawa Tengah namun untuk wisatawan dari mana saja. Ketika saya mengajak anak-anak masuk ke salah satu anjungan, saat itu juga mereka belajar budaya, adat dan kebiasaan lokal.

Saya bisa memiliki ide untuk bermain tebak-tebak. Setelah berkunjung ke beberapa anjungan, saya ingin memastikan anak-anak bisa menjawab pertanyaan. Misalnya, “Apa yang terkenal dari Jepara?”

“Ukirannya!” jawab si bungsu.

Yang ingin menjelajahi Jawa Tengah, bisa loh dimulai dari sini. Dari Taman Mininya Jawa Tengah. 

Yang mau foto-foto bisa mampir disini.

tempat foto
tempat foto


Tiket:

Tiket masuk Rp 10.000

Parkir Rp 5.000

Happy traveling!

^_^
Comments
13 Comments

13 komentar:

  1. Wah sekarang udah banyak perubahan ya mbak, terakhir kesana belum ada spot spot foto yang instagramable. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu sekali pernah kesini belum kayak gini. Cuma ada anjungan aja. Sekarang sudah ramai pedagang, tempat mainan dan tempat foto.

      Hapus
  2. Asik ya semoga di Jawa Barat ada, aamiin

    BalasHapus
  3. Wahhh tempatnya asik yaa, jadi pengen kesana dan menikmati tempatnya itu wuehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau aku yang paling asyik itu di hutan mangrove.

      Hapus
    2. Wahhh pasti keren banget tempatnya buat eksis foto foto gitu ya mba :D

      Hapus
  4. Anjungan klatennya tidak diulas secara lebar ya, jadi penasaran banget. Semoga samakin terawat, dan dipromosikan secara gencar biar tambah ramai.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku lihat sekilas dan foto-foto. Cuma di anjungan Jepara yang masuk. Memburu waktu jadi kurang lama aja mainnya.

      Hapus
  5. Kayaknya yang keren hutan mangrove-nya tuh. Kalau rumah-rumahnya kayaknya biasa aja. Tapi saya penasaran : di dalam tiap-tiap rumah apa yang dipamerkan ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Contohnya kerajinan khas daerah setempat. Tapi ada beberapa anjungan yang tutup mba.

      Tetep ya hutan mangrove yang bagus.

      Hapus
  6. Naksir aku sama view jembatan cafenya ..., bayangin duduk santai disana sambil mandangin hutan mangrove pasti ketje.

    BalasHapus

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Info: F untuk komen dengan akun facebook dan B untuk komen dengan akun blogger. ^_^

Mohon maaf, jika ada link hidup, anonymous atau broken link akan saya hapus!

COPYRIGHT © 2017 · LOVELY MOM | THEME BY RUMAH ES