Friday, July 6, 2018

Jernihnya Pantai Teluk Hijau Banyuwangi Bikin Baper


pantai teluk hijau



Awalnya Pantai Teluk Hijau ini bukan tujuan utama wisata pantai saya. Sebaliknya saya penasaran dengan Pantai Merah. Iya Pantai Merah atau Pantai Pulau Merah. Namun karena pantai Teluk Hijau ini satu jalur dengan pantai merah, sekalian saja kesini. Dimulai dari yang paling jauh yaitu Pantai Teluk Hijau kemudian Pantai Merah. Tulisan selanjutnya menyusul ya.


Baca juga Pantai Boom Banyuwangi...

Berkunjung ke pantai pada musim liburan itu biasanya ramai. Ada yang pernah merasakan berhimpitan sampai susah menikmati suasana pantai. Mungkin sampai foto dokumentasi kita dipenuhi oleh pengunjung yang berdesakan. Ah, namanya juga liburan, pasti banyak yang pengen jalan-jalan.

Dari hotel, saya bersama keluarga berangkat sekitar pukul 08.00. Ini kesiangan ya. Sebaiknya berangkat pagi saja biar dapat lebih banyak pantai, lebih santai dan lebih nyaman. Sayang juga sih jauh-jauh ke Banyuwangi cuma dapat satu atau dua tempat seperti saya. Eaa...

Saya berangkat jam segitu karena menunggu breakfast dulu kemudian anak-anak yang gantian mandi. Aduh, anak-anak molor dari jadwal.

Untuk transportasi saya menyewa mobil dan sopirnya. Karena jalan-jalan kali ini di saat lebaran, ya mau tak mau harus memaklumi kenaikan harga. Meski sudah browsing macam-macam travel, tetap saja semua sedang menaikkan tarif. Puff!

jalan kebun kopi
Melewati jalan di perkebunan kopi dan cokelat

Perjalanan dari hotel ke Pantai Teluk Hijau ini membutuhkan waktu sekitar 2 jam lebih. Perjalanan lancar, meski di beberapa tempat ada jalan yang rusak. Yang menarik, kami bisa melihat banyak kebun buah naga. Kalau menurut mas sopirnya, Banyuwangi merupakan daerah yang membudidayakan dan penghasil buah naga terbesar. Ketika sedang tak musim, buah naga tetap bisa ditanam (dirambatkan di pohon randu/kapas) dan berbuah. Caranya dengan  memasang lampu di atas rambatan tanaman buah naga. Jarak satu lampu dengan lampu lainnya sekitar satu meter. Dengan cara seperti ini tanaman tetap hangat dan menghasilkan buah. Namun harga jual buah naga menjadi mahal.

Baca juga el Royale Hotel & Resort....

Selain melewati kebun buah naga, kami juga melewati kebun cokelat, kopi, pinus. Aduh gagal fokus dengan jalannya. Pohon-pohon besar dengan batang berwarna putih dengan daun kekuningan melambai sepanjang jalan. Kemudian di tepi jalan ada tanaman hias dengan daun warna merah kecoklatan.

Ketika sopir mengajak untuk berhenti, dan berfoto-foto, suami dengan halus menolak. Padahal cakep loh pemandangannya, seperti di luar negeri. Sambil jalan foto. Hasilnya tidak sebagus ketika melihat secara langsung. Bener deh!

kebun cokelat
Kebun cokelat


Maafkan kalau cerita perjalanan saja bisa sepanjang ini, hihi...

Mendekati Pantai Teluk Hijau, cuaca mendung. Aduh, bagaimana ya. Jauh-jauh hari merencanakan namun apa daya, siapapun tak akan mampu menghalangi cuaca. Oke, kami tetap main di pantai.


Sebagai orang pesisir, saya santai saja ketika mas sopir bertanya mengapa kami tidak membawa baju ganti. Pikiran saya sih mirip-mirip dengan pantai di Laut Utara Pulau Jawa. Parah deh! Apalagi kemarin juga sudah main di pantai. Kalau sekarang masih mau di pantai ini, paling cuma melihat-lihat saja, foto-foto dan main pasir. Paling juga banyak yang berjualan baju anak-anak. Yang biasa bermain kotor adalah anak-anak.

Faktanya:

Kami naik perahu
Bermain pasir
Bermain air pantai

Akibatnya:

Baju basah dan kotor kena pasir pantai yang lembut.

Clingak clinguk mencari toko yang menjual baju dan ternyata TIDAK ADA. Ya Allah, nasib kami yang mudah menggampangkan masalah.

pantai teluk hijau




Cara menuju Pantai Teluk Hijau:

Tiba di lokasi Pantai Teluk Hijau, rasanya tidak ada yang istimewa. Gambar ada difoto atas. Deretan perahu motor milik warga lokal biasa saja. Saya sering melihat perahu-perahu seperti ini. Garis pantainya, ah tak ada yang istimewa. Hanya saja ombak di pantai selatan ini besar dan terlihat ganas. Wow...

