Nikmatnya Sarapan Serabi, Jajanan Tradisional di Tuban

by - Jumat, April 26, 2019



serabi


Serabi merupakan jajanan tradisional yang berbahan dasar tepung beras dengan kuah santan yang encer. Di Tuban kue serabi ini disebut srabeh. Medok Jawa, banget. Penjual serabi tidak memiliki warung khusus seperti warung makan. Rata-rata penjual serabi menjajakan kue ini di tepi jalan raya dan gang dan sudah bertahun-tahun disana.


Secara umum, kue serabi rasanya sama saja di sini. Gurih. Hanya tekstur yang membedakan satu penjual dengan penjual yang lain. Ada yang empuk dan ada yang kurang.

Pagi itu saya ingin mencicipi serabi di dekat stasiun. Pukul 05.30 saya bersama suami dan si bungsu datang ke lokasi. Ternyata sudah banyak yang mengantre. Aduh, kalau masalah antrean panjang, pasti bikin bete. Tapi karena sudah niat pengen membeli serabi, saya pura-pura tidak melihat orang-orang yang duduk di sekeliling bakulnya.

serabi


“Buk, serabi 5, ya,” pinta saya kepada ibu penjual serabi. Eh, si ibu yang memasak kue serabi ini sangat fokus dengan aktivitas mengaduk adonan, menuang ke tungku, membuka tutup tungku, melihat adonan yang sudah matang dan mengambilnya. Kemudian menaruh serabi yang masih panas ini ke tampah yang sudah dilapisi daun pisang.

Dibantu seorang wanita, proses melayani pelanggan menjadi cepat. Dengan gesit, mbaknya menyiapkan kuah santan ke dalam plastik kecil dan mengikatnya erat-erat. Setelah banyak kuah santan yang dibungkus, kemudian bertanya pesanan saya. Saya ulangi lagi pesanan serabi sejumlah 5 tangkup.

Satu serabi itu maksudnya satu tangkup yang berisi dua lembar kue serabi berukuran sedang dengan satu bungkus kuah santan. Satu tangkup serabi sama seperti makan nasi. Lha, bahan dasarnya tepung beras. Jadi sama-sama bikin kenyang maksimal.

Oh ya, kalau kesini jangan tertipu dengan ramainya pembeli. Karena setelah saya memesan, langsung dilayani. Masih menunggu membungkus pesanan orang. Tapi tidak lama.


penjual serabi di tuban

Aktivitas membuat serabi itu dilakukan terus-menerus tanpa jeda. Baik ketika ada yang memesan serabi ataupun tidak. Kalaupun sedang tak ada yang mengantre, artinya kue serabi sudah siap dibungkus begitu ada yang memesan.

Ramainya orang di sini karena memang mengantre serabi dan makan ketan. Kalau bapak-bapak suka jagongan makan ketan sambil ngopi di meja panjang sebelah. Sementara yang mengantre serabi ada di depan dan samping penjual serabi.

Sambil menunggu pesanan, pembeli duduk di bangku panjang dekat penjual serabi. Asap dari kayu bakar mengepul dan menyisakan aromanya. Kayu-kayu yang sudah menghitam dan memedek karena terbakar diganti dengan kayu yang baru. Begitu seterusnya sehingga api terus menyala dan serabi demi serabi matang sempurna.
 
Harga Serabi Murah

Untuk 5 tangkup serabi saya hanya membayar Rp 20.000. Cukup murah bukan?
Rata-rata orang membeli serabi dalam jumlah banyak. Minimal satu tangkup yang berisi dua lembar serabi. Terbayang lezatnya!

Makan serabi, jajanan tradisional yang mengenyangkan

serabi

Meski semakin banyak kehadiran serabi dengan semua variasinya, serabi di stasiun ini tetap mempertahankan proses pembuatan dan cita rasanya. Dari dulu selalu begini dan tentu saja tak ada yang protes. Orang yang membeli serabi dengan penuh kesadaran mencari jajanan tradisional ini. Yang jadul tetap mendapat tempat di hari para pelanggannya.

Serabi disini rasanya yang gurih saja. Serabinya gurih ditambah kuah santan yang gurih. Tekstur serabi empuk. Sebaiknya dinikmati ketika serabi masih hangat. Begitu kuah santan dituruh ke kue serabi, harus segera dimakan. Jangan ditunda lagi. Karena kue serabi akan menyesap kuah santan hingga habis. Akibatnya, tenggorokan terasa seret ketika makan. Jadi tidak selera lagi.

Makan serabi harus cepat. Meski langsung dimakan, namun kuah santan tetap saja akan menyusut karena terserap ke kue serabi. Apalagi serabi ini ukurannya lumayan besar. Kalau saya, makan satu lembar serabi saja sudah kenyang.

Berbeda dengan suami saya yang suka serabi. Sekali makan satu tangkup. Ini kenyangnya dobel. Tapi tak lama kemudian perut kita sudah memberontak, minta diisi.