Saya lihat suami masih ngobrol di bagian tiket. Kemudian dia memanggil, “Kita naik perahu ya?”

Agak kaget. Saya pikir Pantai Teluk Hijau ya ini. eh, ternyata bukan. Parah banget! Lha teluknya saja tidak terlihat disini, lalu disebut apa dong!

Perjalanan ke Pantai Teluk Hijau bisa ditempuh dengan jalan darat dan laut.

Jalan darat dengan menyusuri bukit hingga tiba diujung pantai. Dalam keadaan normal jalan kaki ditempuh sekitar 30 menit. Biasanya anak-anak muda yang jalan kaki. Sayangnya waktu itu keadaannya sedang tidak bagus, tanah licin akibat terguyur hujan.

Jalan laut dengan menyewa perahu. Ini masuk dalam tiket naik perahu. Bisa pilih berangkat saja atau berangkat dan pulang. kalau berangkat saja, pulangnya bagaimana? Naik bukit atau bayar lagi perahunya.

Sejak awal kami memilih tiket pulang pergi biar gampang saja. satu perahu diisi 7 orang (termasuk 2 orang kru perahu). Kalau menurut aturannya, satu perahu bisa muat sampai 12 orang. Namun demi menjaga keselamatan dan keamanan penumpang hanya diisi 6 orang plus kru perahu. Jadi seperti menyewa perahu sendiri. Karena cuma saya sekeluarga yang naik.


Peraturan naik perahu:

  • Sandal, sepatu dilepas
  • Segera memakai pelampung yang disediakan di perahu

Coba kalau dari tadi tahu disuruh melepas sandal dan sepatu, sudah saya titipkan di mobil saja. Faktanya saya kemana-mana menenteng sepatu. Ya Allah, kenapa kami salah kostum. Kayak nggak pernah ke pantai aja, kamu, Nur!

Jangan lupa berdoa sebelum perahu berlayar. Penting!

Kami sudah naik perahu. Sudah siap menempuh perjalanan menerjang ombak di laut selatan. Eh, kok perahu tidak kunjung berangkat. Si bapak pemilik perahu masih diam di belakang. Sementara ombak bergulung-gulung datang dan pergi. Ombak besar seperti sedang mengajak kami bertaruh, “Jadi berangkat, nggak?”

laut

Diam. Senyap. Hanya suara gelombang air laut yang menguasai kami, membuat cemas. Mungkinkah karena baru pertama kali naik perahu di laut selatan? Atau urusan perasaan yang kadang sulit dikendalikan. Sekilas saya melihat pemilik perahu. Raut wajauhnya santai saja, seperti sudah sangat mengenal setiap gelombang yang datang.

Saya tidak tahu berapa lama, gelombang itu mengajak bergurau. Saya maupun lainnya terlalu fokus dengan silih bergantinya gelombang seolah tanpa jeda. Begitu gelombang itu mereda, perahu motor segera melaju. Yang menjadi patokan ketika bernangkat adalah perahu tidak boleh menerjang gelombang.

Selama diombang-ambingkan perahu, saya berteriak paling kencang. Kadang muncul ketakutan. Ya, Allah, lautMu begitu luas, apalah saya yang cuma manusia kecil dan ringkih ini. Berada disini seperti sedang menguji adrenalin. Naik turun gelumbang, oleng sedikit tapi perahu tetap stabil. Sesekali kami kecipratan air laut. Humm...asin. tapi tak bisa menghindar. Air kadang mendarat dengan damai di baju hingga jilbab saya.

Note:

Pilih tempat duduk di depan ya. Meski di bagian manapun terkena air laut, tapi disini lebih sedikit.

Menjelang tiba di teluknya, “Wooow..cantik banget.” Pantai ini berbeda dengan pantai sebelum berangkat tadi. Tidak ada ramai. Pengunjung dengan leluasa bermain pasir, air laut bahkan banyak yang sibuk foto dan bikin video. Lainnya duduk santai di pasir atau bangku dekat pohon-pohon pandan yang besar.

Petugas pantai dengan sigap menarik perahu agar bisa menepi. Selanjutnya para penumpang turun. Tak lama kemudian, orang-orang yang hendak pulang bisa menggunakan perahu ini. tentu setelah menunjukkan tiketnya. Jadi jangan sampai hilang tiketnya, ya!

langkah langkah sebelum perahu kembali ke pantai
Langkah-langkah sebelum perahu dari teluk kembali ke pantai


Bagi saya, Pantai Teluk Hijau ini menghadirkan pengalaman yang baru dan seru. Baik suasana maupun saat naik perahu. Recommended buat yang ingin mencari suasana pantai yang masih alami.

Tak Ada Spot Selfie Tak Mati Gaya

Seperti destinasi wisata pada umumnya, semua berlomba-lomba membuat spot selfie agar menarik pengunjung. Disini tak ada satupun spot selfie. Entah itu perahu untuk pajangan. Eh, foto di perahu sebaiknya tadi sebelum berangkat saja. Banyak pilihannya!

Tak ada spot selfie bukan berarti tak ada tempat menarik buat foto-foto. Kalau ingin mengisi feed instagram dan akun sosial media lainnya, gampang, semua tempat disini menarik. Natural. Bahkan kalau cuma foto dengan latar air laut yang hijau. Iya, hijaunya lembut dan bikin adem. Jernih pula.

ayunan


Saya jatuh cinta dengan pantai seperti ini. setiap jengkal adalah tempat untuk bermain. Andai bukan karena masalah waktu, saya ingin lebih lama disini. Rasanya belum puas, meski sudah menikmati pantai, langit, pasir, hutan, dsb. Rasanya masih ingin ada tambahan waktu...

Saya penasaran dengan air lautnya, mengapa bisa sejernih itu. Apakah tak ada satu dua sampah yang mengapung hingga bisa mengotori laut. Air laut semakin cantik ketika suasana sedang cerah. Bapak petugas pantai menjelaskan bahwa air laut berwarna hijau karena dasar laut adalah pasir. Disini pasirnya putih, lembut dan bersih. Kemudian air laut itu mendapat pantulan langit mengakibatkan warna hijau.

Mendengar penuturan bapak petugas pantai saya mengangguk saja. Masih bingung, “Kok bisa ya.” Subhnallah.

Kegiatan di Pantai Teluk Hijau:

  • Bermain pasir
  • Bermain air laut
  • Mengabadikan moment
  • Mengagumi ciptaanNya

Setelah menaruh semua barang, si sulung bagian penitipan barang. Sayang juga sih kalau cuma duduk menghadap barang bawaan. Akhirnya dia berdiri, mondar-mandir dekat gazebo. Kemudian kembali duduk. Tak lama kemudian bergantian tugas dengan saya. Kayaknya sampai mereka tak puas pun masih sanggup bermain di Pantai Teluk Hijau.

main di pantai


Cara menjaga kebersihan pantai:

Daripada cuma bengong menjaga barang, saya manfaatkan untuk ngobrol dengan penjaga pantai. Si bapak ini merupakan penduduk lokal yang sudah bertahun-tahun bekerja sebagai penjaga pantai. Salut dengan pekerjaannya. Selain bertugas menjaga (keliling lokasi), juga membatu perahu-perahu di teluk yang hendak mengantar penumpang pulang ke pantai. Kemudian membersihkan sampah.

Ya, sampah ini merupakan masalah yang serius namun belum semua destinasi wisata menggarap secara serius. Kok mbulet ya! Jadi kalau disini, para petugas wajib memungut sampah. Saya melihat sendiri petugas pantai, kalau lagi selow, sambil jalan memungut sampah dan memasukkan ke tempatnya. Jadwal rutinnya sebelum pulang ke pantai. Sambil keliling mengambil sampah yang tercecer. Padahal sudah ada tempat sampah loh, kok ya masih ada yang buang sembarangan.

Buat para pengunjung, bisa berpartisipasi dengan tidak membuang sampah sembarangan. Jalan sebentar saja ke tempat sampah. Atau kalau malas jalan, masukkan ke dalam tas kita. Bawa pulang sampahnya. Please deh, sampah itu tanggung jawab kita semua. Bukan petugas pantai!

pantai teluk hijau

Sekilas saya melihat handphone, waktu bergerak semakin cepat atau karena saya tak rela sudah bergerak terus. Akhirnya saya berjalan menyusuri garis pantai. Tiba di sebuah cekungan. Apa ya yang tepat untuk menyebutkannya?

Tempatnya berbatasan dengan bukit berbatu.  Di lokasi ini banyak batu-batu karang berwarna hitam. Mulai dari yang besar hingga kecil. Bagus buat foto-foto candid ala-ala begitu. Kemudian seperti sebuah jalan, tapi di laut, gelombang air laut masuk melewati celah besar ini dan tetap menyeruak hingga tepi pantai. 

Di bagian tepi pantai terlihat air laut yang jernih dan adem. Kerang-kerang hingga pasir putihnya terlihat dengan jelas. Saya mengambil air untuk membasuh tangan dan kaki. Namun tak pernah bertahan lama. gelombang di laut selatan ini besar. Kadang tiba-tiba sudah ada di dekat saya. Bajupun basah.

pantai teluk hijau


Waktunya pulang!