Buat yang pengen sarapan serabi, siap-siap datang setelah shubuh sampai sekitar pukul 06.00. Kue serabi biasa dijual pagi hari, cocok buat sarapan selain nasi. Mirip warung nasi pecel yang buka pagi dan hanya berlangsung beberapa jam saja kemudian bubar. Untuk membuka warung hanya perlu menggelar peratalan memasak serabi. Setelah selesai, barang-barang tersebut dibereskan tak bersisa.



Lokasi Serabi Stasiun

Tidak ada papan nama, tidak ada petunjuk lokasi serabi. Namun kita bisa menemukannya dengan mudah. Lokasi serabi ini dekat dengan jalan Lukman Hakim Tuban. Masuk gang Ikhlas, desa Kebonsari kabupaten Tuban.

Kalau orang menyebut serabi di stasiun karena memang lokasinya di bekas rel kereta api, dekat stasiun. Sepanjang jalan ini ada rel kereta api yang sudah berubah menjadi rumah-rumah warga dan tempat usaha.

^_^

You May Also Like

17 Comments

  1. Murah banget harga serabinya kak. Dari dulu, aku suka banget sama Serabi ini. Jadi teringat kalau di rumah ada yang ga habis makan serabi, aku yang habiskan. Hahaha

    BalasHapus
  2. Serabi salah satu jajanan favorit ku mba. Apalagi serabi yang campur kuah manis hhmmm endeuuss

    BalasHapus
  3. Wah, nampak enak! Tapi pasti enaknya kalau dimakan panas-panas.

    BalasHapus
  4. Waduuh jadi keinget jamanku cilil sering nongkrong di dagang surabi. Wkwkwk. Kalo di Lombok surabinya kecil-kecil, mbak. Beda sama di Jawa. Hhi

    BalasHapus
  5. Iya memang sekarang banyak inovasi makanan. Termasuk untuk serabi juga. Tapi tetep yang tradisional dan yang original lah yang JUARA!

    BalasHapus
  6. Surabi sih aku nyebutnya, dimakan pake madu enak banget loh bu :)

    BalasHapus
  7. hampir sama nih, di sunda namanya sorabi
    paling enak dimakan sama gorengan atau oncom,,

    BalasHapus
  8. Jadi ngiler mbaaaa,

    Perasaan saya seumur-umur makan serabi baru sekali deh, yang serabi Banyumas ya kalau gak salah.
    Jadi pengen jalan2 ke Tuban, mau kulineran juga hahaha

    Itu cara masaknya juga masih manual banget ya, biasanya yang manual gitu bakalan lebih enak deh :)

    BalasHapus
  9. Kapan kapan mau datang kesana ahh.. Medang, Mangan serabeh kemudian Jagongan dengan bapak bapak sambil melihat orang antri beli serabi.. wah kayaknya makjoss mantap makjleb mengkurep ini... Hek Hek Hek

    BalasHapus
  10. Maaaau mbaaak, kangeen makan serabii. Muraah jugaa harganya, sangat ramah di kantong. Wajiib makan ini nanti kalau pas pulang kampung hehehe

    BalasHapus
  11. Sayangnya .. dikotaku penjual serabi dengan ciri khas seperti di Tuban ini udah ngga ada.

    Dulu aku kecil, masih ada tuh kak penjual serabi gunain anglo kecil dan serabi satu persatu dimasak.
    Pembeli harus sabar menunggu serabi masak.

    BalasHapus
  12. Kalo di Bandung namanya Surabi dan enak banget rasa oncom heheu

    BalasHapus
  13. Aku kangen makan serabi begini. Tapi yang pernah aku makan ukurannya lebih kecil. Makannya sama kuah gula jawa-santen. Duh, pengen. Sekarang susah banget nyarinya.

    BalasHapus
  14. Duh jadi pengen serabi, apalagi kuah gula merah yang manis, dimana ya belinya..hihi..

    BalasHapus
  15. Surabi itu istilah nama di Sunda. Dulu saat masih kecil, surabi jaman saya seperti itu makan dan penyajiannya. Kini sudah lebih modern, surabi disajikan di tempat sejenis kafe, dengan toping yang kekinian, bukan cuma oncom dan kuah kinca saja.

    BalasHapus
  16. Srabeh. Klo di Toba namanya Panukkup mba. Berasal dari kata Pancake. Hahaha

    Bahannya sama: tepung beras pake santan. Cuma klo panukkup dikasih gula dan air nira sedikit supaya lbh ngembang, empuk dan wangi. Saya suka ini.

    Hampir aku cerewetin mbak yg langsung serobot mesan padahal ramai. Rupanya langsung ditangani ya.. hahaha

    BalasHapus
  17. Serabi. Suka makanannya enak ringan pokoknya wawww

    BalasHapus

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Info: F untuk komen dengan akun facebook dan B untuk komen dengan akun blogger. ^_^

Mohon maaf, jika ada link hidup, anonymous atau broken link akan saya hapus!