Yeah, seperti ada yang tertinggal di Pantai Teluk Hijau. Tapi mengingat waktu, kami harus pulang. Menunggu datangnya perahu dulu. Giliran kami, buru-buru naik dan memakai pelampung.

Berbeda dengan saat berangkat, perahu tidak perlu menunggu gelombang reda. Justru sebaliknya, ada gelombang perahu didorong beramai-ramai, kemudian berangkat. Namun ketika hendak menepi, butuh waktu yang lumayan lama. menunggu gelombang reda. Harus sabar, meski mungkin menunggu itu melelahkan...

Nah, pemilik perahu ini juga menjadi nelayan jika tak ada penumpang. Kalau sedang ramai, satu perahu bisa berlayar hingga sepuluh kali. Wah, lumayan juga dapat rejeki dari penumpang. Kalau tidak tetap mencari ikan.

Yang perlu diperhatikan ketika berkunjung ke Pantai Teluk Hijau:

  • Memakai baju casual
  • Membawa baju ganti
  • Kalau ingin menelpon dan menggunakan internet, sebaiknya lakukan sebelum berangkat ke pantai saja. Disini tidak ada sinyal.
  • Membawa barang secukupnya. Lainnya ditaruh di kendaraan saja.  
Nah, ini video amatir kami saat berada di datas perahu.




Tiket masuk 

Tiket ke Pantai Teluk Hijau ini harus dibayar ketika memasuki gerbang Perhutani. Untuk sopir travel tidak perlu membayar tiket masuk. Karena merekalah yang berjasa dalam mengantarkan para wisatawan.

Rp 5.000

Naik perahu PP 5 orang Rp 140.000

Parkir:

Rp 5.000

Happy traveling!

^_^




Comments
14 Comments

14 comments:

  1. Wuih cakep juga pantai Teluk Hijau ya ...
    Ciri khas pantai selatan ombaknya besar bergulung-gulung.

    Tiket masuknya juga terjangkau dan ada fasilitas menyewa perahu.
    Keren itu,kak ...

    ReplyDelete
  2. Naksir sama pasirnya mbak :D bersih banget ya kondisinya,, paling demen kalau maen ke tempat tempat yang terawat gini, jadi betah dan puas banget..
    ..

    ReplyDelete
  3. Pantainya bagus banget, Mbak...
    Bener-bener bagus, masih jernih gitu, pasirnya putih.
    Dan kalau memang tidak ada spot selfie, menurut saya (pendapat pribadi) itu lebih baik si, Mbak.. biar lebih alami juga gitu..

    ReplyDelete
  4. Suka sama pantainya masih asri begitu, betah rasanya buat diem disana.

    Salah fokus sedikit sama buah naga yang diisi lampu. Lampunya itu lampu biasa ya?

    ReplyDelete
  5. Ahhhh mau ke sana deh, tapi kenapa begitu jauh dari Surabaya, hiks..
    Sudah gitu kalau sampai ke sana pasti kegoda langsung nyeberang ke Bali hahaha

    ReplyDelete
  6. mbak, kok serasa pantai milik sendiri ya
    aku kan jadi pengen....
    kalau mau pantai ya siap baju mbak, sayang kalau cuma duduk aja hehe
    tapi iya sih duduk paling depan itu bisa mengurangi turbulensi
    gak tau apa penjelasannya
    hanya Allah dan Guru Fisika yang tahu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku mikir dulu nih, siapa guru fisika yang rela kutanya.

      Delete
  7. Pantai teluk hijaunya keren kak,,

    Aduh, jadi ingat coklat di belakang rumah, klo sudah matang sering di ambil bocah-bocah kecil di kampung.

    ReplyDelete
  8. Masya Allah bagusnyaaa ��
    Pas bulan madu ke banyuwangi tapi ke kawah ijennya aja, next cobain pantai ini boljug ni

    ReplyDelete
  9. Keren banget pantainya... Sayang videonya kurang panjang, jadi saya belum bisa ikut menikmati serunya naik perahu hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Susah banget nih. Goyang mulu di perahu. Takut hape jatuh.

      Delete
  10. Baper banget bacanya. Jadi tambah mupeng buat ke Pantai Teluk Hijau Mbak, salah satu destinasi impian ini. Seru naik perahunya langsung mendarat di pasir pantainya. Biasanya kan kalau naik perahu turunnya masih nyemplung dulu ke air laut atau gak di dermaga. Yang ini keren Mbak.

    ReplyDelete

Taraa! Akhirnya tiba disini. Terima kasih Anda telah membaca blogpost ini. Well, feel free to drop any words. ^_^
Mohon maaf, jika ada link hidup, anonymous atau broken link akan saya hapus!

COPYRIGHT © 2017 · LOVELY MOM | THEME BY RUMAH ES